Puasa, Tubuh, dan Buku

Tubuh melalui puasa menjadi wahana jiwa belajar kesucian. Di luar dari itu, tubuh bisa menjadi jebakan bagi jiwa saat mencari jalan keselamatan (salvation). Selama ini, tubuh jadi gemuk karena keserakahan, yang di abad ini disebut-sebut menyembah secara naif ideologi konsumerisme.  

Dalam telaga konsumerisme, tubuh saban hari jadi objek ideologi kapitalisme mutakhir. Ia menjadi arena, atau bahkan menjadi pasar melalui jaringkelindan kode dan penandaan. Atas dasar fashion dan gaya hidup, tubuh menjadi liang makam jiwa, imbauan tua yang sudah disuarakan Platon berabad-abad purba.

Konsumsi paling primitif umat manusia adalah makan minum. Aktivitas massal yang sekarang bernilai status sosial, membuat para ahli menyebutnya sebagai ciri masyarakat terkini. Banyak membeli, aku menjadi ada. Banyak konsumsi membuat tubuh kian eksis. Dan tidak saja itu, di layar setiap gawai, tampakan tumpukan tubuh membuat pencitraan menjadi ajang tanding eksistensi.

Kini setelah sekian hari berpuasa, tubuh dinaikkan derajatnya agar jiwa melesat ke ketinggian. Agar jiwa mendekonstruksi jaringan tanda, ideologi, dan simbol yang membuatnya selama ini jauh dari kalis. Jiwa selama berpuasa, meminjam suara khotbah agamawan, akan menjadi suci.

Puasa membuat tubuh keluar dari kontradiksi-kontradiksinya, yang dibuat gamang antara dunia ”aku” vs. ”yang lain”, ”publik” vs. ”privat”, dan antara ”personal” vs, ”sosial”.  Di antara dua pelipir dunia inilah tubuh sering jatuh tergelincir ke dalam kubangan kehinaan.

Itu sebabnya, kenikmatan tubuh selama ini mesti kembali menemukan garis orbit sebenarnya, yakni suatu nilai autentik yang tidak terjebak  status, dan penjara pencitraan.

Kini, refleksi atas puasa mesti lebih radikal dari sebelumnya setelah selama setahun lebih tubuh makin akrab dengan batas akhirnya. Korona meskipun kecil berdampak besar terhadap umat manusia belakangan ini. Banyak tubuh ambyar dan mesti kembali ke asalnya. Tapi, juga banyak yang bisa bertahan keluar, meski kehidupan tidak akan lagi sama seperti sebelumnya.

Tubuh dalam rumah, yang jadi tertib sosial selama ini, tidak saja bermakna deteritorialisasi agar mengubah wilayah peredarannya. Mukim di rumah juga menjadi medium ”jalan batin” agar tubuh menemukan ”pusat” ketenangan yang selama ini nyaris sulit ia temukan. Berwilayah di rumah karena itu memungkinkan tubuh menjadi lebih proporsional dengan ruang geraknya yang minimalis. Ia tidak gemuk saat kehilangan spasialnya, tapi juga tidak menjadi ringkih saat mendapatkan titik tumpu ketenangannya.

Puasa dengan habitus rumah, tidak akan menjadi eskapisme sama seperti rayuan masayarakat kapitalistik seperti sekarang ini. Habitus rumah adalah perlawanan harfiah terhadap ruang sosial yang disesaki idiom-idiom pasar. Di luar, meski mengalami pembatasan sosial, pasar tidak berhenti bekerja. Hasrat adalah incaran mesin-mesin kapitalistik nomor satu.

Puasa adalah teroka jiwa menemukan ulang fitrah kemanusiaannya. Dengan cara menahan desakan lapar, gangguan kelabat pikiran dan hati, jiwa secara pelan namun pasti akan kembali ke asal mula eksistensinya. Di sanalah meluruhnya semua tilikan hasrat, kolapsnya tembok ego, dan menciutnya keinginan naif. Secara gigantis tubuh bakal dilambari jiwa sebagai tuan sejatinya.

Beberapa waktu lalu, dunia perbukuan memperingati Hari Buku Sedunia, tepat jatuh di 23 April bertepatan di bulan ramadan kali ini. Buku, sebagaimana tubuh juga memiliki kulit dan isi dalam. Tidak sedikit orang, yang kepincut hanya dari kulit tubuhnya saja. Memajang dan memostingnya demi menemukan kenikmatan di atas layar gawai.

Tapi, banyak juga yang memilih keberanian demi menyelam ke dalam isi jiwa buku. Mencari seutas tali agar tidak diseret kepentingan daging. Ya, buku seperti jiwa yang mengandung entitas alam tak berujung. Buku adalah temuan canggih umat manusia demi memperpanjang terbatasnya tubuh saat bergerak.

Buku dan puasa merupakan pasangan saling komplementer. Ibadah mencapai takwa akan lebih berdaging jika membuat buku menjadi wahana kembara tubuh. Bahkan jika buku suci peruntukkan Allah untuk Rasulullah dibaca dan digali, akan membuat jiwa makin mendekat kepada alam kesucian.

Buku merupakan jendela dunia, bahkan itu tanpa pintu, yang bisa membuat jiwa tanpa harus bergerak keluar bisa menembus dunia lain. Jiwa di dalam buku mengalami diam sekaligus bergerak, tubuh melalui buku membuat jiwa makin mirip burung murid Simurgh, yang bebas terbang demi mencapai kepuncakannya.

Sekarang puasa dari rumah menjadi jalan tubuh agar jiwa jadi cuat. Buku adalah instrumen terbaiknya ketimbang membuat tubuh melanglang dalam buana bit-bit virtual. Buku dapat dengan ringkas mengajarkan tubuh untuk patuh dalam suatu keadaan teknis tanpa gerak, membuat benak berziarah menyelami merasakan desir dan gemericik jiwa asal.

Sumber gambar: magdalene.co/story/3-alasan-utama-budaya-patriarki-masih-melekat-di-masyarakat

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *