Bulan Ramadan tahun ini, merupakan Ramadan ke-13 bagi Rumallang. Seorang anak beranjak remaja. Maklum ia lahir di bulan Ramadan, maka bapaknya, sang Tetta, atas usul sosok tetua di kampung, agar menamainya Rumallang. Satu kebiasaan orang dulu, sederhana dalam memberi nama pada anak-anaknya. Kalau bukan nama bulan, ya nama hari, nama tokoh, atau peristiwa penting lainnya. Tettanya Rumallang sendiri, bernama Sanneng, sebab ia dilahirkan pada hari Senin. Sehingga, nama lengkap di akte kelahiran termaktub, Rumallang bin Sanneng.

Usia Rumallang, sementara berjalan di angka 13 tahun. Satu angka angker bagi sebagian orang yang percaya pada angka 13, sebagai angka sial dan keramat. Lalu, adakah kesialan bakal menimpa Rumallang di usia ke-13 pada Ramadan kali ini? Kelihatannya begitu. Ada gelisah di rona mukanya. Tampak gulana hatinya. Sunyata gundah menghidu hari-harinya.

Sebagaimana tradisi di Masjid Nurul Iman, satu masjid di kampungnya Rumallang, kala Ramadan tiba, selalu saja menggalang anak-anak remaja, maupun yang  beranjak remaja, agar melibatkan diri dalam kegiatan amaliah Ramadan. Salah satunya, latihan kepemimpinan, sejenis pelatihan buat meningkatkan kemampuan, ketika berpartisipasi di acara-acara rangkaian puasa Ramadan. Semisal, menjadi protokol jelang Tarwih. Bertugas membacakan nama penceramah tarwih dan subuh, isi kotak amal, nama-nama penyumbang buka puasa, dan pernak-pernik Ramadan lainnya.

Paling tidak, ada enam anak teman sepermainan Rumallang. Tersebutlah Pudding, Sudding, Rudding, Budding, Mudding, dan Dudding. Para remaja inilah, secara bergiliran menjadi pembawa acara. Jadi, setiap orang, kemungkinan akan dapat jatah tampil di mimbar masjid, empat kali, selama amaliah Ramadan berlangsung, sebulan penuh.

Bila saja anak-anak remaja itu diibaratkan sebagai pemain bola, mereka adalah pemaian debutan. Khususnya Rumallang. Kawan-kawan lainnya, selain usianya lebih tua, berarti sudah punya pengalaman tahun sebelumnya. Pun, mereka rata-rata sudah biasa tampil menjadi pembawa acara di acara-acara keagamaan sepanjang tahun, seturut tatkala pengurus masjid menyelenggarakan peringatan hari-hari besar keagamaan atau lainnya.

Sebagai pemain debutan, eh penampil perdana dan pengalaman pertama, Rumallang benar-benar keringat dingin di hadapan mimbar masjid. Seorang pengurus masjid khusyuk memperhatikan tingkah laku Rumallang. Sedikit-sedikit, ia menarik napas panjang. Napasnya menjadi sedikit-sedikit. Sesekali ia menatap ke arah mimbar masjid. Entah apa yang bergolak dalam pikirannya dan apa gerangan dalam gelora hatinya?

Bertepatan dengan malam ke-2 Ramadan, giliran Rumallang naik mimbar. Bertugas sebagai pembawa acara, menjadi protokol, berfungsi selaku master of ceremony (MC). Sekitar hampir sepuluh menit, ia diterungku oleh mimbar masjid. Membacakan sederet informasi buat para jemaah. Mulai dari nama penceramah dan imam salat Tarwih, serta nama-nama penyumbang buka puasa. Tak lupa pula, jumlah saldo kas, penerimaan dan pengeluaran selama Ramadan. Rupanya, ia sukses menaklukkan mimbar masjid. Usai salat Tarwih, beberapa orang jemaah memberikan ucapan selamat, sekaligus memuji penampilannya.

Rumallang amat gembira atas penaklukannya terhadap mimbar masjid. Ia sangat yakin, penampilan berikutnya, sudah lebih rileks. Ia pun menaksir, jika ia empat kali tampil selama Ramadan maka ia bisa memastikan, makin mahir kemampuannya. Artinya, ia siap bertempur lagi di luar Ramadan. Dan, pengurus masjid amat bangga, Rumallang merupakan salah satu remaja masjid jebolan Ramadan. Sungguh, Rumallang diberkahi Ramadan.

Bagi Rumallang, awalnya ia menganggap mimbar adalah lawannya. Ia harus menaklukkannya. Mimbar serupa dengan musuh yang harus ditundukkan. Namun, setelah ia berhasil tampil, sepertinya mimbar itu menjadi sahabat karibnya. Kelihatannya ia mulai ketagihan naik mimbar. Kalau saja tidak ada jadwal bergilir sesama remaja masjid, mungkin ia sanggupi tiap malam naik mimbar. Buktinya, sering ia menanyakan kesiapan rekan-rekannya. Berharap ada yang berhalangan atau tidak siap, sehingga ia bisa menggantikannya. Rumallang jatuh cinta pada mimbar.

Memasuki pekan kedua Ramadan, tetiba seorang jemaah masjid mengsulkan agar mimbar diganti. Pasalnya, di masjid tetangga kampung sebelah, baru saja mengganti mimbar masjidnya. Usulan itu dilatari oleh, adanya pergantian pengurus masjid, sehingga programnya mengganti mimbar masjid. Kayak penguasa, ganti menteri ganti program.

Amat congkak si jemaah masjid berucap, semestinya mimbar Masjid Nurul Iman juga sudah diganti, seperti masjid sebelah. Pengurus baru mengganti mimbar lama. Mumpung pengurus masjid kita juga masih baru, perlu meniru pengurus baru di masjid tetangga.

Desas-desus penggantian mimbar masjid segera meributkan sekotah jemaah masjid. Bahkan seisi kampung ikut terlibat. Ada yang setuju, tapi lebih banyak yang menolak, terlebih lagi yang diam, lebih massal lagi. Bagi yang diam, mungkin hanya berpikir, ada-ada saja usulan nirlantip, lapiknya hanya ikut-ikutan. Apatah lagi, mimbar itu masih bagus. Bisa tahan puluhan tahun ke depan. Bahkan usia mimbar itu, masih akan lebih panjang dari usia si jemaah pengusul. Meski umur mimbar itu, kini, sudah lebih lima puluh tahun.

Dari sekian jemaah masjid yang gelisah, gundah, dan khawatir termasuk Rumallang. Bahkan, ia sempat berpikir, jangan-jangan gagasan sial, begitu Rumallang menyimpaikannya, merupakan kesialan di usianya yang ke-13. Betul-betul angka sial. Akibatnya, ia harus menanti hingga hari ke-13 Ramadan, buat memastikan hasil munajatnya. Apa betul pengurus masjid tergiur dengan usulan aneh itu?

Munajat Rumallang sederhana saja. Memohon kepada Ilahi, agar pengurus masjid diberi kekuatan, supaya tidak tergiur mengganti mimbar masjid. Mengapa? Mimbar itu penuh berkah. Sudah ratusan ulama dan ustas berdiri dan mengurapi mimbar itu, lewat nasehat-nasehat hidup dan kehidupan.  Mimbar itu cukup bertuah, memudahkan setiap pengguna. Utamanya pengguna pemula seperti Rumallang.

Lebih dari itu, bagi Rumallang, si mimbar adalah cintanya. Laiknya cinta pertama, yang jatuhnya di dasar hati. Tatkala geliat pertama meniti karir berdiri di hadapan orang banyak. Cinta pertama, bakal penuh kenangan, waima hanya pada sebuah mimbar. Mengganti mimbar, sama saja mencungkil kenangan dari diri Rumallang.

Diam-diam Rumallang mengajak enam orang remaja lainnya bersamuh. Membahas gagasan penggantian mimbar. Melalui perbalahan yang khusyuk di anatara mereka, lahirlah keputusan bernas, mau menemui si pengusul. Bila perlu menculiknya, lalu memaksa agar menarik kembali usulan tak elok itu.

Untungnya, bersua denganku. Sebagai salah seorang pengurus masjid, sekaligus pembina remaja masjid. Aku cuma bilang, palang-palangko andile, bulang rumallangi inne. Manna mamo bulang kalassukanna I Rumallang. Pelan-pelan saja adik-adik remaja, ini bulan Ramadan. Meskipun bulan kelahirannya Rumallang.

Ilustrasi: Nabila Az-Zahra

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *