Dari Gus Dur Hingga Kebangkitan Nasional Dalam Stadion

Penghargaan Ballon d’ Or tahun 2017 menjadi jatah C. Ronaldo. Pemain berkebangsaan Portugal tersebut telah mendulang trofi pemain terbaik dunia sebanyak 5 kali. Kini Ronaldo menyamai prestasi Lionel Messi dari Barcelona. Hal ini tentu telah diketahui banyak orang, khususnya para pencinta bola. Saya tidak bermaksud menuliskan lebih jauh sepak terjang kedua seniman sepakbola itu. Selain was-was kalau-kalau penggemar berat klub lain seperti Arsenal—Guru Han misalnya—  membalas tulisan saya jika hanya mengulas Messi dan Ronaldo, juga karena dunia telah mengenal mereka. Messi dan Ronaldo boleh dikata merupakan icon sepakbola kontemporer. Beragam statment dari masyarakat atau pengamat sepakbola, hingga para politikus dan penjudi bola berserak di mana-mana. Mulai dari pujian setinggi langit –Messi disebut alien, hingga kritikan dan cemooh dari anti Messi atau anti Ronaldo.

Membincang si kulit bundar, tahun 90-an ada seorang Kiai yang dianggap memiliki prediksi akurat dan analisis yang tajam dalam sepakbola. Gus Dur! Siapa sangka seorang ulama dan umara memiliki talenta menjadi pengamat sepakbola. Walaupun Gus Dur bukan orang yang ahli dalam sepakbola. Dalam buku Gus Dur dan Sepakbola yang diterbitkan Imtiyaz, terhimpun pelbagai artikel Gus Dur tentang sepakbola sejak tahun 1982 Piala Dunia di Spanyol hingga tahun 2000, ketika ia menjadi presiden.

Buku itu juga memuat wawancara Gus Dur soal sepakbola. Misalnya pada perhelatan Piala Dunia 2006 Gus Dur ditanya, kira-kira kapan Indonesia masuk Piala Dunia? Gus Dur menjadi pesimis dan menjawab butuh waktu yang lama bagi Indonesia supaya bisa masuk Piala Dunia. Ketika ditanya kembali “kok gitu, Gus?” Spontan Gus Dur menjawab, “ya gimana lagi, lha PSSI-nya kayak gitu. Gimana persepakbolaan kita pengen maju. Gitu aja kok repot!” Tentunya ini terjadi tahun 2006 silam. Masyarakat Indonesia berharap banyak pada pengurus PSSI sekarang, agar memperbaiki kinerjanya. Jangan lagi ada kegaduhan dikubu PSSI yang berbuntut hukuman dari FIFA.

Lalu bagaimana pendapat Gus Dur tentang pemain terbaik dunia Messi dan Ronaldo? Bagaimana pendapat Gus Dur soal perhelatan piala dunia mendatang yang tidak akan menampilkan Italia dan Belanda? Negara manakah yang akan memenangkan Piala Dunia Mendatang? Pertanyaan nakal tersebut terlintas saat membaca buku Gus Dur dan Sepakbola. Walaupun saya tahu bahwa tidak akan ada jawaban dari Gus Dur, yang oleh Sindhunata dijuluki sebagai Semar. Sebab sewindu yang lalu, Gus Dur telah menuju alam keabadian. (Ilaarruhil khusus Abdurrahman Wahid syaiun lillahi ta’ala, al-Fatihah).

Ya, Gus Dur telah pergi! Dia meninggalkan negerinya yang karut marut. Tempo hari setelah 32 tahun kita bungkam dan dilarang “tertawa”, Gus Dur muncul dengan jokenya yang lucu nan bijak. Membuat rakyat tertawa bersama dengan damainya dalam keragaman, hingga membuat lupa kalau dulu kita diseragamkan. Kini, tidak ada lagi guyonan ala Gus Dur dari singgasana kekuasaan di Senayan. Yang ada hanya kelucuan-kelucuan yang ditampilkan artis parlemen dengan drama menabrak tiang listrik misalnya.

Dan semenjak ditinggalkan Gus Dur, melawak –apalagi dengan konten yang satire—tidak diperbolehkan di negeri silang sengkarut ini. Fenomena pelarangan tertawa bisa saja terjadi. Mengingat kasus komedian yang diobok-obok karena dianggap melucu dengan konten sarkas dan berbau SARA. Maka berhati-hatilah ketika hendak melucu. Anda bisa saja menjadi tidak lucu atau menjadi lucu setelah babak belur di-bully dengan meme. Karena di era milenial, mayoritas penonton tidak suka tertawa apalagi ditertawakan.

Gus Dur, ulama dan umara itu telah pergi! Dia meninggalkan negerinya yang terlunta-lunta di pesisir zaman. Kapal bangsanya hampir karam, karena layarnya terkoyak-koyak oleh awak kapal yang berebut makanan untuk perut sendiri. Walaupun negeri ini sering dilaporkan kolaps kata Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Kagum Kepada Orang Indonesia, tetap saja tertawa, tersenyum, dan dadah-dadah di sana-sini, bahkan koruptor melambaikan tangan ke kamera tivi dengan senyum cerah.

Di sudut kapal yang lain, para penghuni kapal mulai berunjuk rasa hingga berjilid-jilid. Kebenaran sedang diperjuangkan untuk dimiliki oleh mayoritas saja. Mereka menuntut agar kapal kembali berlayar di padang Sahara, bukan buang sauh di samudera Pasifik di mana khatulistiwa membentang. Walhasil, di geladak kapal kemarahan-kemarahan, kebencian-kebencian, dan ketegangan-ketegangan di antara penghuni kapal kian meruncing. Perbedaan pendapat, keragaman suku, budaya, dan agama para penghuni kapal, tidak bisa lagi diterima sebagai rahmat. Kapal negeri ini tidak lagi dilihat sebagai kapal induk tempat berlabuhnya kapal dari pelbagai suku bangsa. Tetapi dianggap kapal grab yang disewa untuk satu golongan saja.

Maka perlu bagi para penghuni kapal bangsa ini, memetik hikmah dari sepakbola. “Bukankah kita akan diperkaya dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia oleh sesuatu yang terjadi di lapangan sepakbola?” kata Gus Dur. Persatuan dan kesatuan pemain keduabelas sepakbola salah satunya. Suporter tim nasional merupakan entitas kecil yang mesti kita contoh. Di dalam stadion, setiap orang menyemai doa yang sama. Yel-yel yang sama diteriakkan sembari saling merangkul pundak orang-orang di samping kiri dan kanan. Semua menari bersama dengan semangat yang membara. Seketika semua berteriak, Indonesia! Indonesia!

Atmosfer stadion menebar aura sakral yang membuat hati bergumuruh. Padahal para suporter tersebut bisa saja dari agama dan fans fanatik klub bola yang berbeda. Ada dari PSM, Persija, Barcelona, Real Madrid, Arsenal, Manchaster United, Arema, Persipura, dan sebagainya. Akan tetapi keharmonisan tersebut bisa terwujud karena di dalam dada mereka terpatri semangat nasionalisme yang sama. Garuda di dada! Semangat inilah yang menembus batas-batas perbedaan agama, suku, dan budaya. Jadi barangkali virus-virus toleransi dan kebangkitan nasional akan lahir bukan lagi dari dalam kampus atau dari majelis-majelis, tetapi dari dalam stadion, dipelopori para suporter sepakbola.

 


sumber gambar: www.imgrum.org

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *