Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Korban tanpa Kurban

Gema takbir menggema, hari masih gelap, fajar masih bersiap, tapi orang-orang sudah terkesiap, mandi, dan memakai pakaian terbaiknya. Melangkah ke masjid, menyebut asma Tuhan. Di masjid, takbir diakbarkan bersama, salat ditunaikan, selanjutnya khatib naik ke mimbar, menjelaskan keutamaan Iduladha, sebagai salah satu hari bersejarah umat islam. Hari itu seorang bapak membuktikan kecintaannya pada Tuhan melebihi apa pun. Sebuah hari ketika seorang ibu melepas anaknya dengan sikap pasrah yang memuncak. Hari di mana seorang anak menyerahkan diri dengan kesabaran yang berlimpah, tatkala diajak bapaknya ke sebuah tanah lapang, dibaringkan di atas batu, untuk dipersembahkan kepada-Nya. Bapak itu bernama Ibrahim, yang dikenal sebagai penghulu para nabi. Sedang si ibu bernama Siti Hajar, perempuan tangguh di mana sejarah Makkah bermula darinya. Dan anak saleh itu bernama Ismail, yang dari hentakan kakinya meluncur air zam-zam yang tak lekang zaman.

Kini, sejarah itu berulang. Khutbah selesai, orang-orang mendatangi tanah lapang dan kebun, tempat sapi dan kambing ditambatkan untuk kemudian disembelih, sebentuk manifestasi pengorbanan seorang muslim. Hewan kurban yang disembelih itu, sebagian dagingnya dikonsumsi sendiri, sebagian besar lainnya diberikan kepada yang layak menerima: Shohibul kurban, tetangga sekitar, dan fakir miskin.

Sayangnya, kita terkadang terlalu bersemangat, hingga melupakan si miskin. Mereka lebih sering tersisihkan karena bukan keluarga. Bukan pula kerabat dekat. Kalau pun si miskin memperoleh daging, jumlahnya sama dengan mereka yang biasa makan daging. Malah terkadang, karena namanya tak masuk prioritas, daging yang diperoleh bukanlah kualitas terbaik. Saya tidak tahu bagaimana hukum pembagian porsi daging hewan kurban. Apakah mereka yang miskin, mesti diperlakukan sama dengan mereka yang berkecukupan? Bukankah sama belum tentu adil?

Lalu, untuk siapa sebenarnya kurban itu? Untuk Tuhan, diri dan kerabat dekat, atau orang lain? Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual, mengatakan dalam ibadah kurban, tercermin pesan Islam, bahwa Anda hanya bisa mendekatkan diri dengan Tuhan bila Anda mendekati saudara-saudara yang berkekurangan. Dalam Al-Quran dikatakan, … lalu makanlah sebagian dari dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian yang lain) orang fakir yang sengsara (QS 22: 28). Definitnya bagi Kang Jalal—sapaan akrab Jalaluddin Rakhmat—jika puasa mengajak Anda merasakan laparnya si miskin, maka ibadah kurban mengajak si miskin merasakan kenyang seperti Anda. Inilah yang disebut dengan Islam sosial. Islam yang peduli. Islamnya Nabi Muhammad Saw.

Semasa Nabi Muhammad saw., saban Iduladha, beliau membeli dua ekor domba. Kemudian beliau mengambil seekor domba dan meletakkan telapak kakinya di tubuh domba seraya berucap, “Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad dan umat Muhammad.” Sedang pada domba lainnya, beliau berdoa, “Ya Allah, terimalah ini dari umatku yang tidak mampu berkurban.” Sebagian dagingnya dimakan oleh Rasulullah, sebagian besarnya lagi dibagikan kepada orang-orang miskin. Nabi berpihak pada si miskin, tapi kita justru melakukan yang lain. Mengapa?

Dalam sebuah hadis qudsi, diriwayatkan bahwa kelak Allah akan mendakwa hamba-hamba-Nya, “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberiku makanan. Dahulu aku telanjang dan kalian tidak memberi-Ku busana. Dahulu Aku sakit dan kalian tidak memberi-Ku obat.” Waktu itu, yang didakwa berkata, “Ya Allah, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makanan, pakaian, dan obat, padahal Engkaulah Rabb Al-Alamin.” Lalu Tuhan bersabda, “Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, telanjang, dan sakit. Sekiranya kamu mendatangi mereka, mengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang, mengobati sakit mereka, maka kamu akan mendapati Aku di situ.”

Jadi, dahulukanlah tetangga Anda yang disebut oleh Al-Quran itu lebih layak menerima daging kurban, lalu kemudian kepada yang lain. Rasanya amat paradoks jika dalam pembagian daging kurban pun, nepotisme masih diberlakukan. Mendahulukan kerabat dekat, tinimbang si miskin. Sungguh, betapa banyak yang berkorban, tapi hanya sedikit yang berkurban.

Harus diakui, jika demikian kasusnya, kita sebenarnya masih gagal meng-ibrahim-kan diri. Meski menyembelih seribu ekor pun. Sebab masih terbelunggu egoisme sektoral. Masih mencintai “ismail-ismail” kita. Bukankah Ismail adalah simbolisasi “hambatan” bagi Ibrahim? Dengan kesedian beliau menyembelihnya, maka ia sudah membuktikan diri, bahwa tak perasaan yang melebihi cintanya pada Sang Pencipta. Melepas semua belenggu yang dapat menjerat kakinya dalam langkah menuju-Nya.

Semasa kanak-kanak, saya sering mengimajinasikan, bagaimana ketika saat itu Ismail tidak diganti dengan kibas oleh Tuhan, akankah tradisi itu akan berlanjut dengan menjadikan anak-anak manusia sebagai sembelihan kurban? Saya pasti bergidik ketika membayangkannya. Takut sekaligus ngeri. Kini, saya menyadari bahwa kurban lebih dari sekadar ritus belaka, kurban adalah simbolisasi dari sebuah pesan.

Hal tersebut dengan sangat apik dijelaskan oleh Ali Syariati, seorang cendekiawan dari Iran dalam bukunya Hajj, “Kini engkau akan berperan sebagai Ibrahim. Ia membawa anaknya Ismail untuk dikorbankan. Siapa atau apa yang menjadi Ismailmu? Jabatan, kehormatan, atau profesimukah? Uang, ladang pertanian, mobil, cinta, keluarga, pengetahuan, kelas sosial, seni, pakaian, ataukah nama? Bagaimana aku mengetahuinya? Engkau sendiri yang mengetahuinya. Siapa pun dan apa pun engkau harus membawanya untuk dikorbankan, tetapi aku dapat memberimu petunjuk.”

Lebih jauh, beliau menohokkan ujarnya, “Yang harus kau korbankan adalah segala sesuatu yang melemahkan imanmu, yang menahamu melakukan ‘perjalanan’, yang membuatmu enggan memikul tanggung jawab, yang menyebabkanmu bersikap egoistis, yang membuatmu dapat mendengarkan pesan dan mengakui kebenaran dari Tuhan, yang memaksamu untuk ‘melarikan diri’ dari kebenaran, yang menyebabkanmu berkilah demi kesenangan, yang membuatmu buta dan tuli. Engkau berada di maqam Ibrahim, dan yang menjadi kelemahan Ibrahim adalah perasaan cintanya terhadap Ismail. Ia digoda setan.”

“Bayangkanlah dirimu berada di puncak kehormatan, penuh dengan kebanggaan dan hanya ada ‘satu hal’ yang demi hal itu engkau menyerahkan apa pun dan mengorbankan kecintaan lain demi meraih cintanya. Itulah Ismailmu! Ismailmu bisa berwujud manusia, objek, pangkat, jabatan, atau bahkan ‘kelemahan’. Namun bagi Ibrahim maka kurban itu adalah anaknya.” Tegas Syariati, Sang Rausyan Fikr.

Berkurban adalah mendekatkan diri pada Tuhan dengan mengakrabi hamba-hamba-Nya yang lemah. Tak berdaya. Jadi sudah seyogianya para pelaku ibadah kurban, sudah menyembelih sifat-sifat hewani dalam diri sebelum pisau memutus urat leher hewan kurban. Al-Qur’an sudah menegaskan, bukan darah dan daging kurban yang naik ke langit menjumpai Tuhan, melainkan takwa. Maka bertakwalah dengan mendahulukan orang-orang lemah dan miskin. Bertakwalah dengan meninggalkan dan menanggalkan segala pakaian dan atribut keduniawian yang dapat membuatmu berpaling dari Sang Kekasih. Sembelihlah hewan kurbanmu. Sembelih pulalah “Ismail” dalam dirimu. Itulah sebaik-baik kurban. Wallahu a’lam bissawab.

Sumber gambar: Islamkita.co

The following two tabs change content below.

Ikbal Haming

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.

Latest posts by Ikbal Haming (see all)