Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Karaeng Pattingalloang dan Kecintaannya terhadap Ilmu Pengetahuan

“Bola dunia itu, perusahaan Hindia Timur mengirimkannya ke istana Pattingngalloang yang agung, yang otaknya menyelidik ke mana-mana dan menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil, kami berharap tingkat kekuasaannya memanjang dan mencapai kutub yang satu dan yang lainnya. Agar keuzuran waktu hanya melapukkan tembaga itu bukan persahabatan kita.”

-Joost van den Vondel-

Itulah spenggal syair kekaguman yang diutarakan seorang dramawan dan misionaris asal Negeri Belanda kepada salah seorang bangsawan Kerajaan Gowa-Tallo, yakni Karaeng Pattingalloang—Mangkubhumi Kerajaan Gowa (Kesultanan Makassar).

Pada abad XVII di belahan timur dunia saat itu, terdapat seorang bangsawan tinggi Kesultanan Makassar yang menaruh minat dan kegemaran terhadap ilmu pengetahuan. Dalam berbagai literatur sejarah disebutkan bahwa : ketika bangsawan-bangsawan Kesultanan Makassar menitipkan pesanan berupa pakaian, sutera, topi, porselin, dan lain sebagainya kepada pedagang-pedagang Timur Jauh dan Barat yang akan mengangkat sauh—kembali ke negeri asalnya masing-masing dan akan kembali pada musim angina berikutnya—Karaeng Pattingalloang malah lebih memilih menitipkan pesanan berupa buku dan perangkat ilmu pengetahuan teknologi.

Bahkan Denis Lombard—seorang pakar sejarah dengan karya besarnya berjudul Nusa Jawa Silang Budaya—pernah mengemukakan suatu transaksi yang dilakukan oleh Karaeng Pattingngalloang pada 22 Juli 1644. Mangkubhumi Kerajaan Gowa saat itu memberikan kayu cendana seharga 660 real kepada seorang kapten kapal Belanda disertai dengan satu daftar pesanan barang, bahkan kapten kapal Belanda pun menyebut pesan Pattingalloang adalah pesanan raritten atau barang langka. Di antara pesanannya adalah sebagai berikut: (1) Dua bola dunia Atlas, yang besar berukuran 157-160 Inci terbuat dari tembaga, gunanya menentukan letak arah kutub utara dan selatan; (2) Sebuah Peta Dunia yang berukuran besar yang Berbahasa Spanyol, Portugis atau Latin; (3) Sebuah Atlas Besar dan penjelasan yang terpeinci yang berbahasa Spanyol, Portugis, atau Latin; (4) Dua buah Teropong berukuran besar dan berkualitas terbaik—lengkap dengan Surya Canta yang besar dan berkualitas tinggi; (5) Dua buah Prisma Segitiga yang memungkinkan untuk mendekomposisikan cahaya; (6) Tiga puluh sampai empat puluh buah tingkat baja kecil; (7) Sebuah bola dari tembaga atau baja. Sedangkan dalam catatan Fride Rhodes, Karaeng Pattingalloang menghayati Tehnical Inovation Europe, dan ia merupakan orang Asia Tenggara pertama yang menyadari pentingnya matematika guna ilmu-ilmu terapan (Aplied Science).

Kecintaan dan kecendekiawan Pattingngalloang terhadap buku dan ilmu pengetahuan barat ini, juga dipengaruhi dengan perkembangan pengetahuan di Eropa pada Abad ke XVI dan XVII. Dalam catatan sejarah, masa Patingalloang hidup pada paruh abad XVI hingga XVII bertepatan pada masa puncak berlangsungnya abad pencerahan di Eropa, di abad ini lahir tokoh pemikir, pembaharu, saintifis. Sekaliber Martin Luther, Kalfin, Kopernikus, Kepller, Galileo, dan berbagai tokoh intelektual lainnya. Dunia astronomi dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan di abad ini, karena itu tak heran Karaeng Pattingalloang yang berada jauh di Timur ikut terpengaruh. Bahkan terdapat rumor yang menyebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang pernah menerima hadiah teropong dari salah seorang intelektual barat pada masanya.

Pertautan antara Pattingalloang dan pedagang-pedagang barat pada masa tersebut juga dikarenakan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahsa asing yang sangat baik. Bahkan ketika Pattingalloang berusia 18 tahun, ia telah menguasai berbagai bahasa di antaranya Portugis, Belanda, Inggris, Spanyol, Italia, Cina, Arab, dan lain-lain. Perihal penguasaan bahasa, Alexander Rhodes, seorang Misionaris di Makassar pada tahun 1646 pernah menulis tentang kemampuan berbahasa Portugis sang Mangkhubumi Kerajaan Gowa itu.

“Karaeng Patingalloang adalah orang yang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, selalu memegang buku matematika yang dipelajarinya, tiap hari dan tiap malam Ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan barat. Mendengarkan Ia berbahas Portugis tanpa melihat orangnya, maka orang akan menyangka, bahwa orang yang berbicara itu adalah orang Portugis totok dari Lisabon.”

Kecerdasan dan kemampuan seorang Pattingalloang sedikit banyak membantu Kesultanan Makassar dan penguasa Makassar saat itu—Sultan Malikudsaid Raja Gowa ke XV—dalam menggapai masa kejayaan dan gemilangnya. Ahmad Sewang dalam bukunya berjudul Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI-XVII menyebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang sebagai mangkubhumi dari Kerajaan Gowa (Kesultanan Makassar) dikenal luas sebagai orang yang menguasai berbagai bahasa asing dan menjalin persahabatan dengan raja-raja asing (penguasa Barat) serta menguasai ilmu-ilmu barat guna untuk mentransformasikan pengalaman dan pengetahuan teknik dari bangsa asing tersebut. Pengetahuan yang ditransfer adalah pengetahuan tentang peta maritim dan penyempurnaan penulisan catatan harian (lontara) dengan dilengkapi penanggalan Hijriyah dan Masehi.

Demikianlah sedikit uraian tentang Karaeng Pattingalloang, yang telah tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan kerajaan Gowa-Tallo (Kesultanan Makassar) di masa lalu. Bahkan sejarawan Sulawesi Selatan, Edward L. Poelinggomang pernah menyebutkan bahwa : karena pengetahuannya tentang dunia yang begitu luas sehingga orang-orang pada masa itu menyatakan—bagi Karaeng Patingalloang luas dunia ini sama dengan luasnya daun kelor.

Sungguminasa, 24 Desember 2017

The following two tabs change content below.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM (2011-2016) dan S2 Pendidikan IPS-Konsentrasi Pendidikan Sejarah (2017-2019). Selain menulis, juga pengajar sejarah di SMAN 2 MAKASSAR, pun pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan SMAN 3 MAKASSAR