Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Bendera Tanpa Tiang

“Kemerdekaan sejati, bebas dari terungku dunia.Pucuknya ada di kewafatan paripurna.” (Sulhan Yusuf, Maksim Daeng Litere)

Seraut wajah murung, berdiri tegap di atas tanah sendu yang meminjamkan punggungnya diinjak dan dibajak. Ia mengendus bau tanah dengan kesedihan yang terpendam, dan sisa-sisa anyir darah yang menyeruak. Di hadapannya terbayang tegak membisu, sebatang bambu yang merelakan diri berpisah dari rumpunnya.

Di kepalanya, berkibar secarik kain merah putih dan sedikit ingatan, teriakan-teriakan “merdeka”. Setelahnya, erangan kesakitan, serapah, dan balada kematian yang memenuhi cakrawala. Sang saka menari-nari di genggaman langit. Berkilau. Bersahaja bak senyum para syuhada yang mati ditembaki kompeni.

Lalu, lelaki itu meresapi bunyi semilir angin, yang berarak mengabarkan cerita-cerita heroik pada anak-anak kecil yang asyik bermain layangan di pesisir pantai. Tempat di mana tanah ini mengerami luka, sebab yang dijanjikan kepadanya belum tunai. “Kemerdekaan!”

Tujuh belas Agustus tempo hari, satu-satunya hari di mana kita merasai kemerdekaan. Paling tidak, menghadirkan semangat kemerdekaan yang diwariskan dari masa ke masa. Sedang, esok hari dan setelahnhya, kita harus kembali mengais-ngais makna kemerdekaan di antara sampah-sampah yang berserak di laut. Mesti menyuling dengan teliti arti merdeka dari limbah-limbah pabrik yang menghias sungai-sungai. Urat nadi tanah ini.

Hari ini dan esok hari, kita masih harus mempertanyakan, bagaimana itu merdeka? Kata orang keadilan masih dilelang di meja-meja hukum. Semakin tinggi jabatanmu, kian banyak duitmu, keadilan akan menjadi milikmu seorang sayang. Sungguh. Percayalah! Peduli lacur dengan benar dan salah. Begitulah di negeri ini, keadilan hanya milik segelintir orang saja.

Ketika kita merayakan tujuh puluh enam tahun usia kemerdekaan, kasus korupsi negeri ini masih melejit. Menggurita melilit tubuh renta tanah ini. Rakyat diam saja. Tak berdaya. Sembari mencoba tetap percaya pada pemerintahnya. Pada wakil-wakilnya. Meski kita semua tahu, banyak dari mereka penipu.

Mahbub Djunaidi pernah bilang dalam buku Kolom Demi Kolom, bagi para pemerintah kita, yang berkuasa, tersedia pilihan-pilihan yang menegangkan. Coba-coba menjadi pahlawan atawa menjadi penipu. Jurusnya berbeda-beda. Yang satu menyemai keuntungan, yang satunya lagi merampok keuntungan. Yang satu bekerja untuk orang, yang lain menggiring orang bekerja untuknya.

Pahlawan kata Mahbub, “Berpegang pada tali kalbunya, bagai tabiat orang Badui. Penipu menyimpan cakar-cakar rahasianya yang sukar diduga, tapi terasa berbisa.” Mahbub mestinya tahu, dewasa ini, penipu-penipu itu punya jurus-jurus menampilkan diri sebagai pahlawan. Mereka bisa tampak saleh. Beragama. Bermoral. Jujur.

Kita terkadang tak bisa membedakan, apakah ia penipu atau bukan. Sebab kata-katanya terlalu manis. Penuh rasa simpati. Pun kadang-kadang meminjam dalil-dalil yang mendukung kepentingannya. Raut wajahnya jua bisa diganti-ganti sekehendak hati, yang penting menutupi wajah bopeng dan culasnya.

Hari ini kita tak lagi bisa berkata pada pejabat kita, seperti yang dilagukan Iwan Fals, “Urus saja moralmu. Urus saja akhlakmu. Pemerintahan yang sehat, yang kami mau.” Sebab kata-kata kita diawasi banyak mata tak terlihat. Dijerat UU. Pembuat mural, “Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit, 404 Not Found, Tuhan Aku Lapar”, dicari-cari. Dituduh kurang ajar pada tuan-tuan kita. Mereka buron macam koruptor. Lambat laun bakal dicap teroris. Kalau dipikir-pikir lucu juga. “Tuhan Aku Lapar”, pembuatnya ngeluh sama Tuhan. Lah kok, yang tersinggung bapak-bapak? Jangan-jangan, bapak-bapak ini merasa dirinya Tuhan yah.

Kita harusnya bangga, bakat kesenian masih diwariskan Tuhan kepada anak-anak bangsa kita. Apa salahnya kalau mereka mengekspresikan kritiknya? “Hampir disemua tradisi Nusantara, pujian itu sifatnya membunuh. Mestinya yang dihapus itu pujian. Karena itu tempat para penjilat, yang belum tentu mencintai NKRI,” kata Sujiwo Tejo ketika menjadi narasumber di TV One. “Justru yang di tempatkan di pelopor kencana, di tempat emas, adalah kritik,” lanjutnya.

Ataukah, tuan dan puan sekarang anti kritik? Otoriter dong. Semoga tidak. Kami masih percaya, kelucuan itu hanya ulah segelintir oknum yang memang tak pernah tuntas di sekolah. Tak pernah belajar berdinamika dan berdialektika di organisasi-organisasi. Sehingga punya ketersinggungan yang cukup kronis.

Padahal kata-kata tersebut, cukup berdasar. Masih banyak orang-orang kelaparan berkeliaran di sudut-sudut negeri kita yang merdeka 76 tahun lamanya. Masih ada orang-orang tua buta tak terurus dinas sosial. Anak-anak mulung putus sekolah. Masih Ada. Masih banyak.

Cobalah tuan dan puan sesekali turun ke jalan. Ke pelosok-pelosok negeri ini. Cari mereka. Sebab kemerdekaan adalah hak seluruh rakyat Indonesia. Tuan jangan duduk saja dengan santai di gedung berpendingin. Menggulir gawai dan mencari cari proyek apa lagi yang bisa disunat.

Esok hari dan lusa nanti, kita harus mencari lagi arti kemerdekaan di celah-celah bulir keringat buruh tani negeri ini. Mereka kerap dibuat bekerja kasar dengan gaji minimum, syukur kalau dibayar. Sedang para pengusaha mulai mendatangkan “tukang sapu” dari negeri asing. Begitulah, lambat laun kita menjadi asing di negeri sendiri. Sawah dan kebun-kebun kita ditanami gedung-gedung, pabrik-pabrik penuh limbah yang merusak lingkungan.

Tanah tanah-tanah kita, masih dihabisi isi perutnya. Dijual pada korporasi asing. Dijual tuan-tuan kita yang licin dan licik. Mereka itu, mengambil banyak sekali dari kita. Hutan kita digunduli. Laut kita diracuni. Sungai kita dimatikan. Tanah kita dirusak. Lalu, bola api kesalahan bakal dilempar kepada rakyat. Kita rakyat, selalu salah di hadapan tuan-tuan itu. Tak lagi dilihat orang, kecuali kita menguntungkan bagi mereka. Di hadapan hukum, kita kecil bagi tuan besar.

Tak perlu kaget, dalam majalah Pitutur yang pernah saya baca, mungkin ini akibat kita terjajah terlalu lama, hingga bertumbuh jiwa marsose kompeni yang suka menjajah rakyat sendiri. Menjadi mentalitas bangsa kita. Ditambah lagi, dengan tulus kita mencaplok mentalitas korup VOC. Jiwa-jiwa bar-bar kompeni.

Benar kata Presiden kita yang pertama, Bung Karno. Hari ini, perjuangan kita bakal lebih sulit. Kita bakal melawan bangsa sendiri. Kadang keluarga sendiri. Melawan teman sendiri. Melawan rekan kerja sendiri. Tetapi, kemerdekaan harus tetap diisi. Harus dilanjutkan. Meski kita hanya merasakan kemerdekaan hanya sehari saja, 17 Agustus tok.

Esok hari dan lusa nanti, kita harus berjuang kembali. Memerdekakan jiwa-jiwa kita dari cengkraman kemiskinan, ketidakadilan, kapitalisme, barbarisme, apatisme, dan semua isme-isme lain yang mengancam negeri ini. Yang mengancam Pancasila. Selama merah putih masih berkibar di kepala tiang-tiang yang terpancang di atas tanah ini, kita harus merdeka. Harus berbahagia. Harus berjuang lebih keras dari sebelumnya.

Lelaki itu, mengorek-ngorek tanah, air matanya jatuh menimpa sehelai rumput yang kering. Ia baru sadar, sedari tadi bendera itu berkibar tanpa tiang. Diterbangkan angin. Ditarik kemana-mana sesuai kepentingan. Tak ada tiang rasa iba dan simpati. Hanya kerakusan yang mencuat. Egoisme yang membatu.

Sejak lama bendera itu berkibar tanpa tiang. Tiang keadilan dilelang. Tiang kebebasan direnggut. Tiang persatuan diremuk. Tiang demokrasi dicabik-cabik. Tersisa satu tiang penyangga negeri ini, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Yang ini pun mulai diacak-acak.

Tiang ini harus dicari. Dijaga. Dipasak dalam jiwa-jiwa kita semua. Agar merdeka yang sebenar-benarnya merdeka dapat diraih. Sebagaimana petuah Daeng Litere di awal, “Kemerdekaan sejati, bebas dari terungku dunia. Pucuknya ada di kewafatan paripurna.”

Lelaki itu, memandang langit. Melintasi bintang-bintang. Memandang ke laut, mengarungi samudera tempat perahu Gajah Mada berlayar di masa lalu. Memandang ke tanah, melihat tulang-tulang yang berserak. Tubuh-tubuh yang terkubur. Memandang ke dalam dirinya. “Ke mana lagi aku mencari arti kemerdekaan? Kebebasan yang mengorbankan 4 sampai 5 ribu jiwa?”

Ilustrasi: Masvian.com

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)