Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Tafsir Sufistik; 114. Surah An-Nâs

﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحيمِ﴾

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾

1. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia,

Rabbinnas, Malikinnas, Ilahinnas bisa dimaknai sebagai tiga tahap perjalanan yang semestinya dilalui oleh manusia dalam perjalanan ruhaniah menuju Allah swt. Tahap pertama adalah berlindung ke Rabbinnas. Manusia sudah semestinya menjadikan Rabb sebagai pelindungnya sebab nama Rabb yakni pemelihara yang terkait secara langsung dengan eksistensi manusia.

Keyakinan manusia terhadap Rabb sebagai aspek pemelihara merupakan landasan dan pondasi utama dalam memasuki tahapan selanjutnya. Dalam tahapan ini manusia mesti menjadikan Rabb sebagai pelindung dirinya. Ada pertanyaan penting terkait dengan persoalan ini, kapankah manusia menjadikan Rabb-nya sebagai pelindung? Dan apakah kita pernah menempatkan Rabb sebagai pelindung diri kita?

Kita hanya akan menjadikan Rabb sebagai pelindung jika sebelumnya kita telah pasrah, menyerahkan segala eksistensi kita kepadaNya, dan menempatkan diriNya sebagai satu-satunya tempat bergantung. Tanpa keyakinan seperti itu kepada Rabb, maka kita tidak pernah menjadikanNya sebagai pelindung. Oleh karena itu berlindung kepada sesuatu berarti sebelumnya kita telah pasrah, percaya, menyerahkan, dan menggantungkan eksistensi kita kepada Ilahi.

Jika seseorang telah mampu menempatkan Rabbinnas sebagai pelindung berarti orang tersebut telah menyerahkan seluruh eksistensinya kepada Ilahi. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Ilahi yang akan menempatkan Allah swt sebagai satu-satunya tempat berlindung. Dan dari sini manusia bisa melanjutkan perjalanan selanjutnya yaitu menuju Malikinnas.

﴿مَلِكِ النَّاسِ﴾

2. Raja dan penguasa manusia,

Ketika seseorang telah berada pada tahap selanjutnya yaitu Malikinnas, maka pada saat itu manusia telah merasakan dominasi Ilahi terhadap dirinya. Pada tahapan ini manusia telah menyaksikan bahwa Allah swt dengan namaNya al-Malik pemilik segala realitas. Bahkan manusia telah memahami bahwa ia bukan pemilik bagi dirinya sendiri. Pemilik sejati hanya Allah swt dan pemilik segala realitas termasuk memiliki diri kita.

Apalagi jika dipahami bahwa manusia bukan pemillik hidup, mati, untung, rugi, dan kebangkitan. Oleh sebab itu, satu-satunya yang dimiliki manusia adalah ketidakpunyaan atau kefaqiran. Manusia yang telah sampai ke maqam Malikinnas adalah manusia yang telah mencicipi manifestasi Ilahi. Dan manifestasi atau tajalli Ilahi yang telah hadir di dalam dirinya membuat dirinya memahami bahwa dirinya tidak lagi memiliki apapun termasuk tidak lagi memiliki dirinya. Allah swt adalah pemilik segala keberadaan.

Kondisi kefaqiran menegaskan bahwa posisi manusia adalah sebagai wadah atau penerima asma Ilahi. Jika masih ada ego dan keakuan di dalam diri, tentu tidak akan mungkin menjadi wadah sepenuhnya dalam menerima manifestasi Ilahi. Manusia yang benar-benar bersih dari ego dan keakuan menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki apapun selain sebagai wadah penerima manifestasi Ilahi. Kondisi kefaqiran inilah yang akan mengantar manusia memasuki tahapan selanjutnya yaitu Ilahinnas.

﴿إِلٰهِ النَّاسِ﴾

3. sembahan manusia,

Kata Ilah adalah salah satu dari asma agung Ilahi. Dari kata Ilahi inilah kemudian menjadi kata Allah. Dalam Quran manusia diajak agar menyeru Allah swt. Dalam surah al-isra 110 Allah swt berfirman, “serulah Allah atau serulah Arrahman dengan nama mana saja yang kau seru, baginya mempunyai (meliputi) asmaul husna . . .”. Oleh karena itu, yang kita sembah sesungguhnya adalah Allah swt. Namun seseorang yang masih punya ego dan keakuan akan sulit menyembah Allah swt.

Berbeda dengan seorang hamba yang benar-benar kosong dari hawa nafsu yang memahami bahwa dirinya sudah tidak memiliki apapun. Namun dengan aspek kefaqiran di dalam dirinya itulah sehingga ia benar-benar mampu menempatkan Allah swt sebagai hakikat yang sebenar-benarnya mesti disembah.

Dari sini dapat dipahami bahwa Rabbinnas, Malikinnas, dan Ilahinnas merupakan tiga tahapan perjalanan ruhaniah. Puncak perjalanan adalah sampai kepada Ilahi yang diawali dengan berlindung kepada Rabbinnas. Malikinnas adalah maqam penegasan aspek kefaqiran manusia agar manusia bisa benar-benar sampai kepada Ilahi.

﴿مِنْ شَرِّ الْوَسْواسِ الْخَنَّاسِ﴾

4. dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,

Ayat diatas adalah suatu peringatan sekaligus menjelaskan alasan mengapa manusia mesti berlindung kepada Rabbinnas dari waswas atau bisikan. Syekh Sahal Tustari dengan sangat apik menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan waswas adalah segala sesuatu selain Allah swt. Apa pun dan bagaimana pun bentuk sesuatu tersebut, selama masih tidak terkait dengan Ilahi maka akan terpahami sebagai selain Tuhan.

Bisikan setan hadir di dalam batin manusia. Tapi mengapa setan mampu membisikkan sesuatu di dalam diri manusia? Jawabannya adalah karena selama ini kita membiarkan bisikan setan hadir di dalam diri kita. Kita tak pernah mencoba mengendalikan imajinasi dan pikiran kita sendiri. Selama ini kita membiarkan segala bentuk pikiran dan imajinasi hadir di dalam diri kita. Akibatnya bisikan itulah yang mengontrol pilihan-pilihan kita.

Bukan itu saja, bahkan kita menikmati kehadiran bisikan setan di dalam diri. Bukankah kita benar-benar menikmati saat kita melakukan gibah dan menggibah orang lain? Bukankah kita menikmati saat kita bisa mengecilkan dan menundukkan orang lain? Dan inilah salah satu dari makna ayat tersebut tentang ‘yang biasa bersembunyi’.

Karena setan adalah musuh utama kita sebab itu setan selalu bersembunyi. Dan tempat persembunyian setan yang paling aman adalah sesuatu yang buruk ditampakkan sebagai sesuatu yang indah dan sesuatu yang indah ditampakkan sebagai sesuatu yang buruk. Sehingga saat setan berhasil melakukan trik tersebut, setan tak perlu lagi bersembunyi sebab telah menjadi kawan dekat di dalam diri kita.

﴿ٱلَّذي يُوَسْوِسُ في‏ صُدُورِ النَّاسِ﴾

5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

Cara setan agar benar-benar bisa menguasai manusia adalah dengan merebut hati (shudur) manusia. Jika setan mampu berhasil masuk di dalam hati manusia, dan beranak pinak di dalam hati manusia, maka pada saat itu setan akan mengontrol eksistensi manusia. Apa pun yang diperintahkan oleh setan akan diikuti oleh manusia. Dan pada saat itu manusia menjadi bagian dari makar setan dalam menjerat manusia ke jalan keburukan dan kesesatan.

﴿مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ﴾

6. dari (golongan) jin dan manusia.

The following two tabs change content below.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.