Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Nganre-Nganre ri Buakang dan Hal-Hal yang Meresahkan

 

Saban tahun, di penghujung Desember, tatkala langit tak lagi secerah kemarin, dan mentari tak lagi seterik biasanya. Mega-mega berarak perlahan, membentuk formasi hujan, menembus dinding waktu, menebar benih-benih rindu. Di masa itu, peralihan musim terjadi, dari kemarau ke hujan. Dari kering yang resah, ke hujan yang basah. Waktu ini, membawa kebahagian bagi kaum tani. Waktu yang ditunggu-tunggu, sebab mereka akan kembali ke sawah, bekerja seperti biasa. Belajar mencintai sawah.

Ketika masa itu tiba, mereka tak langsung terjun membajak sawah. Mereka mengawalinya dengan bergotong royong, melakukan kerja-kerja, merapal doa-doa di sisi sungai. Ya, memang ada satu tradisi turun temurun di desa kami—saya tidak tahu apakah ini juga dilakukan di desa lain. Tatkala musim hujan, dan debit air di sungai bertambah. Para petani lekas bekerja bersama, membersihkan saluran irigasi, dari segala sesuatu yang dapat menghambat laju air. Dari penuturan orang tua, tradisi ini sudah lama dilakukan oleh buyut kami. Saya melihatnya sebagai sebuah tradisi baik yang mesti dilestarikan—di luar beberapa hal yang kurang saya setujui tentu saja. Namun, secara substantif, saya melihat dampak yang baik bagi perbaikan ekosistem sungai, juga pengaruhnya terhadap hasil panen masyarakat.

Kegiatan ini dimulai dengan pengumuman di masjid, guna menginformasikan kabar ini beberapa hari sebelumnya, tentu setelah meminta pertimbangan dari tokoh masyarakat setempat. Kaum lelaki akan diminta berkumpul di sungai, di saluran irigasi yang mengular ke sawah. Sedang, kaum perempuan akan menyiapkan makanan terbaik mereka untuk dibawa, dan dimakan bersama di sisi sungai, di bawah rindang pohon. Itulah kenapa tradisi ini dinamai Nganre-Nganre ri Buakang (makan-makan di saluran air). Saya melihat kaum perempuan sungguh antusias, biasanya mereka akan berangkat ke pasar untuk membeli bahan makanan terbaik, untuk kemudian dimasak. Satu rumah, satu rantang makanan. Begitu kira-kira.

Waima, saya kadang resah juga, melihat keterlibatan masyarakat dalam tradisi ini. Bisa dibilang, hanya sebagian kecil masyarakat yang terlibat aktif, jika dikomparasikan dengan jumlah sawah yang akan merasakan manfaat. Ini pula yang sempat dikeluhkan oleh salah seorang warga. Baginya, justru mereka yang kadang egois menggunakan air, tak datang membantu bekerja. Namun, lekas dijawab oleh “tetua” di desa, bahwa ada hal di luar kerja yang juga memengaruhi hasil panen kita, yaitu berkah. Begitulah kira-kira saya menafsirkan perkataan beliau. Berkah hanya bisa diperoleh dengan bekerja sungguh-sungguh, ikhlas, dan mengesampingkan egoisme. Saya pun sadar, ada yang lebih esensial tinimbang keberhasilan panen kelak, yaitu keberkahan panen. Hasil panen yang diberkahi tentu akan memberikan perasaan cukup bagi para petani. Sekadar untuk biaya anak sekolah, sisanya untuk makan sehari-hari di rumah.

Di sisi lain, saya tentu berharap tradisi ini terus berlanjut, tapi siapa yang akan melestarikan? Inilah keresahan saya yang lain. Anak-anak muda, para anak petani itu bahkan tak datang membantu orangtuanya bekerja, sekadar membersihkan irigasi. Apatah lagi di libur sekarang ini, tentu mereka punya banyak waktu bukan? Mungkin inilah satu-satunya kesempatan mereka melihat kerasnya kerja para orangtua, sebelum mereka kembali ke menara gadingnya masing-masing. Saya mencoba berpikiran positif saja, mungkin di pagi itu mereka masih lelah, setelah tembus pagi, begadang bermain game di gawainya masing-masing. Sisanya mungkin lupa. Lupa kalau orangtua mereka menua saban hari, sedang ia bertambah kuat, tapi tak melakukan apa-apa. Sisanya lagi, benar-benar lupa jadwal.

Rasanya menjadi aneh kemudian, jika petani yang bekerja demi pendidikan anak. Justru diperhadapkan pada paradoks semacam ini. Kita disekolahkan agar bisa lebih berguna, bukan agar tidak menjadi petani, bukan agar kelak hidup kaya raya, berenang dalam kolam emas, dan bersayap uang kertas. Mereka yang berpikiran begitu mestilah mengubur mimpinya dalam-dalam. Pendidikan tak menjamin itu, Nak. Sungguh. Kalaupun ada. Persentasenya sangatlah kecil, dan sangat tidak pasti. Tentu kita tak ingin menukar masa depan dengan ketidakpastian. Sayangnya, hingga kini, saya masih lebih banyak melihat sarjana yang memilih menganggur, tinimbang merapah jalan yang sama dengan orangtuanya; bertani.

Kini, kita sudah melihat kondisi riil masyarakat. Bertani—juga beternak—menjadi pekerjaan paling aman selama pandemi. Bebas dari PHK, juga virus. Ketika pandemi berlalu pun, saya yakin pekerjaan ini pun masih akan tetap begitu.

Selain keterlibatan anak-anak muda (baca:anak petani), satu hal lain yang membuat saya resah adalah, sampah plastik yang berserakan di sungai-sungai. Plastik-plastik ini sungguh mengganggu, apatah lagi jika masuk di area persawahan.

Dari mana sampah-sampah ini berasal? Tentu dari masyarakat sendiri yang gemar menjadikan sungai sebagai TPA. Logika yang sering dikedepankan adalah, “nanti sampahnya akan dibawa air”. Jika semua masyarakat menganut cacat logika macam ini. Maka sungai akan penuh dengan sampah, sebab kampung A akan menerima kiriman sampah dari kampung B, kampung B akan menerima sampah dari kampung C, begitu seterusnya. Hingga sampah tiba di area persawahan, menambah kesusahan petani. Sisanya berakhir di laut, dan merusak ekosistem. Sayangnya, korban terakhir adalah manusia-manusia itu sendiri. Sebab kita akan mengonsumsi ikan, yang terkontaminasi sampah-sampah. Kalau bukan sekarang, mungkin cucu-cucu kita di masa datang.

Kita mungkin lupa, bahwa sampah-sampah tak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga pada lingkungan. Penurunan kualitas air, pendangkalan saluran, meningkatknya perkembangbiakan penyakit, gangguan pertumbuhan tanaman, dan penurunan kualitas tanah, adalah beberapa di antaranya. Jika kelak anak cucu kita tak lagi bertani, mungkin bukan karena mereka tak ingin. Tapi tanah kita yang sudah lelah memberi, karena tak pernah lagi peduli.

Ya, pada akhirnya, saya sungguh percaya, selalu ada nilai-nilai baik di balik sebuah tradisi. Melestarikan tradisi tak sekadar menyambung kerja-kerja nenek moyang. Ada semacam kesadaran yang ingin diwariskan. Kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga harmoni dengan alam. Alam telah memberi dengan seluruh, sedang manusia amat berat membalas meski separuh. Jangan sampai, ketika ikan terakhir telah ditangkap, dan bulir padi terakhir telah jatuh, kita baru sadar, bahwa uang sama sekali tak bisa dimakan.

 

 

 

 

 

The following two tabs change content below.

Ikbal Haming

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra. Menulis buku, "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021)