Literasi Tiga Jendela

Literasi, kini, menjadi terma bersaing, terma yang telah meninggalkan makna muasalnya sejak dekade ke-15. Ia tak lagi sekadar “pengetahuan tentang aksara”, tak cuma merujuk ragam kualitas: “terdidik” atau “tak terdidik”, “adab aksara” atau “sakit aksara”, “literacy” atau “illiteracy”. Literasi, kini, menjadi terma payung, jangkar bagi segenap kualitas transdisiplin. Ia bisa bermatra kultural, bergatra politikal, berdimensi ekonomikal, berperspektif sosial. Literasi, sekarang, menjadi aksi untuk membaca sekalian menakar gerak-gerik peradaban dan keadaban.

Di hamparan percakapan ilmuan, di cakrawala diskursus pemuka-pemikir, literasi dipakai untuk menerka “paras masa depan”. Ada citra proyeksi terhadapnya. Ada penantian cemas darinya. Ada interogasi kepadanya sedemikian rupa. Ada yang menariknya ke masa kini. Ada yang ingin mengenali dinamika dan segenap iringan konsekuensinya. Tiga jendela (windows) di bawah ini adalah upaya mengintip hubungan berjarak antara manusia dengan masa depan.

***

Jendela pertama adalah cakrawala “Era Amarah”. Amarah, dalam pandangan Pankaj Mishra, telah datang dan akan tetap datang, menyebar ke mana-mana. Mishra menukil Karl Mannheim, penulis Ideologi dan Utopia: “We have all ripened something, and there is none to harvest the fruit”, “kita semua sudah mematangkan sesuatu, tapi tak seorang pun yang memanen buahnya”. Kita tak memetik buah peradaban. Lewat Age of Anger: A History of The Present, Era Kemarahan: Sejarah Masa Kini, ditulis pada tahun 2017, Mishra mendeskripsikan kekerasan demi kekerasan akibat dari amarah melompat-lompat, dari zaman ke zaman, dari lokus ke lokus, dari tradisi ke tradisi. Amarah adalah wujud kekecewaan yang ikut memotivasi model ideologi politik: dari nasionalisme ke terorisme. Begitu pendakuan Mishra.

Sebelumnya, Peter Sloterdijk mengkonfirmasi cakrawala Mishra atas amarah. Melalui Rage and Time, Kemarahan dan Waktu, ditulis pada tahun1947 tapi diterjemahkan ulang pada tahun 2010, Sloterdijk menelusuri kualitas amarah jauh, ke masa lampau, di seputar kisah mitologi Yunani Antik. Amarah, dengan demikian, ditemukan sebagai proyeksi mitos. Mitos segenap hero di masa purba telah mengekspresikan amarah secara tekstual. Di masa kontemporer, amarah menjadi faktual. Mitos dan fakta menjadi tak berjarak. Jurang di antara keduanya menjadi rampat.

Menyusul, Francis Fukuyama, pada tahun 2018, menulis Identity: The Demand for Dignity and The Politics of Resentment, Identitas: Pencarian Kehormatan dan Politik Kebencian. Di karya yang tak akan ditulis seandainya Presiden Trump tak menang, begitu pendakuan pada pracitra buku ini, Fukuyama menyusun tesis: institusi Amerika kini berkarat, tak mampu mereformasi dirinya. Fukuyama bilang: “selain materi, manusia butuh hal lain.” Tak sedikit pemimpin politik ikut memobilisasi pengikutnya di sekitar persepsi bahwa kehormatan kelompok telah dilanggar, diremehkan, dan diabaikan. Politik kebencian dimulai dari sini. Restitusi atas harga diri lebih diutamakan ketimbang keuntungan ekonomi.

Jendela kedua membuka tabir lanjutan revolusi industri. Lebih spesifik, di masa depan dibilangkan sebagai rentang akan berlangsungnya Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 1.0 dengan penanda penemuan kereta api dan mesin uap, Revolusi Industri 2.0 dengan produksi mesin elektrik secara massal, Revolusi Industri 3.0 dengan penemuan semikonduktor, komputer personal-jaringan, internet, akan disusul dengan inovasi aplikasi digital, kecerdasan buatan, mesin belajar otomatis, dan teknologi nano sebagai bagian dari Revolusi Industri 4.0.

Revolusi Industri disetarakan dengan eradisrupsi, dimulai dari ide, riset pengembangan, model organisasi. Disrupsi dimulai dari bawah, bergerak ke atas, mencapai segmen incumbent. Disrupsi menimbulkan kepanikan akibat tak dikenali. Banyak orang, banyak pengusaha, banyak regulator, dan tak sedikit perguruan tinggi, tak menyadari bahwa ciri utama disrupsi adalah kecepatan, kejutan, dan perjumpaan.

Klaus Schwab, penulis The Fourth Industrial Revolution, tahun 2016, meramal bahwa manusia akan dikendalikan oleh ragam piranti digital berteknologi tinggi, membentuk hubungan manusia-mesin dengan cara amat dalam: manusia tenggelam, basah kuyup. Konsekuensi benderang di era disrupsi tak lain: hilangnya keterampilan sosial, matinya empati, ketaksediaan mendengar, dan tumbuhnya perilaku reaktif.

Revolusi Industri 4.0 akan menandai “cyber society”, berciri “The Death of Distance”, yaitu “punahnya pola hubungan jarak sosial”. Nilai-nilai yang memandu hubungan jarak sosial ayah- anak, ibu-anak, ayah-ibu, kakak-adik, senior-yunior, guru-murid, pemimpin-pengikut, punah tak berbekas. Jarak sosial telah mati.

Dengan mengenali dampak disrupsi, forum ekonomi dunia, pada tahun 2016, ikut merumuskan visi baru pendidikan. Visi baru berfokus pada 6 literasi, 4 kompetensi, dan 6 karakter. Literasi masa depan adalah literasi aksara, literasi numerasi, literasi saintifik, literasi finansial, literasi teknologi digital, literasi budaya-kewargaan. Kebutuhan kompetensi di era disrupsi tak lain: berpikir kritikal, berpikir kreatif, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan berkolaborasi. Karakter di depan: rasa ingin tahu, inisiatif, persisten, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, kemawasan sosial-budaya.

Jendela ketiga adalah literasi tentang otak: Otak Kanan. Daniel H. Pink, melalui kumpulan esai A Whole New Mind: Why Right – Brainers Will Rule The Future, dipublikasi pada tahun 2005, secara imajinatif mencari pembeda antara “pengguna otak kiri” dengan “pengguna otak kanan”, dalam merespons masa depan. Mantan penulis pidato presidensial Gedung Putih Amerika ini, merefleksi kehidupan masyarakat Amerika selama lebih dari satu dekade silam. Ia bilang: Amerika dan Barat adalah “Masyarakat Otak Kiri”.

“Masyarakat Otak Kiri” didominasi oleh  gaya pikir analitik, deduktif, sekalian reduktif. Nyaris setiap orang menghabiskan usianya sebagai pekerja pengetahuan, manipulator informasi dalam berbagai keahlian. Melalui riset eksperimental, kalangan neurolinguist mengenali pembeda pola aktivasi otak saat membunyikan lambang bahasa, antara perempuan dengan lelaki. Selama proses pengucapan fonologis, otak lelaki menunjukkan aktivasi unilateral, terutama di gyrus  inferior kiri. Pada otak perempuan, aktivasi akan berlangsung pada gyrus frontal kiri dan kanan.

Kekuatan globalisasi telah mendudukkan “pekerja otak kiri”, dibilangkan juga sebagai “pekerja kerah putih”, sebagai paket komodifikasi, bisa dikirim ke sana-sini, ke berbagai belahan dunia. Tersisa adalah masyarakat Amerika yang kehilangan pengalaman non-material.

Dekade disrupsi akan membingungkan otak kiri — berpikir linier, logis, dan analitis. Itu sebabnya, meski telah lama disepelekan, kapasitas otak kanan — nonlinier, intuitif, dan holistik — dipercaya akan menemukan momentumnya. Dari sana daya cipta berasal, empati dibangun, kegembiraan diekspresikan, dan pemaknaan dibentuk. Era di depan adalah “era otak kanan”, begitu pendirian Daniel.

***

Tak berkelebihan jika giat literasi di Makassar, juga di wilayah lain di Sulsel, sebagai “gerakan kultural”. Pada awalnya, terma literasi tak dipakai untuk menandai segenap aktivitas keaksaraan lintas disiplin. Pada mulanya, aksi literasi diinisiasi, dikelola, digerakkan oleh kalangan muda terdidik. Sebelumnya, aksi literasi dimotivasi oleh semangat altruis.

Keunikan dari giat literasi Makassar terletak pada pengelolaan aksi dan organisasi secara tak terpusat. Giat literasi tumbuh dan berkembang lewat pengorganisasian di luar halaman pusat- pusat pendidikan. Belakangan, jejaring kelompok giat literasi terbentuk secara alamiah. Pengalaman seperti ini amat berbeda dengan 5 generasi NGO lain di Sulawesi Selatan.

*Ditulis di Makassar, 5 Desember 2018, dalam kerangka Memperingati 10 Tahun Gerakan Literasi di Sulsel.

*Tulisan ini diterbitkan ulang atas izin penulis

Alwy Rachman

Budayawan Sulsel

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. Mencerahkan dan menjadikan spirit baru 2019

  2. Sangat Inspiratif ulasan Pak Alwi.

Tinggalkan Balasan ke Haryudi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *