Cerita di Simpang Jalan

Malam baru saja berpendar setelah ditinggal semburat senja yang indah. Tak ada bintang gemintang menghiasinya mungkin karena saat ini telah memasuki musim pancaroba, dari musim kemarau yang cukup panjang ke musim penghujan. Aku dan beberapa kawan sejawat menuju ke ibukota kabupaten. Obrolan-obrolan lepas kami di dalam mobil terintrupsi oleh gegap-gempita yang tiba-tiba memotong di perempatan jalan kampung. Segerombolan kendaraan roda dua dan empat dengan berbagai atribut yang di bawanya menghalau jalan. Semua kendaraan yang searahku terhenti beberapa lama.

Kami baru ingat bila saat ini telah memasuki bulan kampanye pemilihan Bupati di daerah tempatku bekerja dan serentak akan dilaksanakan di pelbagai daerah, baik  Provinsi, maupun kabupaten dan Kota, di seluruh negeri, di nusantara, yang belum berapa lama mencoba melaksanakan proses demokrasi langsung, dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Masih seperti sediakala, bila ada pagelaran kampanye terbuka baik di lapangan maupun di jalan-jalan, pesertanya lebih sering menyusahkan pejalan dari pada menguntungkannya. Jarang sekali kita menemukan kampanye yang dilakukan secara simpatik yang membuat orang menyaksinya terkagum-kagum dan merasa nyaman. Sama seperti malam ini kampanye dari sepasang kandidat bupati cukup mengganggu nyaris meresahkan. Bagaimana tidak, kebisingan knalpot kendaraan yang memekakkan telinga ditambahi teriakan-teriakan yang tak berujung pangkal, juga laku-laku yang cenderung banal. Apatah lagi bila menjumpai orang-orang yang melintas dengan atribut yang berbeda atau berlawanan dengan mereka, biasanya mengundang laku anarkisme. Padahal, yang namanya kampanye untuk merebut hati warga, seyogiyanya dilakukan sebagaimana pelayan yang melayani warga yang hendak memilih. Tapi alih-alih menarik simpatik berlaku sedikit sopan pun diabainya.

Berkenaan dengan Pemilukada serentak tahun ini tentu menjadi hajatan istimewa di lihat dari jumlah daerah yang menggelarnya dan dinamika peserta yang bertarung serta dinamika partai yang mengusung calon-calonnya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah biaya yang dikucurkan untuk pelakasanaan event akbar ini tentu tidak sedikit jumlahnya, sumber dari KPU pusat menghitung hampir 20 trilyun yang artinya besarannya hampir menyamai APBD 2 (dua) provinsi yang dipakai membangun selama setahun di semua sektor, itu hanya belanja Pilkada belum biaya kampanye dan lain-lain. Memang sangat fantastis.

Jadi, bila para politisi tidak melek hatinya membangun negeri ini dengan sungguh-sungguh dan baik, maka aku khawatir bersamaan dengan proses demokrasi yang berlangsung, yang mestinya memperlihatkan kinerja dan semangat pengabdian yang tinggi, maka tunggulah masa kehancuran negeri ini yang tidak hanya berdampak pada politisi saja tapi juga pada seluruh warga termasuk yang mulai apatis dengan proses politik yang selama ini diperagakan, pun, masyarakat awam yang jumlahnya jauh lebih besar tinimbang orang-orang yang selama ini bergelut di centang-perenangnya dunia politik.

Bila menilik dari tujuan mulia demokrasi bahwa dalam rangka penyelenggaraan negara yang mulai dijalankan, dan bermuara pada kesejahteraan warga bangsa maka mestinya proses dan muara demokrasi mencerminkan keteladanan dan taat azas aturan yang telah disepakati. Begitu pula setelah usai seluruh proses penyelenggaraan pemilihan dalam semua strata, dari kabupaten/kota hingga pusat maka penyelenggaraan pemerintahan mesti mengacu pada prinsip-prinsip dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jadi, seluruh proses pembangunan peruntukannya untuk rakyat.

Mari kita menengok proses perjalanan demokrasi selama masa reformasi yang telah berjalan selama lebih dari dua puluh tahun, riak-riak yang meriuhi prosesnya sangat gempita. Harapan warga bangsa untuk menuai kesejahteraan masih jauh panggang dari apinya. Justeru, yang nampak adalah para penilep uang rakyat semakin menggurita dan jumlah orangnya semakin banyak. Para peneyelenggara negara hasil pemilihan umum oleh rakyat hanya menyengsarakan rakyat. Korupsi dan penyalah-gunaan jabatan berlangsung massif dari level bawah hingga di pucuk-pucuk pemimpinan.

Ratap tangis para jelata di luar ring-ring kompetisi politik semakin menyesakkan dada. Sebab, semua segmen bisa dijual atas nama rakyat walaupun yang mengunyah dan melahapnya hanya segelintir orang. Kelompok-kelompok masyarakat pun nyaris tak berdaya. Lembaga-lembaga kekuatan politik semacam lembaga kemahasiswaan dan pers dengan mudah “terbeli” oleh para pecundang politik di pasar-pasar gelap namun terasa, ibarat kentut yang tak tampak namun aroma busuknya tercium kemana-mana.

Senarai cerita ini nampaknya belum hendak beranjak dari hiruk pikuk negeri ini. Dari masa ke masa pesertanya semakin beragam. Entah kapan cahaya kebajikan akan memihak pada negeri dan bangsa ini. Yang ada, kita semakin kerap bertingkah lucu yang tak membuat orang tertawa malah mencibir.

Kata, Vaclav Havel, ketika pertama kali memimpin Ceko-Slovakia sebagai perdana menteri sejak terpisahnya dari Uni Soviet “Demokrasi menjadi sebuah sistem yang indah bila berada di tangan para politisi yang memahami dan mampu mempraktikkan gerakan humanisme di dalam politiknya.”

Setelah sempat terhenti beberapa saat kendaraan kami melaju kembali melintasi persimpangan jalan yang menjadi cerita sepanjang roda mengayuh. Kami semua masih belum menemukan benang merah demokrasi yang mencerahkan dan mensejahterakan warga bangsa negeri ini. Terlampau banyak tenaga, pikiran, dan anggaran yang tumpah ruah namun masih jauh jalan yang hendak dituju. Sementara di antara kita telah banyak yang apatis bahkan frustrasi dengan keadaan yang tidak semakin membaik. Dari perbincangan hingga memasuki dunia mimpi namun tak kulihat jua pintas cahaya yang menyuluh menuju kebajikan dalam realitas politik kekinian negeri ini. wallahu a’lam.

 

Sumber gambar: https://titiknol.co.id/images/post/2017/01/titiknol_26z_titiknol_1d0_kampanye.jpg

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *