Pagi di awal November yang basah, kembaraku berlanjut ke daerah pesisir pantai Bolaang Mongondow bagian timur. Sepanjang jalan rinai hujan seolah mengantarku jejaki jalan-jalan berkelok, berbukit dan kerap pula bersua lembah yang lembab. Sepanjang jalan, nyiur melambai-lambai seakan menyambutku ramah dan berseru, selamat datang di negeri Totabuan, negeri para Bogani pemberani. Melintasi beberapa Desa yang berpanorama indah. Perpaduan antara rerimbun pepohonan kelapa dan cengkeh dengan tepi pantai nan landai diiringi debur ombak menderu  membawa hati pelintasnya menyerap damai.

Setelah melintasi beberapa desa, sampailah aku di sebuah desa yang beberapa tahun silam kerap kukunjungi. Kepala desa yang digelar Sangadi telah menjadi sahabatku. Melihatku turun dari kendaraan bersama seorang rekan sejawat, Pak Sangadi melangkah cepat keluar dari rumahnya menyambutku dan menghadiahiku senyum lebar menyejukkan hatiku. Setelah cipika-cipiki sejenak kami dibawahnya masuk ke rumahnya sembari bertukar info tentang kabar dan keadaan kami selama ini. Karena telah beberapa tahun tak sua.

Tak menunggu lama, secerek kopi Goraka sudah ngepul di atas meja. Silahkan Pak, kata Ibu Sangadi mempersilahkan dengan ramah. Orang serumah, bapak Sangadi sudah tahu hal minuman kesukaanku. Setiapkali kedatanganku ke rumahnya kopi Goraka beraroma khas wangi itu tak pernah absen. Kopi Goraka, Kopi Mongondow yang diolah bersama jahe merah, jahe dalam bahasa mongondow disebut goraka, maka perpaduan olahan tersebut dinamai kopi goraka atawa kopi jahe. Mungkin di daerah lain ada juga jenis racikan kopi jahe, tapi menurutku kopi goraka di Mongondow ini sangat khas aroma dan rasanya.

Kopi Mongondow juga pernah mashur sebab perkebunan kopi di kawasan ini sudah ada jauh sebelum negeri ini merdeka, di awal abad ke XIX. Bahkan di kawasan gunung Ambang dulu terdapat perkebunan kopi VOC Belanda, di mana pekerjanya dibawa dari pulau Jawa dan mereka membangun komunitas sendiri, menamai kampungnya dengan nama kampung halaman mereka di pulau Jawa, yakni kampung “Purworejo”.

Para pekerja kebun kopi VOC di Mongondow itu hingga negeri ini merdeka, mereka tidak pernah kembali lagi ke kampung halamannya di pulau Jawa. Hingga kini mereka telah kawin-mawin dengan warga lokal. Dan kini telah mewariskan kebun yang cukup variatif, jadi tidak lagi semata kebun kopi tapi juga hasil bumi lainnya seperti sayur-mayur dan lain-lain, pada generasi ke empat hingga kini.

Hampir semua sejarawan yang mengamati perkembangan kopi dunia sepakat bahwa, tumbuhan kopi bermula ditemukan di Afrika Selatan tepatnya di Etiopia. Dalam cerita rakyat atawa legenda demikian pula, menceritakan bahwa kopi tanpa disengaja ditemukan oleh seorang pengembala biri-biri. Kala di suatu malam sekawanan ternaknya didapatinya sangat aktif beraktivitas hingga suntuk tak tidur-tidur. Dari situ pengembala itu mengamati makanan apa gerangan yang disantapnya hingga biri-birinya itu kuat beraktivitas hingga suntuk dan tak tidur. Maka yang ditemukan adalah bijian kopi yang waktu itu hanya sejenis tumbuhan liar yang buahnya tak bernilai ekonomis. Setelah mencobanya dan menemukan kasiat yang bagus untuk kesehatan tubuhnya maka mulailah mereka kembangkan tumbuhan kopi ini.

Pada abad ke 15 telah terjadi diaspora pertama tumbuhan kopi ke daerah Yaman. Kemudian menyebar ke negeri-negeri di jazirah Arab. Hingga terbukanya kedai kopi pertama di kota Kavi Han di Turki. Seusai Perang Salib, biji kopi mulai menyerbu Eropa dan mengembangbiakkannya hingga ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia dan Bolaangmongondow. Untuk Indonesia pertama kali biji kopi dikembangbiakkan di Jakarta di daerah yang kini dikenal Pondok Kopi, Jakarta timur. Hingga suatu ketika daerah itu mengalami petaka gempa bumi dan banjir yang menghancurkan seluruh kebun kopi di kawasan tersebut. Kemudian perkebunan kopi dipindahkan ke kawasan pegunungan di Jawa Barat. Lalu pada tahun 1711 hasil perkebunan kopi di Indonesia sudah diekspor ke Eropa oleh VOC dan sejak itu permintaan kopi di Eropa ke VOC sudah terbilang tinggi.

Imperialis VOC, ternyata bukan hanya membawa pergi produk rempah-rempah dari timur yang mereka gerogoti tapi juga kopi. Satu diantaranya adalah kopi Mongondow yang dulu memang mashur dan diminati pecandu kopi di Eropa. Walau kini kebun kopi di kawasan gunung Ambang tidak lagi seproduktif dulu, mungkin karena para petani di daerah itu yang sudah generasi keempat tak lagi sekedar merawat kebun pohon kopi tapi telah berupa-rupa jenis buah dan sayur mayur menjadi andalan mata-pencaharian mereka.

Kopi Goraka yang menghangatkan tubuh juga hanya komsumsi warga Bolaangmongondow belum keluar dari daerahnya untuk bersaing dengan jenis-jenis kopi lainnya di luar daerah ini. Semisal Kopi Toraja di Sulawesi Selatan, Kopi Mandailing di Sumatera Utara, Kopi Gayoh di Aceh, Kopi Kintamani di Bali, Kopi Malabar di Jawa Barat, dan kopi dari Papua yang sudah mulai memasuki pasar nasional dan Internasional.

Terkait dengan kualitas kopi, itu tidak hanya bertumpu pada racikan yang dilakukan oleh para Barista (peracik kopi) di kedai-kedai kopi, tapi dimulai dari pemilihan bibit yang berkualitas, penanaman dan pemeliharaan, pemetikan, proses sangrai, hingga biji-biji kopi siap dipasarkan.

Bennet Alan Weinberg dan Bonnie K. Bealer, membuka hasil penelitiannya dalam The Miracle of Caffeine menyebutkan “Adakah senyawa yang dapat membuat Anda berlari lebih jauh dan lebih cepat, berpikir lebih mudah dan jernih, merasa lebih bahagia, lebih percaya diri, dan lebih santai, yang membuat Anda makan lebih sedikit dan bahkan merupakan antioksidan yang ampuh? Selain itu juga adalah obat penghibur terfavorit  abad ke 21, sebuah ikon yang popular? Ya, benar. Jawabannya adalah kafein.”

Hingga sore hari tiba barulah saya beranjak dari rumah Sangadi dan hendak melakukan perjalanan selanjutnya. Perjalanan di tepi Danau Mo’at aku melihat gunung Ambang masih diselimuti awan mesti cuaca sedang cerah namun semakin memperindah pemandangan di sekitarnya. Pohon-pohon kopi berusia tua yang kurang terawat nampak di sepanjang jalan dikitari kebun-kebun sayur sebagai mata pencaharian utama warga, kini menggantikan kemashuran Kopi Mongondow. Seseruput kopi Goraka di tepi danau Mo’at tentu meninggalkan kenangan baik yang mendorongku untuk selalu hendak mengunjunginya kembali.

 

Sumber gambar: http://redaksiindonesia.com/sites/default/files/styles/konten-750×500/public/field/image/kopi3.jpg?itok=RzDYiPMO

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *