Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Ngulat

Akhirnya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), disetujui oleh Kementrian Kesehatan RI, untuk beberapa daerah, setelah pembatasan jarak sosial (social distancing) dan jarak fisik (physical distancing) dinyatakan tak bisa menghentikan laju penyebaran pandemik Covid-19. Paling kiwari, Kota Makassar, per 16 April 2020, pun masuk terungku PSBB. Bak pertandingan sepak bola, babak pertama dan kedua, ditambah perpanjangan waktu, belum menghasilkan pemenang. Maka, sepertinya pertandingan diulangi dengan mekanisme yang lebih sulit.

Masa yang dimangsa social distancing dan physical distancing, selama empat pekan. Lalu apa maknanya bagi diri, penempuh kebijakan ini? Adakah kebajikan buat diri, diperoleh selama bergumul dengan serangan pandemik Covid-19 ini?

Sudah terlampau banyak perspektif diajukan atas pandemik ini. Mulai dari analisa berdasarkan sains, agama, budaya, sosial, politik, hingga yang nyeleneh. Saya sendiri lebih suka untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih adem. Bahwasanya, semesta lagi berproses menata dirinya. Jagat raya sedang mengatur tatanan sistemiknya. Karenanya, hanya keselarasanlah menjadi salah satu lapik buat memelihara kewarasan. Dan, manusia dengan segala kapasistasnya, ikut dalam proses berselaras di jalan laras.

Mungkin akan lebih elok, manakala saya mengajukan asumsi saja. Jalan keselarasan semesta, sungguh sebentuk metamorfosis, bakal melahirkan tatanan baru di segala bidang kehayatan. Karena sifatnya metamorfosis, maka menuntut adanya transformasi, perubahan bentuk dari satu wujud menuju wujud lainnya. Sederhananya, semacam proses metamorfosis dari ulat, menjadi kepompong, lalu mewujud kupu-kupu. Pascapandemik, manusia mewujud kupu-kupu. Pertanyaannya sebagai persona, adakah kesediaan mengupu, menjadi kupu-kupu?

Jika ingin menjadi kupu-kupu yang terbang nan indah, seamsal dalam lirik lagu karangan Ibu Sud, “Kupu-kupu yang lucu. Kemana engkau terbang. Hilir mudik mencari. Bunga-bunga yang kembang…” Maka persona mestilah jadi ulat dulu, mengulat, dalam istilah gaulnya, ngulat. Berikutnya, menjadi kepompong, mengepompong, ngepompong. Lalu tiba di akhir, mewujud kupu-kupu, mengupu, ngupu.

Bagi saya, tatkala ingin memaknai pandemik Covid-19, sebagai medium bermetamorfosis, alangkah lantipnya, ketika saya ilustrasikan masa keberjarakan sosial dan fisik selama satu bulan itu, serupa proses menjadi ulat, mengulatkan diri. Apa yang dibikin ulat selama proses berjalan menuju kepompong?

Sudah menjadi pengetahuan umum, telah menjadi pelajaran dasar di sekolah tentang aktivitas selama menjadi ulat. Namun, sebelum menjadi ulat, terlebih dahulu ada semacam telur yang direkatkan oleh kupu-kupu betina dewasa di bawah  daun, agar aman. Dari telur inilah, selama setengah pekan sampai setengah bulan, bersiap menjadi ulat. Anggaplah, diri ini sebelum pandemik menyerbu, sewujud telur yang menempel di permukaan bumi.

Nah, bagaimana cerita berikutnya, si ulat itu? Tak mengapa saya nukilkan narasi dari  Informazone, pada rubrik edukasi, “Tahap ini merupakan fase yang mungkin paling tidak disukai oleh banyak orang karena setelah telur kupu-kupu yang menetas akan berubah menjadi larva atau ulat. Ulat mempunyai ukuran dan warna yang berbeda-beda tergantung dari induknya.”

Perkembangan selanjutnya, “Ulat mempunyai kegiatan utama dan mungkin bisa dibilang hanya itu aktivitasnya, yaitu makan. Makanan utama sebagian besar ulat merupakan dedaunan hijau segar yang mengandung gizi dan nutrisi. Hal ini diakibatkan karena ulat membutuhkan persiapan diri untuk menjalani masa pengasingannya agar tidak lapar dan haus.”

Lalu berikutnya, “Ulat juga mempunyai racun dan bentuk yang menakutkan. Hal ini berfungsi untuk melindungi dirinya dari para predator. Ulat mempunyai 3 pasang kaki tetap yang berfungsi untuk menopang dirinya. Tidak hanya predator, kebanyakan manusia banyak yang takut terhadap hewan yang satu ini. Dikarenakan banyak orang yang takut  dengan bentuknya dan efeknya bila terkena kulit.”

Dan, “Apabila kulit terkena ulat biasanya akan timbul rasa gatal dan alergi karena adanya racun yang berasal dari kulit dan bulunya. Selain itu, ulat juga mempunyai warna yang beraneka ragam. Akan tetapi umumnya ia memiliki warna yang menakutkan seperti hitam, merah, orange, kuning, hijau, dan coklat.”

Arkian, “Ulat juga bisa menggembungkan kepalanya agar predator tidak memangsanya. Racun yang didapat juga bisa berasal dari tumbuhan beracun yang sengaja dia makan. Sesudah ulat tumbuh cukup besar hingga mencapai panjang 5 cm maka dia siap untuk menjalani tahap selanjutnya yaitu fase menyendiri berupa pupa atau kepompong.”

Bukankah informasi pelajaran dasar di atas ada kemiripan dengan situasi diri selama menjalani proses penjarakan sosial dan fisik? Masyarakat diminta untuk tinggal di rumah saja. Kerjanya makan dan makan terus. Meski begitu, bukan berarti si pemakan ini tidak menakutkan. Coba lihat aktivitasnya, salah satunya memakan hoax (berita bohong), salah duanya meminum fake news (berita palsu), dan salah tiganya, memuntahkan hate speech (ujar kebencian).

Penubuhan lainnya, muncul rasa cemas. Kecemasan berjemaah. Panic bullying melanda. Menimbun sebanyak mungkin bahan makanan dan minuman. Memborong masker dan obat. Saling menyalahkan menguar. Watak asli, sebenar-benarnya karakter nampak, sunyatanya kepribadian. Mudah marah dan sering mengeluh. Mementingkan diri sendiri. Dan sederet sifat-sifat ulat lainnya. Meskipun begitu, tidak sedikit pula persona yang berjuang untuk menggizikan dirinya, terutama jiwanya.

Kiwari, masa mengulat selesai. Ngulat sudah lewat. Segera masuk tawanan PSBB. Ini berarti, suasana dunia kepompong di depan mata. Persona akan mengepompong, ngepompong. Dan, bagi umat Islam, hanya beberapa hari lagi akan memasuki bulan Ramadan. Benar-benar terungku berganda.  Jasmani dan ruhani dibui. Raga dan jiwa dikuncitara, lahir dan batin dipenjara, suasananya bakal dikarantina berlapis.

Di masa PSBB, bagaimana kelanjutan pertandingan bola itu? Eh, maksud saya, kehayatan kepompong? Diri yang mengepompong? Ngepompong di bulan suci, selama Ramadan? Defenitnya, banyak ulat gagal menjadi kepompong, tidak sedikit persona bakal gugur mengepompong di Ramadan.

 

Sumber gambar: Tribun Yogya

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. CEO Boetta Ilmoe_Rumah Pengetahuan Bantaeng. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), dan Maksim Daeng Litere (2021). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Latest posts by Sulhan Yusuf (see all)