Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Jajan Buku Bekas di Pasar Kaget: Jalan Ikhtiar Pecinta Buku Mencari “Surga” dan Belajar Low Expectation.

Pasar kaget adalah suatu kegiatan ekonomi-sosial kolektif yang umum diadakan di seluruh dunia. Di Yogyakarta, pasar kaget ada pada setiap kabupatennya, dan dinamai berdasarkan nama hari pasaran. Jumlah hari pasaran ada 5 Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Pasar kaget ini hanya berumur sehari saja, atau lebih tepatnya hanya dari pagi- siang, pol mentok  jam dua.

Mulai masuk ke inti, saya tidak akan membahas barang apa saja yang dijual di pasar kaget. Apalagi sampai memberikan tips menawar hingga up to 50 % untuk barang yang dibeli, sekali lagi tidak. Saya akan membahas tentang dunia perbukuan di pasar kaget.

Secara langsung atau tidak, pasar kaget berperan mempertajam ilmu perbukuan saya. Pada masa awal masuk kuliah dan belum menemukan kenikmatan membaca, saya tidak kenal nama-nama seperti Armijn Pane, Achdiat. K. Mihardja, Charles Dickens, para penulis realis Rusia, dan tokoh kepenulisan lainnya.

Harus saya akui, pengenalan dengan mereka tidak bermula di kampus. Bukan juga di toko buku yang temboknya bermural cantik dengan kalimat-kalimat yang merangsang keinginan untuk menjadi pembaca atau penulis sejati. Atau dengan ngopi di cafetaria yang memiliki koleksi buku yang syangar-syangar diiringi lagu tenang berlirik dalam dan secangkir kopi latte. Bahkan bukan juga dengan mengikuti sebuah forum pecinta buku, yang mana anggotanya beraroma sedap dan pakaian yang warnanya menyolok dengan kacamata besar, di mana mereka sangat fasih sekali tentang topik segala buku, dan saya akan termangu takdzim sambil menggaruk kepala dan mencoba memahami kata perkata ketika mereka berdiskusi.

Tetapi di pasar kaget lah, di lapak-lapak tanpa dinding yang bersampingan dengan penjual onderdil motor dan pipa bekas, atau di bawah pohon kersen yang bersampingan dengan penjual cairan hitam kental ajaib penyembuh segala macam penyakit. Bersama penjualnya yang bingung jika saya tanya balik buku yang dijualnya. Nah, di sanalah saya mengenal penulis yang saya sebutkan tadi.

Saya masih ingat buku pertama yang saya beli di pasar kaget, tepatnya di Pasar Pahing, ialah cerita drama berjudul “Kebun Tjeri” karya Anton Chekov, terbitan Pustaka Jaya tahun 1972. Bahkan ketika membelinya, saya harus merelakan untuk tidak membeli buku karya Achdiat. K. Mihardja yang saya lupa nama judulnya, karena uang saya yang pas-pasan.

Sepertinya yang dituliskan George Orwell, penulis novel fenomenal 1984 & Animal Farm, dalam essainya yang berjudul “Bookshop Memories” bahwa lapak penjual buku bekas adalah suatu surga di mana orang yang memiliki rasa kecintannya pada buku secara bebas melihat koleksi buku yang diperjualbelikan.

Surga yang dimaksud Orwell adalah  sebuah kenyataan bahwa di lapak buku bekas kita dapat menemukan ragam buku, di mana bagi seseorang yang mengerti buku, setidaknya dengan tahu bahwa penulis buku itu adalah seseorang yang memiliki kemahsyuran maka seseorang tersebut akan membawa pulang bukunya dengan harga murah dan kualitas layak baca. Pengalaman saya menyatakan buku di sini bersifat buku bekas namun ori, sering dijumpai buku cetakan awal untuk buku yang sudah mengalami proses cetak berkali-kali.

Sering saya jumpai di pasar kaget orang yang menurut saya dia membeli buku bukan untuk bacaan pribadinya, melainkan untuk dijual kembali karena dia tahu harga sebenarnya buku itu. Orang seperti ini lah memandang pasar kaget adalah ladang perburuan, di mana semakin pagi kalian berangkat ke pasar, kesempatan buruan berharga ada di tangannya semakin besar.

Namun disinilah terdapat perbedaan lapak buku bekas di pasar kaget dengan toko buku bekas yang established (Kalo di Yogya seperti di shopping/ deretan kios samping SMA 6 YK),  yang biasanya telah bermukim tetap.

Kadang kala seorang penjual buku, ketika pasar kaget buka, membawa buku-buku yang tidak menarik sama sekali. Karena hanya berisikan majalah anak-anak atau majalah religi yang covernya adalah orang terkena azab pedih dan dapat membuat seorang tua beruban tiba-tiba mengingat kematian ketika melihatnya. Bahkan kadang juga penjual yang biasanya berjualan tidak berjualan atau malah bertransformasi menjadi pedagang celana dalam. Ini benar dan dapat terjadi di Pasar kaget. Bagi yang niatnya perburu, ini adalah kesialan!

Inilah seninya belanja buku bekas di pasar kaget. Anda tidak bisa menebak apa yang akan terjadi. Semua tergantung mood atau kondisi ekonomi penjual  dan nasib baik Anda sendiri. Saya paham lebih laku jualan mesin bor rusak atau celana kolor ketimbang buku bekas saat pasar kaget terjadi.

Kadang ketika berharap agar menemukan buku karya penulis terkenal, dan dari rumah sudah membawa niatan besar, siap-siap mungkin Anda akan dikecewakan realita. Tetapi sebaliknya ketika Anda tidak meniatkan apa-apa, atau bahkan memiliki niatan yang lain, ketika berkunjung ke lapak si penjual buku, di sana Anda mendapatkan puluhan buku berkualitas berjejeran. Di mana penjualnya sendiri adalah seseorang yang tidak mengerti buku dan mematok harga murah. Di situlah serpihan kebahagiaan surgawi bagi pecinta buku berada.

Menurut seorang kawan yang pernah merasakan pengalaman mencari buku bersama saya di pasar kaget, “ketidakpastian adalah sebuah kenikmatan”. Dia menuliskan ini sebagai obituari pada medsosnya setelah mendapatkan 9 buku -beragam genre dari tumbuhan hingga sastra klasik- dengan harga 70 ribu, semoga jumlah buku pada ingatan saya atas kejadian itu benar.

Jika kalian memiliki kecintaan pada buku, namun juga memiliki kondisi dompet yang merana, serta memiliki kesukaan jika melihat keramaian, datanglah ke pasar kaget di tempat kalian. Carilah lapak penjual buku di sana. Meski saya yakin akan susah menemukannya, dan usaha dalam mencarinya akan menimbulkan kelelahan sekaligus kebahagiaan.

Belum pernah kan Anda menemui buku filsafat Jean-Paul Sartre dijual sebagai barang kiloan dengan mobil-mobilan bekas dan obeng berkarat. Atau mungkin novel masterpiece milik Muhidin M Dahlan yang berjudul Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur! Yang dijual oleh pria tua berkacamata dengan potongan rambut mangkok dengan harga 10 ribu.

The following two tabs change content below.

Airlangga W

Domisili di Yogyakarta