Nutrisi Supranatural dan Kutukan Tuhan

Hampir semua orang Indonesia mengenal lagu kolam susunya Koes Plus. Dalam lagunya itu, Yok Koeswoyo menyampaikan bahwa “tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Karena kesuburannya itu pula lah yang kemudian menjadikan kita sebagai salah satu negara dengan suksesi kolonialisme paling beragam di dunia. Sebut saja Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris hingga Jepang. Kita belum menghitung aktifitas dagang sebelum masa kolonial ketika banyak kerajaan-kerajaan besar dari Tiongkok, India dan Timur Tengah yang juga turut kepincut dengan kekayaan alam kita.

Mungkin karena tanah surganya itulah sehingga berkah-berkah Tuhan selalu hadir dari apapun yang tumbuh di atas tanah Indonesia. Meskipun hanya menghasilkan makanan sederhana ala-ala kampung seperti nasi jagung dan ubi rebus, namun rupanya kesemua menu sederhana ini memiliki berkah nutrisi yang tampak “Supranatural”, dari nutrisi ini jugalah akhirnya kita mampu menghasilkan banyak anak-anak muda dengan bakat alami yang luar biasa.

Salah satu hasil dari nutrisi supranatural ini bisa kita lihat pada seorang Lalu Muhammad Zohri yang berhasil meraih medali emas pada pentas atletik dunia IAAF World U-20. Siapa yang bisa menyangka, remaja yatim piatu dari keluarga miskin yang hidup dan makan ala kadarnya ini dalam event bergengsi IAAF U-20 mampu mengalahkan seorang Anthony Schwartz yang dibina dengan fasilitas pelatihan dan kontrol kesehatan yang super lengkap ala-ala Amerika.

Tak ada yang menyangka kemenangan Zohri di Tampere. Hampir semua pengamat memprediksi Anthony Schwartz lah yang akan mmenangi kejuaraan ini mengingat dirinya yag masih menyandang predikat World Best Youth dalam situs resmi IAAF. Mereka yang memegang gelar ini adalah proyeksi calon-calon juara olimpiade di masa depan. Sebut saja nama legenda sprinter dunia Usain Bolt yang pernah meraih gelar ini di tahun 2003.

Beralih ke dunia sepakbola. Dalam pentas Gothia Cup, yang sering disebut sebagai Piala Dunia Junior. Para remaja-remaja Indonesia yang notabenenya hanya para pemain bola “agraris” di sawah-sawah kering pasca panen atau paling banter di lapangan sepakbola ala kadarnya beserta hewan-hewan ternak yang juga ikut merumput, malah sangat jarang sekali tersisih di babak penyisihan. Hampir semua remaja Indonesia yang bertanding di Gothia Cup ini paling rendah selalu tembus ke babak perempat final. Bahkan pada Gothia Cup tahun 2016 di Swedia, klub ASIOP Apacinti yang imotori Egy Maulana Vikri berhasil meraih gelar juara dunia kategori U-15 setelah menumbangkan IF Elfsborg asal Swedia dengan skor 3-1.

Prestasi-prestasi kita yang sangat mentereng di tingkat junior ini adalah sebuah pertanda alam bahwa berkah tuhan melalui nutrisi-nutrisi supranaturalnya selalu diturunkan kepada manusia-manusia Indonesia, namun rupanya, kita luput dari mensyukuri dan memanfaatkan ini semua. Kita lengah dan malah terkesan blunder karena disaat anak-anak yang diberkahi ini beralih ke tingkat senior, mereka akhirnya tenggelam dan menguap hilang secara perlahan. Ini semua terjadi dan sampai sekarang pun masih sering terjadi, karena secara garis besar, kita melakukan dua kesalahan fundamental. Kesalahan pertama adalah, kita menghiraukan proses yang berkesinambungan. Bakat-bakat alami yang luar biasa ini rupanya memiliki masa kedaluwarsa. Kita abai dengan program-program berkelanjutan yang bisa meningkatkan kemampuan para anak muda kita ini ke jenjang yang lebih kompetitif. Negara-negara asing diluar sana yang boleh jadi tidak diberkahi dengan bakat-bakat alami dan nutrisi supranatural seperti yang kita miliki, namun pendidikan dan pelatihan mereka yang konsisten, berkelanjutan, terstruktur dan kompetitif akhirnya bisa menghasilkan para atlet dengan performa yang luar biasa. Kita abai dengan proses, karena sehebat apapun bakat itu, bila tidak ditempa melalui proses, maka ia akan menguap begitu saja. Hilang dan habis dimakan waktu.

Kesalahan fundametal kita yang kedua adalah terlalu seringnya kita larut dalam euforia yang terkesan berlebihan. Kita sering mengulang kebiasaan-kebiasaan buruk yang lalu seperti saat Timnas piala AFF tahun 2010 yang pada saat menjelang final malah dibawa berkeliling untuk beristighozah ke beberapa tempat dan berkunjung ke rumah-rumah pejabat dan tokoh politik tertentu dengan dalih memberikan apresiasi, semangat dan janji-janji bonus yang melenakan. atau seperti saat Timnas U-19 era Evan Dimas yang terlalu silau dipuja-puji media dengan puluhan tawaran iklan dan konfrensi pers yang tentu saja mengurangi porsi latihan. Sampai-sampai semua pertandingan ujicoba bahkan dengan klub kasta kecamatan pun disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi.

Kita patut belajar banyak dari cara Singapura mengasah talenta muda mereka, Joseph Schooling. Peraih medali emas renang di Olimpiade Rio, Brazil tahun 2016. Di saat bakatnya dalam level junior telah disadari oleh pemeritah Singapura, dia langsung “diamankan” dengan dikirim ke Amerika di University of Texas untuk dilatih dengan tim kepelatihan profesional dan fasilitas kelas dunia yang super lengkap. Bahkan, Schooling pun dibebaskan dari kewajiban mengikuti Wajib Militer yang diberlakukan bagi semua pemuda Singapura. Tim kepelatihan dan pemerintah Singapura saat itu menyadari bahwa sangat jarang bahkan dalam waktu 100 tahun sealipun Singapura bisa memiliki bakat secemerlang Schooling, dan satu yang pasti, Jangan cari wajah tampan Schooling di banyak iklan-iklan cemilan Singapura.

Maka mungkin prestasi kita yang sering mentah di level senior adalah karena kita sedang mengalami kutukan akibat membuang-buang bakat alami dan nutrisi supranatural yang diberikan Tuhan. Mereka, para atlet junior yang berprestasi, seringkali hanya dijadikan komoditas politik bagi ketua-ketua umum asosiasi olahraga mereka yang numpang tenar demi mendongkrak elektabilitas politik mereka atau dijadikan alat buat numpang tenar bagi pedagang-pedagang cemilan kelas kakap yang mengejar keuntungan dari modal ngiklanin para atlet-atlet junior kita ini.

 

Ilustrasi: https://asemka.wordpress.com/2018/03/19/gambar-gambar-karikatur-dunia-jaman-now-yang-menyedihkan-hati/

Ade Sulmi Indrajat

Pria kelahiran Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini adalah alumnus dari UIN Alauddin Makassar jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Saat ini salah satu kesibukan utamanya adalah sebagai ASN di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantaeng. Juga sebagai Direktur Ranu Prima College cabang Bantaeng dan inisiator Ikatan Guru Indonesia ( IGI ).Bantaeng. Dan, bergiat di komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menerbitkan buku Sawah dan Kebun Kurma di Tengah Laut (2019) dan Mengikat Rindu di Ranting Rapuh (2019).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *