Hitam Putih Rumah Sakit, Jadi Di Rumah Aja!

Sejak titah social distancing diberlakukan, sekolah diliburkan, sahaya seharusnya sudah di tanah kelahiran, Bantaeng. Menceburkan diri dalam gerakan di rumah aja, membantu pemerintah memutus mata rantai virus corona.

Kalau orang santuy bilang rebahan sebentuk pengabdian pada negara, dengan senang hati sahaya melakukannya. Pasalnya rebahan memang fashion sahaya. Hitung-hitung mengamalkan peribahasa, “Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.” Hobi berjalan, nasionalisme pun dipupuk. Bela negara dengan menubuhkan kedisiplinan diri, mengindahkan anjuran ulama dan umara.

Sayangnya arah angin kala itu tiba-tiba berubah, beberapa pekan telah berlalu, sahaya justru terdampar di rumah sakit. Tempat yang paling tidak saya sukai. Dalam bayangan masa kecilku, rumah sakit memiliki citra menakutkan. Darah, luka-luka, kematian, hingga gambaran nyeleneh produk film macam suster ngesot, hantu buntung, dan arwah gentayangan lainnya. Apalagi ketika sosok pocong Mumun yang diperankan Eddies Adelia, pada film Jadi Pocong sedang naik daun. Ampun sahaya!

Tapi memang sejak lama arus kehidupan menyeret sahaya bak perahu kecil di tengah samudera. Tak berdaya hendak berlabuh di mana dan berjumpa dengan siapa. Sudah dua tahun sahaya banyak berkecimpung di tempat yang sahaya tidak sukai ini. Setidaknya hampir separuh dua tahun itu, sahaya habiskan di rumah sakit.

Makan, tidur, berak, dan sebagainya, laiknya rumah sakit menjelma mukim sendiri. Hingga lorong rumah sakit terbesar di Sulawesi selatan, sebagian sudah sahaya susuri. Jadi kalau ada keluarga yang sakit, sahaya pasti di garda depan mengurus administrasi dengan segala tetek bengeknya.

Walau kadangkala sahaya disambangi rasa jenuh, lelah, dan stres yang aduhai. Tapi kita mesti melawatinya dan belajar pasrah pada keadaan yang sulit di rumah sakit. Toh, lama-lama sahaya jadi terbiasa, hingga memantik berkecambahnya kebaranian. Benarlah pendakuan si kakek Albert Einsten, bahwa hidup itu bak sepeda, jika ingin menjaga keseimbangan maka harus terus bergerak maju.

Walhasil, keberanian itu berbuah pikiran positif yang menjelmakan rumah sakit laiknya sekolah. Tak ayal, bersepakatlah sahaya pada seuntai tanya yang dilayangkan Robin Sharma dalam bukunya, Who Will Cry When You Die? Sahaya setuju bahwa kita belajar paling banyak dari pengalaman kita yang paling sulit. Segala peristiwa yang terekam atau sahaya alami, memberi pelajaran penting yang tak bisa kudapatkan di bangku sekolah. Di tempat ini hadis Nabi saya amalkan. Memperbanyak mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.

Acapkali ke rumah sakit, sahaya bak melihat kematian duduk santai menghisap kretek sembari minum kopi di depan ruang ICU. Sedang para algojonya berkeliling kesegala penjuru, memeriksa manusia-manusia sekarat yang sedang antri di meja kematian.

Di rumah sakit, banyak kulihat perempuan-perempuan menjanda atau lelaki menduda. Anak-anak menjadi yatim piatu. Orang tua-orang tua kehilangan anak tercinta. Tak luput sahaya menyaksikan orang-orang meregang nyawa, sampai malaikat maut mengembalikannya dalam ketiadaan.

Yah.. kematian disertai tangis histeris dan meraung orang-orang berduka yang tak terkendali, sewaktu-waktu bisa kau dengar dicelah-celah jeritan rasa sakit pasien atau pembesuk yang mengharu biru. Hingga suara-suara itu tenggelam di balik sirine ambulance yang menyayat. Jadi pahatlah dalam hati kita yang membatu, kemutlakan bagi makhluk hidup dari Sang Yang Abadi, “Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.”

Menyoal kematian, dengan indah Emha Ainun Najib merekamnya sebagai kritik terhadap kehidupan. Dengan melihat kematian, ingatan seseorang akan kembali pada titik nadir kehidupan. Maka selayaknya, musnahlah kesombongan sebagai makhluk yang merasa paling suci, atawa terhormat karena harta dan jabatan yang melekat. Dalam lembaran lain buku Robin Sharma di atas, ia mempertegas bahwa, “Kesadaran seseorang pada kematian adalah sumber kebijaksanaan yang hebat.”

Hal tersebut sekelumit harta yang bisa sahaya gali dari pengalaman di rumah sakit. Meski dalam satu titimangsa, rumah sakit pun tak luput menorehkan perihnya kehilangan seseorang bagi sahaya. Benarlah kata orang, kau akan menyadari arti penting keberadaan seseorang setelah ia kembali pada ketiadaan.

Waima demikian, banyak lagi pelajaran yang bisa kita petik di tempat tersebut. Kebersamaan, kekeluargaan, dan empati yang lahir dari rasa senasib sepenanggungan antara warga rumah sakit. Serta kebaikan-kebaikan tenaga medis dan bagaimana gigihnya mereka berjuang melakukan yang terbaik agar pasien cepat sembuh. Hasilnya banyak orang yang pulang dengan kondisi lebih baik dari sebelumnya. Meninggalkan rumah sakit dengan bahagia karena dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.

Dewasa ini, rumah sakit memang tampak sepi dan mencekam. Pasien masuk dibatasi, bangsal-bangsal menjadi kosong. Jam besuk pun dihilangkan sementara. Yah.. Covid-19 biang keroknya. Jadi perlu dicatat dalam sanubari, bagi kita yang kerap ngeyel dan bandel pada intruksi pemerintah, rumah sakit bukan tempat rekreasi atawa tempat piknik.

Olehnya, di rumah aja, karantina mandiri. Rebahan sambil makan kuaci. Belajar dan bekerja di rumah. Kalaupun bosan, tidak apa-apa chatting sama mantan. Tapi sahaya lebih menganjurkan lakukan kegiatan positif. Baca buku! Mengaji atau menghafal al-Quran. Dan buat lo yang kerjanya tidur melulu, bangun bro! Bantu orang tuamu bersihkan rumah sebelum kena siram satu ember.

Janganlah kita menjadi orang yang tidak memiliki iktikad untuk berusaha, apalagi kehilangan jiwa kemanusiaan kita. Memilih tetap berdiri sendiri di atas ego pribadi, menjadi paranoid, dan bergumul dengan rasa malas kita, hingga kepandiran itu datang menyapa. Sebab esok kita tak punya ruang kritik saat sesal juga datang membekap. Waktu tidak pernah ingin kembali kisanak. So please! Tetap lakukan 5S, stay home, stay house, stay calm, stay clean, and stay safe.

 

Sumber gambar: Kabar 24.Bisnis.com

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *