Cerita yang Tidak Kita Inginkan Tentang Toko Buku yang Purnatugas

Toko Buku Intuisi, salah satu toko buku yang kalau saya datang membeli, pasti akan duduk bercerita dengan ownernya Bung Ikrimah Intuisi, dan tidak langsung pulang begitu saja.

Kebiasaan ini tidak kecuali saya lakukan jika saya mengenal cukup dekat sang juragan buku. Dahulu, bisa dikata sebagian besar penjual buku bisa berperilaku sebagai kritikus buku, menjadi mirip seorang sastrawan atau sejarawan. Ia tidak sekadar menjajakan buku, tapi kerap meresensi dan memberi masukan atas buku terkait. Mengetahui dengan cukup baik seluk buku dan cerita-cerita yang berkembang mengenainya.

Kamu tahu, seorang kritikus buku bisa lebih banyak tahu dari apa yang tidak kita ketahui. Ia tahu cerita-cerita belakang yang terjadi sebelum sebuah buku dapat sampai di tangan Anda. Kadang, ia pun tahu berapa umur sebenarnya sebuah buku, di mana saja buku-buku tertentu dijual, dan dari mana buku itu pertama kali beredar sebelum sampai dijual di toko-toko buku.

Itu sebabnya membeli buku bisa menjadi lebih menyenangkan. Ia bukan saja menjadi aktivitas jual beli belaka, melainkan bisa berbuah pengetahuan karena sang penjual buku bisa begitu menghayati profesinya. Ia tidak sekadar berposisi sebagai usahawan, tapi seolah-olah menjadi seorang palang pintu itu yang namanya kebudayaan.

Buku di tangan penjual buku seperti ini sudah pasti tidak sekadar menjadi benda ekonomis saja, yang mesti masuk dalam hitungan neraca untung rugi, dan membuat seorang penjual buku bagai tuan kapitalis. Berharap memutar keuntungan itu dengan logika dagang sedemikian rupa agar mendapatkan keuntungan yang lebih lagi.

Buku di etalase sebuah toko buku memang menjadi barang dagangan, yang seketika berbeda ketika ia telah sampai di meja kasir. Banyak hal bisa terjadi di atasnya. Termasuk keramahan sang penjual sendiri,  buku di atas meja kasir, saat ingin dipungkasi dengan membayarnya, bisa berhenti sementara dan berbelok lantaran suatu ide seketika menyeruak mengubah pembicaraan tentang buku.

Dari sini, membeli buku menjadi berbeda dari seperti membeli komoditas lain. Buku bisa membuka percakapan, menginisiasi diskusi, membuat sebuah tindakan jual beli lebih dari pada sebagai aktivitas ekonomi an sich.

Makanya, bertahun-tahun lalu, saat masih sering nongkrong siang malam di Toko Buku Papirus—suatu toko buku di Tamalanrea— setiap membeli buku akan menghasilkan percik-percik gagasan dari diskusi yang awalnya hanya karena ingin membeli buku. Tidak jarang, justru karena itulah banyak orang malah tercerahkan sebelum ia membuka halaman buku pertamanya di rumah.

Begitulah riwayat meja kasir di setiap toko buku, mengubah konsumen menjadi seperti seorang peserta seminar ilmiah.

Tidak terkecuali di Intuisi, meskipun tidak sering, saya bersama Bung Ikrimah kerap satu dua kali berdiskusi mengenai pengalamannya menyelenggarakan pertemuan literasi, isi cerita satu dua buku, bahkan tentang Covid-19, yang sejak tahun lalu lebih abadi dari apa pun. Kegiatan seperti ini tidak akan Anda temukan di toko buku arus utama, apalagi di toko buku besar berlambang G yang menyerupai ular melingkar itu.

Saya masih ingat ada beberapa buku saya yang dibeli saat Intuisi masih berlokasi di Kecamatan Tallo, Jalan Pongtiku, kalau tidak salah ingat. Tokonya saat itu belum berbentuk seperti umumnya toko buku, yang membuat saya kesulitan menemukan lokasinya. Lorong yang banyak juga jadi salah satu sebabnya. Beruntung saat itu google map sudah marak dipakai sebagai penunjuk jalan. 

Saat itu saya datang di sebuah rumah panggung pada saat sore menjelang, dan buku-buku jualannya masih disimpan dalam kardus-kardus seolah-olah ada orang yang baru saja pindah rumah. Tidak ada rak buku saat itu, dan juga meja kasir untuk menandakan bahwa itu adalah sebuah toko buku. 

Bung Ikrimah saat itu keluar dari pintu dan menyodorkan tumpukan kardus-kardus yang ternyata itulah etalase bukunya. Ia diam tidak banyak berbicara sambil mengisap rokok. Saya yang belum lepas kaget juga hanya diam, dan lebih awas kepada judul-judul buku lewat punggungnya saja. Membalik-balik buku mencari judul yang menarik perhatian.

Saya menduga saat itulah kali pertama Toko Buku Intuisi merintis usahanya, yang membuat saya berpikir seperti sedang membeli buku di pasar loakan.

Anda tahu, buku apa yang saya beli saat itu? Salah satunya adalah Corat-Coret di Toilet karangan Eka Kurniawan yang masih berkulit putih dengan gambar boneka dan bom molotov sebagai aksentuasinya. Saya terkejut saat itu ketika toko-toko buku di Makassar masih sulit mendapatkan buku-buku karangan Eka Kurniawan, malah saya temukan di tempat seperti Intuisi, toko buku sederhana yang waktu itu belum banyak yang cukup tahu. 

Itulah pengalaman pertama saya saat mengetahui ada toko buku yang dibuka jauh dari kampus-kampus besar di Makassar. Tempatnya yang lumayan jauh dari lokasi aktivitas saya sehari-hari, membuat toko buku ini menjadi pilihan ke sekian untuk mengunjunginya.

Lama kemudian, Intuisi bergerak lebih ke selatan menyewa sebuah ruko di Jalan Emy Saelan jauh dari lokasi sebelumnya. Sebuah pertaruhan yang berani dan berisiko. Tempatnya lumayan besar dan saya beberapa kali membeli buku di sana, yang lebih sering dijaga oleh istri Bung Ikrimah.

Di tempat itu Ikrimah beberapa kali membuat pelatihan menulis, dan menggunakan lantai 2 sebagai kelasnya. Pesertanya tidak satupun saya ketahui. Ini terobosan yang perlu dan harus. Setiap toko buku jika mau langgeng perlu menciptakan basis pembelinya dengan pertama kali menciptakan jaringan komunitasnya sendiri. Ini tidak wajib, tapi signifikan membuat toko buku hidup lama.

Komunitas perkubuan toko-toko buku, yang secara dagang akan signifikan menaikkan omzet pembelian buku, menurut saya belum sepenuhnya maksimal terjadi di Makassar. Memang ada beberapa toko buku di Makassar melakukan hal serupa mengembangkan jaringan pembelinya melalui basis komunitas yang diciptakannya, tapi ini belum lazim. Terkecuali Intuisi saya duga melakukan ini, yang memang di lapangan banyak tantangannya.

Nama sekelas Faisal Oddang atau Alfian Dippahatang, sempat mengisi kelas kepenulisan Toko Buku Intuisi. Dari gambar postingan kala itu, saya sempat membatin, ruangan bercat gelap itu pasti pengap dan membuat siapa saja yang tinggal di tempat itu saat siang akan kegerahan. Menulis di tempat semacam itu, puki mai, siapa yang bisa!? 

Setahu saya, Toko Buku Intuisi tidak lebih 2 tahun berjualan di sepanjang Jalan Emy Saelan. Aneh memang, tempat itu lumayan strategis mengingat dua kampus besar UNM tidak jauh dari situ. Unismuh dan beberapa kampus kesehatan juga tidak bisa dikatakan jauh dari Intuisi.

Jalan Manuruki, Sultan Alauddin, Skardan, dan Jipang adalah ceruk wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis kegiatan mahasiswa siang malam. Sepuluh tahun lalu, di tempat-tempat inilah lingkungan aktivis mahasiswa terbentuk. Mereka kajian dari satu kos ke kos lain, dari kampus satu ke kampus lain.

Tidak kalah penting dengan peta geografis seperti itu yakni peta dunia aktivisme yang menjadi konteks besar di mana toko buku menjadi salah satu bagiannya. Toko buku, melalui pengamatan sederhana dan pengalaman singkat saya selama ini, bagian dari habitus di antara kampus, organisasi kemahasiswaan, komunitas kajian, lapakan buku, surat kabar, distributor, dan belakangan media sosial, yang membentuk pangsa intelektualismenya sendiri.

Mengingat dukungan lingkungan semacam itu, Intuisi pasti akan berumur panjang, dan tidak akan pindah lokasi secepat itu di daerah Tidung, tempat Intuisi sekarang.

Saya menduga, jika bukan hal lain, masalah sewa tempat jadi faktor signifikan mengapa Intuisi tidak seperti toko-toko penyewa di sekitarnya. 

Seperti juga rantai jaringan, satu atau dua bagian berhenti atau mengalami pembusukan, akan mempengaruhi satu bagian lainnya. Belakangan korona mengubah siklus-siklus kehidupan yang lain, tidak terkecuali siklus intelektualisme seperti di atas.

Di sekitar lokasi Intuisi sekarang juga ada sebuah toko buku, yang saya lupa apa namanya, dikelola oleh sekelompok mahasiswa barangkali. Lokasinya tidak jauh dari SMA Negeri 9 Makassar, di Jalan Karunrung Raya, Kecamatan Rappocini, yang merupakan suatu daerah rawan kriminalitas. Saya pernah tinggal di sekitar lokasi ini lumayan lama, bersama beberapa teman-teman saat mengemban satu tugas organisasi.

Hampir setiap malam lokasi ini menjadi lebih rawan dari biasanya. Di kawasan ini bahkan seorang pencuri motor pernah mati sia-sia karena dikeroyok massa. Di acara salah satu stasiun televisi berisi acara polisi yang suka berpatroli malam, jika pengambilan gambarnya di Makassar, maka tempat ini jadi tempat yang akan disisir diikuti dengan bidikan kamera di belakangnya.  

Toko buku ini juga tidak seramai seperti toko buku lainnya. Nasibnya, selain karena letaknya yang kurang terlihat, juga akan berumur pendek jika tidak melakukan terobosan-terobosan untuk menjamin keberadaannya. Meski tidak besar-besar amat, toko buku inilah satu-satunya saingan paling dekat dengan Intuisi saat ini.

Sebelum korona datang, Intuisi pernah merintis kegiatan literasi lumayan baik, bersama beberapa komunitas dan organisasi ekstra dengan mengundang Gusmuh, Makhfud Ihwan, dan kalau tidak salah Haz Algebra, penerjemah beberapa buku Yuval Noah Harari.

Sekira dua tahun lalu Intuisi juga menjadi salah satu inisiator membentuk simpul perlawanan pembajakan buku di Makassar. Bersama Dialektika Bookshop dan Toko Buku Paradigma, menggelar diskusi yang dipantik Mbah Soes, adik Pramoedya Ananta Toer, dan Gusmuh sebagai pembaca deklarator naskah yang menyatakan sikap Makassar menolak pembajakan buku.

Menyangkut pembajakan buku adalah momok yang susah-susah gampang diberantas. Rembesan masalahnya bisa ke mana-mana, mulai dari penerbit, penulis, sampai ke toko buku. Ia merusak sirkulasi keuangan, pertanggungjawaban, moral, dan hak cipta dan cetak.

Sekarang Intuisi akan beralih usaha setelah banyak membuka program pelatihan kepenulisan. Terakhir, Muhiddin M Dahlan, sebelum bulan Ramadan melakukan pelatihan menulis dengan pendekatan tour di Makassar ke tempat-tempat penting yang selama ini menjadi simpul-simpul komunitas literasi. Dari tempat yang lebih senior seperti komunitas Kampung Buku besutan Anwar Jimpe, dkk., Paradigma Institute, sampai Penerbit Subaltern yang jauh lebih baru. Itu atas inisiatif penerbit Subaltern kerja sama dengan Toko Buku Intuisi

Pendekatan inilah yang pernah saya bayangkan akan lebih menarik jika menjadi kenyatan ketimbang hanya menjadi wacana. Selama ini saya memendam impian komunitas pelatihan menulis mirip yang dipraktikkan Gusmuh, yakni komunitas yang digalakkan bersama setiap toko buku di Makassar. Dengan kelas yang berpindah-pindah dari satu toko buku ke toko buku lainnya.

Dengan pola semacam ini, masing-masing toko buku secara organik akan membangun tradisi yang kalau konsisten, membentuk wajah komunitas perbukuan besar yang lebih dinamis di Kota Daeng. Bisa jadi ini juga akan menjadi perkubuan yang sehat dan menjadi alternatif, jauh lebih signifikan ketimbang festival buku dan menulis tahunan yang sering kali membuat toko buku hanya sebagai pemeriah daripada pelaku aktif kegiatan

Saya termasuk orang yang sedih jika ada toko buku yang bakal tutup. Itu sama berbahayanya dengan gulung tikarnya sebuah penerbit atau harian surat kabar. Toko buku yang tutup dengan beragam masalah di belakangnya, tetap merupakan suasana yang tidak mengenakkan. Itu artinya ada satu mata rantai yang hilang dalam jagad perbukuan.

Terakhir sebuah toko buku kecil di Palopo juga menyatakan sudah tutup menjual barang yang paling mudah rusak tapi diperlukan ini. Caranya kurang lebih sama dengan Intuisi dengan mengumumkannya melalui medsos. Lebih awal dari itu, Toko Buku Papirus juga sudah tidak beroperasi maksimal seperti lima tahun lalu. Buku dilihat dari sisi bisnis memang bukan main-main. Pertaruhannya besar sekali.

Seandainya saja jaringan perkubuan para saudagar buku di Makassar kuat, dan telah memiliki semacam serikat organisasinya, hal-hal semacam ini bisa menjadi agenda kolektif. Menjadi keresahan bersama dan bisa segera mencarikan solusi untuk saling topang. Jika satu toko buku terguncang, semua toko buku lain  juga otomatis merasakan hal yang sama. Itu namanya intuisi para saudagar buku.

Saya prihatin, dan sedih. Semoga Toko Buku Intuisi hanya tutup sementara, menyusun strategi, dan hadir kembali meramaikan jagad perbukuan di Makassar.


https://mandira.id/news/detail/10-toko-buku-terindah-di-dunia_155

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *