Di Denpasar Barat, mukimku saat ini. Abiku, Sulhan Yusuf, mengirimkan buku karangannya yang terbaru, dari kota Makassar. Menurutnya, buku ini amat menarik untuk dibaca. Abi merekomendasikan bacaan ini padaku. Disertai kata-kata mutiara di halaman pertama, sekaligus bubuhan tanda tangan darinya.

Abiku menulis, “Dalam keberkahan hidup, ejalah buku ini.” Tahun ini, Maksim Daeng Litere adalah buku pertama yang kubaca dari hasil rekomendasi abi.

Aku membolak-balik buku ini. Ukurannya sangat pas dibawa kemana-mana, tidak memakan tempat. Buku terbitan Liblitera memiliki ciri yang khas dalam penerbitannya. Seperti memiliki pembatas buku (yang sudah jarang kutemui dalam buku-buku terbitan sekarang), dan lipatan, semacam kuping buku, di balik sampul depan dan belakang yang berisi kutipan. Layaknya memberi sapaan singkat atas kedatangan dan perpisahan.  

Pun sinopsis dari Maksim Daeng Litere menggunakan warna yang kontras. Dari kovernya yang dominan hijau tua, tentu ini amat memudahkan mata pembaca. Jika mengikuti terbitan dari buku- bukunya, pilihan warna kovernya amat berbeda dari dua buku sebelumnya yakni, Tutur Jiwa (2017) dan antalogi esai Pesona Sari Diri (2019) yang menggunakan kover berwana cerah. Ini seperti sampul dari buku sehimpun puisi AirMataDarah (2015), memiliki  warna yang sedikit serupa. Meski AirMataDarah dominan merah.

Sampul bukunya, menggunakan ilustrasi dari gambar tangan yang membuat kesan person to person, menggambarkan ruangan yang ditemukan di dalam hutan dengan suasana ruangan yang terpencil. Namun, begitu memiliki banyak buku di dalamnya. Bagi yang mencintai buku, sudah pasti ia akan melihatnya sebagai surga kecil. Dalam ruangan tak ditemukan siapa-siapa, jika aku berada di tempat itu tentu akan menjadi ruangan untuk menyepi. Buku-buku yang ada dalam ruangan ini layaknya kumpulan maksim, yang begitu keluar dari ruangan (menuju cahaya) menjadi tercerahkan.

Sampulnya menggunakan huruf model sarif, seperti ingin memberikan kesan klasik yang memiliki keterbacaan. Judul buku pada sampulnya pun akan timbul saat dipegang. Meski ungkapan “Don’t judge book by cover” sudah sering kita dengar, ada baiknya tidak diberlakukan lagi pada sampul buku.

Namun, ada yang mengherankan, nama pengarang dan judul pada punggung bukunya. Jenis huruf yang digunakan berbeda dengan sampulnya. Amat unik. Seunik dengan maksim yang ditulis selama 366 hari, bukan 365 hari dalam setahun.

Pada isi buku ini, ada ungkapan terima kasih (pendakuan) kepada penulis untuk keluarganya, tentang buku ini, tentang Daeng Litere yang menceritakan asal-usul siapa daeng ini. Dan prolog, dari Muhammad Nur Jabir, Direktur Rumi Institute Jakarta.

“Meski terkadang kita tidak sabar ingin langsung membaca isinya, tetap dibutuhkan untuk membaca bab-bab sebelumnya. Ini seperti bertandang ke rumah kawan bertemu dulu dengan pemiliknya”, kata seorang kawan memberitahuku.

Kumpulan maksim ini telah ditulis selama 366 hari setiap harinya di dinding beranda facebook sang penulis. Tentu bukan perkara mudah dan diperlukan tekad besar untuk membuat janji. Mudah jika berkaitan dengan orang di luar dari diri kita, tapi akan susah pada diri sendiri. Semisal menulis resolusi awal tahun yang hanya berlaku tiga hari. Tentu tak ada penilaian ‘ingkar janji’ disematkan jika hanya pada diri seorang.

            110620

“Orang yang tampak takut, di pucuk ketakutannya tersimpan keberanian. Bak pentol korek api, digesek, menyala.”

120620

“Di luar diri, boleh penuh ketidakpastian. Namun, di dalam diri harus ada kepastian.”

200620

“Ketidaksempurnaan seseorang, justru itu mengalamatkan kesempurnaannya sebagai manusia.”

250620

“Sungguh, biaya hidup cukup murah. Tetapi ongkos gaya hidup amat mahal.”

Untuk yang satu ini, aku kemudian memikirkan berapa banyak barang yang ingin kubeli, hanya karena keinginan bukan lagi kebutuhan. Bahkan yang buruknya jika sampai memaksakan diri.

Kumpulan maksim ini sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Seringnya mengetuk isi kepala dan menyentil perilaku dengan penuh guyonan serta gurauan.

Kita terkadang terlalu sibuk dengan urusan dunia yang tidak ada habisnya jika diikuti. Terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran yang membuat jenuh. Label-label yang disematkan dan ketakutan yang tidak terwujud. Dan perlu adanya kita tidak perlu melakukan apa-apa selain merenung untuk kembali melihat ke dalam diri.

Membaca buku ini seperti melihat kepingan puzzle. Maksim satu berkaitan dengan maksim lainnya. Seperti “Boleh jadi terpintar di satu bidang. Namun, terdongok pada bidang lainnya.” Yang menandakan “Ketidaksempurnaan seseorang, justru itu mengalamatkan kesempurnaannya sebagai manusia.” Membaca kumpulan maksim ini menyadarkanku bahwa permasalahan hidup hanya berputar pada itu-itu saja. Hanya solusinya yang bermacam-macam.

Hebatnya, dengan permainan kata tanpa perlu penjelasan panjang lebar layaknya buku motivasi, setiap orang bisa menafsirkan dengan caranya sendiri. Tanpa perlu digurui. Bahkan mengajak kita untuk melihat permasalahan dengan cara yang solusinya ternyata sesederhana itu. Hanya karena kita terlalu semrawut hingga susah untuk melakukannya. Namun, justru hal yang sederhana itulah pasti sukar. Bahkan kutipan maksim yang terlihat sederhana ini tentu lahir dari penulis yang memiliki kecerdasan intrapersonal, jiwa spiritual, dan kecerdasan emosi.

Maksim ini perlu dibaca dari setiap kalangan dan berbagai lini sosial. Baik pekerja maupun yang sedang menempuh pendidikan, karena ia  memiliki multitafsir yang sangat relevan dan merepresentasikan apa yang dialami.  Jika kita dapat memaknai makna dari maksim ini, boleh jadi akan membuka pikiran dari hari-hari kita yang kelabu.

Meski menggunakan kosakata yang jarang digunakan dalam sehari-hari. Maksim ini akan tetap mudah dipahami. Karena kosakatanya tidak berdiri sendiri. Penulis mampu memadu-padankan dengan diksi lain yang bisa ditangkap maknanya meski kosakatanya jarang didengar.

Judul Buku: Maksim Daeng Litere. Penulis: Sulhan Yusuf. Editor: Andi Karman. Tebal:142 hal, 12×19 cm. Penerbit: Liblitera Institute, Juni 2021. ISBN: 978-602-6646-35-4.

Nabila Azzahra

Peserta Kelas Menulis Paradigma Institute. Perancang Grafis. Alumnus Politeknik Makassar

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *