Sekolah Boleh Dibubarkan!

 

Tempo hari, pada sebuah persamuhan, penerimaan rapor di akhir semester ganjil, anak-anak itu memohon dengan sangat, supaya bisa belajar di sekolah. Apa yang mereka sampaikan, setidaknya mewakili harapan kebanyakan murid di negeri ini. Mereka secara bergantian, meminta kepada orangtua murid, komite sekolah, kepala sekolah, dan guru-guru. Tak ada yang menolak. Semuanya justru memiliki harapan yang sama. Tetapi, lagi-lagi pemilik keputusan adalah bapak yang di atas.

Setidaknya, di pikiran anak-anak itu, bercokol anggapan, sekaligus harapan, sekolah dibuka Januari ini. Sayang, apa yang mereka sebut harapan, ternyata sekadar celoteh bagi orang dewasa. Dan, tak lebih dari nada sumbang bagi pemerintah. Kondisi yang masih “labil” macam para mentri negeri antah berantah, memang cocok sebagai dalih. Tapi mungkin bagi anak-anak, alasan itu asal-asalan, susah diterima kepala mereka yang telah “dikerdilkan”, dan terlihat sedikit, maaf, kekanak-kanakan.

Kita tak boleh lupa, mereka adalah insan pendidikan. Nalar kritisnya pastilah bertumbuh, meski telah dikekang dari berbagai penjuru. Laksana tanaman, akan bertumbuh ke arah cahaya. Mereka tentunya membutuhkan penjelasan lebih, dari sekadar surat edaran penundaan.

Apatah lagi, paradoks-paradoks perihal pandemi, serta wacana yang merebak di lingkungan mereka, tidak seutuhnya sama dengan persepsi pemerintah. Banyak dari mereka melihat kantor-kantor, bandara, pasar, mal, dan masjid terbuka secara blak-blakan. Pun pelaksanaan pemilu, toh sudah luring. Dan, kampanye yang dilakukan, terkadang abai pada protokol kesehatan.

Ketika pembukaan sekolah menjadi isu hangat di paruh tahun 2020, animo guru, orangtua, dan peserta didik, tetiba melonjak macam data Covid-19. Mereka senang. Menanti penuh harap. Maka wajar ketika kecewa menerkam hati, karena merasa di-PHP. Tetapi sekali lagi, kita (baca: murid) harus kembali bersabar. Menelan kejenuhan yang berkali-kali kita muntahkan.

Kita semua tahu, kejenuhan belajar jarak jauh, telah lama mendera. Sekolah seolah kehilangan hal-hal menyenangkan yang dimilikinya. Kita rindu kisah persahabatan, solidaritas tanpa batas, dimarahi guru bersama, dinasihati guru, kerja bakti, dan sebagainya. Pun, sesuatu yang membuat pelajar puber senang sekali masuk sekolah. Yah.. romantisme, meski tabu bagi sebagian orang, tak bisa dimungkiri, itu menjadi vaksin yang membuat segelintir dari kita mendadak sulit absen.

Hal lain yang kita rindukan, kebersamaan dengan kawan-kawan. Kebersamaan dalam semua situasi dan kondisi, yang melahirkan ikatan erat rasa saudara. Canda tawa bersama di kelas, akibat tingkah-tingkah konyol si tukang pelawak. Curahan hati si bucin yang galau. Gaya sok cool dari si manis, playboy cap kaki tiga di sekolah. Si jahil yang tak afdal sekolahnya, kalau tak membuat marah cewek di kelas. Si juara umum yang kalem, primadona gadis-gadis sekolah. Si gadis cerewet yang membuat sunyi lari terbirit-birit. Yakinlah, ketika ada dia, tak ada tempat yang tenang di muka bumi. Si tukang tidur saat belajar. Si rajin minta izin ke toilet, kembalinya pas jam pelajaran berikutnya.

Akh.. ketika mengingat masa-masa sekolah dulu, saya sedikit meragu, yang dirindukan para murid bukanlah proses belajar tatap muka. Lamun, semua-muanya. Interaksi-interaksi dengan seluruh elemen sekolah. Suatu mekanisme interaksi sosial, yang mengandung banyak nilai-nilai baik bagi perkembangan peserta didik. Nilai-nilai inilah yang tak bisa ditransfer ke dalam dunia data, dunia tanpa batas yang memiliki banyak bias dan kepalsuan.

Kejenuhan menjadi salah satu kendala yang mesti dihadapi secara bersama-sama, dan menjadi pertimbangan sebelum mengambil kebijakan. Sebab bakal merembes ke banyak hal. Penyusutan karakter dan moral. Kerja tugas asal-asalan dan ogah-ogahan belajar. Sekadar absen saja. Syukur kalau masih masuk belajar.

Semua problem dan dilema ini, tidak serta merta dilimpahkan kepada para pendidik. Guru-guru telah melakukan banyak upaya luar biasa, supaya kejenuhan tidak menyesaki jiwa para murid. Meskipun kenyataannya, mereka juga mulai muak dan kewalahan. Dan, memang hampir tak ada yang menyenangkan dari belajar dan mengajar daring.

Kejenuhan itu serupa kanker yang menjalar, menyerap nutrisi penting yang dibutuhkan manusia. Ya, kenikmatan. Arthur Schopehauer, seorang filsuf Jerman, beranggapan bahwa selain kepedihan, kejenuhan menjadi salah satu musuh utama kebahagiaan manusia. Waima demikian, kalian tak boleh berhenti belajar, Nak. Belajarlah bersungguh-sungguh, dalam situasi dan kondisi apapun. Gus Mus pun pernah menutur nasihat, untuk kita semua. Sekolah boleh ditutup, dibubarkan, tapi jangan pernah berhenti belajar.

Belajar itu bisa di mana saja. Bisa bersama siapa saja. Kapan saja kita bisa belajar. Asal ada kemauan. Sedang kemauan itu tumbuh dari dalam. Inilah yang disebut Marilyn King sebagai gairah dalam rumusnya. “Gairah + visi + aksi” sama dengan keberhasilan. Persamaan ini dituang Gordon Dryden dan Jeannette Vos, pada buku Revolusi Cara Belajar. Gairah adalah poin utama. Gairah berarti sesuatu yang benar-benar ingin kita lakukan.

Adanya gairah belajar yang kuat, akan membawa kita memandang tujuan dengan sangat jelas, dan mengimajinasikannya secara ajaib. Kita ingin menjadi apa kelak Kita yang menentukan. Jangan mau didikte orang lain apalagi sistem. Tapi sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Inilah yang disebut visi. Dari sinilah kita melakukan sesuatu setiap hari, sesuai dengan rencana, yang akan membawa kita selangkah lebih dekat dengan mimpi-mimpi kita.

Sederhananya, apa pun yang dilakukan guru dan pemerintah, kurikulum mau berganti berkali-kali, siapa pun menteri pendidikannya, keberhasilan belajar itu ditunjang oleh diri kita masing-masing. Sejauh mana kita bisa berproses. Perihal belajar, Gordon Dryden dan Jeannette Vos, mengutip Vernon A. Magnesen, bahwa kita belajar 10% dari apa yang kita baca. 20% dari apa yang kita dengar. 30% dari apa yang kita lihat. 50% dari yang kita lihat dan dengar. 70% dari yang kita katakan. Dan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.

Jadi sangat jelas, bahwa belajar bergantung pada kekuatan pribadi kita masing-masing. Guru, orangtua, dan pemerintah, sekadar menghantar kita. Menunjukkan kita jalannya. Prosesnya, kita yang menjalani. Kerinduan pada sekolah dan segala tentangnya, kita kerahkan menjadi energi dan sikap positif dalam belajar. Pun pada kecewa dan lelah yang menghidu kita kata Dahlan Iskan, kita bisa belajar arti penting kesungguhan.

Walakhir sebelum wasalam, sekolah boleh dibubarkan! Boleh ditutup! Tapi jangan pernah berhenti belajar. Sebab bagi pembelajar sejati, setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Maka jadilah murid segala sesuatu. Aforisme ini dipopulerkan Roem Topatimasang dalam Sekolah itu Candu. Ini kita jadikan mantra pemikat diri, menumbuhkan girah dan gairah belajar kita. Sebab pada kalianlah, masa depan bangsa ini diserahkan.

Ilustrasi: analisisnews.com

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *