Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Hanya Dia yang Pasti

Perjalananku di bulan Oktober ini, kembali mengais nafkah di kampung seberang berjalan lancar. Seperti biasa dalam perjalanan panjang menyusuri jalan dan angkasa selalu saja sua dan berkenalan dengan orang baru. Ada yang setelah mengakhiri perjalanan maka berakhir pula sampai di situ pertemuan kami. Ada pula yang berjalin berkelindan setelahnya. Saling menyapa via telepon atawa alat komunikasi lainnya. Begitulah perjalanan kehidupan dan perjalananku yang telah berpuluh tahun mengais nafkah di kampung rantau.

Dari bandara Internasional Sam Ratulangi kami dijemput rekan kerja dan mampir sejenak di kantor perwakilan untuk kemudian berangkat ke tempat kerja yang akan menempuh perjalanan sekira dua ratus kilometer. Sepanjang jalan irama hujan mengantar kami seolah mengiringi beberapa lelaki pejalan yang bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarganya. Seolah derai hujan itu bernyayi senandung rindu yang selalu memeluk tiga lelaki yang sedang mengembara untuk melanjutkan hidup membangun peradaban beradab tanpa harus mengkhianati negeri dan khalayak.

Irama hujan baur dengan syair dan lagu dari group band payung teduh sepanjang jalan, menambah romansa hati yang saling bersitatap satu dengan yang lainnya, yang selalu menangkup rindu. Dalam diam, seorang kawan dari kami bertiga memecah keheningan dengan bertanya padaku tentang seorang putra daerah yang tertangkap tangan oleh KPK menyuap seorang hakim dalam sebuah perkara penangan delik korupsi. Temanku itu bertanya padaku, mungkin karena beliau tahu bila aku mengenal pemuda itu yang reputasi politiknya senanjak sangat bagus di usianya yang masih tergolong muda.

Aku mencoba menjelaskannya sebatas kemampuanku dan apa yang kutahu tentang pemuda itu. Bahwa kasus yang menjeratnya sesungguhnya termasuk sepele walau berdampak mematikan secara telak akan karir politiknya ke depan. Bahwa anak muda yang jalan hidup politiknya sangat cemerlang itu sesungguhnya sangat menyayangi keluarganya. Dan nampaknya ekspresi itulah yang mengantarnya terjebak dalam pusaran kasus yang menjerat dan membawanya terpuruk di usia mudanya. Dan tidak tanggung-tanggung sebab kasus yang menjeratnya adalah kasus yang sangat nista untuk sebuah nama baik dan peradaban nan bajik.

Dalam setiap perjalanan kehidupan tidak selamanya berjalan linear. Di tengahnya atawa mungkin di awal dan di akhir ada hal yang mengejutkan mengantar jejak-jejak kita. Pertarungan kebajikan dan kejahatan terus berlangsung hingga akhir kehidupan di bumi fana ini seperti kisah awal dari kehidupan manusia di bumi ini seolah kisah Qabil dan Habil secara antropologis tak pernah usai . Namun nampaknya kepicikan selalu saja menutup mata dunia untuk menghalaunya.

Dalam sebuah kisah abadi nan bajik, sepotong kisah dari Hasan Al Bashri yang dikenal sebagai seorang sufi besar dan alim yang disegani di zamannya. Suatu hari, sebagai seorang pedagang mutiara dan permata, Hasan Al Basri mengunjungi Negeri Bizantium untuk urusan dagang dan menemui perdana menterinya. Setelah berbincang sejenak, Sang menteri itu mengajak Sang Sufi untuk mengunjungi suatu tempat di padang pasir yang luas. Di sana Hasan Al Basri melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium, diikat dengan tali sutra dan dipancang dengan tiang emas di atas tanah. Hasan Al Basri berdiri di jejauhan.

Tak berselang lama kemudian muncul sepasukan tentara perkasa dengan perlengkapan perang yang lengkap. Mereka lalu mengelilingi tenda itu, menggumamkan beberapa patah kata kemudian pergi. Setelah itu muncul para filsuf dan cendekiawan yang hampir empat ratus orang jumlahnya. Mereka mengelilingi tenda itu, menggumamkan beberapa patah kata kemudian berlalu dari tempat itu. Kemudian, datang lagi sekira tiga ratus orang tua yang arif bijaksana dan berjanggut putih, mereka menghampiri dan mengelilingi tenda itu lalu menggumamkan beberapa kata, kemudian berlalu. Akhirnya datang pula lebih dari dua ratus perawan cantik masing-masing mengusung nampan penuh dengan emas, perak, dan batu permata, mereka mengelilingi tenda itu dan menggumamkan beberpa patah kata kemudian pergi meninggalkannya.

Sepasukan tentara di atas yang mula-mula mengelilingi tenda tersebut berkata : “wahai putra mahkota seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang menimpamu datang dari Dia yang tak sanggup kami perangi dan tak bisa kami tantang.” Setelah berucap seperti itu mereka pun berlalu dari tempat itu.

Kemudian giliran para filsuf dan cendekiawan. Mereka berkata : “Malapetaka yang menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak bisa kami lawan dengan ilmu pengetahuan, filsafat, dan tipu muslihat. Karena semua filsuf di atas bumi ini tidak berdaya menghadapinNya. Jika tidak demikian halnya, kami telah berusaha dengan mengajukan dalih-dalih yang tak bisa dibantah oleh siapa pun di alam semesta ini.” Setelah berucap demikian para filsuf dan cendekiawan itu pun pergi dari tempat tersebut.

Selanjutnya orang-orang tua yang mulia tampil seraya berkata : “Wahai putra mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa dicegah oleh campur tangan orang-orang tua, niscaya kami telah mencegahnya dengan doa-doa kami yang rendah hati ini, dan pastilah kami tidak akan meninggalkan engkau seorang diri di tempat ini. Tetapi malapetaka yang ditimpakan kepadamu datang dari Dia yang sedikit pun tak bisa dicegah oleh campur tangan manusia-manusia yang lemah.” Setelah kata-kata itu mereka ucapkan mereka pun berlalu.

Kemudian gadis-gadis cantik dengan nampan-nampan berisi emas dan batu permata datang menghampiri mengelilingi tenda itu dan berkata : “Wahai putra kaisar, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa ditebus dengan kekayaan dan kecantikan, niscaya kami merelakan diri dan harta kekayaan kami yang banyak ini untuk menebusmu dan tidak kami tinggalkan engkau di tempat ini. Namun malapetaka ini ditimpakan oleh Dia yang tak bisa dipengaruhi oleh harta kekayaan dan kecantikan.” Setelah kata-kata itu mereka ucapkan, mereka pun meninggalkan tempat itu.

Terakhir sekali kaisar beserta perdana menteri tampil, masuk ke dalam tenda dan berkata : “wahai biji mata dan pelita hati ayahanda! Wahai buah hati ayahanda! Apakah yang bisa ayahanda lakukan? Ayahanda telah mendatangkan sepasukan tentara yang perkasa, para filsuf dan cendekiawan, para pawang dan penasehat, dan dara-dara cantik yang jelita, harta benda dan segala macam barang-barang berharga. Ayahanda sendiri pun telah datang. Jika semua ini ada manfaatnya, maka ayahanda pasti melakukan segala sesuatu yang dapat ayahanda lakukan. Tetapi malapetaka ini telah ditimpakan kepadamu oleh Dia yang tidak bisa dilawan oleh ayah beserta segala aparat, pasukan, pengawal, harta benda dan barang-barang berharga ini. Kata-kata ini diucapkan oleh Sang Kaisar kemudian berlalu dari tempat itu.

Hanya Dia yang pasti selainNya hanyalah bayang-bayang dan fatamorgana. Dalam kisah yang terjadi di abad 6 masehi itu antara Bashrah dan Bizantium. Negeri raksasa, adidaya, dan penguasa dunia. Tapi takluk pada yang Maha Kuasa yang semula dinapikannya. Maharaja dan Pangeran yang ia sangat cintai bertekuk lutut pada kuasaNya. Sebuah kisah yang mestinya dirujuk oleh para elit negeri ini, sebab negeri ini  butuh para pemimpin dan elit yang meyakini kekuatan yang maha dahsyat yang ada di luar dirinya.

Saat ini di negeri ini, elit-elit kita kerap lupa bahwa segala kuasa dan harta benda yang melimpah ruah pada akhirnya bertekuk pada kuasaNya. Sehingga peran-peran kuasa Mang Maha Kuasa hendak diambil alihnya. Segala tipu muslihat dilakunya untuk melanggengkan kemapanannya. Segala modus operandi licik dan picik digunakannya untuk tetap bertahta pada pucuk kuasa, yang sesungguhnya semu.

 

Ilustrasi: Nabila Azzahra

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)