Universalisme Sirri’na Napacce di Masa Covid-19: Saya Angin Engkau Daun, Saya Air Engkau Kayu

Corona melahirkan kecemasan, kerumitan, kegetiran, kesuraman seraya menyelipkan kisah lucu ringan dalam konteks Ramadhan kali ini. Begitulah Abdul Karim di kolom Klakson, Tribun Timur, merekam serangan corona hingga detik ini. Corona, nama virus penyebab Covid-19, menyebar begitu cepat. Virus Corona menarik perhatian umat manusia di berbagai belahan bumi. Corona virus desiase 2019 (Covid 19) menjadi pemberitaan di media-media. Wabah, epidemic, dan pandemik selalu menyerang umat manusia sepanjang sejarah.

Sejarah manusia memang tak bisa lepas dari virus. Professor Jared Diamond dalam buku Guns, Germs, and Steel (Bedil, Kuman dan Baja) yang meraih Pulitzer, menyebutkan virus dan kuman sebagai penanda peradaban manusia. Saat virus menyerang selalu terjadi perubahan lanskap sosial hingga jatuhnya rezim. Saat wabah Black Death hadir di abad ke-14, diperkirakan 200 juta populasi orang Eropa tewas mengenaskan. Wabah ini dipicu oleh kuman Xenopsylla Cheopis yang datang dari hewan yang mengalami domestikasi agar dikonsumsi manusia.

Sosiologi orang Eropa berubah drastis. Perubahan cara pandang dari mereka yang selamat dan kebal pada virus ini. Kepercayaan kepada gereja dan otoritas Roma berkurang. Masyarakat menjadi lebih pragmatis dan sekuler. Saat orang Eropa menjelajah Dunia Baru, datang menjajah ke Amerika Latin hingga Afrika, lalu Asia. Mereka membawa hewan-hewan yang sudah didomestikasi seperti ayam, itik, anjing, dan kuda. Kuman yang ada pada hewan ini bermutasi ke manusia sehingga menewaskan lebih separuh populasi bumi.

Kini, di abad modern, manusia kembali berhadapan dengan wabah. Bedanya, manusia hari ini lebih siap menghadapinya sebab telah memiliki senjata sains dan teknologi. Sering kali, hanya butuh beberapa bulan demi menemukan anti virus. Teknologi kedokteran membawa manusia pada kemenangan atas berbagai virus dan kuman. Manusia menjadi jumawa dan mengklaim dirinya sebagai Homo Deus seperti yang disebut sejarawan Yuval Noah Harari sebagai manusia setengah dewa sebab bisa mengendalikan takdir.

Namun, wabah juga kian canggih dan perkasa dalam menyerang manusia. Tragedi di Wuhan membawa kembali ingatan manusia pada kengerian epidemi pada abad-abad sebelumnya. Manusia kembali terpapar virus yang kemudian menyebabkan kematian. Beberapa ahli menyebutkan virus Corona berasal dari kelelawar dan ular yang dijual hidup-hidup kemudian disembelih saat sudah terjual. Hewan pun melakukan pembalasan kepada manusia. Virus adalah upaya perlawanan diam-diam kepada manusia untuk berhenti menjadikan hewan sebagai obyek dan santapan.

Husnul Fahimah pun merekam wabah sagala dalam tulisannya berjudul, “Wabah Sagala di Sulawesi Selatan (1960-1966)” yang diterbitkan di blamakassar.co.id. Sanro (dukun) dan masyarakat bugis menyebut wabah ini kasiwiang atau sagala. Kasawiang adalah penyakit cacar yang belum kronis, sedangkan sagala, penyakit cacar kronis. Kreativitas sanro dan masyarakat bugis menemukan obat cacar beraneka ragam. Cara pengobatan ini terekam dalam manuskrip, Lontarak Pabbura. Ini menjadi bukti dekatnya wabah dengan kehidupan umat manusia khususnya di Sulawesi Selatan serta terekam dengan baik dalam kesadaran masyarakat Bugis-Makassar.

Nilai Siri na Pacce dan Solidaritas Global

Dalam kesadaran masyarakat Nusantara, kisah pewayangan adalah gambaran perjalanan hidup manusia di muka bumi. Siklus kehidupan manusia, perjalanan semenjak lahir, tumbuh berkembang, dewasa hingga meninggal dunia. Pewayangan adalah relasi kehidupan dua dimensi baik micro cosmos dan macro cosmos. Salah satu tokoh dalam wayang adalah Gareng. Gareng seperti yang dituliskan M. Jadul Maula dalam buku Islam Berkebudayaan, merupakan pralambang dari penjaga semangat instropeksi untuk melihat kekurangan diri.

Manusia di detik-detik ini harus menghadirkan tokoh Gareng dalam dirinya. Pembalasan hewan dalam bentuk virus atas manusia menjadi pengingat. Instropeksi diri akan pentingnya keseimbangan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis. Falsafah Siri’ na Pacce adalah instrument instropeksi diri manusia di dalam kehidupan. Secara etimologi, siri’ berarti rasa malu (harga diri), sementara pacce berarti pedih/pedas (keras, kokoh dalam pendirian).

Dalam konteks penanganan Covid-19, siri’ dapat diartikan sebagai segala daya upaya yang dilaksanakan dengan betul-betul dan sekuat tenaga untuk terlibat dalam berbagai protokol pemerintah menekan penyebaran virus. Saat nilai siri’ dikedepankan maka manusia tidak akan melanggar protokol yang telah ditetapkan seperti menjaga jarak dan tetap berada di rumah. Karena saat ini dibutuhkan keberanian dan tekad yang tinggi untuk menjaga agar virus Corona tidak menyebar. Pada konteks yang lebih besar, siri’ akan menjaga kearifan ekologis, mengembalikan alam sebagai rumah bagi semua species.

Sementara nilai Pacce’ dapat ditunjukkan dengan berbelas kasih, mengedepankan perikemanusiaan, rasa turut prihatin, humanism dan hasrat membantu bagi orang yang terdampak Covid-19. Manusia tidak akan mencemoh apalagi merendahkan orang yang terjangkit Covid-19 dan tidak akan mengambil hak orang miskin yang terkena dampak Covid-19. Manusia akan memberikan semangat kepada sesama dan berbagi agar keharmonisan tetap bertahan. Falsafah siri’ na pacce akan merajut kembali solidaritas masyarakat dan mengingatkan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam serta pada species lainnya.

Selain itu, falsafah ini akan menumbuhkan semangat solidaritas di masyarakat dan nantinya akan berujung pada solidaritas global seperti disebut Harari. Dan akan mewujudkan analisa Michael Levitt, Corona is slowing down and humanity will survive. Virus Corona tidak hanya merupakan lanskap kehidupan tetapi akan mengembalikan nilai-nilai kearifan lokal yang telah lama tercerabut dari masyarakatnya. Virus Corona tidak mesti dilawan melainkan dirangkul sebagai bagian dari kehidupan manusia di alam semesta. Dan tidak perlu diperlakukan sebagai musuh tetapi harus diperlakukan secara istimewa sembari meminta kepulihan seperti para leluhur kita mengajari memperlakukan penyakit. Agar rasa belas kasih sesama makhluk dapat terwujud.

Ikrar “Nakke pa anging kau leko kayu, nakke je’ne massolong ikau sampara mamanyu.” (saya ibarat angin, kalian ibarat daun, saya air mengalir, kalian kayu yang hanyut) menjadi pegangan bahwa keseimbangan alam semesta adalah nyata dan akan mengantarkan kehidupan yang harmonis di muka bumi. Ikrar ini melekat di kesadaran masyarakat Bantaeng dan diceritakan dalam sejarah berdirinya Kerajaan Bantaeng.

Nilai-nilai ini akan menjadikan kita manusia yang mengembalikan kearifan ekologis serta menjadikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi. Raja bagi masyarakat Bantaeng diharapkan mendatangkan kebaikan dan bukan keburukan dan raja menjadi obat bukan racun seperti dalam ungkapan “Kutarimai pakpala’nu tapi kualleko pammajiki tangkualle ko pakkodi, kualleko tambara tangkualleko racung.” Mari menjadi obat bagi alam semesta dan membawa kebaikan kepada sesama makhluk termasuk virus Corona.

(Tulisan ini merupakan Pemenang Harapan 3 dalam Lomba Menulis Esai Gebrak Ramadhan Bantaeng yang diselenggarakanTim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Bantaeng. Semula tulisan ini berjudul “Berdamai dengan Coronavirus: Reaktualisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal”)


Sumber gambar: https://kreativv.com/genk-life/virus-corona/2/

Irham Al-Hurr

Warga Bantaeng. Pemenang Harapan 3 Lomba Menulis Esai Gebrak Ramadhan oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Bantaeng

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *