Ingat Pakaian Dalam, Lupa Kedalaman

 

Dalam pemahaman dan pengamatan sederhana, baik yang menyentuh sisi sensitivitas psikologis saya maupun orang lain, saya menemukan fenomena kehidupan yang bisa dianalogikan bahwa, dia, mereka, atau bisa saja termasuk kita dan kami, ”Ingat Pakaian Dalam, Lupa Kedalaman.” Fenomena ini, tidak hanya bersentuhan dengan aspek sosial, budaya, bahkan sampai pada aspek pemahaman agama. Dan lebih parah lagi ada yang bersentuhan, yang dalam pandangan saya, spirit utama peradaban yaitu “literasi”.

Frasa “Pakaian Dalam”, secara harfiah tentunya semua pembaca memahaminya. Namun, jujur saja⸻mungkin faktor didikan dan kebiasaan⸻menyebut frasa yang secara kategoris bersifat umum ini saja, saya masih risih menyebutnya dalam ruang publik. Apalagi yang bersifat spesifik dan lebih spesifik lagi. Namun pada dasarnya frasa “pakaian dalam” dalam konteks tulisan ini, bersifat metaforis atau memiliki makna konotatif.

Frase “Ingat Pakaian Dalam”, melalui tulisan ini, saya bermaksud mengungkapkan secara deskriptif bahwa dalam interaksi dan dinamika kehidupan, kita terkadang disuguhi sebuah fenomena yang landasan pengetahuan dan pemahaman yang dikedepankan, hanya sejauh atau sedalam “pakaian dalam”. Artinya, meskipun sudah menunjukkan kedalaman tetapi ternyata menunjukkan sesuatu yang masih di luar. Masih dangkal, belum menyentuh aspek substansial atau spirit yang melandasinya. Dia, mereka, mungkin termasuk kita dan kami “Lupa Kedalaman”. Sesuatu yang berdasarkan substansi dan spirit. Sehingga lebih jauh hanya ingat pakaian-dalam secara harfiah.

Ada pula yang karena lupa kedalaman dan akhirnya pakaian-dalam pun dilupa bahwa itu pakaian-dalam, sehingga menjadi pakaian-luar. Ini beberapa hal sebagai pengantar dan pemantik sehingga saya merasa terpanggil untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan yang sederhana ini. Dalam kehidupan ini saya pernah mengalami langsung beberapa fenomena yang relevan dengan judul dan makna dari judul tulisan ini.

Saya masih ingat, mungkin tahun 2005/2006. Saya mendaftar calon PNS (Pegawai Negeri Sipil) bagian administrasi untuk tingkat SMA. Salah satu persyaratannya adalah sertifikat komputer. Pada saat itu, saya tidak punya sertifikat komputer hanya memiliki Surat Keterangan sebagai instruktur komputer (pengajar) di sebuah lembaga kursus komputer. Singkat cerita panitia penerimaan calon PNS menolak berkas saya, karena tidak dilengkapi dengan sertifikat komputer.

Dalam konteks tulisan ini, panitia mungkin lupa dan tidak memahami substansi bahwa “sertifikat komputer” adalah sebagai bukti legalitas bahwa orang yang bersangkutan paham dan memiliki skill dalam bidang komputer. Dan mereka juga lupa atau tidak berpikir substantif bahwa SK sebagai Instruktur (pengajar) Komputer⸻yang menjadi pelengkap dalam berkas dokumen pendaftaran saya⸻tentunya secara substantif “maqam/level”nya lebih tinggi daripada sertifikat komputer.

Saya juga teringat di sebuah tempat saat itu, saya bawa buku Filsafat Pendidikan, ada teman menegur saya dan memvonis akan menjadi kafir jika membaca buku tersebut. Sama halnya ketika saya memposting buku koleksi terbaru judulnya Psikologi Sufi terbitan Mizan, seorang teman menegur dan terkesan mengeluarkan statement kontroversial dengan spirit saya bahkan terkesan konfrontatif, karena baginya Mizan berafiliasi dengan syiah.

Dia terkesan menganjurkan menghindari terbitan Mizan dan baginya koleksi buku yang baik adalah yang halaman depannya, diawali dengan tulisan basmalah. Tentunya dari ribuan buku saya, ada ratusan bahkan mungkin lebih banyak yang tidak sesuai anjurannya. Tetapi dia sendiri lupa pada dirinya, karena saya tahu orangnya, bahwa tentunya beberapa koleksi bukunya termasuk milik anaknya tidak memenuhi persyaratan yang dimaksud: bertuliskan basmalah.

Saya juga teringat dengan salah satu teman, mengomentari berita “Halaqah Kebangsaan” yang dilaksanakan Pimpinan Pusat Muhamadiyah, yang saya share ke beranda facebook akun pribadi. Komentarnya sangat sadis karena menilai hal itu haram. Bahkan tingkat keharamannya menurut dia lebih haram daripada makan babi dan menzinai ibu kandung sendiri. Lalu saya berdebat, sampai akhirnya saya menunjukkan kepada dirinya sendiri, bahwa dia sedang berada, menggunakan instrumen bahkan sedang mengerjakan suatu proyek, yang secara langsung maupun tidak langsung, merupakan produk “demokrasi” yang diharamkannya itu. Jadi dia lupa dirinya, bahwa sedang melakukan perbuatan haram berdasarkan perspektifnya sendiri. Senjata makan tuan.

Contoh terakhir, fenomena yang ingin saya sampaikan adalah ketika seseorang, berkomentar di status facebook bahwa “segala sesuatu yang tidak diajarkan atau tidak ada di zaman nabi, Rasulullah maka itu tidak boleh bahkan haram”. Maka spontan saya berkomentar “Pak ustadz, berkomentar di sini menggunakan apa? Apakah facebook diajarkan dan ada di zaman nabi? Begitupun perdebatan saya dengan teman yang katanya “haram menggunakan nada dering/ringtone suara azan di handphone”, salah satu alasannya jika itu berbunyi dalam toilet. Singkat cerita dalam perdebatan itu, saya mengatakan apa bedanya dengan suara azan yang kita dengar dalam toilet melalui toa (pengeras suara) masjid. Padahal suara itu sama-sama kita dengar dari hasil konversi suara asli seseorang, melalui instrumen teknologi (handphone dan toa).

Dari logika-logika sederhana saya ini dan bagi saya tetap memperhatikan hal substansial dan spirit utama, maka diamlah dia. Mungkin dia sedang hanya “ingat pakaian dalam” dan “lupa kedalaman”. Sama halnya, mungkin saja, tulisan-tulisan saya selama ini, ada segelintir orang yang menilai sinis, membosankan ketika dibaca dan membanding-bandingkan dengan tulisan orang lain yang mengikuti selera “millenial”.

Jika ada yang menilai seperti itu terhadap tulisan saya, bagi saya itu bukan sebuah problem, karena mungkin saja dia sedang hanya ingat pakaian-dalam dan lupa kedalaman. Kedalaman apa yang saya maksudkan, salah satunya bahwa menulis, tentunya tulisan yang dilahirkan tidak semuanya sesuai dengan selera pembaca, kedua, kualitas tulisan akan mengikuti intensitas menulis. Dan ketiga, apa pun yang dibiasakan kelak akan menjadi karakter dan nasib hidup. Jadi bagi saya teruslah menulis tanpa memperhatikan ocehan orang, semoga kelak dirimu menjadi seorang penulis. Namun ingat saran dan kritik konstruktif tetap harus diterima dan diperhatikan.

Jadi ada banyak hal yang terkesan kita “lupa kedalaman”. Lupa hal substantif dan spirit yang melatarinya. Jika kita coba mendalami, ini adalah efek lanjutan dari dampak negatif globalisasi dengan segala determinan dan hal paradoksnya. Salah satunya tidak lagi berdasarkan bahwa pengetahuan itu adalah power sebagaimana temuan akademik Michael Foucault. Tetapi kita sedang berada dalam paradigma yang menggiring kita terhadap “ekstasi kecepatan” sampai memengaruhi kedangkalan berpikir.

Sebagaimana tahapan nilai yang berkembang dalam masyarakat yang dirumuskan oleh Baudrillard, kita sedang berada pada tahap keempat yang berorientasi fraktal. Hanya berorientasi pada sesuatu yang viral. Sebagaimana pandangan Yasraf Amir Piliang, kita sedang terjebak pada kekacauan organisme kebudayaan, salah satunya organ kepala telah menjadi dengkul, sehingga kini orang lebih banyak bertindak ketimbang berpikir. Organ mata telah menjelma menjadi otak, sehingga kini orang lebih banyak menonton daripada merenung. Mulut telah mengambil alih hati, sehingga, lebih gandrung melepaskan hasrat ketimbang mengasah hati.

Dalam konteks agama, kita masih terjebak pada pemahaman keagamaan yang literal-tekstual, memahami agama hanya fokus pada teks dan lupa bahwa agama yang kita pahami adalah agama yang telah termanusiakan. Atau dalam perspektif Haidar Bagir, Islam Tuhan dan Islam Manusia.

Selain daripada Asratillah mengutip dari Hamid Abu Zayd yang pada intinya menjelaskan bahwa “Allah menyampaikan wahyu kepada Rasul Muhammad Saw, tidaklah dalam kondisi vakum historis atau vakum sosial. Hal ini, bisa kita konfirmasi minimal bagaimana kita memahami bahwa ayat-ayat makkiyah itu sangat berbeda karakternya dengan ayat-ayat madaniyyah. Artinya apa bahwa agama tidak cukup hanya dipahami secara literal-tekstual tetapi membutuhkan sikap moderat-progressif.

Dari hal ini, minimal agar kita tidak fokus pada ingatan hanya pada pakaian dalam arti harfiah semata dan bisa untuk selalu ingat dengan kedalaman, maka penting kiranya kita meningkatkan spirit literasi, termasuk bagaimana memahami filsafat khususnya filsafat ilmu, meskipun belum sepenuhnya.

Kita perlu memahami pendekatan keagamaan yang dikenal dengan Bayani, Burhani, dan Irfani. Dan jika kita meminjam perspektif Amin Abdullah, maka kita harus mau dan mampu mengintegrasi-interkoneksikan pemikiran keagamaan Islam dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu sosial kontemporer, agar agama (Islam) bisa sesuai spiritnya, rahmat bagi seluruh alam semesta dan Shalih Li Kulli Zaman Wal Makan.

Saya menyadari keterbatasan ruang ini, sehingga belum sepenuhnya menguraikan secara lebh dalam lagi tentang apa, mengapa, dan bagaimana agar bisa mencapai “kedalaman” khususnya dalam hal ilmu pengetahuan.

 

Ilustrasi: Nusasatu.com

Agusliadi Massere

Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Bantaeng. Kini, menjabat sebagai salah seorang Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantaeng

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *