Setelah setahun kemelut dan bergelut dengan pagebluk, kita patut berbahagia. Aroma khas sang kekasih, semerbak tercium di seantero jagat. Begitu wangi. Betapa syahdu. Kerinduan turut berkelindan meresap ke relung jiwa. O.. jiwa-jiwa yang mendamba, sambutlah sang kekasih, bulan yang dipenuhi berkah dan ampunan.

“O.. jiwa-jiwa yang merindu, sudahkah kau jujur pada dirimu sendiri, mengapa selalu mengatakan Ramadan bulan ampunan? Apakah hanya menirukan Nabi, atau dosa-dosa dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut, sahaya sadur dari puisi Gus Mus. Tanyakanlah pada diri masing-masing. Dalam hening malam pertama Ramadan. Di tiap sujud panjang dan khusyuk.

Pada tulisan ini, izinkan sahaya banyak mengutip puisi KH. Mustafa Bisri, “Nasihat Ramadhan”. Sebagai bahan renungan dan teguran bagi diri kita yang kadang bebal dan lalai.

Mustofa,

Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu.

Darimu hanya untuk-Nya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkan-Nya kepadamu.

Semua yang khusus untuk-Nya khusus untukmu.

Mustofa,

Ramadhan adalah bulan-Nya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata pada-Nya.

Bersucilah untuk-Nya. Bersalatlah untuk-Nya. Berpuasalah untuk-Nya.

Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya.

 Ramadan 1442 Hijriah segera menghidu. Menyapa kita semua dengan ramah. Apakah kita sudah siap menyambutnya dengan khidmat? Menjamunya dengan segenap jiwa raga dan cinta? Setahun lalu, kita mesti berjalan bersamanya dengan sendu dan menerungku diri dalam rumah. Tak boleh tarawih dan iktikaf di masjid-masjid.

Kita banyak mengisinya dengan kekhawatiran, ketakutan, dan juga perdebatan-perdebatan. Sedikit banyaknya, mendorong kita ke pertengkaran-pertengkaran dan klaim kebenaran berbuntut perpecahan.

Kita mungkin risih dan kecewa sekaligus, dengan beredarnya urita peniadaan mudik yang menjadi tradisi. Kita tak bisa menyata di kampung sendiri, menikmati sahur dengan sanak keluarga terkasih. Pun tak bisa merayakan hari lebaran mendatang bersama mereka.

Namun, kita patut berbahagia, Ramadan tahun ini bakal banyak berbeda dari sebelumnya. MUI Sulawesi selatan misalnya, sudah mengizinkan masyarakat menjalankan ibadah di masjid. Memperbolehkan tradisi buka puasa bersama dihelat. Ini warta gembira bagi kita, bisa menubuh dan menjalani tirakat-tirakat cinta bersama sang kekasih. Melepas dahaga usai meniti perjalanan panjang di gurun kehidupan yang kian edan.

Ramadan sang kekasih, kian mendekat. Datang dari langit. Diiringi ribuan malaikat yang bersenandung dan bersalawat. Begitu anggun. Betapa agung. Sambutlah dengan syukur melimpah dan bahagia yang membuncah. Sebab ia datang membawa banyak berkah. Padanya, malam kemuliaan yang dijanjikan bersemayam dan kitabullah diturunkan sebagai petunjuk kepada manusia.

O.. jiwa-jiwa yang berpasrah;

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.

Sucikan tanganmu. Berpuasalah.

Sucikan mulutmu. Berpuasalah.

Sucikan hidungmu. Berpuasalah.

Sucikan wajahmu. Berpuasalah.

Sucikan matamu. Berpuasalah.

Sucikan telingamu. Berpuasalah.

Sucikan rambutmu. Berpuasalah.

Sucikan kepalamu. Berpuasalah.

Sucikan kakimu. Berpuasalah.

Sucikan tubuhmu. Berpuasalah.

Sucikan hatimu.

Sucikan pikiranmu.

Berpuasalah.

Sucikan dirimu.

Sayang, malang tak dapat ditolak, mujur tak bisa diraih. Ada luka tercipta dari belati kepandiran yang mengiris kemanusiaan kita. Saat “aroma” rahmat-Nya tercium, suara ledakan bom dan teriakan-teriakan yang menyayat menyambutnya.

Angging mammiri menebar bau asap mesiu dan aroma daging terbakar, serta anyir darah dari tubuh berserak. Air mata dan ketakutan, dibungkus kemarahan, membumbung di cakrawala Kota Daeng yang sendu.

Ramadan telah tiba, awan kelabu mengiringnya. Mengapa Ramadan, kita sambut dengan darah dan kebencian?

Mustofa,

Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang

mengingatkan kedlaifan dan melembutkan rasa.

Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu

atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.

Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan kelamin, lebih tahan

sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu

hasrat dikekang untuk apa dan siapa.

Tetapi mengapa masih ada di antara kita, kerap merasa lebih benar dari orang lain. Sehingga membenarkannya membenci dan menumpahkan darah sesama. Jika kini membunuh mereka yang berbeda keyakinan dianggap sebagai jihad, sungguh kita benar-benar gagal paham kata Habib Luthfi. Sebab, bagi beliau, “Jihad saat ini bukan mengangkat pedang atau senapan. Jihad yang dibutuhkan zaman kita, adalah jihad ekonomi dan pendidikan. Karena musuh kita adalah kemiskinan dan kebodohan, serta lemahnya keyakinan.”

Saat kita mestinya saling memaafkan, kita justru saling menikam. Puasa mestinya membuat kita mengambil jarak, dari kebencian dan jiwa-jiwa kebinatangan yang bersemayam dalam diri. O.. jiwa-jiwa yang merindu;

Puasakan kelaminmu untuk memuasi Ridla

Puasakan tanganmu untuk menerima Kurnia

Puasakan mulutmu untuk merasai Firman

Puasakan hidungmu untuk menghirup Wangi

Puasakan wajahmu untuk menghadap Keelokan

Puasakan matamu untuk menatap Cahaya

Puasakan telingamu untuk menangkap Merdu

Puasakan rambutmu untuk menyerap Belai

Puasakan kepalamu untuk menekan Sujud

Puasakan kakimu untuk menapak Sirath

Puasakan tubuhmu untuk meresapi Rahmat

Puasakan hatimu untuk menikmati Hakikat

Puasakan pikiranmu untuk menyakini Kebenaran

Puasakan dirimu untuk menghayati Hidup.

Tidak.

Puasakan hasratmu

hanya untuk Hadhirat-Nya!

O.. jiwa.. betapa kita semua paling tahu, Rasulullah mengemban risalah cinta. Mengajarkan kita agar senantiasa mencintai sesama manusia. Padahal di batang tubuh lokalitas Bugis-Makassar, pun mengajarkan nilai-nilai kebajikan nan bijak. Sipakaingaki, sipakalabbiriki, na sipakatauki.

Tidakkah cukup bagi kita untuk pengambil pelajaran dari perjalanan Lelaki Penggenggam Hujan, yang namanya disebut-sebut dalam berbagai kitab, sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta, lewat keindahan dan keangungan akhlaknya.

Apakah kisahnya yang agung belum membuat kita memahami, bahwa Rasulullah amat pemaaf dan tak pendendam. Betapun ia disakiti, dihina, dicaci, dimaki, pun pada satu segmen hidupnya, pernah dilempari batu dan kotoran. Sang Nabi tetap tenang dan memaafkan. Tak ada amarah. Tak ada caci maki. Tak ada kebencian. Yang ada hanya cinta.

Lantas, mengapa kita menyebut diri sebagai umatnya, tapi tak pernah benar-benar menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan? Mengapa kita yang sepanjang waktu bersalawat, tak pernah benar-benar menghayati ajarannya?

O.. jiwa-jiwa yang mendamba. Sang kekasih, Ramadan, kini berdiri di hadapanmu. Bebaskanlah hatimu dari kebencian yang terselubung. Padamkan api amarah yang berkobar. Lembutkan hatimu dan jadilah pemaaf di bulan suci ini.

Mustofa,

Ramadlan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah

merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.

Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian

keserakahan ujub riya takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari

comberan hatimu?

O.. jiwa.. Mustafa, engkau, aku, dan kita semua. Sang kekasih, Ramadan, kini menatap lekat. Memeluk erat penuh kerinduan. Sambutlah!

Mustofa,

inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati.

Mustofa,

Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu

yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi

kau puja selama ini.

Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini

seperti Ramadlan-ramadlan yang lalu.

Gambar: enews.hamari.web

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *