Perjalanan Berburu Kopi

Perjalananku kali ini bukanlah perjalanan mengais nafkah seperti biasanya, tapi perjalanan dalam rangka mengantar putra bungsuku melintasi pulau nun jauh di seberang. Menemaninya memasuki dunia baru untuknya. Memasuki gerbang perguruan tinggi yang sekaligus sebagai penanda bahwa anak bungsuku telah memasuki masa rentan antara remaja dan dewasa. Inilah dunia fana semua tak terasa, hidup mengalir tak terbendung. Rasanya baru saja kemarin saya mengemongnya dalam suci fitrahnya. Saat ini telah memiliki pilihan-pilihan secara pribadi yang mesti mendiskusikannya. Walaupun sejak usia bayi, belia, remaja, hingga kini sebagai orang tua teman bermain, bercanda, berbagi, dan berdiskusi, ada hal yang belum tercapai secara baik tentu tak menghentikannya berhenti di jejak yang sama. Sebab, ia mesti mengalir mengikuti irama sunnatullah.

Setelah usai menemaninya mengurus segala kebutuhannya, maka giliran waktu selanjutnya yang telah kurencanakan bergegas berburu tempat-tempat eksotis menikmati sensasi kopi yang ada di kota sejuk ini. Tentu banyak pilihan sehingga harus tanya sana sini dan info sana sini dibandingkan pula dengan informasi dari tuan Google. Maka, kutetapkan sebuah kedai bernama “Java Dancer Coffee”. Kedai kopi berukuran relative kecil dengan interior etnik jawa sesuai namanya, sangat apik dan indah. Walau ruang-ruangnya relative tak begitu luas tapi berada di dalamnya sangat nyaman nan indah. Sisi kiri kanan dan muka belakang terbuka, hanya di batasi papan-papan pendek dan pohon-pohon rindang mengelilinginya. Sehingga desis-desis angin sepoi berhembus dari celah-celah pohon itu. Bak nyanyian penyejuk hati yang menginspirasi. Keunikan rasa kopi menambah sensasinya dengan suasana interior yang eksotis serta semilir angin yang tak hentinya menembus meneduhkan hati para penikmat kopi di coffee house ini.

Bersama istriku aku sengaja memesan asal kopi yang berbeda, aku memilih kopi gayoh dari Aceh sementara istriku memesan jenis kopi Kalosi Toraja. Kami sengaja berbeda pilihan untuk dapat merasakan perbedaan sensai rasa masing-masing asal kopi pilihan kami. Sedang dua anakku memesan cappuccino, yang juga berbahan kopi namun diaduk dengan susu cream.

Kebiasaanku dengan sang istri menyesap kopi telah berlangsung cukup lama. Tidak juga tergolong pecandu tapi sedikit terganggu bila tidak menyesapnya dalam sehari J. Dalam setiap waktu senggang di rumah, kami menikmati kopi bersama dan mendiskusikannya. Mulai dari sensasi rasa, asal kopi, hingga kedai kopi yang betul-betul menyajikan berbagai jenis racikan dan asal kopi. Saking gandrungnya, aku pun akan menuliskannya dalam esai-esai lepas tentang cerita-cerita lampau kedai kopi di kota Makassar.

Keesokan harinya aku berburu lagi kedai kopi yang lain untuk membandingkannya dengan kedai kopi yang pertama kukunjungi di kota ini. Dari beberapa yang di rekomendasikan anakku dan tuan google maka kuputuskan menepi di Bureau coffee. Seperti biasa, selain kopi, design interior kedai juga menjadi pilihan kedua. Bila Java Dancer Coffee berdesain interior bernuansa etnik romantic, maka Bureau coffee sedikit lebih modern namun penataannya apik dan sangat bersih. Prihal sensasi kopi menurut rasaku masih mengunggulkan, Java Dancer Coffee. Mungkin pengaruh dari jenis kopi hingga cara meraciknya yang berbeda. Tapi, apa pun semua kunikmati dengan apresiasi yang tinggi.

Hari ke empat aku mulai bergegas menuju kota Gudeg. Ada dua rencana yang hendak kami tunai di sana. Pertama hendak menyaksikan festival “Prambanan Jazz” yang persis digelar di kompleks candi Prambanan. Kedua, tetap bermaksud berburu kopi yang konon di daerah Kaliurang terdapat kedai kopi yang cukup unik.

Usai menikmati “Prambanan Jazz” semalam suntuk, keesokan harinya kami mulailah perburuan kopi hingga semalam suntuk pula. “Sekawan klinik Kopi” yang kami tuju pertama kali. Letaknya di sebuah jalan kecil untuk tidak mengatakan lorong di daerah kaliurang. Sebuah rumah panggung berarsitektur unik. Bagunannya berukuran sederhana tidak terkesan besar, pun halamannya demikian tak terlalu luas tapi dirimbuni pepohonan dan bunga-bunga bak sebuah rumah di dalam hutan.

Yang mengejutkan adalah kala aku terburu dan tidak sabar hendak menikmati kopi di kedai ini secepatnya, ternyata aku ditahan oleh seorang pria muda kemudian memberitahuku untuk bersabar antri di luar padahal tidak seorang pun yang sedang antri, namun ternyata tiga kelompok yang jumlahnya cukup banyak, mereka sedang menunggu. Ada apa tanyaku dalam hati, penasaran. Ternyata setiap perorangan atau kelompok bila memasuki kedai ini terlebih dahulu diberi penjelasan secara rinci berkenaan dengan kopi, dan bagi pengunjung boleh menanyakan apa saja terkait dengan kopi, terkhusus soal memulai menanam, memelihara, memetik, mengolah, meracik, hingga menikmatinya. Dijelaskan secara apik dan menarik oleh barista yang sedang bertugas. Itulah klinik kopi yang sangat menarik. Jadi, bertandang di rumah kopi ini tidaklah sekedar menyesap kopi akan tetapi kita akan diberi pengetahuan tentang hal dasar berkenaan kopi, mulai dari pemilihan benih hingga siap saji di kedai-kedai atawa di rumah kita masing-masing.

Setelahnya menikmati kopi dan berbagai pernak-pernik di kedai kopi “Sekawan Klinik Kopi” kami bergegas menuju ke sebuah kampung di tepi sawah. Di sana terdapat “Kedai Filosofi Kopi” yang masyhur sebab terinspirasi dari novel karya Dee atawa Dewi Lestari dengan judul yang sama “Filosofi Kopi” dan telah di filmkan. Di kedai yang hanya buka dari pukul 16.00 hingga 23.00 sejak buka hingga jelang tutup pengunjung antri bak hendak nonton pertunjukan besar bergengsi. Design eksterior dan interiornya sangat natural mengikuti irama alam dan budaya lokal. Hingga pengunjung menikmati kopi serasa di tengah peradaban berbudaya tinggi di kawasan tepi kampung dan sawah.

Dari kedai-kedai kopi itu aku membayangkan duduk di pojok kedai kopi pertama di dunia 1475 “Kiva Han” di pojok kota Konstantinopel atawa kota Istambul, kini. Negeri para sufi di Turki. Konon, kedai kopi “Kiva Han” inilah yang menginspirasi munculnya kedai-kedai kopi bergengsi di Eropa kemudian Amerika. Tahun 1529 Kolschitzky, mendirikan kedai kopi di Wina yang kemudian sebagai kedai kopi pertama di Eropa. Kemudian di Inggris pada tahun 1652 berdiri kedai kopi ‘The Turk’s Head” sebagai kedai kopi pertama di Inggris. Kemudian kedai kopi berdiaspora ke Amerika, pada tahun 1792 di New York berdiri kedai kopi “The Tontine Coffee House” hingga di masa modern muncullah Starbucks Coffee di tahun 1971 dan merajai kedai kopi dunia dengan 8000 gerai di seluruh dunia.

Jadi, kedai kopi menjadi sebuah jejak peradaban di hampir semua negeri. Tersebutlah kedai kopi di tepi sungai Nil di Mesir “Karnak Café’ sebagai tempat para aktivis pergerakan politik yang sangat kritis. Di kedai kopi ini para aktivis merancang sebuah gerakan untuk menjatuhkan presiden. Dinamika gerakan para aktivis dari pelbagai profesi diceritakan sangat heroik dalam sebuah novel berjudul “Karnak Café” oleh Najib Mahfudz, pemenang Nobel Sastra 1988 dengan sangat indah. Dan konon kedai-kedai kopi di beberapa kota di Eropa tempat para filosof kerap nongkrong berdiskusi dan berdebat masih mudah ditemukan.

 


sumber gambar: epicureandculture.com

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *