Belajar, Belajar… Menikah

“Ketika ada yang ingin belajar tentang ilmu pernikahan, maka saya akan menggandeng tangannya dalam memulai suatu proses yang panjang. Tetapi, bila ada yang ingin menikah muda maka saya akan berada di barisan paling depan untuk memintanya berpikir ulang”

Pernyataan tersebut masih terekam dengan baik dalam ingatan semenjak 2019 yang lalu. Pernyatan tersebut saya dapatkan dari seorang narasumber yang luar biasa ketika mengikuti kelas pranikah. Salah satu kelas yang berhasil mengubah beberapa sudut pandang saya hanya dalam waktu sehari, terutama dalam hal pernikahan.

Sebelum memutuskan untuk ikut kelas pranikah seorang diri, saya telah melalui proses berpikir yang panjang. Terdengar lucu, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Menyisikan uang jajan, kemudian memutuskan untuk mengikutikelas seorang diri, bahkan beberapa kali mendapatkan pertanyaan dari orang sekitar, “memang kamu sudah mau nikah?”

Akan tetapi, dibalik perang batin tersebut terdapat kesyukuran yang berulang kali saya panjatkan. Meski pun sudah hampir tiga tahun semenjak pertama kali saya mengikuti kelas pranikah dan qadarullah saya belum dipertemukan dengan jodoh, tetapi saya tidak pernah menyesal mengikuti kelas tersebut.  Saya selalu berkeyakinan bahwa untuk satu detik ke depan saja kita tidak bisa memastikan ke mana takdir akan membawa diri ini. Bila memang suatu saat akan dihadirkan seseorang yang datang ke rumah, maka steelahnya yakin dan percaya yang menjadi prioritas perhatian utama dari calon pengantin seputaran baju seragam, katring, uang panai dll.

“Bila belajarnya bukan sekarang, ya kapan lagi? Pernahkah Anda menemukan seseorang yang telah memiliki tanggal pernikahan kemudian ia malah mulai sibuk untuk belajar tentang hak dan kewajiban suami dan isti, belajar tentang managemen rumah tangga, komunikasi suami isti, komunikasi dengan mertua, bahkan hingga pengaturan keuangan yang sering menjadi alasan utama kenaikan nada suara dalam rumah tangga. ”

Kata-kata atau ungkapan di atas sering saya gunakan sebagai tameng untuk mematahkan stigma dari orang sekitar. Beberapa dari mereka dalam keadaan sadar melabeli orang-orang yang belajar tentang ilmu pranikah dengan sebutan “ngebet nikah”. Sesekali bila malas meladeni pelabelan seperti itu, saya hanya membalas dengan candaan, berarti orang yang belajar tentang akhirat dan alam kubur adalah orang yang “ngebet mati?”

Membagikan informasi tentang pentingnya mengilmui pernikahan memang lebih sulit dibandingkan membagikan romantisasi pernikahan muda. Namun, bukan berarti hal tersebut adalah suatu ketidakmungkinan. Memahamkan bahwa pernikahan bukan hanya perihal berpegangan tangan kemudian mengunggahnya di media social, tetapi juga perihal tarikan napas panjang ketika gas dan beras habis dalam waktu yang bersamaan.

Meskipun ada yang berpendapat bahwa apa serunya suatu pernikahan bila semua hal yang akan kau hadapi telah kau pelajari sedari awal?

Tetapi kembali lagi bahwa pernikahan bukan hanya perihal seru-seruannya saja, tetapi ada dukanya pula.  Namun, daripada fokus maladeni pendapat seperti itu, meyakini bahwa untuk menjadi tenaga profesional saja seseorang membutuhkan waktu beberapa tahun untuk memperoleh gelar ahli. Lantas bagaimana untuk sesuatu yang diharapkan dapat sekali dan seumur hidup. Apakah semuanya akan baik-baik saja bila hanya bermodalkan rasa ingin memiliki satu sama lain?

Mempelajari ilmu pernikahan pun tujuan utamanya bukan untuk menghilangkan konflik dari rumah tangga, tetapi untuk meminimalisir haidrnya konflik yang dapat didiskusikan.  Bila bisa meminimalisir konflik yang akan terjadi dalam rumah rumah tangga mengapa tidak/ bukankah ketika memiliki waktu yang lebih akan jauh lebih baik untuk digunakan berdiskusi dibandingkan berdebat.

Ini hanyalah sekadar pandangan sederhana saya yang belum menikah tentang pentingnya menyadari ilmu pranikah.


Sumber gambar: Popbela.com

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *