Mereka Bernyanyi di Keabadian

 

“Selama masih bisa bernyanyi, saya akan terus menyanyi” (Yon Koeswoyo)

Kini, mereka telah bersatu di keabadian. Besar kemungkinan, mereka lagi menikmati damainya nirwana. Dan, pastilah mereka bernyanyi, bahkan mungkin saja sementara merancang konser di alam sana. Lalu, siapa mereka? Tiada lain yang saya maksudkan adalah Tony Koeswoyo, Murry, Totok AR, dan Yon Koeswoyo. Mereka inilah para personil Koes Plus formasi awal, setelah Koes Bersaudara ditinggal Nomo Koeswoyo dan si bungsu Yok Koeswoyo. Pun, makin ramai kebahagiaan mereka, sebab Koeswoyo Senior dan juga Jhon Koeswoyo, sudah bergabung pula.

Peran Koeswoyo senior, yang merupakan ayah dari Koes Bersaudara, amat menentukan keberadaan group band paling awal di negeri ini. Dari Sang Senior mengalir darah berkesenian, khususnya bermusik. Bukankah Koeswoyo adalah seorang musisi di eranya? Aliran darah bermusik inilah yang menurun kepada anak-anaknya. Demikian pula, posisi Jhon Koeswoyo sebagai saudara sulung, yang semula juga memperkuat formasi awal Koes Bersaudara, memilih mundur, namun tetap mensupport adik-adiknya, baik secara material dan spiritual. Jhon amat berjasa dalam pengadaan alat-alat musik.

Lengkapnya personil Koes Plus formasi awal, dipadatkan oleh hadirnya Yon Koeswoyo di keabadian, setelah wafat beberapa hari lalu, Jumat, 5 Januari 2018. Yon dimakamkan di Pekuburan Umum Tanah Kusir, satu liang lahat dengan kakaknya, Tony Koeswoyo, yang wafat puluhan tahun yang lalu, 27 Maret 1987. Personil kedua yang lebih dulu bergabung dengan Tony, yakni Murry, sang penabuh drum, drummer Koes Plus, telah mengalmarhum pada 1 Februari 2014. Setelah itu, disusul oleh Totok AR, pemetik gitar bas, sang bassist Koes Plus, meninggal 4 Mei 2017. Murry dan Totok adalah Plus dari duo Koeswoyo, Tony dan Yon.

Saya membayangkan di keabadian, sebelum mereka merancang konser, atau yang serupa dengannya, mereka terlebih dahulu berlatih kembali. Persis seperti ketika mereka merancang album pertama Koes Plus, Dheg Dheg Plas, tahun 1969. Saya tertegun, tatkala Murry sudah di posisi kursi emasnya, siap menabuh drum, Tony telah menyelempang gitarnya, sembari mengetes piano-keyboard. Totok AR, tak ketinggalan pula dengan gitar basnya, yang hendak menghentak. Pun, Yon telah siap dengan gitar rhythmnya, sambil testing pengeras suara. Perlahan, mereka mulai memainkan tembang-tembang lawas volume pertama Koes Plus.

Mengalunlah tembang-tembang secara berturut-turut, Awan Hitam, Derita, Kelelawar, Tiba-tiba Aku Menangis, Bergembira, Tjintamu Telah Berlalu, Dheg Dheg Plas, Manis dan Sajang, Hilang Tak Berkesan, Kembali Ke Djakarta, Biar Berlalu, dan dipamungkasi dengan lagu, Lusa Mungkin Kau Datang. Sewaktu album perdana ini diedarkan, respon publik kurang berkenan. Rupanya masih belum bergeser dari terungku kebesaran Koes Bersaudara. Karenanya, Murry sempat down, dan kecewa lalu ke Jember, Jawa Timur, dan sempat bergabung dengan Gombloh dalam group musik Lemon Tree’s Anno ’69.  Nanti setelah RRI memutar lagu-lagu yang ada di album ini, barulah penggemar mulai terhipnotis. Dan, Tony pun pergi menjemput kembali Murry.

Dari tonggak inilah kejayaan Koes Plus mulai menapak jalan. Bayang-bayang Koes Bersaudar mulai terimbangi dengan eksisnya Koes Plus, yang memang secara musikal agak berbeda rasanya. Ini karena adanya dua orang plus, Murry dan Totok AR. Benar-benar plus. Terutama dalam pukulan drum Murry, yang unik, sekaligus pembeda dengan pukulan Nomo di Koes Bersaudara. Memasuki album berikutnya, Totok AR hengkang. Yok pun masuk menggantikannya. Jadi, benar-benar sisa Murry yang plus. Formasi inilah yang malang melintang merajai musik Indonesia, menjadi trend setter balantika musik di Indonesia.

Kejayaan menuju legenda musik Indonesia, meski mereka tidak pernah menduganya. Setidaknya, hingga tahun 80-an. Meski pada rentang waktu yang dimangsa itu, terkadang Koes Plus passif, yang maju Koes Bersaudara, atau sebaliknya. Di paruh waktu itu pula, ketika Koes Plus eksis, Nomo Koeswoyo tidak tinggal diam dalam bermusik, hadirlah band Nokoes, akronim dari namanya. Ketika Koes Bersaudara, yang nampak, Murry pun tetap bermusik, dengan band yang dibikinnya, Murry’s Group.

Wafatnya Yon Koeswoyo, berarti Koes plus sisa menyisakan satu personil, Yok Koeswoyo. Tapi, bila bendera Koes Bersaudara yang dikedepankan, maka masih tersisa dua personil, Nomo dan Yok. Tentulah dua personil ini telah ditunggu oleh personil-personil lainnya di keabadian. Dan, ini sebuah keniscayaan dalam kepastian. Jelasnya, saat ini Yon Koeswoyo telah mencukupkan jatah usianya di kesementaraan dunia, lalu menapaki jalan keabadian di akhirat. Dengan begitu pula, mereka tetap mengabadi di kesementaraan, karena tembang-tembangnya akan abadi dari generasi ke generasi berikutnya anak bangsa ini. Demikianlah takdir dari mereka, Koes Bersaudara-Plus, menjadi legenda musik Indonesia.

Saat saya menuliskan esai ini, saya mengetiknya dengan amat khusyuk. Sekhusyuk dalam mendengarkan tembang-tembang volume satu ini. Seiring dengan berakhirnya ketikan tulisan, pun tiba pada tembang  pamungkas, Lusa Mungkin Kau Datang.  Dari keabadian, Yon Koeswoyo melantunkan bait-baitnya:

Sepi, sepi hatiku sedih
Sunyi, sunyi aku sendiri

Ku menanti
Kau kembali
Kau di sini

Lusa, lusa mungkin kau datang
Lama, lama ku mengharapkan

Ku menanti
Kau kembali
Kau di sini

 

Sumber gambar: https://nadatjerita.files.wordpress.com/2013/07/koes-plus-vol-1-dheg-dheg-plas-2.jpg

 

 

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *