Refleksi atas Eksistensi dan Peran Perempuan

Simone de Beauvoir pernah membilangkan, perempuan selama ini hanya diposisikan sebagai the other (yang lain). Mereka sulit untuk menjadi dirinya sendiri. Persoalan the other ini dimulai ketika perempuan mempercayai dirinya sebagai makhluk yang lemah, memiliki kapasitas rendah, makhluk yang terkonstruksi hanya untuk “diketahui”, bukan sebagai makhluk yang “mengetahui”, tidak bisa mandiri dan selalu bergantung pada laki-laki. Identitas perempuan terbentuk oleh perspektif orang lain, takluk pada nalar patriarki. Tragisnya, ketika eksistensi dan peran perempuan direduksi menjadi sebatas entitas materi atau fisik belaka.

Catatan panjang sejarah peran perempuan banyak dikisahkan. Mulai puncak peradaban Yunani, perempuan hanya dijadikan alat pemenuhan naluri seks laki-laki. Patung-patung telanjang yang terlihat dewasa ini di Eropa adalah bukti dan sisa pandangan tersebut. Sedangkan pada peradaban Romawi, perempuan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Seorang ayah memilki kuasa menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh. Hal ini berlangsung hingga abad V Masehi.

Sedikit bergeser pada peradaban Hindu dan Cina, tercatat dunia kelam perempuan, di mana hak hidup bagi seorang perempuan yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya, istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Tradisi ini baru pula berakhir pada abad XVII Masehi. Bahkan di Jazirah Arab sebelum datangnya Islam, kelahiran anak perempuan tidaklah diharapkan. Kelahirannya adalah aib bagi keluarga, sehingga untuk melenyapkannya, perempuan bebas dikubur hidup-hidup.

Saat ini, problem tentang eksploitasi perempuan masih terus berlanjut. Meski dengan wajah yang berbeda. Fakta dalam keseharian kita telah banyak membuktikan. Perlakuan proses industri yang berkembang pesat dalam memosisikan perempuan, interaksi yang begitu cair di era digitalisasi, minimnya pengetahuan  perempuan atas dirinya dan fenomena sosialnya  serta skill  yang kurang mumpuni, menjadi dasar perempuan masih merupakan sasaran empuk dalam proses eksploitasi. Kepada siapapun ia membangun relasi dan dimanapun ia mempertaruhkan posisinya.

Pada pemilahan ruang publik dan domestik, perempuan dominan dianggap sang empu ranah domestik, digiring ke ranah publik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pabrik dan industri yang tumbuh subur, diiringi dengan semangat kesetaraan. Belum lagi tuntutan biaya hidup yang semakin mencekik dan keinginan yang telah dikaburkan porsinya menjadi “seakan-akan” suatu kebutuhan. Alih-alih dengan alasan untuk mengeksplorasi potensi, malah justru terekspolitasi dalam kuasa sistem kapitalisme.

Menurut Yasraf, Hal ini adalah bagian dari strategi politik ekonomi yang dikembangkan oleh sistem kapitalisme. Partisipasi perempuan dalam dunia industri tidak hanya memberi keuntungan dari aspek tenaga, tetapi memanfaatkan tubuh perempuan sebagai komoditi. Misalnya perempuan pada dasarnya makhluk yang cantik dengan ragam variasi keotentikannya, didikte dengan satu konsep cantik; berkulit putih dan halus, memiliki tubuh langsing, berambut hitam dan lurus.

Di sisi lain, produk-produk kecantikan terus digalakkan agar memenuhi nalar standar defenisi cantik tersebut. Disambut dengan penciptaan mesin hasrat melalui lakon konsumsi. Belum lagi ketika tubuh yang cantik itu harus menjadi kendaraan dalam proses konsumsi, dijadikan alat tontonan dan memunculkan keterpesonaan.

Kesadaran atas jati diri dan eksistensi perempuan menjadi salah satu poin penting untuk keluar dari lingkaran problem tersebut. Menciptakan identitasnya dan membangun eksistensi dirinya dibawah pondasi pengetahuan. Sebagaimana Helena Cixous mengatakan, perempuan harus menuliskan kisahnya, berdasarkan perspektifnya sebagai perempuan dengan mendobrak cara berfikir maskulin. Perlakuan dan defenisi yang tidak memanusiakan perempuan, sudah seharusnya ditinggalkan.

Posisi kesederajatan antara laki-laki dan perempuan layak dan sudah seharusnya didapatkan. Perempuan sebagai makhluk yang bermartabat, memiliki peran strategis dan penting, baik dalam keluarga dan masyarakat, serta potensi kemanusiaan yang bernilai. Sehingga eksistensinya tidak hanya dipandang sebagai seonggokan daging pembawa hasrat dan perannya tidak direduksi hanya sebatas pada “dinding-dinding” domestik saja.

Sejarah mencatat banyak perempuan yang telah menjalankan peran strategis secara bermartabat. Pada konteks lokal, tentang kepemimpinan dan perjuangan perempuan dalam dunia politik dibuktikan oleh peran To  Manurung Bainea, Raja perempuan pertama yang melakukan kontrak politik di Gowa dengan Sembilan laki-laki di kerajaan Gowa pada tahun 1320-1345.

Selain itu, ada juga tokoh perempuan yang dikenal dengan nama I Fatimah Daeng Takontu, yang merupakan putri dari Sultan Hasanuddin. I Fatimah Daeng Takontu sebagai representasi perempuan pejuang di bidang sosial dan politik. Ia memimpin pasukan Bainea dalam suatu peristiwa peperangan melawan penjajahan, dan mendapat gelar sebagai “Garuda dari Timur” oleh Belanda.

Sejarah islam juga mencatat perempuan-perempuan teladan yang jarang terdengar, diantaranya adalah sayyidah Nafisah dan Syuhda. Sayyidah Nafisah adalah cucu Rasulullah SAW dari keturunan al-Hasan as. Ia dikenal sebagai ulama yang mengajarkan pengetahuannya dalam khutbah-khutbah, dan kelas-kelas umum.

Bahkan Syafi’i yang kelak menjadi salah satu mazhab hukum ahlusunnah, pernah menghadiri ceramah-ceramahnya secara regular, membahas beragam persoalan teologi dan hukum bersamanya, serta mengambil bagian dalam kehidupan spritualnya. Syuhda, selain dikenal sebagai penulis, dia mengajar sejumlah besar pelajar pria dan perempuan di Universitas Bagdad dalam beragam cabang teologi dan merupakan ulama penting di masanya. Dan banyak tokoh lainnya yang dapat dijadikan role model dalam kehidupan perempuan.

Pada konteks kehidupan hari ini, perempuan harus terus menyuarakan kebenaran dan berani bicara terkait apa yang dihadapinya keseimbangan hidup dapat tercipta. Najwa Shihab dalam narasinya mengatakan “Kebenaran yang kita ketahui tidak hanya penting untuk disuarakan ke publik tetapi berharap bisa bermuara menjadi tindakan kolektif bagi perempuan yang memiliki kepedulian yang sama”.

Demikian pula dalam kalimat bijak Oprah Winfrey “you get in live but you have to ask for,” Yang kamu dapat dalam hidup, adalah sesuatu yang berani kamu minta. Keberanian mengungkapkan apa yang kamu mau dan anggap penting, itu yang akan kamu dapatkan dalam hidup.

Happy International Women’s Day…

Sumber gambar: https://news.yale.edu/

Jusnawati

Penulis adalah pengelola forum “ngegosip buku”, Menyukai petualangan di arena-arena yang menantang, Berharap menjadi sosok As syifa di manapun dan dalam kondisi apapun.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *