Titah dan Kisah Rahim Para Martir

Lidah orang di negara ini tak pernah bisa dibohongi. Apalagi perut-perut mereka, susah sekali mencapai titik kenyang dan puas. Makanya, pada buncit semua. Walakin, mulut-mulut kebanyakan pejabatnya, politisinya, orang-orang berduitnya, pun orang-orang kecilnya, gemar sekali berbohong. Tak ingin dibohongi, tapi gemar berbohong, sifat macam apa itu? Binatang pun memandang rendah perilaku demikian.

Lamun kebohongan, sudah seperti makanan sehari-hari di negeri ini. Media hanya menayangkan apa yang diinginkan dan menguntungkan, bukan apa yang seharusnya dan dibutuhkan. Di media sosial bertebaran hoaks yang tak sedikit jumlahnya, dibagikan dan disukai ribuan orang, tanpa mereka mesti tahu isinya. Asal judul dan gambar menarik dan bisa mengundang jempol yang banyak dari penghuni jagad maya. Hukum melindungi siapa yang meminta perlindungan, bukan siapa yang seharusnya dilindungi. Orang-orang berbicara, apa yang bagus didengarkan, bukan apa yang semestinya.

Di negeri ini, kebohongan semakin menjadi-jadi di musim pemilu, kebohongan ibarat garam bagi sayur. Tak sedap politik tanpa kebohongan. Sudah menjadi gaya hidup. Dan semua orang bangga pada kebohongannya masing-masing.

Hebatnya, kebohongan, dilindungi Undang-Undang. Maksudnya, selalu ada celah untuk mengatakan, bahwa kebohongan adalah kebenaran. Itulah mengapa, rakyatnya tidak lagi peduli. Menganggap semua sandiwara elit penguasa wajar-wajar saja. Dan, mereka diam-diam turut melegitimasi kebohongan sebagai kebajikan. Karenanya, mereka menjadi tuli dari kebenaran. Maka betapa bahagianya para penguasa di suatu negeri, yang rakyatnya tak lagi mau berpikir. Tak lagi peduli mana benar dan salah. Baik dan buruk. Asal ada uang, semuanya benar. Semuanya baik.

Mengapa begitu? Tak ada yang bisa mereka lakukan. Orang-orang kecil, di manapun, rasanya sama saja. Bagaimana mereka diperlakukan dan dipandang orang-orang berduit. Para penguasa. Dan, orang-orang yang merasa dirinya lebih suci dari siapapun.

Orang-orang kecil, petani, buruh kasar, mereka sama tak berdayanya dengan rumput. Walau diinjak, tak akan melawan. Kalau melawan semakin dinjak-injak, jika bangkit kembali, diinjak lagi. Kalau penguasa sudah tidak mau susah, langsung dicabut hingga keakar-akarnya. Begitulah kira-kira suratan hidup yang terpaksa dilakoni rakyat kecil. Seperti itu sejak dulu, sampai sekarang. Rasanya, penguasa, siapapun itu, sama saja.

Pernah suatu ketika, seorang perempuan paruh baya, histeris di pasar. Sambil memuntahkan serapah, ia berteriak di antara kerumunan. Ia seperti mengadu, meminta simpati. Merentangkan busur kebenaran untuk didengarkan orang-orang. Sambil terisak dengan mata yang nanar, ia berkata bahwa kepala pasar diam-diam mengambil pungutan liar dari pedagang.

Ia memaparkan panjang kali lebar, bagaimana uang-uang diambil dari mereka lewat sewa ruko yang mahal. Kemudian pembayaran uang keamanan pasar setiap pekan. Termasuk bagaimana proses lobi-lobinya, persen-persen pembagiannya, dari bawah hingga pucuk.

“Kita dikibuli! Diperas pelan-pelan. Kita bekerja keras, dari pagi hingga pasar menjadi sepi, beruntung jika ada pembeli. Untung kalau kita untung. Kalau rugi? Diperah pula macam susu sapi. Apa bedanya dengan perampokan? Kalau saja berbeda, yah.. ini perampokan yang jauh lebih terhormat dan terselubung. Kita harus menuntut. Melawan agar diberi keadilan!” Ujarnya lantang.

Sebenarnya, kata-katanya seperti anak panah Arjuna, menghujam tepat di jantung para pendengar. Semua tahu. Tapi menutup telinganya. Gayung tak bersambut. Suaranya yang lantang serak tak digubris siapa pun. Lenyap dalam riuh tawar menawar pembeli dan pedagang.

Beberapa mata sempat menatap, mendukung, penuh harap, atau sekadar bersimpati. Tapi akhirnya, tatapan itu pelan-pelan redup, lenyap di balik wajah-wajah berpaling. Si ibu yang sadar hanya bisa melotot tak percaya, air matanya tiba-tiba berhenti. Lalu pulang, mengemasi barang dagangannya. Ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di pasar itu.

“Andi Mannang, kau tahu apa yang terjadi pada ibu itu setelahnya?” Tanya sang Kakek.

Aku menatap wajah teduhnya, lalu menggeleng pelan. Posisiku masih tetap seperti semula. Duduk bersila di depannya, sembari memijiti betisnya.

Kakek hanya tersenyum melihatku. Sembari menerawang jauh ke masa lalu, ia melanjutkan ceritanya, “Perempuan itu bersama keluarganya, meninggalkan negeri ini. Tanah kelahirannya. Ia pergi bersama dua orang anaknya ke negeri tetangga. Sebagai TKA. Kalau kuhitung, ia merantau sudah 25 tahun lamanya. Hanya sekali ia mengirim kabar padaku. Lewat sebuah surat.”

“Ia bilang apa, Kek? Dan, kenapa kepada kakek?” tanyaku.

“Hahaha.. kau ini serius sekali, Mannang. Wajar saja kautak tahu. Kejadian itu lima tahun sebelum kaulahir. Tepat di bulan Januari 1989. Ibu itu namanya Hamina. Orang mengenalnya sebagai “Rahim Para Martir”. Dulu ia wargaku. Beberapa kali aku berurusan dengan aparat kerenanya. Ia meyakini, kebenaran tetaplah kebenaran meski berada di antara tumpukan sampah. Kebenaran harus dicari. Diperjuangkan katanya. Makanya, sering sekali ia terlibat pertikaian dengan aparat negara karena memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Bukan hanya dirinya sendiri, tapi kedua anaknya, sama saja. Suaminya juga seperti itu.

Mereka adalah keluarga yang masuk daftar hitam bagi penguasa. Tahun 1980, suaminya hilang tanpa jejak setelah memimpin ratusan buruh melakukan aksi protes di depan gedung DPR. Sepekan kemudian, barulah mayatnya ditemukan di pinggiran sungai Je’neberang. Hamina sabar. Tabah. Tapi tak pernah meninggalkan kebenaran.”

“Hamina, Rahim Sang Martir. Aku pernah mendengar kisah-kisahnya. Nayla, biasa menceritakan itu padaku. Kupikir hanya dongeng yang dikarang sendiri olehnya,” ucapku pada kakek.

Kakek tak menggubris. Ia larut penggalian kembali ingatan-ingatan itu. Ia meneruskan, “Enam tahun setelah peristiwa itu, putra sulungnya yang oleh para aktivis dipanggil Kamerad,  diburu-buru intel karena memimpin demonstran di depan Universitas Hijau. Menuntut pencopotan jabatan salah satu mentri yang diduga korupsi. Ia jadi pelarian.

Dan, seorang putrinya, si bungsu ternyata juga seorang martir kebenaran. Dengan nama pena Andi Basse, ia menulis banyak sekali opini. Menyuarakan kebenaran lewat tulisan-tulisannya yang elok dan tajam. Tak banyak orang yang tahu perihal ini. Aku memintanya tetap menyembunyikan identitasnya, agar tak bernasib sama dengan saudara dan ayahnya.”

Kakek berhenti sejenak. Mengampil napas. Mengulurkan betisnya yang kiri untuk dipijit. Ia melanjutkan ceritanya.

“Sehari setelah kejadian di pasar itu, Hamina datang bercerita padaku. Sekaligus menyampaikan niatnya merantau. Ia sudah muak dengan negeri ini. Negeri yang menindas orang-orang kecil. Negeri di mana, mungkin jika Tuhan turun menyampaikan kebenaran, tak ada yang akan mendegarkannya. Tak ada yang akan percaya bahwa itu Tuhan. Semua-muanya lebih takut pada penguasa. Pada pasukan-pasukannya. Pada para pejabatnya.

Awalnya ia ragu bercerita padaku. Bagaimanapun juga, aku salah satu konco-konco bapak yang di atas. Tapi ia beranikan dirinya, karena ia tahu aku pasti menolongnya. Berharap, itu suara terkahir yang bisa didengar orang lain. Aku menanggapinya. Mengurus segala yang dibutuhkannya untuk pergi. Aku berangkatkan ia secara diam-diam.” Kakek tiba-tiba berhenti bercerita. Ia lalu menggamit remot yang ada di sampingnya. Menambah volume TV, agak sedikit besar. Kebetulan, ada siaran ulang konser Rhoma Irama.

“Mengapa, Kek?” Tanyaku.

“Ada dua penyebabnya Mannang. Pertama, negera tetangga yang menjadi tujuan Hamina, telah lama memutus hubungan dengan negeri ini. Sedikit-sedikit bertengkar. Bahkan perang antar kedua negara hampir meletus. Padahal kedua negeri tersebut, berkerabat dekat. Bisa dibilang saudara.

Tapi di negeri itu, Ihsan sang Kamerad sudah menunggu. Anak lelaki Hamina. Jadi bisa kupastikan, itu tempat yang pas buat Hamina menyambung hidup. Kedua, sejak Hamina mengajukan protes di pasar, ia selalu diteror. Kemana pun ia pergi, selalu dibuntuti.”

“Parah sekali, Kek. Kenapa bisa seperti itu? Saya pernah mendengar guru-guru sejarah bercerita perihal masa itu. Tapi hanya sekilas,” kataku.

“Begitulah negeri ini di masa itu. Semua-muanya harus sesuai kehendak Bos Besar. Segala yang tidak sesuai pikirannya, tidak sesuai dasar negara, dicap melawan. Dan..”

“Hush.. sudah. Ada banyak telinga dan mata. Bahkan tembok kerap punya mata dan telinga,” sergah Nenek, sambil membawa dua gelas minuman hangat dan sepiring kue barongko dan ubi rebus di depan kami. Sekarang ini, ubi rebus memang telah menjadi makanan pokok. Sejak beras susah didapatkan. Harganya mahal karena di impor dari luar. Itupun dalam jumlah yang terbatas. Itulah sebabnya hanya bisa dijangkau oleh orang-orang tertentu.

Nenek meletakkan cangkir kaca di depanku, berisi kopi hangat kesukaanku. Sedang pada gelas gerabah milik Kakek, berisi teh nir gula. Kakek pernah bicara tentang gelas gerabahnya. Penuh sejarah katanya. Itu hadiah dari Nenek. Dan, mungkin di zaman ini, tak bisa lagi kita menemukan gelas seperti itu.

“Nenekmu Mannang, memang paling mengerti apa yang kita butuhkan,” ucap Kakek. “Hahaha.. itulah yang buat aku selalu jatuh cinta padanya. Jangan khawatir, Bu. Bukankah era itu sudah terlewati. Hanya masa lalu!” Seloroh Kakek sembari menyeruput minumannya.

“Adduh.. sudah hampir setengah abad saya mendengar gombalan kakekmu itu Mannang. Jangan sampai kau tanyakan masa lalu kakekmu, dengan puluhan mantan-mantan terindahnya,” jawab Nenek sambil tersenyum, lalu kembali lagi ke dapur.

Aku hanya tertawa melihat dua sejoli itu saling meledek, romantis. Sekilas bayangan tentangmu muncul Nay, tapi segera kutepis. Kubuang jauh. Aku lalu meminta kakek melanjutkan ceritanya. Ia memulainya setelah dua bungkus barongko tandas.

 “Aku lalu mengurus kepergiannya. Karenanya, dalam surat Hamina, ia berterima kasih kepadaku. Ia juga menyampaikan, bahwa dalam perantauan, ia memiliki toko beras yang lumayan besar. Kau harus menemuinya, Mannang.” Kakek melanjutkan ceritanya.

Kakek bercerita banyak sore itu.  Ia bicara perihal masa 32 tahun kepemimpinan Bos Besar yang baru timbang tahun 1998. Tapi, kakek menyebutkan, meski otoriter, para petani banyak yang mengenang jasa beliau. Sebab, di masa itu harga-harga hasil tani lumayan baik. Beda dengan hari ini. Pun pupuk tak semahal sekarang.

Berdasar cerita kakek, dan berbekal sepucuk surat dan alamat, aku akan mulai perjalananku. Aku dititahkan menemui ibu Hamina dan Daeng Ihsan di negeri Jiran. Dan, barangkali, dalam perjalanan itu, aku bisa mendapatkan kabar tentangmu Nay. “Aku rindu padamu Nayla. Sungguh!” Batinku.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *