Tanyaku dan Puisi-Puisi Lainnya

Tanyaku

 

Aku ingin mengetahui, asal kata-kata itu,

hingga ia mudah menjadi cerita.

 

Aku ingin mengetahui, awal mula waktu itu,

hingga ia menjawab setiap cita-cita.

 

Aku ingin mengetahui, hulu sungai keberadaan itu,

hingga ia mengalir sekaligus menyata.

 

Sebuah isyarat

Ia memang sebuah bahasa

Tapi, tak terekam abjad a, b dan seterusnya

Ia hanya terbaca indra

Sekaligus penyebab segala tuna indra

Hadirnya mencipta segala gulita

Meski ia jalan menuju cahaya yang baka

Tak perlu dipinta, akan tiba bila sudah masanya

 

Aku

Sedikit menghamba, banyak mendamba

Sedikit mengabdi, banyak menanti

Sedikit kasih, banyak pamrih

Sedikit berkaca, banyak mencerca

Sedikit membaca, banyak berkata

Sedikit berpeluh, banyak mengeluh

Selalu terlambat, berharap cepat

 

Dia tetap bekerja

Badan yang lemah, bertambah, berlipat-lipat lemahnya

Tak membuatnya berhenti bekerja.

 

Di bawah guyuran hujan

dalam sengat panas

Gigil dingin yang menikam

Dia tetap bekerja.

 

Senyum meringankan kerjanya.

Ikhlas penikmat kerjanya.

Bekerja jalan ibadahnya.

 

Cela selalu mendera,

Menginterupsi kerjanya

Mundur pun datang menyandera,

Menghiburnya untuk duduk istirahat

Tapi, dia tetap bekerja.

 

 

 

 

Ahmad Rusaidi

Guru SMAN 9 Takalar. Pegiat literasi di Sudut Baca al Syifa Ereng-Ereng Bantaeng dan Komunitas Pena Hijau Takalar.

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. Membaca puisi-puisi Ahmad Rusaidi serupa saya memasuki sebuah taman dengan diksi-diksi yang indah. Lalu di taman itu saya diperkenalkan bahwa segala yang indah itu tidak sekedar untuk dilihat dan dibaca, namun gunakan nurani untuk merasa.

  2. Terima kasih redaktur kalaliterasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *