Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Saya dan (Kamu) Komunitas Guru Belajar

Jujur, saya tak tahu harus memulai tulisan ini dari mana. Sama tak tahunya diri saya, ihwal alasanmu pergi petang itu, ketika senja sedang rekah-rekahnya. Kala cinta sedang dalam-dalamnya. Ahh, apa pula arti cinta itu? Sudah, lupakan saja. Tulisan ini tak ada kaitannya denganmu.

Tulisan ini hanyalah kepingan-kepingan ingatan saya beberapa bulan terakhir. Saya tak menjamin seratus persen keotentikannya. Sebab banyak di antaranya sudah samar-samar dalam ingatan. Saya ini memang mudah lupa—kecuali tentangmu. Sisanya, ingatan itu sungguh meresap dalam lubuk hati saya yang terdalam. Menjadi kompas. Menuntun saya dalam menjalani hidup yang lebih baik.

Terkhusus, ingatan tentang perjumpaan dengan rekan-rekan hebat saya di sebuah komunitas. Tepatnya Komunitas Guru Belajar (KGB) Bantaeng, yang sedikit banyak sudah mengembalikan semangat keguruan saya yang mulai memudar.

Mengapa pudar? Dengarkan curhat saya ya!

Saya ingin memulai ceritanya dengan melakukan perjalanan ke masa lalu, serupa flashback, seperti film Naruto. Ceritanya begini:

Sebagaimana lazimnya guru muda. Saya masuk dalam ‘belantara’ dunia pendidikan hanya bermodal idealisme yang membuncah, plus semangat khas anak muda. Sungguh, saya merasa gelar sarjana pendidikan tak banyak membantu, saya tak mendapat bekal ilmu pengetahuan—pedagogik dan manajerial—yang memadai  untuk terjun ke lapangan yang sesungguhnya. Padahal, saya rajin masuk kelas, tak pernah titip absen, dan rajin (baca:terpaksa) beli buku yang dijual dosen. tak percaya? IPK saya 3,59 loh. Cumlaude.

Dalam keyakinan saya kala itu, setidaknya saya mengubah sedikit wajah pendidikan yang ada, yang dalam beberapa buku yang pernah saya baca kala mahasiswa sungguh jauh dari kata humanis. Minimal saya tidak menjadi bagian dari model pendidikan seperti itu. Setidaknya di sekolah saya, atau paling tidak di kelas tempat saya mengampu pelajaran. Di situlah serendah-rendahnya kerja yang bisa saya lakukan, kala itu.

Waktu berjalan, menjaga semangat dan idealisme itu ternyata tak semudah merebus indomie. Saban  hari, saya menyaksikan hal yang saya baca di buku-buku itu dipraktikkan di sekolah. Saya gelisah, marah, dan sedih, tapi tak tahu harus melakukan apa? Hingga pada titik tertentu, saya mulai mulai bersikap apatis. Saya tak mau lagi memusingkan hal-hal yang tidak bisa saya ubah. Rasanya sungguh getir, melawan suara hatimu sendiri. Kau tahu bahwa ada ketidakberesan, tapi tak bisa melakukan apa-apa.

Rasa-rasanya memang benar adanya, dalam novel Guru Aini anggitan Andrea Hirata, dikatakan bahwa konon kabarnya berdasarkan penelitian antah-berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 tahun. Setelah itu, mereka akan menjadi penggerutu, pengeluh, dan penyalah seperti banyak orang lainnya. Lalu, secara menyedihkan terseret arus desar sungai rutinitas, basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk, adalakanya korup, yang jangankan akan mereka ubah, seperti cita-cita mereka semula, mempertanyakannya saja mereka sungkan.

Saya ini sepertinya bukan terbawa arus lagi, tapi sudah hanyut, tenggelam, dan terdampar di laut, dimakan hiu pula. Saya kadang mulai berfikir untuk pindah, ke mana saja, asal jangan di sekolah. Saya sungguh merasa tak berdaya. Apa yang bisa dilakukan oleh guru baru macam saya, jomblo sendirian pula. Ada kalanya muncul dalam benak saya, apakah cuman saya yang merasakan ketidakberesan ini? Bagaimana dengan yang lain?

Hingga pada suatu titimangsa, datanglah ajakan berkumpul itu dari Bang Awi’. Seorang guru dan sahabat yang saya temui beberapa waktu yang lalu di sebuah pelatihan tertentu.

Alasan utama saya bergabung pun bisa dibilang remeh. Gimana ya? Alasan utamanya, karena saya menghargai ajakan Bang Awi’. Itu saja. Saya banyak belajar dari beliau semasa pelatihan kemarin. Saya sudah berjanji, sedang janji serupa rindu yang harus dibayar tuntas. Kedua, Saya tertarik dengan konsep merdeka belajar yang pernah beliau sampaikan kala diskusi kemarin, saya ingin mengeksplorasinya lebih jauh. Ketiga, saya suka kumpul-kumpul berfaedah, bertemu orang-orang baru, ide-ide baru dan siapa tahu pacar baru.

Itulah hierarki motivasi saya bergabung—maksudnya ikut pertemuaan perdana kala itu. Saya bisa mengemukakan puluhan alasan. Namun, rasanya sisanya tak penting-penting amat untuk Anda tahu. Lagian, saya juga gak penting buatmu kan? Ehhh.

Terus. Di KGB apa yang saya peroleh?

Di KGB saya sungguh menemukan pencerahan yang luar biasa. Saya sadar, pengetahuan perihal pendidikan saya selama ini masih bersifat filosofis. Pendidikan mesti manusiawi, merdeka, kontekstual, dan seterusnya. Namun, dalam praktik teknisnya di lapangan saya sungguh masih bingung. Okelah, saya coba ejawantahkan dalam kehidupan saya di sekolah: bersikap ramah, baik, dan humoris—sesuai dengan tipikal guru yang saya senangi masa sekolah dulu. Dalam keyakinan saya, sebelum ‘memainkan’ pikiran murid, saya mesti menggenggam hati mereka terlebih dahulu.

Apakah itu cukup? Tidak! Saya masih butuh ‘sesuatu’. Sesuatu yang sifatnya teknis sekali. Perwujudan dari pandangan filosofis itu tadi. Saya membuka RPP, silabus, dan jurnal tapi tak menemukan jawaban yang memadai.

Seiring berjalannya waktu, plus instensitas pertemuan dan perbincangan dengan rekan-rekan, saya semakin sadar, KGB-lah yang memberikan jawaban yang selama ini saya cari. Ibarat kata, KGB-lah jawaban atas doa-doa saya selama ini. Inilah perwujudan dari pengetahuan saya, bahwa yang filosofis mesti ditekniskan, yang melangit mesti dibumikan, yang jauh mesti didekatkan, dan yang rindu mesti dipertemukan, upsss. Apatah lagi, profesi seorang guru menuntut hal-hal teknis untuk meraih tujuan pendidikan bukan? KGB menjawabnya dengan pendekatan teknis yang simple, but elegant.

Kedua, sebagaimana yang saya katakan di awal, di KGB saya menemukan jalan pulang. Semangat keguruan saya kembali. Ternyata selama ini saya tidak sendirian, banyak yang merasakan keresahan yang sama. That’s the point. Menemukan dirimu pada orang lain itu membahagiakan. Di sini kami bisa saling menguatkan, menebar optimisme, berbagi praktik baik yang bermakna. Praktik yang dilandasi nalar berpikir logis seorang guru. Tak sekadar menjadi pelaksana semata, tanpa tahu menahu mengapa melakukan ini dan itu. Itulah saya kira urgensi mengapa seseorang mesti ber-KGB. Menjaga gairah keguruan.

Sebatang lidi tak bisa membersihkan halaman, tapi jika digabungkan dengan yang lain, dalam sebuah ikatan bernama komunitas. Yakinlah, cita-cita pendidikan yang sejati tak sekadar utopia belaka.

Ketiga. Saya sepakat, sangat sepakat. Bahwa manusia sejatinya mesti belajar dan belajar. Itulah prinsip yang saya pegang sejak dulu. KGB tak sekadar memegang tagline itu, tapi juga menjadi fasilitator bagi saya dan guru-guru untuk terus belajar meng-upgrade diri dan meng-update pengetahuan. Sekarang, tatkala musibah korona melanda, KGB dan beberapa organisasi lain tetap aktif mengedukasi guru untuk tetap berdaya, tidak menyerah pada keadaan, tapi justru memberdayakan konteksnya. Keren bro. Tak percaya? Saya harus gimana lagi untuk membuatmu percaya? Oke, Silahkan buka internet dan cari sendiri kebenarannya ya.Yang demikian itu selalu menjadikan saya merasa beruntung bisa mengenal organisasi ini dan orang-orang di dalamnya.

Hmm, sebenarnya masih banyak hal saya peroleh selama mengenal kamu KGB, tapi sisanya mungkin akan membuat Anda bosan. Tak menarik untuk saya bicarakan. Pun jemari saya sepertinya sudah ngantuk, mata pun sudah pegal, perut sakit, kepala lapar, batuk, tenggorokan sakit, demam. Ehh gejala korona dong.

Walakhir. Apa yang saya tulis ini sangat subyektif. Semuanya adalah hasil penafsiran dari pengalaman saya. Bisa saja ada reduksi, pun sebaliknya. Namun, di luar itu semua, pesan-pesan untuk terus belajar, berkomunitas, berbagi adalah garis besar yang ingin saya utarakan. Mari terus belajar, berani melakukan perubahan-perubahan kecil namun berdampak. Kalaupun belum, mari berusaha lebih keras lagi dan lagi.

Belajar, bergerak dan bermakna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The following two tabs change content below.

Ikbal Haming

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra. Menulis buku, "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021)