Terik mentari sudah mulai berpendar dari tegaknya namun tetap menyengati tubuh kami di musim yang tak lagi memijak di satu waktu. Jalan menuju kantorku sesak nyaris macet tak seperti biasanya. Perlahan tertatih oleh padat kendaraan yang tak seperti lazimnya di hari-hari lalu.

Kutanya pengendara yang berlain arah denganku, ada apa gerangan di depan sana hingga kendaraan ini tatih nyaris macet. Tak seorangpun yang memberi kabar akan keadaan yang gelisahkanku ini. Kepalaku berputar mencari tahu penyebabnya, kecelakaankah atau hal lainnya. Tapi, tak jua kudapat jawabnya padahal telah setengah jam merayapi jalan yang biasa kutempuh 5 menit dari tempatku saat ini.

Kawan-kawan sejawat yang sejak dua puluh menit lalu menungguku hendak berbincang berbagai hal tentang pekerjaan kami. Mereka telah gelisah dengan melukisnya di layar ponselku. Posisi di mana, kita sudah berkumpul sejak hampir setengah jam lalu dan tim sudah lengkap tinggallah abang yang belum nampak batang hidungnya. Kubalas SMS (short message service) itu, bahwa di jalan ketemu macet yang merintangiku untuk tiba di tempat yang disepakati dan tepat waktu.

Nampaknya kawanku itu tidak percaya dengan keadaan ini, kemudian dibalasnya lagi SMS-ku, ah…ini kota mungil, Bang. Tak seperti kota-kota besar yang telah akrab dengan kemacetan, jadi jangan bercanda dengan alasannya yang tak lazim, tulisnya di SMS terakhirnya.

Setelah merayap beberapa lama, pun kami tak kunjung tiba. Kuambil inisiatif berjalan kaki karena tak jauh lagi jaraknya. Setiba di halaman kantor kulirik sana-sini mencari tahu penyebab macet itu, ternyata sumbernya di sebelah kantoku. Kutanya seseorang yang sedang berdiri di pojok halaman tempatku bekerja, “ada apa di rumah sebelah higga riuh nian, tanyaku. Di jawabnya lugas,” pemilik rumah sebelah memperingati ulang tahun anaknya yang kelima tahun”.

Berjalan memasuki ruang pertemuan di mana kawan-kawan sejawatku telah menunggu lama, pikiranku sedikit terganggu oleh perayaan ulang tahun anak tetangga sebelah kantor itu. Bukan soal ulang tahunnya, tapi seriuh itukah hingga membuat macet jalan dalam waktu yang cukup lama untuk ukuran jam kerja.

Usai berbincang dengan beberapa kawan sejawat jelang magrib. Iseng kutanya seorang kawan yang orang lokal, hal ulang tahun dan pemilik rumah itu. Dari kawan itu kutahu bila peraya ulang tahun itu seorang pimpinan di sebuah instansi pemerintah yang katanya cukup “basah”.

Penasaranku bertambah jadi hingga usai membasuh kepalaku dan hatiku dalam ritual magrib. Sembari mencicipi cemilan dalam suasana santai di jelang malam. Kutanya lagi kawanku tadi pada hal yang sama, soal ulang tahun yang riuh penuh dengan hingar bingar dentuman musik itu. Jawab kawanku meluruhkan penasaranku, biasalah Bang, ulang tahun itu hanya kamuflase sebab acara yang sesungguhnya adalah dalam rangka kampanye yang belum waktunya dari seorang kandidat calon pemimpin di kota ini yang sebentar lagi “pestanya” berlangsung.

Baru kusadar setelah menemukan jawaban dari sebuah kata pendek, kamuflase yang lazim dipraktikkan dari sebuah perhelatan politik yang curang di negeri ini. Begitulah rupanya ihwal sebuah “tragedi” kemacetan yang tak lazim di sebuah kota kecil. Membawa rupa pucat dari potret dinamika politik yang mestinya nampak adalah kemaslahatan untuk orang banyak tanpa tipu muslihat menyertainya.

Nampaknya hiruk-pikuk politik di negeri ini selalu membawa sengsara. Membawa hura-hara. Membawa korupsi dan kecurangan. Padahal demokrasi terbuka telah berlangsung hampir dua dasawarsa namun sisi positifnya masih berjalan di jalan berkabut tanpa penerang. Karenanya, tak sedikit masyarakat yang mulai bimbang bahkan tidak percaya dengan proses demokrasi yang bisa mencerahkan membawa kemaslahatan dan membangun peradaban beradab yang membawa negeri ini jauh lebih baik. Walaupun sesungguhnya bila menilik teori-teori dan cita dari sebuah demokrasi adalah dalam rangka membangun sebuah negeri dan peradaban yang manusiawi dan lebih baik dari sistem sebelumnya.

Kali ini aku pun membatin sembari selalu bertanya pada relung hatiku ketika mencium aroma politik di sekelilingku. Kapankah aroma busuk ini berhenti bertengger di ujung indra penciumanku dan di pelupuk mataku yang melek. Dan selalu kujawab sendiri, ah…mungkin aku dan kawan-kawanku masih butuh menyerap sabar basahi batinku yang senantiasa gundah oleh realitas yang tak pantas.

Carol C. Gould, dalam Demokrasi Ditinjau Kembali bahwa, sesungguhnya bila proses demokrasi berjalan dengan baik, dengan berpijak pada kebebsan positif maka akan berdampak pada eksisnya sebuah bangsa dan negeri yang berperadaban baik. Selama ini, nampaknya perhelatan demokrasi di negeri ini berlangsung dengan kebebasan negatif sehingga bukan saja persaingan yang tidak sehat anar partai tapi juga jauh menelisik kedalam partai, di mana antar Caleg pun saling sikut menyikut dengan menghalalkan segala cara. Mulai dari money politics yang terang benderang hingga kecurangan dengan pelbagai modusnya.

Jelang pemilihan umum dihelat nampaknya kamuflase seperti yang ditengarai rekan sejawatku di atas sudah mulai merebak lagi dengan pelbagai modusnya. Aku khawatir laku seperti berkelindang tanpa henti dan semakin marak pula kebohongan dan tipu daya menghadik kita di jalan-jalan tak berujung. Ah.. kamuflase lagi.

 

Sumber gambar: https://buzzkeys.com/2016/08/19-amazing-animals-adept-at-using-camouflage.jpg

 

 

 

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *