Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Anekdot tentang Alexis dan Fenomena Korupsi

Dalam sebuah perjalanan menuju ibu kota negeri ini beberapa tahun lampau. Kami berenam sedang melakukan tugas kantor. Saya bersama seorang teman akan mengikuti pelatihan di Kota Kembang, Bandung, sedang dua orang teman akan mengurus permit di kementerian pertambangan, sedang duanya lagi mendampingi empat orang pejabat dan anggota legislator di kabupaten perusahaan beroperasi dan tempat kami mengais nafkah.

Dalam perjalanan itu kami berbincang dengan kawan yang akan mendampingi pejabat-pejabat dari daerah tempatnya bekerja tentang suka duka mendampingi para elit daerah tersebut. Karena kawan saya itu orangnya humoris maka tak hentinya melucu, termasuk kala bercerita tentang pejabat yang kerap kali mereka damping ke kantor pusat di Jakarta dengan berbagai kepentingan. Setelah semua urusannya selesai maka dapat dipastikan para tamu ini akan minta didampingi atawa difasilitasi ketempat “reman-remang” salah satu tempat yang sangat sohor dan sangat disukai para tamu kantor itua dalah “ALEXIS” kata kawanku, dan beberapa tempat yang sekelas “ALEXIS” yang bertebaran di Jakarta.

Kala kutanya, jadi kamu kemana setelah mengantarkan tamu-tamu itu. Ya ikutlah, mumpung gratis di bayarin kantor karena mendampingi pejabat dari daerah itu, kilahnya dengan mimik yang lucu. Kemudian dalam perjalanan yang cukup panjangitu, obrolan kami temanya Cuma satu yakni Alexis dan bisnis “lendir” di seputaran Jakarta sebagai ibu kota negeriini. Di Alexis dan sejenis serta sekelasnya, seperti Stadium yang dulu ditutup gubernur Ahok karena beberapa pelanggaran yang ditemukan di tempatitu. Malioboro di kawasan Mangga Besar, Sumo di Kelapa Gading, sebagai beberapa contoh yang sesungguhnya terdapat ratusan jumlahnya di Jakarta dengan berbagai kelasnya. Di tempat-tempat sekelas Alexis, Stadium, Malioboro, dan Sumo, selain penari telanjang tempat-tempat ini pun menyediakan perempuan penjaja kelamin dari berbagai daerah di negeri ini dan dari negeri-negeri seberang, dan yang sangat popular adalah perempuan-perempuan dari Tiongkok yang mereka sebut Cungkok, dan perempuan-perempuan dari negeri Balkan eks Soviet yang perempuannya terkenal cantik.

 

Menurut AlwiShahab, seorang sejarawan Kota Jakarta ;pelacuran di Kota Jakarta memang telah ada sejak awal berdirinya kota ini. Seperti sebuah cerita, pada 13 Agustus 1625, hanya enam tahun setelah JP Coen mendirikan Batavia atawa Jakarta kini, seorang perempuan pribumi, Maria, mengadukan suaminya, Manuel, pada polisi. Manuel memaksa dirinya dan budak perempuannya untuk mencari nafkah haram dengan menerima uang “lendir” setiap hari. Pada Agustus 1631 diketahui beberapa perempuan telah melakukan zina dengan orang-orang Cina dan Banda. Sementara sejumlah orang yang memelihara budak-budak perempuan memerintah mereka untuk melacur setiap harinya. Sementara si pemilik budak tinggal memetik penghasilan besar.

Sejarawan Jakarta lainnya, Asepkambali, mengatakan bahwa di zaman Bang Ali Sadikin memimpin Jakarta di tahun enam puluhan, membangunnya dengan dominan dari pajak pelacuran dan judi. Fasilitas pisik itulah yang dinikmati hingga kini. Pelebaran jalan di hampir semua jalan di ibu kota Negara itu. Bang Ali membangun TIM (Taman Ismail Marsuki), Taman Impian Jaya Ancol, Kebun Binatang Ragunan, dan beberapa masjid besar dan rumah ibadah lainnya yang ada di Jakarta.

Tidak hanya sekadar sumber pajak yang besar, tapi juga punya sisi yang lebih kelam lagi. Bahwa ditengarai dari bisnis “lendir” ini pula banyak terjadi perdagangan manusia. Ingat kasus yang menimpa Robby Abbas beberapa tahun silam, tepatnya 8 mei 2015. Kepolisian Resor Jakarta Selatan menangkapnya di sebuah hotel mewah di Jakarta Selatan. Dia diduga sebagai mucikari pada pekerja prostitusi kelas atas. Dan kasus ini bermuara pada pasal-pasal perdagangan manusia.

Bahkan ditengarai pula bahwa tempat-tempat prostitusi kelas atas itu sebagai salah satu penyebab terjadinya korupsi di kalangan elit di daerah dan di pusat. Seperti apa yang dilakukan kawan saya di atas, kerap mendampingi tamu dari daerah mengunjungi tempat-tempat “kupu-kupu malam” sekelas Alexis dengan biaya dari perusahaan yang menfasilitasinya, bukankah hal tersebut adalah bagian dari praktik sogok yang juga termasuk salah satu jenis korupsi. Sekiranya permintaan beberapa orang yang menghendaki daftar tamu atawa pelanggan Alexis dibuka dan diumumkan di publik banyak yang yakin bila para tamu dan pelanggan di sana banyak pula yang terkait dan terseret dengan kasus korupsi, dan fenomena tersebut erat terkait. Apatah lagi bila semua tempat remang-remang yang ada di Jakarta yang jumlahnya tidak sedikit diperlakukan sama dengan Alexis, kemungkinan akan menjadi sejarah besar yang akan tercatat dalam perjalanan sejarah negeri ini. Tapi, mungkinkah ?

Bukankah kita dan segelintir elit hanya gemar memoles langkah politiknya dalam wacana lip service. Menjadikan semua hal sebagai alat politik untuk memojokkan dan memenjarakan pikiran para konstituen yang lebih banyak latah dan irrasional. Cobalah renungkan dengan tenang berkenaan dengan bisnis remang-remang di ibu kota negeri itu, bukankah jumlahnya ratusan bukan hanya Alexis dan beberpa contoh yang dikemukakan di atas. Nah bila konsisten ingin memeranginya karena alasan moral dan alasan agama lainnya, maka mestinya jangan pandang bulu perlakukan semua sama. Sehingga tidak terkesan hanya politisasi yang berlindung di balik interpretasi moralitas setengah hati.

Di media sosial sementara viral sebuah anekdot terkait dengan Alexis dan seekor burung beo seperti cerita di bawah ini, sebagai simbolisasi sinisme yang sedang berlangsung akut di tengah-tengah masyarakat kita yang boleh jadi bentuk protes dan perlawanan kepada para elit yang tak henti-hentinya menyemai kebohongan dan kemunafikan. Simaklah sindiran sinis yang menggelitik di bawah ini  ;

BEO ALEXIS

Seorang Ibu pergi ke pasar hewan dan melihat burung beo yang indah harganya hanya Rp. 50 ribu

Ibu :Kok murah, Bang ?

Si pemilik toko : “Beo ini dulunya dipelihara di Alexis, jadi sering ngomong aneh, makanya dijual murah karena gak ada yang mau beli”

Si Ibu berfikir sejenak dan memutuskan untuk membeli burung yang indah itu. Ia membawanya pulang dan menaruhnya di sangkar di ruang tamu.

Burung itu melihat ke sekeliling ruangan, dan melihat ibu itu lalu ia beteriak : “rumah baru, germo baru..!”

Ibu itu kaget, tapi dia menganggapnya lucu saja. Saat anak gadisnya pulang dari sekolah, burung itu melihatnya dan berteriak : “Rumah baru, germo baru, wajah baru..!”

Si anak dan ibu itu merasa sedikit tersinggung, tapi akhirnya bias mereka mengerti karena cuma seekor burung.

Beberapa saat kemudian, pak Arif suaminya ibu itu pulang dari kantor. Burung itu melihatnya dan berteriak :

“Ciluk baa..! Halo Om Arif. Ketemu lagi..ketemu lagi..! langganan laamaaa !”

Si Ibu, langsung teriak, baaapaaaaak, lalu pingsan.

 

Sumber gambar: https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2014/12/29/478115/670×335/layanan-antar-pelacuran-elite-lokalisasi-dunia-maya-1.png

 

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)