Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Ramadan Telah Berlalu? Antara Ramadan Diri dan Ramadan Bumi

Dalam filsafat, gerak adalah bahasa lain dari waktu. Tepatnya, waktu adalah ukuran gerak. Pada sisi yang lain, gerak adalah substansi entitas materi. Dengan ini, setiap entitas materi niscaya bergerak, dan memiliki waktunya sendiri-sendiri.

Waktu sebatang rokok berbeda dengan waktu secangkir kopi, berbeda pula dengan waktu entitas-entitas materi lainnya. Secara keseluruhan, bumi memiliki waktu khusus yang dihitung berdasarkan gerak bumi.

Waktu bumi semakin disederhanakan dalam hitungan-hitungan yang paling kecil. Katakanlah hitungan abad, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit hingga detik. Pada umumnya, gerak entitas-entitas materi yang terdapat di bumi, dihitung berdasarkan waktu bumi.

Semisalkan, waktu sebatang rokok yang hanya kisaran 5 menitan, sebelum terhisap habis dan menjelma abu. 5 menit tersebut merupakan waktu bertahan rokok dalam hitungan waktu bumi. Hakikatnya, wujud rokok memiliki waktunya sendiri yang identik dengan gerak wujudnya.

Ramadan adalah salah satu ukuran gerak bumi dalam hitungan bulan. Dengan kata lain, dalam setahun, bumi memiliki 12 bulan. Ramadan adalah salah satunya. Ramadan bumi tentu akan berlalu, meninggalkan semua entitas bumi yang geraknya diukur dengan waktu bumi.

Tak terkecuali kita umat Islam yang diwajibkan berpuasa di bulan Ramadan. Pada akhirnya, Ramadan akan meninggalkan semua kita. Sedih? Yah, bersedihlah bila Ramadan berlalu, dan anda gagal beroleh gelar taqwa. Tapi bila anda lulus dari madrasah Ramadan dengan gelar taqwa, bergembiralah. Terlebih lagi, “setiap bulan adalah bulan Ramadan dan setiap hari adalah hari puasa” dapat diwujudkan di sepanjang hayat.

Berikut penjelasannya.

Sebagai salah satu entitas materi, manusia pastilah bergerak. Artinya, karena waktu adalah ukuran gerak, maka setiap manusia memiliki waktu khususnya sendiri. Waktu saya dan setiap kita tidaklah sama. Semua tergantung bagaimana, kemana dan seperti apa gerak yang kita lakukan.

Dari sini dipahami, bahwa Ramadan memiliki dua jenis. Ada Ramadan eksternal, yaitu Ramadan bumi yang sesuai dengan gerak bumi. Adapula Ramadan internal, yaitu Ramadan diri yang sesuai dengan gerak diri. Ramadan bumi baru saja berlalu. Namun Ramadan diri, semestinya, baru saja terbentuk.

Saya tulis “semestinya”, sebab dengan berlalunya Ramadan bumi, Ramadan diri tidak serta merta terbentuk. Alasannya, Ramadan diri adalah hasil bentukan dan capaian ikhtiari. Ramadan bumi, dengan segala ritual yang diwajibkan dan yang sangat dianjurkan di dalamnya, adalah masa-masa latihan pembentukan Ramadan diri.

Dengan ini, setiap manusia, tak terkecuali non muslim, berpotensi memiliki Ramadan diri. Juga, tidak semua manusia, bahkan, tidak semua umat Islam, memiliki Ramadan diri. Sebab sekali lagi, Ramadan diri adalah hasil bentukan dan capaian ikkhtiari. Ada yang mencapainya, ada pula yang tidak.

Lantas, apa Ramadan diri itu? Ramadan diri adalah terhiasinya diri dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan konsitensi di atas gerak harmonisasi. Yaitu, meniti jalan kesucian diri, penghambaan pada wujud yang layak diperTuhan, serta pengkhidmatan pada sesama hamba.

Menghidupkan malam lailatul qadr bukan bermakna menghidupkan waktu malam bumi. Makna hakikinya adalah, seperti kata Muthahhari, menghidupkan “diri hakiki” dan meredam “diri imitasi”. Diri hakiki manusia adalah dimensi kemanusiaan (insaniah) manusia, sedang diri imitasi manusia adalah dimensi kehewanan (hewaniah) manusia.

Berdasarkan ini, bisa dikatakan, Ramadan diri anda tidak mengada, bila anda mematikan dimensi kemanusiaan anda, mematikan cinta, empati, welas-asih dan spirit pengorbanan dalam diri anda. Ramadan diri anda tidak menyata, bila anda menghamba pada sesama hamba, atau menjadi “tuhan” bagi hamba.

Kala itu, anda bukan hanya kehilangan Ramadan bumi, tapi juga kehilangan Ramadan diri. Dan ini adalah tanda matinya diri hakiki anda, dan hidupnya diri imitasi anda. Artinya, anda telah kehilangan diri anda. Kata Ali bin Abi Tholib, aku heran pada orang-orang yang mencari barang mereka yang hilang, tapi tak pernah mencari diri mereka yang hilang.

Walhasil, Ramadan bumi disia-siakan, bila Ramadan diri tak terbentuk. Hanya dengan membentuk Ramadan diri, diri akan keluar dari ramadan bumi dengan gelar taqwa. Hanya dengan membentuk Ramadan diri, diri kembali fitri. Dan itulah hari raya. Hari raya adalah setiap hari yang dilalui tanpa eksploitasi, kata Ali bin Abi Tholib. Inilah makna, setiap bulan adalah bulan ramadan, setiap hari adalah hari puasa.


Sumber gambar: https://nusagates.com/gambar/lebaran-illustration/

The following two tabs change content below.

Alfit Lyceum

Direktur Lyceum Philosophia Institute.

Latest posts by Alfit Lyceum (see all)