Rumah Ramah Anak (Sudahkah Kita Mendidik dengan Ramah?)

Rumah Ramah Anak merupakan nama yang saya pilih untuk kelas-kelas les privat yang saya dirikan hampir dua tahun lalu. Berawal dari sebuah keinginan mengajar matematika dan bahasa Inggris untuk anak usia SD ketika itu. Didahului tahun-tahun sebelumnya, di mana saya memberikan pelajaran dan latihan membaca pada anak tetangga yang sudah hampir menginjak bangku kelas dua, namun belum bisa membaca.

Oleh ibunya, ia sering jadi sasaran ketidaksabaran dalam proses mengajarnya. Beragam bentuk kekerasan sudah menjadi santapan sehari-harinya. Kadang dihardik, dipukul bahkan pernah digantung terbalik. Kaki di atas kepala di bawah. Geli bercampur iba saat ibunya menceritakan bagaimana tidak sabarnya ia mengajar anak sendiri.

Kala itu saya belum berencana membuka tempat les, akan tetapi karena dorongan rasa ingin menolong anak ini, maka saya terimalah ia sebagai murid pertama di kelas. Peristiwa itu terjadi kurang lebih enam tahun lalu. Alhasil ia mampu membaca lancar walaupun hanya belajar selama dua bulan di rumah. Selanjutnya anak-anak sebayanya mulai berdatangan satu demi satu. Ada yang mendaftar untuk belajar membaca, matematika,  atau bahasa Inggris, dengan variasi usia SD hingga SMA.

Tanpa terasa tahun demi tahun terus berjalan, hingga saya memutuskan untuk menyeriusi dan mempersiapkannya dengan konsep yang lebih matang lagi. Perlahan ia pun saya jadikan pekerjaan utama selain mengurus toko tentu saja. Nama “Rumah Ramah Anak” menjadi pilihan yang tepat. Mengapa saya memilih nama tersebut, karena kami telah menjadikan rumah sebagai pusat belajar yang kondusif, aman, dan ramah pada seluruh anggota keluarga, serta anak-anak yang ingin turut serta bergabung dalam proses pembelajaran di dalamnya.

Sementara itu, tujuan saya membentuk kelas privat ini adalah, ingin sebanyak mungkin melakukan interaksi dengan anak-anak, sebagai lahan praktik dalam menerapkan pengetahuan kepengasuhan yang saya dapatkan selama ini. Di samping  ingin menyebarkan ilmu ini kepada sebanyak mungkin orangtua. Salah satu pertimbangan saya membuka kelas-kelas khusus anak-anak usia sekolah, agar saya bisa terhubung dan menjangkau lebih banyak lagi orangtua secara langsung. Setidaknya, jika anak-anak ini berada dalam naungan pengajaran saya, maka saya dan orangtua mereka akan memiliki frekuensi yang sama dalam mengarahkan dan  membimbing anak-anak mereka. Dalam perjalanan tersebut, ada yang menyambut baik, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang tampak tidak begitu peduli. Mungkin ada hal penting lain di luar sana yang lebih menyita perhatiannya.

Anak Pintar Itu Penting, Namun Anak yang Bahagia Jauh Lebih Penting

Agak sulit membumikan ide-ide semacam ini di tengah pandangan dan pemahaman masyarakat awam sebagaimana yang kita saksikan saat ini. Di mana orang-orang ramai berlomba mengejar segala sesuatu yang berbau instan. Sehigga banyak yang tidak lagi peduli dengan prosesnya. Bahkan cenderung menghindarinya.  Yang terjadi kemudian adalah, anak-anak dijejali dengan pelajaran-pelajaran di luar kapasitas nalarnya. Orangtua di rumah pun tidak mau tahu. Lebih memilih membantu mengerjakan pekerjaan rumah anak daripada bersusah payah melakukan argumentasi dan berbeda pendapat dengan pihak sekolah. Sudah bukan hal baru jika banyak kebijakan dalam dunia pendidikan yang justru tidak menumbuhkan iklim kemandirian dan mengundang rasa ingin tahu anak. Karena yang jamak terjadi, makin anak tidak banyak bertanya, guru akan semakin senang, karena mengajar menjadi jauh lebih mudah dan lancar. Padahal jika mereka mau menyadari, kunci pengetahuan adalah bertanya.

Bagaimana halnya dengan situasi rumah? Dalam mengajar dan mendampingi anak, banyak orangtua yang tidak cukup sabar memahamkan tugas-tugas yang diberikan sekolah. Belum lagi jika ada perbedaan dalam menilai benar tidaknya sebuah jawaban. Guru maunya jawaban yang diberikan sesuai yang diinginkan, tanpa mencoba melihatnya dari perspektif yang lain. Sementara orangtua pun menganggap jawaban yang ia sodorkan sudah sesuai dengan konsep pengetahuannya selama ini.  Maka akan semakin tertekanlah perasaan anak. Ruang-ruang untuk saling memahami dan menerima kebenaran dari pihak lain semakin sempit. Yang terjadi bukan lagi duduk bersama mencari persamaan-persamaan dan saling menerima kebenaran sesuai sudut pandang masing-masing, melainkan berusaha saling unggul di atas yang lainnya. 

Terkadang kegelisahan silih berganti mencuat ke permukaan, yang pada akhirnya menggiring saya untuk sedikit demi sedikit–dalam skala kecil–berusaha berbuat sesuatu untuk anak-anak di lingkungan sekitar. Meskipun kelas-kelas ini berbayar, sesuai dengan standar ekonomi warga di daerah tempat tinggal kami, masih banyak yang tetap memilih tempat belajar kami sebagai alternatif  bagi anak-anak mereka. Masing-masing dalam durasi waktu kontrak belajar yang bervariasi. Ada yang hanya dua bulan, enam bulan, hingga bilangan tahun. Sampai saat ini anak-anak yang pernah singgah belajar kurang lebih berjumlah hampir lima puluh orang.

Dalam proses berjalannya waktu, apa yang menjadi harapan dan cita-cita saya tidaklah mudah. Pengetahuan, pemahaman, dan level kesadaran setiap orang berbeda-beda. Mengajak banyak orang untuk berlari bersama tentunya akan sangat sulit. Pada praktiknya, ada yang hanya mampu setengah berlari, berjalan, atau justru tidak melakukan apa-apa sama sekali.  

Apa pun usaha yang dilakukan, tujuannya satu, membesarkan anak-anak bahagia.

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *