Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Baru Tahun…!!!

 

“Apa yang baru?”

Saya selalu tercekik ketika mendengar pertanyaan Sulhan Yusuf, pujangga AirMataDarah itu. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Pertanyaan tersebut kerap terdengar di kelas menulis, ketika mengurasi tulisan para peserta. Celakanya, meski kelas usai, kalimat-kalimatnya menggangu saya. Tidur saya menjadi tak nyenyak. Tanya itu bak sekompi peri perempuan, mengarahkan busurnya ke arah tubuh saya yang sintal.

Apa hal baru dari saya tahun ini? Kebaruan apa yang telah saya sumbangkan? Apalagi giat-giat baru yang bisa kami lakukan bagi desa dan negara? Apakah kebaruan itu – kalaupun ada, baik atau buruk? Berdampak besar atau biasa saja? Pertanyaan tersebut melilit kedirian saya dalam kesendirian. Menggugat diri sendiri, bukan pekerjaan remeh temeh. Kesombongan kerap bertengger. Keserakahan suka bercokol. Apa yang baru? Badan saya masih saja bongsor seperti dulu. Jika ada yang baru, saya baru sadar, perut saya kian berdus.

Baru berarti kebaruan, dan kebaruan berkorelasi dengan perubahan. Yasraf Amir Piliang, mendedahkan dalam buku Sebuah Dunia Yang Dilipat, bahwa kebaruan selalu terjadi setiap saat. Tiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, perubahan terus terjadi. Kebaruan itu pasti adanya. Kita bangun pagi, sarapan, pergi kerja, pulang, istirahat, lalu tidur kembali, saban hari, niscaya ada hal-hal baru yang kita dapatkan. Main game saja tiap hari, pasti ada kebaruan. Apalagi pembuat game, memang memperbaharui permainan per pekan atau bulan. Agar kita kian kecantol, mabok, dan makin jago. Tetapi apakah kebaruan demikian yang kita harapkan? Kebaruan yang stagnan, biasa-biasa saja, tak berdampak besar?

Apakah memang kita membutuhkan pembaharuan? Bagi anak muda kata Soe Hoe Gie, pembaharuan atawa revolusi berarti tantangan mencari nilai-nilai baru. Sejauh mana kita mampu memenuhi tantangan tersebut, jika kita belum melek terhadap kondisi sosial kita. Yang tahu, pura-pura buta dan apatis. Beberapa yang berkarya, dituduh macam-macam. Sebagian yang lainnya, bergerak atas dasar pragmatisme dan materialisme. Tak memuat unsur perubahan sama sekali. Formalitas saja katanya.

Kalaupun kita mencari dalih dan dalil pembenar atas sikap tersebut, waktu bakal terus bergerak. Roda kemajuan bukan kurir yang bergerak sesuai kepentingan kita. Kemajuan akan terus berputar menggilas apa saja, termasuk bangsa kita. Olehnya, bangsa ini membutuhkan manusia-manusia yang produktif dan progresif. Erich Fromm dalam buku Konsep Manusia Menurut Marx, menabalkan bahwa manusia bagi Marx, Hegel, Spinoza, dan Goethe, akan hidup hanya jika ia produktif. “Manusia yang tak produktif adalah manusia yang reseptif (manutan, terima jadi) dan pasif, dia tak ada dan mati.” Manusia produktif yang dimaksud Erich adalah manusia yang bergerak mencari esensinya, sebagai manusia dan mampu mewujudkan kemanusiaannya. Manusia yang mampu memanusiakan manusia.

Kini, kita berada di penghujung tahun 2020. Tahun getir yang bercandanya tak lucu. Kala yang memaksa manusia bertarung melawan kebiasaan-kebiasaannya, memasuki dunia dengan kebiasaan-kebiasan baru. Barulah kebaruan itu, menjadi terasa keberadaannya. Dan memang seperti itu kata Amir. Perubahan atawa kebaruan, di mata manusia, baru terasa ketika bersinggungan dengan peristiwa besar. Katanya, “Manusia hanya mampu melihat pergerakan waktu melalui perubahan peristiwa, objek atau situs-situs. Kebaruan-kebaruan hanya mampu dilihat dari pergerakan milenium atau dalam jangka waktu ribuan tahun.”

Menunggu milenium berikutnya untuk melihat kebaruan dan perubahan, reken-rekennya terlampau lama. Keburu mati kita. Syukur-syukur kalau sudah nikah, punya anak, sehingga ada generasi penerus sampai masa itu. Mengenang masa lalu juga kurang berfaedah, salah sedikit jadi melankolis. Sekarang adalah satu-satunya waktu yang kita miliki untuk berkarya, berdaya, bergerak, dan membuat perubahan-perubahan.

Lihatlah! Tahun ini ada banyak hal baru yang menghidu. Virus baru, vaksin baru, orang kaya baru. Ramadan dengan suasana baru, spritualitas baru, yang tak baru sikap sebagian dari kita yang masih antipati, penuh kebencian, intoleran, dan menolak keniscayaan bangsa yang plural. Pun ditemukan benua baru, dunia data, yang melahirkan manusia-manusia baru dan kehidupan barunya.

Lalu muncul cara belajar baru dan kurikulum baru, serta the new hidden curriculum,  yang mencanangkan lulusan dan karakter baru. Kebaikan baru, kebohongan baru. Kebiasaan baru. Wacana baru, menteri baru. Tapi jangan sampai ada korupsi baru. Apalagi video baru. Semua serba baru. Tapi mengapa cita-cita kekuasaan kita tak pernah baru? Masih seperti cita-cita para dewa zaman dahulu kata Bernard Shaw, terus menerus menuntut pengorbanan manusia.

Waima banyak kebaruan, kita dan bangsa ini membutuhkan kebaruan yang progresif. Kebaruan yang tak mengorbankan manusia dan lingkungan. Kebaruan tanpa keburu-buruan. Kebaruan yang bukan sekadar narsisime dan pencitraan. Kebaruan yang tak berlandaskan egosentrisme dan kerakusan. Dan, ini menjadi tantangan bagi kita semua di tahun baru.

Saya ingin meminjam narasi Catatan Najwa Shihab, sebagai bumbu pemanis tulisan ini dan bahan refleksi akhir tahun. “Bagaimana kita mengenang tahun 2020? Dengan cerita pandemi? Atau rentetan tragedi? Tahun ini memang minim kabar baik. Tetapi ada begitu banyak solidaritas, yang membuat kita percaya, negeri ini, tak kekurangan orang baik!” Bagi Najwa, tak ada yang lebih kuat selain warga membantu sesama warga. Tahun ini warga berdaya, saling bantu dan saling jaga. Narasi ini, setidaknya mampu memantik kita, agar terus mengobarkan api kebaikan di mana saja.

Walakin di awal tahun kita keteteran, tak mampu mengikuti ritme kebaruan yang temponya cepat. Namun, kita mesti segera terbiasa mengikuti irama zaman. Menikmatinya seperti sepasang kekasih, menari di bawah sinar rembulan dengan simponi Fur Elise, Beethoven. Keberadaan tahun 2020 yang identik dengan pagebluk, tak selayaknya menggiring kita menjadi bagian “para pengeluh” dan “para pemarah”. Kebesaran jiwa dan keimanan kita benar-benar diuji tahun ini. Di mana tahun Tuhan menunjukkan kasih sayangnya kepada kita semua, lewat cobaan yang berkepanjangan.

Kini, kita memasuki gerbang tahun baru. Harapan-harapan mesti terus disemai. Semangat pembaharuan harus dipupuk. Kita mulai dari diri sendiri. Sikap – bar-bar, apatis, hedonis, dan lain-lain; sifat – serakah, sombong, korup, dan lain-lain; dan mentalitas kita mesti diubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Saya ingin mendedahkan tutur Mahatma Gandhi, “Sebagai manusia, kehebatan kita tidak banyak terletak pada kemampuan untuk mengubah dunia, yang mana itu adalah mitos pada zaman atom, tapi pada kemampuan mengubah diri kita.”

Olehnya, tahun baru harus kita jadikan ajang merefleksikan diri. Merenung di bawah hingar bingar petasan atawa dalam kesunyian sepertiga malam. Bukannya tidur nikmat di bawah ketiak kekasih atawa melancong keluar negeri pakai uang negara. Merenung dan terus bertanya-tanya, tahun sudah baru, apa yang baru dari kita? Sejauh mana pencapaian kita tahun ini? Maka mulailah menulis resolusi untuk diwujudkan tahun 2021.

Jangan sampai, resolusi kita, masih sama dengan resolusi tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun lalu kita menulis, berharap menjadi sarjana dan mulai bekerja, tahun ini resolusinya menikah. Jika pencapaian puasa kita tak pol sebulan tahun ini, tahun mendatang digas pol, bahkan puasa sunahnya. Merenung dan terus bertanya-tanya, gugatlah diri sendiri. Bukan malah bersantai, lalu berkata, “Ini baru tahun…!!!”

Walakhir, saya ingin persembahkan penggalan puisi Gus Mus, Selamat Tahun Baru Kawan, sebagai bahan renungan kita;

Kawan, sudah tahun baru lagi

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri

Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?

Muslimkah, mukminin, muttaqin, kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?

Khoirul ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi

Hanya budak perut dan kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang gaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan

Lebih pipih dari kain rok perempuan

Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan masa

Dan tiba-tiba buas dan binal di saat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,

atau pernyataan setia pegawai rendahan saja

Kosong tak berdaya

Salat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu

Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas

Dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda

Doa kita sesudahnya justru lebih serius

Memohon enak hidup di dunia dan bahagia di surga

Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat

Tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus…

 

Ilustrasi: Jabar.Tribuntimur.com

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)