Jangan Memiskinkan Diri!

 

“Pak, bantuan untuk saya mana?” Seorang Ibu berteriak ke arah dua relawan yang sedang bagi-bagi sembako sambil menadahkan tangannya.

“Em…, anu Bu. Em…, saya tanya ke posko dulu yah!” Sahut salah satu di antara mereka, lalu melengos pergi sembari melirik dua unit mobil pribadi yang terparkir di garasi rumah si Ibu.

***

Kedatangan pandemi Covid-19 pada catur wulan pertama tahun 2020, perlahan tumbangkan dapur rakyat jelata. Terutama yang hidup di daerah perkotaan. Mereka yang bersandar pada gaji harian sangat merasakan akibat dari wabah ini sebab sumber penghasilannya tidak lagi beroperasi.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi bencana bagi pekerja harian itu. Para tukang becak, loper koran, pedagang kaki lima, kuli bangunan, tukang parkir, dan berbagai jenis mata pencaharian lainnya terpaksa ‘cuti’ demi kebaikan bersama.

Dalam rangka menyelamatkan kehidupan sesama manusia, pemerintah pusat mulai membagikan bantuan sembako ke masyarakat ‘akar rumput’. Termasuk Pemerintah Kabupaten Bantaeng, tentunya. Dana bantuan tersebut dialokasikan ke Dinas Sosial dan dana kelurahan/desa. Pada waktu yang hampir bersamaan, para aparat kelurahan/desa di Kabupaten Bantaeng mendistribusikan bantuan tersebut langsung ke warga yang membutuhkan.

Selain itu, beberapa pihak swasta, organisasi-organisasi kemasyarakatan, anggota parlemen, bahkan beberapa pengusaha juga turut ambil bagian dalam aksi membantu masyarakat yang terimbas wabah. Ada yang mengambil data dari kelurahan/desa, ada juga yang langsung terjun ke rumah-rumah penduduk untuk memberikan dermanya. (Betapa mulia hati para dermawan dan semoga Allah melipat gandakan rezeki mereka. Aamiin…)

Cuplikan ilustrasi di atas merupakan salah satu gambaran kondisi nyata di lapangan. Ketika pembagian bantuan dilakukan, ada-ada saja komentar atau pertanyaan yang timbul di masyarakat. Ironisnya, ujaran-ujaran tersebut bukan hanya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, tetapi juga dari kalangan orang-orang ‘berada’.

Pemerintah tidak adil lah, data tidak akurat lah, pembagian tidak merata lah, dan masih banyak lagi nada-nada protes yang terdengar sumbang di masyarakat. Padahal nih kalau dipikir-pikir secara saksama, betapa banyaknya hal urgen yang mesti diurusi oleh pemerintah dalam situasi seperti sekarang ini. (Jadi mengertilah, duhai warga masyarakat!)

Pemerintah bekerja keras dimulai dari penanganan pasien terinfeksi, pengadaan APD bagi tenaga medis, stabilisasi keamanan wilayah, penanganan masalah sosial dan ekonomi, mencegah terjadinya penimbunan barang, mengantisipasi ancaman penjarahan hingga ke berbagai persoalan-persoalan teknis lainnya. Selain itu, Pemerintah juga sedang menggalakkan kegiatan sosialisasi ke masyarakat dalam rangka menjaga kebersihan dan meningkatkan imunitas tubuh. (Coba bayangkan bagaimana repotnya pemerintah saat ini!)

Jadi sebagai bentuk kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebaiknya jangan ada pihak yang malah menambah keruh suasana. Alih-alih membantu, ini malah akan menambah beban pemerintah. Cukup dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah, sebenarnya itu sudah sangat membantu. (So, tunggu apa lagi?)

Ketika para distributor bantuan sembako melewati mukim kita, maka bersyukurlah. Ini menjadi penanda bahwa kehidupan kita masih lebih baik daripada orang lain. Ini menunjukkan  bahwa ternyata masih banyak orang yang lebih membutuhkan dari kita. Lalu mengapa mesti protes? Tidak terima?

Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menggerakkan hati para relawan itu untuk mau masuk di satu rumah dan melewati rumah lainnya? Bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini atas kehendak Allah? Lalu mengapa manusia selalu menganggap bahwa rezeki mereka tergantung pada bantuan pemerintah saja? Bukankah Allah telah menyiapkan alam semesta ini untuk memenuhi kebutuhan manusia?

وَهُوَ ٱلَّذِي سَخَّرَ ٱلۡبَحۡرَ لِتَأۡكُلُواْ مِنۡهُ لَحۡمٗا طَرِيّٗا وَتَسۡتَخۡرِجُواْ مِنۡهُ حِلۡيَةٗ تَلۡبَسُونَهَاۖ وَتَرَى ٱلۡفُلۡكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ  ١٤

“Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”

Betapa luas rahmat Tuhan yang tersedia di bumi ini. Saatnya manusia ‘back to nature’ dalam arti yang sesungguhnya. Mereka yang bermukim di sekitar pesisir pantai, silakan kembali mengeksplor hasil lautan sebagai sumber bahan pangan. Mereka yang punya lahan pertanian, optimalkan lagi kebiasaan para pendahulu dalam bercocok tanam. Mereka yang punya pekarangan yang memadai, manfaatkan untuk memelihara ternak maupun menanam buah dan sayuran.

Menurut PBB, Indonesia merupakan negara  yang memiliki garis pantai sepanjang 95.181 kilometer, menjadi urutan keempat terpanjang di dunia. Dengan wilayah laut seluas itu, maka Indonesia termasuk salah satu negara maritim dunia yang memiliki banyak sumber daya alam di bidang kelautan.

Belum lagi kekayaan alam hasil pertaniannya. Letak pulau-pulau di Indonesia yang strategis dan berada persis di atas garis khatulistiwa membuatnya mendapatkan sinar matahari dengan intensitas konstan dan seimbang setiap harinya. Lalu nikmat Tuhan yang mana lagi yang manusia dustakan?

فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  ١٣

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Pandemi ini mengingatkan manusia bahwa kebutuhan primernya hanyalah sandang, pangan, dan papan saja. Embel-embel lain yang selama ini dianggap sesuatu yang dibutuhkan, ternyata cuma perhiasan belaka. Kendaraan mewah, pakaian indah, dan segala macam aksesoris lainnya kini tinggal menjadi pajangan yang menghiasi rumah.

Lalu mengapa masih ada manusia yang memiskinkan diri di hadapan sesamanya? Padahal  manusia itu sendiri adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dibanding makhluk lainnya (ahsanu taqwim). Dia memiliki akal untuk terus survive dalam kondisi apapun. Dia mempunyai daya untuk mengeksplor alam sebaik-baiknya.

Ketika ada bantuan (sembako ataupun uang) yang sampai ke tangan, sedangkan di sekitar  rumah masih ada orang yang lebih membutuhkan dan tidak kebagian, segera alihkan bantuan itu untuk mereka. Dengan begitu, sesungguhnya kita telah membantu pemerintah dalam menangani segunung problematika saat ini. Sekaligus menjadi penanda bahwa ternyata hati ini tidaklah miskin.

Wallahu a’lam.

Sumber gambar: Tinta Pembaharuan

 

 

 

 

Sitti Zuhraeni

Sitti Zuhraeni. Lahir di Bantaeng, 15 Mei 1982. Buah hati kesebelas dari pasangan Kyai Abdul Djabbar dan Sitti Rohani. Aktif sebagai tenaga pendidik di MAS. Ma'arif NU Lasepang Bantaeng sejak tahun 2004 hingga sekarang.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *