Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Filsafat di Masa Kini, Untuk Apa?

Filsafat ada sejak manusia membuat roti menggunakan tangannya sendiri, dan itu terjadi sudah berabad-abad lamanya. Di tahun yang panjang itu, filsafat sering dipelajari, dibicarakan, dan diajarkan, meski dari sekian lama tidak membuat semua orang menjadi bijaksana. Kini, tiba saatnya mengajukan ulang pertanyaan yang kerap luput dipikirkan: di masa kini, untuk apa filsafat?

Ada masa filsafat menjadi pekerjaan ekslusif beberapa pihak, membuatnya menjadi seperti Epicurus yang hidup di tempat-tempat terasing. Di saat-saat tertentu, ketika masyarakat terdesak suatu soal, dengan tanggug jawab moral tertentu, rombongan para filsuf turun gunung menyebar ke rumah-rumah memberikan solusi praktis bagaimana membuat hidup menjadi lebih berarti.

Ada kalanya juga filsafat nyaris menjadi seperti barang rombengan, ikut berbaur dengan hal-hal remeh temeh dan membuatnya tampak kehilangan martabat. Para filsuf sama genitnya dengan para artis merebut panggung hiburan. Filsafat karena itu, bergeser dari seni berpikir menjadi sekadar seni hiburan.

Imbasnya, di layar kaca, ajaran filosofis hanya menjadi lipsing belaka, sama dangkalnya dengan iklan televisi yang memanjakan hasrat masyarakat tanpa menawarkan sudut pandang segar dan kritis.

Lalu, timbul pertanyaan kedua, di situasi macam apakah filsafat mesti menampakkan dirinya? Apakah ia mesti tampil menjadi si maha tahu yang mampu menjawab segala hal dari A sampai Z, yang artinya ia mesti tampil seolah-olah seperti artis yang kerap muncul di layar kaca menampik gosip netizen?

Atau ada keadaan spesifik dan khusus, yang membuatnya mesti berpikir dua kali jika ingin memberikan sudut pandangnya, yang berarti ia mampu mengubah situasinya menjadi situasi filosofis?

Saya lebih tertarik menelusuri pertanyaan kedua, dan menemukan jawabannya melalui uraian Alain Badiou dalam buku Filsafat di Masa Kini terbitan Basabasi yang mengkliping dua makalah Alain Badiou dan Zlavoj Žižek, dua filsuf abad 21, tentang kontestasi filsafat era kontemporer.

Filsafat bukan ibarat kunci inggris, yang membuat sebagian orang melihat segala masalah mesti dari kacamata filsafat. Bahkan, tidak sedikit karena itu membuat glorifikasi seolah-olah segala hal mesti ada hubungannya dengan filsafat. Tidak kata Alain Badiou. Tidak semua keadaan dalam hidup ini mesti menyeret filsafat sebagai bagian pentingnya, walaupun mungkin filsafat punya kemampuan itu.

Untuk itulah bagi sebagian orang yang membuat filsafat mirip ajang kontes kecantikan, mesti memahami apa yang Badiou sebutkan dalam buku ini sebagai situasi filosofis, yakni keadaan di mana filsafat menjadi bingkai momentum yang mengambil peran dan membuat keadaan berubah radikal dan tak terhindarkan.

Tiga situasi filosofis

Situasi pertama adalah keadaan seperti ditemukan dalam kehidupan Socrates. Yakni situasi yang memicu konfrontasi sudut pandang antara Socrates dan Callicles mengenai keadilan. Konfrontasi ini merupakan reportasi Platon  dalam Gorgias, yang mengetengahkan keadilan tidak semata-mata ditentukan melalui kekuatan dan dari kekuasaan.

Callicles adalah seorang murid muda Gorgias, pemuka pandangan sophisme saat itu, dan dalam dialog itu ia kalah argumen dengan Socrates yang menyampaikan pendapatnya lebih masuk akal. Tidak ada moralitas jika keadilan ditentukan dari kekuatan, seperti yang menjadi inti argumen Callicles, sebagaimana tidak ada kebenaran yang dapat dibela jika itu hanya berdasarkan siapa yang kuat.

Filsafat adalah komitmen terhadap pilihan, terutama seperti situasi yang dihadapi Socrates. Saat itu Socrates menentukan pilihannya di antara dua bentuk pemikiran yang kontras. Socrates dengan keberanian tertentu memilih situasinya untuk tidak berpihak dengan jalan berpikir yang bertentangan dengan prinsip akal budi.

Itulah situasi filosofis pertama, yang menurut Badiou menjadi tugas filsafat. Filsafat mesti mengambil satu keputusan radikal, yang mau tidak mau berkronfrontasi dengan pemikiran yang bertentangan dengannya.

Dalam situasi itu, filsafat mesti bertugas menjelaskan pilihannya, yang mencakup pilihan eksistensi dan pilihan pikiran.

Situasi filosofis kedua dinyatakan Badiou melalui konteks kematian Archimedes, yang tenggelam dalam demonstrasi matematisnya melalui garis-garis geometri di atas pasir pantai ketimbang menjawab panggilan Marcellus, panglima Romawi saat itu.

Dalam kisah itu, si prajurit utusan panglima Romawi kehilangan kesabaran setelah tidak diindahkan Archimedes yang berasyik masyuk dengan hitungan angka-angkanya. Karena jengkel tidak diperhatikan, dengan pedang ditusuknyalah Archimedes membuatnya meninggal.

Dalam situasi seperti Archimedes lah, Badiou menegaskan situasi filosofis yang kedua. Yakni jarak antara dua kutub yang berbeda, dunia demonstratif konseptual dengan negara yang diwakili Marcellus. Pikiran dan kekuasaan adalah dua koordinat yang ambivalen dan sulit ditemukan jalan tengahnya.

Inilah tugas filsafat yang kedua, yaitu memutuskan problem jarak antara kebenaran dan kekuasan. Filsafat harus merenungkan dan memikirkan kesenjangan antara keduanya, sebagaimana agar orang-orang seperti prajurit utusan tidak kehilangan kesabaran menyikapi dua dunia yang berbeda jauh.

Situasi ketiga berkaitan dengan cinta, yang ilustrasinya diambil Badiou melalui film klasik Jepang berjudul The Crucified Lovers. Kisah film ini menceritakan sepasang kekasih terlarang yang dihukum karena melanggar hukum adat perkawinan. Meski terlarang cinta mereka tidak pupus mesti dijatuhi hukuman mati. Masing-masing kekasih teguh saling menyayangi hingga tutup usia.

Gambaran ironi ini, ketika menjelang mati sepasang kekasih ini masih tersenyum meski sedang menghadapi kematian disebut Badiou sebagai situasi tak terukur. Sebuah hubungan tanpa hubungan. Suatu peristiwa, yakni keadaan yang tidak memiliki ukuran normal dan tidak memiliki kriteria standar yang tetap.

Maka, itulah keadaan filsafat yang ketiga, yakni tentang perkecualian. Suatu peristiwa.”Kita harus mengetahui apa yang harus kita katakan tentang apa yang tidak biasa. Kita harus memimikirkan transformasi kehidupan” (h.22).

Kedalam tiga situasi itulah yakni situasi politis; problem pilihan (Socrates dan Callicles), situasi filosofis; problem jarak (Archimedes dan Marcellus), dan Peristiwa; problem perkecualian (sepasang kekasih terlarang), filsafat harus mendudukkan tugas-tugasnya.

Itu artinya, filsafat senantiasa terpaut dengan hal ikhwal di antara yang politis, kekosongan kebenaran, dan peristiwa, yang menjadi medan konfrontasinya.

Filsafat bukan berdialog

Selama ini filsafat dipahami sebagai kegiatan yang melibatkan dialog sebagai perkakas utamanya. Tapi, jawabannya tidak selamanya begitu. Setidaknya demikian yang diungkapkan Žižek melalui buku ini. Tidak ada dialog di dalam tulisan-tulisan Platon. Memang ada proses pembicaraan antara Socrates dengan lawan bicaranya, tapi itu bukan dialog yang sesungguhnya. Itu nyaris menjadi desakan pernyataan aksiomatik.

”Dalam dialog-dialog tersebut satu orang berbicara nyaris tanpa interupsi; keberatan-keberatan orang lain—dalam sofis—misalnya, hampir tidak sampai setengah  halaman. Mereka mengatakan misalnya, ’Engkau sepenuhnya benar’, ’Sangat jelas, ’Demikianlah’. Dan mengapa tidak? Filsafat bukan dialog” (h.62).

Bahkan, karena demikian, sejarah filsafat tidak sepenuhnya berdiri di atas kesepahaman antara pemikir. ”Aristoteles tidak memahami Plato dengan benar, Hegel—yang mungkin terpuaskan dengan fakta—tentu saja tidak memahami Kant. Dan Heidegger pada dasarnya tidak memahami siapa pun” (h.62).

Kurang lebih menawarkan pemikiran yang serupa Badiou, Žižek menyatakan filsafat mesti menciptakan situasinya sendiri keluar dari alternatif-alternatif yang sudah ada sebelumnya.

Filsafat bisa bermula bukan dari persamaan dan lebih menkankan aksi konfrontasi yang bertumpu pada perbedaan..

Itu artinya, dalam dua pilihan antara demokrasi liberal dan terorisme, misalnya, bukanlah pilihan untuk memilih satu di antaranya. Tugas para filsuf mesti meradikalkan konsep perbebatan semacam itu, bahwa kedua-duanya bukan alternatif atas situasi yang dihadapi.

Kedua-duanya sama-sama mengancam kemanusiaan meski dalam wujud yang berbeda.

Dalam hal ini Žižek menyatakan pendapatnya, para filsuf tidak dapat berposisi sebagai narasumber yang mengikuti perintah pertanyaan-pertanyaan publik, melainkan mesti melampui itu dengan cara mengajukan pilihan radikal seperti yang dinyatakan Badiou sebagai pilihan perkecualian di atas.

”Jika seseorang menanyakan sesuatu kepada kami para filsuf, pada umumnya ada sesuatu yang lebih besar terlibat dari sekadar memberikan opini publik dengan semacam orientasi dalam sebuah situasi problematis” (h.63).

Žižek menyoroti apa yang ia sebut sebagai filsuf negara, yang dalam hal ini Jurgen Habermas sebagai sasaran kritiknya. Filsuf negara adalah filsuf yang tidak berkomitmen kepada pendirian filosofisnya hanya karena bersuara atas dasar kepentingan negara.

Lalu apa yang dilakukan atau lebih tepatnya fungsi filsafat negara? Žižek menyatakan dalam konteks masyarakat kapitalis kontemporer, filsafat negara bertujuan mendesak percepatan pembangunan, didorongnya sains baru, teknologi dan bisnis baru, tapi di saat bersamaan berpotensi meredam segala bentuk tindakan radikal filsafat dari semua gejala itu.

Filsafat negara, mengingatkan fungsi-fungsi yang dijalankan aparatus negara dalam pemikiran Louis Althusser. Negara saat menjalankan agenda-agendanya yang mendesak batas-batas toleransi di dalam masyarakat sipil menggunakan mekanisme pengontrolan melalui berbagai aparatus negara, di antaranya mengontrol opini dan lalu lintas informasi masyarakat.

Kepada situasi semacam inilah filsafat harus mengarahkan  moncong senjatanya. Bagi, Žižek memang filsafat sudah dari awal bersifat eksesif yang mendesak keadaan untuk mengubah situasi yang terlihat normal.

Lalu, untu apa filsafat?

Kapan seorang filsuf berfilsafat? Saat malam hari sebelum tidur? Pagi hari di saat menikmati secangkir kopi? Atau ketika sedang menyiapkan makalah untuk seminar di universitas demi memecahkan soal mendasar kehidupan?

Nyatanya, jika tidak dalam semua keadaan itu filsafat diinginkan, dan jika sewaktu-waktu dibutuhkan, ilmu-ilmu lain sudah lebih dulu tiba di tempat kejadian perkara.

Filsafat memang induk segala ilmu, tapi itu tidak meniscayakan ia bisa melakukan apa saja. Di masa kini, seluruh masalah manusia tidak semuanya menuntut kebijaksanaan yang ditemukan melalui refleksi yang panjang, melainkan membutuhkan penyelesaian cepat dan akurat agar bisa terselesaikan.

Kesadaran sekarang bukan menjadi perhatian utama filsafat setelah neurosains telah mengambilalih dan mengubahnya menjadi penyelidikan atas urat-urat syaraf yang lebih empiris dan ilmiah.

Jiwa, bukan lagi soal kemisteriusan penciptaan Tuhan oleh karena psikologi lebih menjanjikan memberikan penanggulan jika ada perilaku manusia yang menyimpang. Pengetahuan bukan lagi semata-mata aktivitas kesadaran melainkan hanyalah susunan sintakstis bahasa.

Hukum moral, spritualitas, kekuasaan, dan lain sebagainya telah aman dipermasalahkan melalui masing-masing disiplin ilmu.

Lalu pada bagian apa filsafat meletakkan perannya, jika kontestasi kehidupan global saat ini menganggapnya sebagai kebijaksanaan tua yang tidak kompatibel dengan semangat zaman. Sains dengan progresifitas temuan-temuannya telah menjungkal pengaruh filsafat dan menyisihkannya hanya sebatas kelompok-kelompok kecil di sudut-sudut universitas.

Dan, kelompok-kelompok kecil ini sadar tidak sadar terdesak ke perbukitan, bergerak ke atas gunung-gunung, dan dari dipaksa untuk melihat panorama  yang ada di bawahnya. Jika ada masalah filsafat tidak akan turun, dan mulut gua menjadi tempat duduk mereka yang paling nyaman.

Identitas buku:

Judul: Filsafat di Masa Kini

Penulis : Alain Badiou dan Slavoj Žižek

Penerjemah : Noor Cholis

Penerbit: Basabasi

Tahun terbit: Desember 2018

Jumlah halaman: 136 hlm

No. ISBN: 978-602-5783-55-5

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).