Jika Ingin Bercinta, Pergilah ke Perguruan Tinggi

Siang itu, udara terasa begitu menyengat. Panasnya minta ampun. Yang adem-adem, ya di gedung-gedung ber-AC tempat tuan dan puan bekerja untuk rakyat. Di mana tuan dan puan asyik menikmati secangkir kopi, sembari menyetel lagu Rhoma Irama. “Dosa yang menghantui selalu terbawa mimpi. Hidup jadi gelisah, tiada ketentraman jiwa. Istigfar dan doa, selalu kupanjatkan hanyalah kepadamu Tuhan. Semoga Kau kabulkan, agar tiada lagi beban.” Mantap kali!

Intinya, tak ada lagi ribut-ribut hari itu. Tenang! Mainnya tenang sekali. Seolah tak terjadi apa-apa. Negara kita baik-baik saja. Sehat walafiat – lalu dibubuhi puji-pujian kepada Tuhan dan keserakahan yang mengetuk-ngetuk. Tuan dan puan, usahlah risau. Sebab suara-suara orang kelaparan itu, selalu tenggelam di balik kisruh drama di panggung politik negeri ini.

Angka kemiskinan juga tak jadi soal, karena tertimbun angka-angka Covid-19 dan kasak-kasuk pejabat korup yang kian moncer. Ya, setidaknya tuan dan puan bisa kaya – orang korup rata-rata kaya – dan bisa menyenangkan anak bini sendiri yang kebelet beli skin care. Di satu sisi, tuan dan puan bisa membantu negeri ini, supaya tak menduduki rangking pertama sebagai negara dengan penduduk termiskin di jagat raya.

Lalu, masalah-masalah pendidikan, bukan lagi masalah. Semua teratasi, dengan prinsip menyelesaikan masalah tanpa masalah. Toh, tak ada lagi ujian akhir yang membikin pusing para murid. Belajarnya merdeka. Benar-benar merdeka dalam arti yang sebenarnya. Jadi jangan khawatirkan data-data PISA dan lain-lain, semuanya bisa diakali. Disiasati. Bukankah itu keahlian kebanyakan orang di negeri ini, membuat semuanya terlihat baik-baik saja?

Siang itu, hari yang sama, ketika menangkap basah Panrita terpingkal-pingkal dan gelisah sekaligus, usai menggeledah WhatsApp saya. Rupanya ia membaca pesan sebuah grup, yang penghuninya meledak-ledak, jengkel pada sistem kampus di kota A. Mereka berguyon, ingin bergabung dalam barisan militan Uchiha Madara, yang dihuni penjahat kelas kakap. Ada Kabuto, Obito, Setia Kovanto, Anton Tertular, Gayus Timbunan, Nazar bin Udin, Miranda Golem, dan mafia lainnya. Misinya, melancarkan genjutsu mugen tsukoyomi, menenggelamkan seluruh rakyat di negeri ini, ke dalam mimpi-mimpi ideal tentang dunia.

Pilihan lain mahasiswa itu, dengan jurus edo tensei Orochimaru, menghidupkan jiwa-jiwa Che Guevaranya. Lalu turun ke jalan menggunakan almamater kebanggaan yang terang seperti senja. Mengepulkan asap dari ban terbakar di kolong langit kota. Kalau perlu, turut menghidupkan kembali Tan Malaka dan para pemikir ulung di kancah pendidikan. Mendudukkan mereka sebagai rektor di universitas-universitas, atau menempati posisi-posisi strategis sebagai pemangku kebijakan pendidikan.

Percayalah, mereka (pakar dan penggerak pendidikan) mampu merevolusi dunia pendidikan kita, yang di beberapa titik, masih banyak bolongnya. Kalaupun ada yang ditambal penguasa, sekenanya saja. Sesuai kepentingan masing-masing golongan.

Kita cukupkan, memberikan jabatan penting di sektor pendidikan kepada para pengusaha, politisi, komandan-komandan. Atawa pada mereka yang dulunya tak pernah berkecimpung dalam dunia pendidikan. Terlalu sering kita memberikan kemudi pesawat terbang kepada “sopir truk”.

Apa yang dialami perguruan tinggi dewasa ini, sedikit banyaknya tak bisa diabaikan. Contohnya, dulu gelar magister dapat diraih dengan melewati proses kuliah sebanyak tiga semester, dan selebihnya proses penelitian tesis. Sekarang ini, Anda bisa meraihnya hanya dengan dua semester kuliah tatap muka.

Sejatinya itu kabar baik, mengingat biaya kuliah pascasarjana dan doktoral lumayan mahal. Tetapi bagaimana muatan pengetahuannya? Berkurangnya jumlah semester, ternyata menghendaki adanya proses pemangkasan mata kuliah. Kalau bukan pemangkasan, berarti menggabungkan beberapa mata kuliah yang dianggap bisa disatukan. Tapi benarkah, dua atau lebih mata kuliah, bisa dijejalkan secara bersamaan ke dalam kepala mahasiswa dalam kurun waktu beberapa pertemuan saja?

Andai kata, mata kuliah subtansial dalam satu jurusan dipertahankan, mungkin itu jauh lebih baik. Jadi, setiap prodi hanya perlu fokus pada mata kuliah yang memang sesuai dengan jurusan tersebut. Tetapi jika yang digabungkan dan dipangkas, justru mata kuliah yang bersifat subtansif, bagaimana jadinya?

Ditambah lagi, memasukkan mata kuliah umum yang tak jelas apa pentingnya. Lalu dikalikan dengan pengampu mata kuliah umum tersebut adalah orang yang sama, yang sibuk, yang berkuasa, hampir untuk semua prodi. Tak cukup, problemnya dikuadratkan lagi dengan belajar daring yang aduhai, “menyenangkan dan menenangkan”. Hasilnya, silakan tuan dan puan kalkulator sendiri.

Kenyataan-kenyataan demikian memang pahit. Mungkin jadi toksik. Racun yang membunuh pelan-pelan kompetensi lulusan kampus-kampus kita. Apalagi kampus diam-diam menjadi amat elitis dan otoriter, dalam artian mencekik secara halus. Realitas ini bak membenarkan ciutan Emha alias Cak Nun dalam Kiyai Hologram. Katanya, “Bagi sekolah dan universitas kita, bukan pengetahuan yang penting. Tetapi gelar keserjanaan.” Asal sarjana, ya sudah. Peduli lacur, apakah asupan pengetahuan yang Anda butuhkan tercukupi atau tidak.

Apa yang dijumpai Panrita, sekadar serpihan kecil pergeseran nilai-nilai “perguruan tinggi”. Hematnya, PT (Perguruan Tinggi) mulai menjelma PT dalam arti “Perseroan Terbatas”. Atawa paling tidak, pola manajemen kampus yang mulai merangsek ke arah manajemen perusahaan. Sehingga visi misinya juga berkamuflase. Pelan-pelan, beberapa perguruan tinggi mulai berkiblat komersialisme dan elitisisme. Muaranya jelas. Proses kapitalisasi pendidikan dan desakralisasi pengetahuan di kampus-kampus.

Olehnya, pendakuan Frank Zappa, musikus rock Amerika tahun 1940, terasa sebagai kecupan manis di jadat pimpinan kampus dan pemangku kebijakan pendidikan. Zappa bertutur, “Jika Anda ingin bercinta, pergilah ke perguruan tinggi. Jika Anda ingin pendidikan, pergilah ke perpustakaan.”

Sebab dalam dunia pendidikan kita, termasuk di beberapa perguruan tinggi, telah bercinta dan beranak pinak, pun berserikat para pengusaha, penguasa, politikus, dan orang-orang serakah. Jauh lebih banyak dari mereka yang memandang pendidikan sebagai kerja-kerja kenabian. Kerja kemuliaan yang mengajarkan bagaimana memanusiakan manusia. Kita tak selamanya bisa berbasa-basi, kita semua tahu, tuan-tuan – dalam rapat senat – bahkan jauh lebih tahu, tentang betapa mulianya tujuan pendidikan itu.

Namun, jika ingin bercinta, pergilah keperguruan tinggi. Tempat bercintanya birokrasi kampus dan pengusaha atau politisi, yang menggiring kampus-kampus kita sebagai lahan subur penanaman modal para pengusaha dan “lumbung bagi tikus-tikus kantor”.

Arkian, politik dunia kampus, nyatanya cukup garang juga. Kursi rektor dan pimpinan kampus lainnya, diperebutkan macam kursi anggota dewan. Hasilnya, visi dan misi, dinomor duakan. Nomor satu adalah uang dan kekuasaan. Tentunya, jual beli jabatan amat lumrah. Tak jarang juga kita jumpai, taktik tumpas kelor bagi mereka yang berbeda pandangan politiknya. Sehingga kebijakan-kebijakan kampus pun, dapat disetir sesuai kepentingan penguasa.

Panrita, sebenarnya sudah malas bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan sistem pendidikan kita? Di sekolah-sekolah? Di perguruan tinggi? Kemalasan itu bukan tak berdasar. Ia terlahir sebagai anak jadah, akibat hubungan cinta terlarang politik, kekuasaan, dan keserakahan yang merudapaksa pendidikan yang mulia. Petaka-petaka di atas, cukup menjelaskan kedongkolan Panrita pada sistem di beberapa perguruan tinggi.

Tak cukup sampai di situ, kian meluber kemuakannya kala melihat akun Instagram Sabda Perubahan. Mengutip Kumparan, akun Instagram itu menguak fakta mencengangkan terkait beberapa lulusan pendidikan formal, taraf doktor pula. Katanya, enam dari tiga belas menteri yang tersandung kasus korupsi, adalah lulusan S3. Ironis. Keblinger. Kuliah tinggi-tinggi hanya untuk mengacangi rakyat. Mengantongi hak rakyat.

Jangan-jangan, ultimatum Pramoedya ada benarnya. “ Bahwa jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah (baca; perguruan tinggi). Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya.”

Ah.. sudahlah! Apa jadinya bangsa ini, jika mereka yang menyandang gelar doktor-doktor, profesor, di negara dan di kampus-kampus kita, alpa pada tugas sejatinya sebagai seorang intelektual. Selaku pendidik. Dan, lebih mementingkan materi, jabatan, dan kehormatan. Tinimbang melakukan pengabdian dan penelitian-penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Yang bisa mengentaskan kemiskinan. Meningkatkan mutu pendidikan. Mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945.

Usai Panrita melihat postingan itu, menyatalah kesedihan dan kemarahannya sekaligus. Panrita mengambil jaket almamater tercintanya. Membakarnya di bawah tiang bendera di aula kampus, tempat merah putih berkibar sendu dan malu. Jaket almamater itu pasrah dilalap api.

Pada kobaran api yang menjilat-jilat itu, ia menaburkan dupa sebagai bentuk berkabung. Dalam hening ritualnya, Panrita nyinyir, “Jika ingin bercinta, pergilah ke perguruan tinggi.”

Sumber gambar: tatkala.co

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *