Jelang Dies Natalis atau Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-74, amat banyak yang mengubah foto profil akun media sosialnya. Berlogo HMI dengan varian logo milad, disertai ucapan selamat dan slogan khas HMI. Ada durasi waktu ditampilkan, 5 Februari 1947-5 Februari 2021, disertai slogan “Yakin Usaha Sampai”, “Bangga Jadi Kader HMI”, “Ayo Ber-HMI”,”Harapan Masyarakat Indonesia”, dan “Bahagia HMI”, serta embel-embel lainnya.

Bagi setiap yang mengubah foto profilnya, secara pasti menegaskan dirinya sebagai kader HMI. Tak pandang bulu, sekadar mampir di Basic Training, maupun yang menghabiskan waktunya begitu lama, hingga jenjang kekaderan yang paripurna. Begitupun juga, keterlibatan kepengurusan, mulai dari komisariat sampai puncak di pengurus besar. Sekotahnya membanggakan diri sebagai warga HMI. Apatah lagi yang sudah alumni, menjadi KAHMI, terkadang lebih HMI dari HMI.

Perubahan foto profil berlogo Milad HMI Ke-74, mengundang reaksi, setidaknya sesama warga HMI yang semasa atawa seangkatan. Setiap unggahan, pasti ada komentar yang saling berbalas: berbagi kenangan.  Saya pun sesekali ikut komentar, jikalau ada persentuhan semasa di HMI, baik pada yang lebih senior maupun yang junior.  

***

Selain perubahan foto profil berlogo Milad HMI Ke-74, tidak sedikit unggahan foto-foto kenangan dari setiap yang menegaskan dirinya pernah di HMI. Tentu disertai pula cerita-cerita heroik, lucu, dan menyebalkan. Saya sendiri ditandai dalam satu gambar, diunggah oleh salah seorang junior, Andi Zulkarnain Nurdin, pada status facebooknya. Tertulis, “Bersama Sulhan Yusuf, Amrin Massalinri, Iswari Alfarisi, Syamsuddin Alimsyah, Muzakkir Djabir, aksi di KM 4 Ujung Pandang.”

Memang benar adanya dengan foto tersebut. Namun, ada lagi dua orang luput disebut, Muhammad Ikbal Daud, kini mukim di Palopo dan Kamaruddin, sementara masih studi di Qom, Iran. Kini, Amrin Massalinri, mukim di Makassar, menjadi pengurus masjid di bilangan Tamalanrea Makassar.  Iswari Alfarisi, sudah hijrah ke kawasan ibu kota, menjadi Pengurus Barisan Muda PAN. Syamsuddin Alimsyah, lebih dikenal sebagai pendiri KOPEL, dan Muzakkir Djabir, pernah menjadi Ketua Umum PB-HMI MPO dan sekarang mukim di Jakarta.

Peristiwa yang melatari foto itu, terkait langsung dengan momentum jelang Reformasi 98. Saya ingat betul kejadiannya, sebab saya ikut orasi sebelum long march, dimulai dari Masjid Al-Markas, menyusuri Jalan Masjid Raya, belok ke Jalan Veteran, tembus ke Jalan Maccini Raya, berakhir di KM 4 (kini Jalan Tol Reformasi), lalu bubar di Masjid 45. Lumayan panjang rutenya.

 ***

Latar depan aksi jelang reformasi itu, merupakan salah satu pemanasan  sebealum aksi besar-besaran di seluruh Indonesia, menuntut Soeharto mundur selaku presiden. Kala itu, berbagai elemen gerakan mahasiswa dan kaum muda turun ke jalan, berdemosntrasi akbar nan agung. Termasuk elemen HMI MPO di seluruh Indonesia.

Khusus di lingkungan HMI MPO Cabang Ujung Pandang, yang tergabung dalam berbagai elemen gerakan mahasiswa di berbagai kampus, diinstruksikan agar bergabung di aksi long march, sebagai bentuk konsolidasi internal HMI MPO. Sebab, tidak sedikit elemen gerakan di kampus maupun antar kampus, dikawal oleh anak-anak HMI MPO. Rupanya, kader-kader di kampus mematuhi seruan ini. Maka tumpah ruahlah massa yang berkumpul di Masjid Al-Markas dan berakhir di Masjid Agung 45 Makassar.

Saking heroiknya, khususnya di HMI MPO Cabang Ujung Pandang, diinstruksikan pula pada seluruh keluarga HMI agar mengikutkan keluarganya. Makanya, beberapa anak kecil, balita, bahkan masih dalam kandungan ikut serta. Saya sendiri membawa seluruh penghuni mukim. Pasangan saya ikut serta, padahal lagi mengandung anak ketiga, sekira enam bulan usia kehamilannya. Anak kedua, usia sekira dua tahun ikut juga, lebih banyak saya gendong, kadang saya naikkan di bahu atau punggung. Begitupun beberapa kawan keluarga besar HMI MPO, banyak yang ikutkan keluarganya.

***

Jujur, foto itu memancing kenangan selama ber-HMI. Saya berusaha mengingat dan mengikat kenangan selama bersetubuh dengan HMI. Saya masuk Basic Training di Sekretariat HMI Bonto Lempangang, tahun 1986, lewat Komisariat FPIPS IKIP Ujung Pandang. Waktu itu, yang ketua cabang, Andi Pangerang Moentha. Saya masuk di IKIP tahun 1985.

Tahun 1987, saya sudah ikut menjadi pengurus di komisariat dengan jabatan ketua. Setelahnya, tahun 1989-1990, didapuk menjadi Ketua Umum Korkom IKIP Ujung Pandang. Berikutnya, periode 1990-1991 ikut menandatangani berdirinya secara kelembagaan HMI MPO Cabang Ujung Pandang, bersama enam orang kawan: Syamsude Laude, Djamaluddin Karim, Arifin Djiwang, Boner Wasran, Muhrim Mujahid, dan Mawardi Al-Haq. Namun dua orang terakhir, belakangan tidak aktif mengawal kelembagaan HMI MPO.

Ada yang lucu. Tempat deklarasi di ruangan presidium Pengurus HMI Cabang Ujung Pandang, di bawah kepengurusan Bachrianto Bachtiar. Kanapa bisa? Sebab waktu itu, pengurus lagi mengikuti Kongres. Nah, kami yang mendeklarasikan itu, sesungguhnya adalah para pengader cabang, dari berbagai komisariat atau kampus yang berbeda. Ruang tulisan ini, tak cukup memadai untuk menjelaskan pergolakan di HMI Cabang Ujung Pandang. Definitnya, dari deklarasi itu, terpilih Syamsude Laude, sebagai ketua umum. Saya kebagian ketua bidang aparat.

***

Sejak deklarasi itu, saya pun meninggalkan Bonto Lempangang, lebih serius mengurus HMI MPO. Berat rasanya meninggalkan sekretariat di Bonto Lempangang. Pasalnya, selain saya selaku Ketua Umum HMI Korkom  IKIP UP, juga sebagai instruktur dan penceramah aktif.  Lagi pula, seluruh persyaratan kekaderan itu, saya tempuh di Cabang Ujung Pandang. Mulai dari Basic Training, Intermediate Training, hingga Coaching Instructur. Dan, dikirim ke Yogyakarta untuk mengikuti Senior Course.

Mengurus HMI MPO bukan perkara mudah. Selain menjadi seteru HMI DIPO, juga tekanan rezim ORBA cukup refresif. Di beberapa cabang, tidak sedikit acaranya dibubarkan oleh aparat. Dan, untuk Cabang Ujung Pandang, lebih banyak trainingnya dilakukan semi gerilya dan sekretariatnya berpindah-pindah. Selain itu, tanggapan alumni juga beragam. Sebagaimana dipendapatkan oleh Hasanuddin M Saleh, lewat bukunya, HMI dan Rekayasa Azas Tunggal, menyebutkan tiga respon alumni. Setuju, tidak setuju, dan netral.

Selaku orang yang mengurus HMI MPO, terutama ketika saya diamanahkan menjadi Ketua Umum HMI MPO Cabang Ujung Pandang, periode 1992-1993, terasa sekali tekanan dari berbagai penjuru. Maklum, pilihan HMI MPO bersebarangan dengan Pemerintah Orba, karena soal utamanya pada Azas Tunggal Pancasila. Rupa-rupa stigma kami terima. Iming-iming dan amang-amang campur baur dilakukan berbagai pihak untuk melemahkan HMI MPO.

***

Selama menjadi ketua cabang, amat banyak acara yang saya ikuti. Ikut Advance Training di Yogyakarta. Mengikuti lokakarya penyempurnaan Khittah Perjuangan HMI dan diamanahkan pula menjadi salah seorang tim perumus. Dan, seabrek acara nasional dan internasional, saya terlibat sebagai peserta, maupun selaku panitia- penanggung jawab pelaksana.

Setelah menjadi ketua cabang, periode 1994-1996, saya ditarik  menjadi Pengurus Besar HMI MPO. Didapuk menjadi Ketua Bidang Intelektual dan Budaya. Sampai periode kepengurusan berakhir  tak tergantikan. Selain menjadi ketua bidang, juga dipercayakan untuk mengonsolidasi seluruh cabang di Indonesia Bagian Timur. Tentu, tak ketinggalan menjadi pengader nasional. Jadi, lumayan keliling di berbagai cabang untuk menggairahkan perkaderan. Seluruh jenis dan jenjang perkaderan saya ikut gawangi, kecuali penataran Kohati.

Arkian, selepas menjadi pengurus besar, didapuk lagi menjadi Anggota Majelis Syuro PB HMI MPO, perode 1996-1998. Nah, pada periode inilah, terjadi Reformasi 98. Jadi, keterlibatan saya menggalang demonstrasi seperti yang ditunjukkan oleh foto itu, sungguh masih merupakan kerja-kerja kelembagaan di HMI MPO. Apatah lagi, rumah saya menjadi salah satu markas anak-anak HMI MPO, terutama menjelang Reformasi 98.

***

Sebelum Reformasi 98, ada banyak identifikasi istilah untuk menyamarkan HMI MPO. Salah satunya  adalah HMI 47 atau HMI Ulul Albab. HMI 47 mengemuka, sebab ada upaya menegaskan diri bahwa HMI MPO itu sungguh menjadi pewaris HMI yang didirikan oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947. Sedangkan HMI Ulul Albab, dikarenakan dalam tujuan HMI MPO ada satu frasa, di dalammnya terdapat kata Ulul Albab.

Kiwari, saya sudah menjadi alumni. Di HMI MPO, hingga kini tidak ada wadah khusus untuk perkumpulan alumni secara struktural, lebih berwajah kultural, lewat mekanisme reuni, halal bilhalal, dan syawalan. Baik bersifat nasional, maupun regional dan lokal.  Selebihnya, tidak ada larangan untuk melibatkan diri di KAHMI. Makanya, tidak perlu heran jikalau ada alumni HMI MPO yang aktif juga di KAHMI. Pada KAHMI-lah bersua saudara kembarnya, HMI DIPO. Hebatnya, tiada riak di KAHMI yang bersoal MPO atau DIPO.

Menjadi KAHMI itu sesuatu bingits. Manakala masih ingin dilirik oleh adik-adiknya di HMI, baik MPO maupun DIPO, milkilah tiga keadaan. Pertama, berkemampuanlah untuk bayar royalti ke HMI, sebab adik-adik akan mengajukan sejumlah permintaan dana. Kedua, berpengetahuanlah secara formal maupun nonformal. Hanya dengan begitu, adik-adik akan datang meminta untuk mengisi forum-forum pengetahuan mereka. Ketiga, bila tidak memilki yang pertama dan kedua, cukup sering silaturahmi kepada mereka. Insyallah akan tetap dapat tempat di hati adik-adik. Sebab, kita semua berangkat dari HMI tahun 1947, dan sudah tiba di usia ke-74. Selamat, hening di pelukan dies natalis dan bening dalam dekapan milad.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

6 Komentar

  1. Sehat selalu kakak Sulhan Yusuf semoga ilmu dan segala pengetahuan yg sempat di perdengarkan ke kami dapat di kembangkan dan di amalkan….
    Hormatku kami dari HMI-MPO

    1. Alhamdulillah, terima kasih atas apresiasinya. Salamaki dan barakah selalu adanya.

  2. Sehat selalu kanda. Ilmu kesederhanaan nya tetap terciprat oleh saya.

  3. Salah satu orang yg saya kagumi dan segani di HMI. Sehatki kanda untuk tetap menebar kebaikan

  4. kembali mengenang masa2 perjunagan dengan kondisi apa adanya….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *