Bala Tentara Itu, Memisahkan Cinta yang Mesra

Pohon-pohon tumbuh subur.  Lebat. Tanah tak pernah kering. Walau berbulan-bulan hujan tak turun. Setiap pagi dan menjelang magrib kabut tipis turun pelan-pelan menyelimuti gunung yang menjulang tinggi. Aku dilahirkan dan tumbuh di dataran tinggi. Aku dilahirkan sebelum bangsaku merdeka. Sekitar tahun 1940. Namun tahun itu bukanlah tahun pasti atas kelahiranku. Itu hanya perhitungan ala kadarnya dari orang tuaku. Di masa itu, di masa bangsaku masih terjajah tanggal dan tahun lahir tidaklah begitu penting. Yang lebih penting adalah bagaimana tetap bisa bertahan hidup.

Hidup di dataran tinggi, daerahku tidaklah terlalu tersentuh kaum penjajah. Kecuali beberapa kali para tentara penjajah datang bersama pengajar agama mereka. Mengajak warga desaku agar meyakini agama mereka. Namun orang-orang desaku sudah memiliki keyakinan sejak turun temurun dari leluhurnya. Dan warga desaku sangat berpegang pada ajaran leluhur itu. Pengajar agama baru itu, tak banyak menemui hasil. Hanya segelintir orang saja yang ikut. Sebagian besar tetap pada keyakinan leluhur.

Ayahku salah satu pemuka agama leluhur. Di antara pemuka agama yang ada, ia paling dituakan. Warga desa silih berganti datang meminta petunjuk kepada ayahku. Setiap ingin memulai menanam, pindah rumah, atau ingin mengadakan pesta perkawinan, warga pasti datang ke rumahku. Meminta waktu dan hari yang baik. Berharap jauh dari bencana. Ayahku sebelum memberi petuah, sejenak melakukan ritual di ruangan khusus di rumah kami. Setelah itu, baru memberi petunjuk.

***

Sandalen. Itulah nama yang berikan oleh orang tuaku. Aku tidak tahu persis artinya. Tapi pernah waktu aku masih kecil, ayahku bercerita bahwa nama itu berasal dari mimpi ayahku. Ia bermimpi melihat cahaya terang hingga matanya silau diiringi suara yang mengulang-ulang kata Sandalen. Saat itu, ibuku tak lama lagi melahirkan diriku.

Menurut ayahku, saat menafsir mimpinya, bahwa Sandalen itu adalah cahaya terang kebenaran. Yang memisahkan gelap. Cahaya yang menembus langit. Sebenarnya, aku tidak pernah peduli dengan segala macam tafsiran namaku hingga aku besar nama itu tetaplah nama.

Namun seiring usiaku bertambah. Kala remajaku menanjak, Bagian tertentu tubuhku mulai menonjol. Orang-orang di desaku sering terpukau karena melihat wajahku bercahaya. Cantik dan damai. Meneduhkan. Hingga orang-orang sangat senang memandangiku. Anak muda berlomba menarik perhatianku. Yang membuat mereka semakin penasaran karena aku tak pernah menggubris mereka. Di antara pemuda itu, ada satu yang tak pernah berusaha menarik perhatianku. Ia pemuda ceria muda bergaul pada siapa pun kecuali kepada gadis-gadis desa. Ia sangat pemalu. Jangankan bicara, bertatapan saja ia tidak pernah. Salmon kikuk bila berdekatan dengan perempuan.

Sikap Salmon yang pemalu pada wanita, justru membuatku penasaran. Aku yang tak tersentuh perhatian oleh anak muda yang lain, malah berupaya mencuri perhatian Salmon. Aku melihat ia seperti memiliki daya magis yang selalu membuatku merasa tenang bila melihatnya. Sebenarnya ia tidak tampan bila dibandingkan dengan anak muda yang lain. Salmon perawakannya biasa saja. Tapi aku sangat tertarik padanya.

Pernah suatu hari, kala pesta panen dihelat, semua orang berkumpul di rumahku. Pekarangan rumahku yang luas disulap menjadi tempat pesta. Jauh sebelum hari pesta panen, warga sudah bergotong royong membuat tenda yang rangkanya dari bambu. Tiang-tiang yang menopang rangka diambil dari pohon kecil yang ada di hutan.

Ada ritual tertentu yang dilakukan oleh ayahku sebelum warga menebang pohon di hutan. Ayah sebelumnya duduk di depan pohon yang ditebang mulutnya komat-kamit membaca mantra tertentu. Baru setelah itu warga dipersilahkan menebang. Tapi setelah menebang pohon, warga yang lain diperintahkan mencari bibit pohon untuk ditanam sekitar pohon yang telah ditebang.

Anak muda desaku tanpa kecuali ikut membantu para tetua. Salmon yang riang begitu menghibur kawan-kawannya dengan lelucon. Dengan cerita-cerita lucu yang membuat semua yang mendengarnya akan tertawa terpingkal-pingkal. Tak ada yang membenci Salmon. Semua orang senang    dan menyayangi Salmon.

Aku bersama gadis desa yang lain, juga sibuk menyiapkan makanan. Sesekali sekelompok anak muda yang sedang berkumpul di mana Salmon ada, berkelakar hingga terdengar di tempat kami para gadis-gadis bekerja. Teman-temanku pun jadi riuh bergosip. Mengurai satu per satu watak anak-anak muda itu. Dan kesimpulannya sama denganku. Mereka sangat respek pada Salmon yang pemalu pada wanita namun  sangat riang ke sesama lelaki.

***

Aku kembang yang mekar tak tersentuh di desaku. Salmon adalah kumbang yang tak pernah hinggap pada kembang. Aku mengaguminya. Sepertinya aku jatuh cinta padanya. Entah melalui apa aku harus menyampaikan perasaanku. Aku tak mungkin meminta gadis lain yang memberitahu Salmon. Sebab gadis-gadis lain juga menaruh hati padanya. Aku mencari cara. Hingga alamat untuk mendekatinya terbuka lebar. Aku tahu bahwa kebun ayah Salmon berdekatan dengan kebun ayahku. Salmon tidak pernah absen membantu ayahnya di kebun.

Di pagi yang cerah, matahari sudah sedepah ketika ibu selesai menyiapkan sarapan. Ayah, ibu dan dua orang kakakku, kami sarapan bersama. Selepas itu, ayah dan dua saudaraku bersiap-siap ke kebun. Aku pun meminta untuk ikut bersama mereka. Saudaraku yang tua menyela.

“Kok baru kali ini mau ikut ke kebun.”

“Aku sumpek di rumah terus,” jawabku sambil tersenyum.

“Yang penting tidak merepotkan,” celetuk kakakku yang satu.

“Ok. Saya jamin.”

Aku akhirnya dibolehkan ikut. Kami menelusuri jalan setapak menuju kebun. Jalan yang sisi kanannya jurang sedang di sisi kirinya adalah gunung. Kami butuh jalan sekitar satu jam untuk tiba di kebun. Jalannya yang mendaki membuatnya kami melambat. Aku harus berapa kali istirahat. Aku tak menyangka medannya seberat ini. Aku kira jalannya tidak terlalu terjal sebagaimana jalan-jalan di dekat rumah. Hanya ayahku yang menungguiku bila aku singgah istirahat. Kakakku yang jauh di depan cuma sempat berteriak mengejek, “masih mau ikut!”. Mereka tidak tahu yang sebenarnya bahwa aku mengambil resiko berjalan seperti ini agar aku bisa bertemu Salmon dan berharap saling menyapa lebih akrab.

Tiba di kebun dengan nafas terengah-engah kakakku yang sedari tadi tiba, bahkan sudah menikmati kopi dan menghisap rokok menertawai meledek dan mengulang kata yang diteriakkan sebelumnya; masih mau ikut! Aku hanya cemberut menanggapi ucapannya. Mereka tertawa terbahak-bahak, ayahku juga ikut seperti puas melihat penderitaanku.

Aku memilih istirahat dengan berbaring di pondok kebun. Sedang ayah dan kedua kakakku sudah sibuk membersihkan rumput yang menjalar dan mengelilingi batang cengkeh. Satu per satu batang cengkeh dibersihkan. Kulihat ayahku ke arah pohon cengkeh yang berbatasan dengan kebun Salmon. Tak lama itu, kudengar sayup ayahku mengobrol. Aku menghampiri ayahku. Berjalan dengan sisa tenaga. Aku ingin memastikan bahwa ayahku mengobrol dengan ayahnya Salmon. Benar. Ayahku sedang duduk di bawah pohon cengkeh begitu pun dengan ayah Salmon.

Mereka berdua memang sangat akrab satu sama lain. Melihatku datang. Ayah Salmon menyapaku. Aku membalas sapaannya sambil menundukkan kepala. Tak lama itu, yang kutunggu-tunggu akhirnya datang. Sepertinya apa yang kurencanakan sesuai yang aku harapkan. Salmon muncul yang terlihat kelelahan. Ternyata ia datang mengambil air minum yang dibawa oleh ayahnya. Ia melihatku sambil tersenyum. Jantungku berdebar-debar. Ini kali pertama ia tersenyum sama perempuan. Mudah-mudahan ini pertanda baik. Gumamku dalam hati.

***

Aku hanya tamatan Sekolah Rakyat. Hampir semua remaja di desaku lulusan Sekolah Rakyat. Bahkan ada beberapa tidak mengenyam bangku sekolah. Tak ada yang mampu melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi sebab sekolah lanjutan hanya ada di kecamatan yang jaraknya sangat jauh. Untuk sampai di kecamatan bisa ditempuh satu hari. Hal termewah yang kami punya jika sudah bisa baca tulis. Sudah bisa menulis catatan tentang perasaan kami. Semacam menulis di buku diary.

Dengan kemampuan bisa menulis, aku menuliskan perasaanku terhadap Salmon. Di atas buku tulis, aku mengurai bagaimana cinta ini muncul seperti benih, tumbuh seperti pohon yang kian hari batangnya semakin kuat. Rantingnya   menjalar ke mana-mana. Sisa menunggu buah yang manis dan lezat.

Di situ aku tulis begitu bahagianya jika kelak aku dapat bersanding dengan Salmon. Sama-sama mengucap janji suci di depan altar pemujaan. Sama-sama membesarkan anak. Menemaninya berlarian menulusuri lereng-lereng gunung desaku. Mengajarkan ajaran-ajaran suci leluhur sebagaimana yang diajarkan kepada kami. Ajaran yang harus menghargai sesama, mengambil dari alam secukupnya sebab bila berlebihan Tuhan akan murka. Mengajarkan tentang pentingnya menjaga nyawa sesama. Sebab membunuh satu orang sama saja membunuh semua orang.

Hampir setiap hari aku menuliskan perasaanku hingga buku tulis jadi penuh. Semuanya sudah tertuang di buku tulis itu. Tapi aku tetap dihantui pikiran untuk apa aku menulis semua ini. Jika Salmon tidak tahu. Jika Salmon tak membacanya. Aku terus berpikir bagaimana cara perasaanku ini diketahui oleh Salmon. Dan bagaimana caranya buku tulis ini bisa dibacanya.

***

Pagi yang bersahabat. Kabut tak begitu tebal. Jarak pandang lumayan jauh. Aku bersama ayah dan kedua kakakku menelusuri jalan yang sering dilalui menuju kebun. Kini aku rajin ke kebun. Alasannya agar aku bisa bertemu Salmon. Walau tak pernah berduaan cerita. Tapi melihatnya tersenyum padaku itu sudah menyenangkan. Buku catatan perasaan aku bawa. Berharap di kebun ada kesempatan memberikan kepada Salmon. Tentunya tanpa sepengetahuan ayah dan kakakku.

Tiba di kebun seperti biasa dengan nafas terengah-engah. Lagi-lagi ketawa mengejek dari kedua kakakku terdengar jelas. Setelah beristirahat sejenak, ayah dan kakakku bekerja menaburi kotoran sapi ke tanah dekat batang cengkeh. Ini akan menjadi pupuk yang bisa menyuburkan tanaman.

Sedang aku memilih beristirahat di bawah pohon batang cengkeh yang rindang dekat kebun Salmon. Berharap Salmon lewat dan buku catatan berisi segudang perasaanku bisa kuberikan padanya. Dan benar Salmon ternyata sedang bekerja pas batas kebun ayahku. Kudengar dari sayatan parangnya membabat rumput menjalar melilit batang cengkeh miliknya.

Aku memberanikan diri menghampirinya. Ketika aku semakin mendekat dan menyadari kedatanganku Salmon terkejut lalu kelihatan salah tingkah. Walau demikian ia berusaha senyum melihatku. Aku menyapanya. Ia membalas dengan terbata-bata. Rupanya ia masih gugup. Setelah menjelaskan maksud kedatanganku aku mengeluarkan buku catatan perasaanku lalu memberinya. Ia menerimanya dengan wajah masih keheranan bercampur gugup. Aku mengira ia tidak menyangka aku akan menghampirinya seperti ini. Sebelum aku kembali dan ayah melihatku, aku berpesan padanya untuk membalas catatan perasaanku. Ia menganggukkan kepala tanda setuju sambil tersenyum namun masih dengan wajah keheranan.

***

Berapa hari berselang aku memberikan buku catatan perasaanku,  di batas kebun ayahku dan bapaknya. Di bawa terik matahari dibarengi dengan hawa dingin pegunungan, Salmon memberiku balasan tapi tidak dalam bentuk buku catatan seperti milikku. Aku melihat hanya beberapa lembar kertas yang telah dilipat.

Aku mengambil kertas itu lalu kemudian buru-buru meninggalkannya. Takut ketahuan oleh ayahku beserta kedua saudaraku. Namun sebelum benar-benar aku meninggalkannya, aku tetap berterima kasih kepadanya karena mau membalas catatanku. Setibanya di rumah, belum sempat mandi dan ganti baju, aku membuka surat balasannya. Dengan perasaan deg-degan, aku mulai membacanya.

Dari surat itu, aku baru tahu ternyata Salmon juga sangat menyukaiku. Bahkan ia sudah menyampaikan ke bapaknya untuk datang ke rumah melamarku. Namun bapaknya enggan untuk datang. Alasannya, mana bisa keluargaku yang terpandang, khususnya ayahku sebagai pemuka agama menerima keluarganya yang biasa-biasa saja. Tapi dengan buku catatan perasaanku, ia berupaya meyakinkan bapaknya.

***

Salah satu yang menyenangkan dalam hidup jika yang diharapkan terjadi. Setidaknya itulah saya rasakan kala orang tua Salmon datang ke rumahku. Datang menemui kedua orang tuaku. Menyampaikan keinginan anaknya yang hendak menikahiku. Ayahku memanggilku dan meminta pendapatku. Kedua orang tuaku tidak mau memberi keputusan sebelum meminta pendapatku. Aku tersipu malu saat harus dimintai pendapat. Tapi aku harus menjawab. Aku tidak mau ayahku mengambil keputusan lain dari yang kuinginkan.

“Salmon lelaki yang ramah, santun dan tidak memiliki jejak yang buruk. Aku tidak masalah jika ayah menerimanya untukku.”

Mendengar pendapatku, ayahku mengambil keputusan dan menyampaikan kepada orang tua Salmon bahwa kehendak anakmu diterima. Berikutnya, ayahku meminta membicarakan hari perayaan dilain waktu. Untuk hari perayaan perlu untuk diundang tetua kampung.

Setiap pagi wajahku berseri. Tak rasanya menunggu hari perayaan pernikahan kami. Hari-hari terasa lama. Putaran waktu seolah lambat. Lusa tetua kampung akan berkumpul di rumahku. Mereka akan membicarakan hari pernikahanku. Memilih hari yang cocok. Hari dalam tradisi di desaku yang tak menghadirkan bencana.

***

Sudah tersiar kabar, negeriku sudah menyatakan merdeka. Para penjajah telah takluk. Mereka sudah pulang ke negerinya sendiri. Ternyata kemerdekaan negeri sudah lama diumumkan namun baru beberapa hari lalu tiba di desaku. Yang membawa kabar salah satu warga yang baru saja pulang dari kecamatan.

Negeri ini, katanya sudah menjadi negeri yang berdaulat. Sudah bisa menentukan nasib sendiri. Bisa membangun daerah sendiri. Tapi para tetua di kampung menanggapi kemerdekaan ini biasa saja. Ini mungkin karena daerah kami tidak merasakan langsung penjajahan. Masyarakat desaku sudah hidup damai dengan apa yang mereka miliki sekarang. Mungkin di batok kepala timbul pertanyaan apa arti kemerdekaan bagi kami warga desa yang jauh di pelosok seperti ini.

Tapi dalam laju waktu, kemerdekaan itu pada akhirnya punya dampak di desaku. Kali ini bukan dampak baik. Kedamaian desa kami terusik. Terkoyak oleh kemerdekaan yang diperebutkan oleh sesama mereka. Kini muncul di mana-mana pasukan bersenjata melawan pemerintah negeri ini. Alasannya bermacam-macam. Salah satu pasukan bersenjata yang terdiri eks pejuang yang merangkul dan memaksa masyarakat untuk bergabung tiba di desaku. Mereka punya cita-cita ingin menegakkan ajaran agama Islam. Ingin mendirikan negara Islam.

Pasukan itu tiba di subuh hari lengkap dengan senjata. Di subuh hari itu, mereka  mengetuk pintu rumahku. Ibu yang sedari tadi bangun dan bekerja di dapur terkejut. Siapa gerangan di subuh hari begini yang mengetuk pintu. Ibu menebak, mungkin yang datang salah satu warga yang kerabatnya sakit. Biasanya memang begitu jika ada warga yang sakit datang pasti ke rumah untuk diobati. Ayahku dianggap mampu memiliki keahlian dalam menyembuhkan beberapa penyakit.

Tapi kali ini sungguh di luar dugaan. Pas ibu saya membuka pintu. Ia kaget luar biasa melihat orang asing datang.

“Di mana bapak?” tanya yang mengetuk pintu.

“Masih tidur pak,” jawab ibu saya.

“Bangunkan! kami dari pasukan jihad ingin bicara,” dengan suara yang keras dan lantang meminta kepada ibuku sambil menodongkan senjata.

Ibuku berbalik melangkah ke tempat tidur ayahku dengan langkah yang gemetar. Tak lama itu, ayahku menemui orang-orang itu.

“Ada ya apa?” tanya ayahku dengan sopan

“Bapak tetua di kampung ini?”

“Benar pak”

Setelah mengaku demikian, ayahku kemudian disuruh untuk ikut dengan mereka. Sambil menodongkan senjata. Ayahku mau tak mau harus ikut. Walau ayahku tak pernah berhenti bertanya. Apa sebenarnya yang terjadi. Aku yang menyaksikan di sela-sela dinding kamarku gemetaran dan penuh kekawatiran. Kuatir pada ayahku.

Matahari mulai muncul. Kabut masih menyertai matahari. Walau kali ini sangat tebal. Cuaca sangat dingin.  Ayahku bersama laki-laki muda dan tua, ternyata di kumpul di salah satu tanah lapang. Di sana mereka disampaikan oleh komandan pasukan jihad itu bahwa maksud kedatangan mereka adalah mengajak warga desaku untuk bergabung dengan mereka. Memeluk agama mereka. Bagi warga yang tidak mau ikut. Dipersilakan pergi dari desaku. Dan hartanya bukan lagi miliknya. Kalau melawan tidak ada pilihan lain. Mereka akan ditembak mati.

Ayahku berupaya bernegosiasi dengan pasukan jihad itu. Ayahku meminta bahwa warga akan menanggung semua hidup mereka asal yang tidak ikut dengan mereka tidak diusir dari desa. Namun komandan pasukan jihad itu tetap bersikeras bahwa tak ada pilihan selain yang mereka tawarkan.

Warga semuanya ketakutan. Tak ada yang berani mengangkat wajahnya. Tak ada yang berani bicara selain ayahku. Upaya ayahku bernegosiasi gagal total. Desaku yang awal damai dan tenteram menjadi mencekam. Pagi itu tak lagi seindah dengan pagi-pagi sebelumnya.

Pukul 10 pagi, suasana tak ada yang berubah. Para lelaki desa masih dikumpul. Kemudian tak lama itu tanpa terkecuali semua warga di kumpulkan. Tibalah waktunya kami harus memilih. Mengikuti mereka atau meninggalkan desa dan tak lagi memiliki harta benda. Semuanya menjadi miliki mereka. Mendengar pilihannya seperti itu, salah satu warga menjadi marah dan mencoba melawan dengan menyerang salah satu pasukan jihad. Namun naas menimpanya. Ia tewas dengan beberapa tembakan.

Saat-saat getir dan memilukan itu harus dihadapi oleh warga desa. Dilema mengintai dalam benak mereka. Ketakutan menjalar ke tubuh mereka. Bagaimana tidak mereka tidak pernah merasakan seperti ini. Tidak pernah berada pada situasi sesulit ini.

Dengan wajah memerah penuh amarah yang ditahan. Ayahku melangkah maju. Kemudian ia berbicara di hadapan warga. Bahwa ayahku tak ingin mengikuti mereka dan siap meninggalkan desa ini. Ayahku kemudian memisahkan diri. Mendengar itu, ibu-ibu menangis histeris. Tak lama itu sebagian besar warga desa mengikuti ayahku. Dari jauh aku melihat keluarga Salmon tak mengikuti rombongan kami. Ia tetap tinggal. Sudah pasti ia memilih mengikuti pasukan jihad itu.

Siang itu juga, dengan hanya membawa beberapa lembar pakaian, makanan secukupnya, kami rombongan yang menolak mengikuti mereka meninggalkan desa. Wajah sedih penuh amarah terlihat jelas. Kami rombongan menelusuri jalan menuju hutan yang lebih dalam. Yang tujuh sebuah lembah. Kami akhirnya bermukim di tempat itu.

***

Februari 1965 semuanya berakhir. Pemerintah akhirnya menumpas pasukan jihad. Sekitar 3 tahun kami menderita di lembah itu. Terancam kelaparan. Kami hanya memakan apa yang disediakan oleh alam. Kami lama bergelut dengan dingin yang menyengat hingga bisa bernaung di pondok yang baru dibuat oleh para lelaki.

Setelah semuanya berakhir. Semuanya dipastikan aman. Kami semua kembali ke desa. Walau beberapa orang tetap memilih tinggal di lebah. Sayang meninggalkan apa yang mereka mulai. Di sisi lain rasa trauma masih mendekapnya dalam. Ayahku memutuskan pulang ke desa tapi tetap dengan pegangan jika semuanya belum aman betul, ia akan kembali ke lembah. Setiba di desa setelah berjalan beberapa hari bersama rombongan semua jadi jelas bahwa desa memang sudah aman. Situasi desa belum banyak yang berubah. Selain adanya bangunan baru peribadatan yakni masjid.

Melihat kami balik ke desa. Warga yang sebelumnya ikut pada pasukan jihad menjadi takut kepada kami. Tapi ayahku sudah berpesan kepada kami semua bagaimanapun mereka adalah saudara kita. Biarkan mereka seperti itu, dan menjalani apa yang mereka yakini. Intinya jangan pernah menggangu mereka.

Ayahku menuju rumah yang kami tinggal. Rumah itu sudah kosong. Konon setelah kami tinggal, menjadi hunian pasukan jihad itu. Di jalan menuju rumah. Ayahku bertemu dengan ayah Salmon. Mereka berpelukan sambil menangis.Selama 3 tahun ini, ternyata ayah Salmon yang merawat kebun ayahku. Walau hasilnya para pasukan jihad itu yang nikmati.

Tak terasa sudah satu bulan kami pulang ke desa. Di antara warga yang baru pulang dengan yang tinggal dan sudah berubah keyakinan menjadi Islam terjadi kikuk. Satu sama lain. Perasaan dikhianati masih tersimpan dalam lubuk hati para warga yang menolak. Sementara itu, perasaan benar juga menghinggapi mereka yang berubah keyakinan. Alasan untuk bertahan hidup yang mereka pegangi.

Setahun berlalu. Semuanya mulai kembali normal walau tetap ada yang berbeda. Sebagian sudah memiliki keyakinan lain. Di sore yang ranum. Kabut-kabut tebal sudah mulai berseliweran hawa dingin mulai menusuk. Ayah Salmon datang ke rumah. Ia bermaksud melanjutkan apa yang dulu terhenti oleh badai pasukan jihad. Bermaksud meneruskan pembicaraan waktu pernikahan aku dan Salmon. Ayahku menerima ayah Salmon. Namun tak menerima untuk maksud ayah Salmon. Ayahku tak lagi ingin meneruskan pernikahan kami. Alasannya tak lain tak bukan adalah keyakinan. Dan aku harus menerima itu begitu pundengan Salmon.

Pada akhirnya kami harus berjalan pada gelombang yang berbeda. Ada titik kami dipertemukan, namun ada garis yang memisahkan. Agama datang tak ramah pada cinta kami.  Sebenarnya bukan pada agamanya. Tapi cara manusia menjalaninya. Kami dipisah oleh cara menjalaninya. Orang tuaku tak menginginkan ada beda keyakinan dalam lingkup rumah tangga. Karena itu sangat merepotkan.Kami saling mencintaiseperti matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi.

 

Ilustrasi: https://www.shutterstock.com/tr/video/clip-12989141-love-story-happy-end-couple-walking-sunset

Asran Salam

Petani yang senang menulis. Pegiat di Komunitas Simpul Peradaban Palopo.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *