Mudah sekali kita menemukan orang saling hujat dan caci maki sembari mengklaim diri sebagai pihak paling bijak di media sosial, seolah kehidupan ini sedemikian mengerikan. Namun, sesungguhnya kita masih menyimpan energi positif yang sedemikian besar, berupa kebiasaan berderma. Sekelompok anak muda generasi milenial yang bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa UI membuka kampanye di kitabisa.com “sedekah untuk Emak” untuk membantu seorang jompo sebatang kara bernama Aan Rohayati (67). Mereka menargetkan dana Rp.15 juta, nyatanya terkumpul hingga Rp.31,8 juta, untuk memberi modal, membayar utang, sewa rumah, dll. (Kompas, Minggu 10 September 2017).

Kisah di atas seolah menyemangati kita dalam centang perenangnya kehidupan sosial di negeri ini. Bila kita menggabungkan diri di media sosial mana saja maka akan dengan mudah menemukan ujaran-ujaran kebencian dan caci maki. Tapi, di balik fenomena itu masih terdapat banyak orang-orang di negeri ini dengan secara sukarela dan ikhlas berbagi dalam berbagai cara. Dari lembaga-lembaga resmi yang secara terencana dan kontinyu mengajak masyarakat untuk berderma, hingga ativitas-aktivitas insidentil dari kelompok-kelompok masyarakat mengajak masyarakat berderma untuk membantu seseorang atawa kelompok dalam waktu terbatas.

Di hampir semua bencana yang terjadi di negeri ini, baik yang berskala besar, menengah, dan kecil tak diragukan lagi masyarakat kita akan berbondong-bondong dan berlomba-lomba berpatisiapasi dengan rasa empati yang tinggi, berderma dan menyumbangkan apa saja yang dibutuhkan oleh korban bencana. Tidak hanya di dalam negeri tapi juga kejadian-kejadian di luar negeri yang banyak membuat warga dunia menjadi korban bencana, peperangan, dan genosida, pasti akan dibantunya kendati di dalam negeri sendiri masih banyak yang perlu dibantu. Bukti yang paling anyar adalah pembantaian etnis Rohingya di Myanmar, tidak terlalu memakan waktu lama bantuan terkumpul untuk pengungsi etnis Rohingya di Banglades yang terusir dari negerinya secara sadis dan biadab.

Di sebuah kantor di mana beberapa kawan saya mencari nafkah, rupanya telah memiliki kalender event hari-hari besar hingga di atas lima kali setahun melakukan kegiatan sosial membantu masyarakat kurang mampu, mulai dari anak-anak kurang beruntung di panti asuhan, para lanjut usia yang berkumpul di rumah jompo, warga kurang mampu di kampung-kampung kumuh, hingga pemberian bea siswa untuk anak-anak berprestasi tapi orangtuanya kurang mampu, dan para veteran yang di usia tuanya kurang beruntung. Semua dijangkau oleh perusahaan ini secara berkala setiap tahunnya. Dan derma-derma seperti ini digerakkan dibanyak perusahaan di negeri ini.

Dalam hal berbagi atawa berderma, ada fenomena terkini dan menarik yang sedang berlangsung secara simultan. Berderma dalam gerakan literasi yang cukup massif dilakukan warga Nusantara secara sukarela. Dari ujung Sumatera hinga ujung Papua, buku-buku di kirim secara sukrela bersama kebijakan yang nampak sederhana namun sangat membantu pengiriman buku via Kantor Pos di setiap tanggal 17 oleh pemerintahan bapak Jokowi, hingga buku bacaan dapat terdistribusi dengan cepat dan gratis pula. Semua bergerak berbagi dan berderma buku untuk Nusantara yang di gawangi oleh “Pustaka bergerak”. Bermuculanlah perpustakaan dan taman baca di kota-kota hingga desa-desa yang sangat terpencil.

Karenanya, bangsa dan negeri ini tetaplah menjadi bangsa dan negeri yang memiliki rasa kasih dan cinta pada sesama dan kebajikan, walau citra para elitnya, khususnya elit politik kita masih sangat memprihatinkan. Arogansi kekuasaan hingga korupsi masih nampak semakin telanjang saja. Hampir semua waktunya terkuras di sana tanpa hendak mengintropeksi diri untuk sedikit memberi dan memancarkan harapan untuk warga dan bangsa, konstituen dan pemilihnya pada setiap event lima tahunan yang memilih dan mendudukkannya sebagai wakil di lembaga legislaatif yang katanya terhormat itu.

Berbagi adalah sisi terdalam dari kemanusiaan. Hal ini dipersaksiakn oleh manusia paling awal di bumi, ketika Qabil dan Habil, anak-anak Adam dan Hawa, bertaruh memperagakan kebajikan dan keburukan. Dan dalam arung jejaknya, Habil memeragakan kegemeran berbagi yang berkualitas tinggi dan ikhlas. Sedang Qabil memeragakan sebuah kegemaran berbagi yang vested interest bahkan mengahirinya dengan laku banal yang mengabadi. Di keninian, kita dapat dengan mudah menemukan dua potret laku ini. Manusia-manusia penuh kasih dan cinta, gemar berbagi dan berderma menebar kebajikan pada sesama dengan segenap ketulusan. Dan sisi lain dari wajah kemanusiaan, manusia-manusia yang gemar menyemai ketakutan, kebencian, dan derita bagi sesama. Dua model sisi kemanusian kita ini, kita bebas memilihnya atawa ia menjadi potret dari laku dan jejak-jejak yang kita torehkan sepanjang hidup.

Tengoklah sepotong cerita dari Imam Al- Ghazali, tatkala menuturkan kisah Baginda Nabi, “Nabi sering tak punya uang. Jika ada uang lebih dari keperluan hari itu, Ia akan mencari orang yang membutuhkannya. Jika tak menemukannya, Ia tak kembali pulang, tetapi menunggu saja sampai menemukannya. Meskipun Ia seorang pemimpin besar, rumahnya tak dijaga oleh siapa pun. Dalam perang, Ia berdiri di depan tanpa pengawal yang melindunginya.”

Secara sosiologis, itulah sebabnya dalam ajaran moral agama manapun menekankan pentingnya berbagi kepada sesama agar keseimbangan kehidupan dapat berlangsung dengan baik dan berkelanjutan. Dalam perspektif agama Islam, anjuran dan perintah berbagi kepada sesama diatur dengan sangat apik hingga mesti dilembagakan untuk mengaturnya dengan baik dan adil. Maka dikenallah, zakat harta dan zakat penghasilan lengkap dengan hitung-hitungannya yang proporsional. Selain zakat yang sifatnya wajib, juga dikenal cara berbagi yang lain dengan, sedekah dan infak. Bila berbagai cara berbagi dan berderma bagi sesama berjalan dengan baik dan tepat sasaran, maka tentulah ketimpangan antara yang miskin dan yang mampu tidaklah menganga bak jurang yang lebar seperti saat ini. Wallahu a’lam bisyawwab.

Kotamobagu, September 2017.

 

 

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *