Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Serious Men, Anak, dan Ambisi Orangtua

Kalau Anda pecinta film India, Serious Men, tak boleh Anda lewatkan. Film bergenre drama tragedi dengan sedikit komedi garapan Neflix ini, saya temukan ketika sedang sibuk-sibuknya bertengkar dengan diri sendiri. Pasalnya, di usia yang sematang semangka, saya masih saja bermain-main dengan kehidupan. Semua-muanya bermain-main dan akhirnya dipermainkan perempuan. Canda kisanak.

Serious Men dialamatkan pada orang-orang yang menghabiskan hidupnya bekerja keras, dan melakukan aktivitas yang sama setiap harinya. Karena sibuk bekerja, akhirnya mereka tidak memahami arti kehidupan. Begitulah kira-kira gambaran pertama yang saya dapat dari film tersebut. Seolah-olah bakal menyajikan kepada kita, bagaimana makna kehidupan yang sebenarnya.

Hasilnya, benar saja. Film tersebut menyajikan realitas kehidupan yang sedang dialami kebanyakan orang. Hidup dalam lingkaran kemiskinan. Tinggal di tempat kumuh. Tersekat oleh sistem kelas. Bercokolnya kaum privilege. Kualitas pendidikan yang rendah. Politik, penipuan, dan kebohongan. Intinya, tontonan ini sarkas dan sarat kritik. Indonesia bangetlah!

Pada pembukaan film, kita bakal mendengar lagu India dengan lantunan musik yang asyik sekali. Iramanya bisa membuat Anda menari dan merasakan kemalangan sekaligus. Setelahnya, lebih wow, tapi intim. Skip saja jika tak berkenan.

Namun, itulah potret kebutuhan primitif manusia dari masa ke masa. Sebuah kebiasaan yang ditabukan kebudayaan, dikeramatkan orang tua, dan mesti dihalalkan lebih dahulu di mata agama. Sayang seribu sayang, di kekinian, keintiman itu tak lagi tabu, tak keramat, dan dianggap tak perlu dihalalkan lagi bagi sebagian manusia. Akh.. sudahlah!

Film yang diperankan Nawazuddin Siddiqui tersebut, menceritakan kehidupan keluarga Ayyan Mani, asisten ilmuwan bernama Arvind Acharya. Ayyan seorang “bad genius” yang bercita-cita keluar dari lingkaran setan kemiskinan dan mendobrak sistem kelas masyarakat India. Suatu sistem yang masih subur menjulur melilit pola pikir kita di Indonesia. Padahal keberadaan Islam, telah membantah kemapanan yang dipertahankan Abu Jahal dan Abu Lahab tersebut. Bahwa manusia sama di hadapan-Nya, yang membedakan adalah tingkat ketakwaan seseorang.

Selain itu, Ayyan Mani mencoba merobohkan takhta kaum yang punya privilege dengan caranya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa masyarakat dari kelas menengah, bisa sukses dan mendapat akses pendidikan yang layak. Itulah sebabnya Ayyan melakukan rekayasa sosial yang terbilang sederhana, mendesain anaknya menjadi seorang yang genius. Bisakah strateginya bertahan? Sedangkan kekuatan tuan dan puan yang memiliki privilese itu ada dan cenderung “mutlak”?

Oh yah, sahaya tak ingin mengulik banyak tentang privilese, yang belakangan santer diperdebatkan. Waima di negara yang menganut sila berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat ini, orang-orang yang memiliki “hak isitimewa” masih memiliki posisi yang mapan. Sehingga, keadilan sosial sekadar isapan jempol semata.

Privilege yang saya maksud adalah kuatnya hak istimewa, dan mudahnya akses yang diberikan kepada mereka yang memiliki kekuasaan, jabatan, dan uang di beberapa sektor kehidupan di negeri ini. Tinimbang rakyat kecil dari kalangan buruh, tani, dan rakyat-rakyat dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Kaum privilese di negeri ini, cenderung lebih dihormati di hadapan hukum, pendidikan, pelayanan publik, dan sebagainya.

Kembali ke Ayyan Mani, si bad genius. Hal yang paling saya soroti adalah apa yang dilakukan Ayyan terhadap anaknya. Untuk meraih ambisinya, Ayyan mendesain anaknya, Adi, menjadi anak genius dengan cara yang salah. Ia memaksa Adi menghafal hal-hal rumit seperti istilah sains, astronomi, dan matematika, meski ia tak mengerti sama sekali. Maka di sekolah, Adi tampil sebagai anak di luar nalar, karena membicarakan hal-hal yang tidak umum di usianya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada guru pun demikian supernya, hingga para guru kewalahan menghadapinya.

Dalam film tersebut, semakin tidak paham seseorang dengan apa yang Anda bicarakan, maka semakin genius Anda. Begitulah jalan Adi meraih predikat anak genius di sekolah. Citra Adi sebagai anak ajaib ternyata tidak hanya di sekolah, tapi mulai terekspos oleh publik. Adi mulai sibuk menghadiri undangan pidato di mana-mana, menghadiri wawancara di media, hingga merambah ranah politik. Lebih tepatnya kegeniusannya dan ketenarannya, dimanfaatkan politisi. Hal yang lumrah dan banyak terjadi. Di mana para politisi menggunakan kaum intelektual, bahkan agama sebagai alat guna memenuhi kepentingannya.

Arkian, kegeniusan Adi mulai dipertontonkan. Setiap pertanyaan sains dari wartawan dan masyarakat, mampu dijawabnya dengan mulus. Pidato-pidatonya selevel profesor dan ilmuwan. Padahal semuanya sekadar tipu muslihat Ayyan Mani, yang memang kebetulan cerdas. Dia selalu punya trik-trik untuk meluluskan siasatnya, dengan Adi sebagai pion.

Isi pidato Adi misalnya, dikonsep oleh Ayyan dengan mengambil tema sains yang berat. Adi hanya perlu menghafalkannya dan bersandiwara di panggung. Jadi bagaimana Adi menjawab pertanyaan rumit yang diajukan?

Adi hanya tinggal mengatakan, “Aku tak bisa menghadapi pikiran primitif sepertimu”. Atau kalimat, “Jika kau paham apa yang kubicarakan, maka kau akan ada diposisiku.” Ini sekadar trik sederhana dari seorang Ayyan Mani menipu publik. Anehnya, orang-orang percaya bahwa Adi benar-benar anak genius.

Tragedi paling menyentuh terjadi ketika, kejujuran, kepolosan, dan jiwa anak-anak Adi mulai memberontak. Ia mulai tertekan dengan hafalan yang diberikan ayahnya. Pikiran dan batinnya mulai tersiksa. Ia mulai mengulang-ulang semua hafalan yang pernah diberikan kepadanya. Mulai bertingkah aneh. Marah, menangis, dan membenturkan kepalanya di tembok. Kejiwaannya mulai terganggu akibat tekanan-tekanan yang diberikan kepadanya.

Ayyan mulai ketakutan dan khawatir, melihat apa yang menimpa Adi. Ia mulai menyadari kesalahan yang dilakukan, telah menjadikan anaknya sebagai badut di sirkusnya sendiri. Fenomena inu banyak terjadi di sekitar kita. Di mana orang tua terlalu memaksakan ambisi pribadinya pada anaknya. Mereka menuntut anak-anak belajar keras, hingga mereka tak lagi memiliki waktu untuk bermain.

Banyak anak-anak merasa tertekan, karena target-target yang diberikan orang tua kepadanya. Meraka harus ini dan itu. Mendapat nilai tinggi dan mendapat peringkat. Mengikuti jadwal belajar yang ditentukan orang tua. Mengikuti les-les privat. Memaksanya masuk jurusan yang tak disukainya. Dan, menjadi seperti apa yang diinginkan orang tuanya.

Dalam Strawberry Generation, Rhenald Kasali menyebut anak-anak seperti ini sebagai burung dara yang sayapnya dikodi (diikat), sehingga mereka tak mampu terbang tinggi, diberi kandang yang sempit agar selalu dekat dengan tuannya. Padahal menurut Rhenald, sebenarnya seorang anak adalah burung rajawali yang terbang bebas di angkasa, bukan burung dara.

Para orang tua percaya, apa yang mereka konsep untuk anaknya, adalah hal terbaik bagi si anak di masa depan. Tetapi mereka lupa, bahwa ada momen tertentu di mana seorang anak merasa kelelahan, sedih, hingga depresi dengan hal-hal yang merenggut kebebasannya.

Kondisi ini jika dibiarkan, bakal berdampak buruk pada psikologi dan mematikan daya kreatif sang anak. Senada dengan Rhenald Kasali, Arvind Acharya, ketika menasihati Ayyan Mani, menabalkan, “bahwa anak-anak itu seperti bunga. Dia akan mekar atau mati. Tetapi kita harus terus menyirami bijinya. Jika kau membiarkannya, dia akan hancur.”

Orang tua tak boleh lupa, bahwa anak-anak adalah anak-anak. Mereka butuh berkembang dan banyak belajar. Mereka harus bermain dan berkawan. Bersosialisasi dengan masyarakat. Biarkan mereka menikmati masa kecilnya. Mengeksplorasi potensinya. Percayalah, kelak, mereka akan mengubah dunia.

Walakhir, teruntuk kita semua, para orang tua, sahaya ingin sitirkan petuah Khalil Gibran. “Anak kalian bukanlah anak kalian. Mereka putra-putri kehidupan yang merindu pada dirinya sendiri. Berikan kepada mereka cinta kalian, tapi jangan gagasan kalian, karena mereka memiliki gagasan sendiri. Kalian boleh membuatkan rumah untuk raga mereka, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan. Yang tidak bisa kalian kunjungi, sekalipun dalam mimpi.”

Sumber gambar: nowrunning.com

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)