Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Menghadapi Anak Hiperaktif itu Butuh Kesabaran Super, itu Bukan Penyakit

Seorang anak perempuan jadi korban kebodohan orangtuanya karena lebih memercayai halusinasi yang diciptakan kepalanya, daripada kenyataan bahwa yang ia lakukan adalah satu jenis kekerasan yang sebenarnya mudah dicerna akal sehat. Sang ibu bersikeras mencongkel bola mata anaknya menganggap si buah hati sedang kesurupan setan jahat. Itu disebut kebodohan karena ia melihat mata sang anak seperti  saat melihat penampakan hantu. Untung saja aksi kleniknya itu dicegah sang paman, dan segera melarikannya ke rumah sakit untuk mengobati kesakitan matanya yang berlumuruan darah.

Kejadian di Tinggi Moncong, Gowa, Sulsel ini segera naik tayang di beberapa media. Di layar kaca, anak perempuan berusia 6 tahun ini  terlihat ketakutan sambil bermain handphone di dalam dekapan seorang pria. Kejadian aneh itu disinyalir karena sang ibu sedang mendalami ilmu hitam dan berusaha menyelamatkan sang anak dari kerubungan makhluk halus di dalam matanya. Malangnya, tindakan di luar akal sehat itu dilakukan juga bersama suami dan kakek nenek korban

”Dengan melihat di mata korban ada benda sesuatu dan ibu korban mengambil dengan tangannya, mencongkel terhadap anak,” ungkap Boby, Kasat Reskrim Polres Gowa, seperti di lansir detik.com.

Usut punya usut aksi irasional sekeluarga itu juga telah memakan korban. Kakak korban, berumur 22, sebelumnya dinyatakan tewas setelah pembuluh darahnya pecah dicekoki dua liter air garam oleh kedua orangtuanya.

Belum lama, beberapa minggu lalu, seorang anak juga menjadi korban praktik perdukunan. Ia tewas direndam untuk menyembuhkan penyakit, yang dikatakan tak mau diam dan sulit diatur. Si anak bertindak demikian setelah diyakini menjadi korban genderuwo. Anak yang sudah jadi mayat itu lalu ditidurkan agar ia bangkit kembali, yang dikatakan sang dukun akan sembuh dengan sendirinya, dan bermain seperti biasa. Malang, sang anak tidak juga siuman meski kedua orangtuanya telah bersabar merawat tubuhnya selama empat bulan menggunakan tisu hingga kurus tinggal tulang dan kulitnya saja.

Selama itu, orangtua si anak malang telah dibuat mirip seseorang yang terhipnotis akal-akalan sang dukun yang tidak jelas latarbelakangnya itu, sebelum disadarkan kakek nenek korban yang datang beberapa bulan kemudian. Pasca mengecek isi berita ini, terkuaklah sang anak sebenarnya tidak sakit apa pun, ia hanya mengalami apa yang dalam ilmu psikologi perkembangan anak disebut anak hiperaktif.  

Saya ceritakan peristiwa ini kepada Lola, istri saya, yang kebetulan berlatarbelakang ilmu psikologi, dan meminta tanggapannya. ”Menghadapi anak hiperaktif itu butuh kesabaran super, itu bukan penyakit dan jika ada kendala dalam menghadapinya datangilah psikolog anak, bukannya dukun begitu.” Jawaban yang sudah saya duga sebelumnya.

Anda bisa mencari dan menemukan bentuk-bentuk praktik klenik dilakukan masyarakat, yang seringkali dimuat ke dalam kolom berita berbau kriminal dikarenakan hampir semuanya menggunakan cara kekerasan, penipuan, dan  pemerkosaan. Semua itu, akan jauh lebih aneh jika Anda menemukan cerita serupa seorang pemuka agama misalnya, yang mencabuli banyak perempuan hanya karena merasa ia adalah wakil tuhan dan dapat melakukan apa saja, kepada siapa saja, tanpa ada yang berani menolak tindakan cabulnya. Atau, praktik perdukunan yang menggadang korbannya agar dapat menjadi miliarder hanya dengan menyembunyikan uang ke dalam gentong tanah liat, dan uang tebusan akan menggandakan dirinya sendiri sama seperti amuba dari jumlah semula, lima, sepuluh atau seratus kali lipat lebih banyak.

Beberapa tahun lalu, seorang teman pernah mengadukan nasib saudaranya yang mengalami semacam gangguan mental. Ia membawanya ke Makassar dari sebuah kampung untuk mencari solusi terbaik bagi saudaranya yang saat itu seperti sedang mengalami trans, jika dikataan bukan seperti orang yang baru saja terlihat menggunakan ganja. Kesadarannya seperti teralihkan dari benda-benda di sekitarnya. Jika ia sedang duduk seolah-olah ia tidak sedang duduk, maksudnya, ia terlihat tidak sedang berada di sana. Jika ia ingin makan, yang sebenarnya ia tidak pernah berbicara hanya untuk mau makan, misalnya, maka saudaranyalah yang memberikannya makan. Mandi, buang hajat, ganti pakaian, dan aktivitas semacam itu tidak pernah ia lakukan sendiri. Hidupnya seperti tidak berada di situ. Seandainya tidak diberi makan, mungkin saja ia akan puasa selamanya sehingga tanpa kami ketahui, ia akan menghilang dari tempat duduknya sama seperti ketika Patih Gajah Mada moksa saat semedi.

Setelah dibuat kaget oleh gelagat aneh saudaranya, berceritalah teman saya ini dengan nada suara seperti sedang menahan sesuatu di lehernya. ”Dia begitu setelah mendalami ilmu kebatinan. Di kampung ia juga ahli bela diri”. Pantas saja, saudaranya ini selalu terlihat sedang mengambil ancangan jika melihat orang yang sepadan sebagai lawannya.  Sejak itu dugaan saya tidak jauh meleset, orang yang dibawa teman saya ini adalah cerita yang sering kita dengarkan kisahnya di kampung-kampung, yakni seseorang yang bersikeras mengejar ilmu kebatinan demi kesaktian tertentu. ”Jadi saya membawanya ke sini mencari orang pintar untuk bisa mengobatinya”, kata teman saya lagi.

Perlu Anda ketahui, yang dimaksud orang pintar oleh teman saya ini bukan pintar dalam arti akademis seperti kecerdasan akal budi yang dimiliki para ilmuwan, yang banyak menghabiskan waktunya di dalam laboratorium, atau golongan intelektual yang banyak ditemukan dalam masyarakat ilmiah, melainkan orang pintar dalam arti klasik dan kuno, yakni seseorang yang memahami dengan baik struktur dunia mistik dan pengalaman langsung dunia spiritual sama seperti ia memahami dengan baik ilmu-ilmu agama.

”Ia sudah agak susah disembuhkan. Pikiran dan jiwanya sudah tidak di sini.” Kata seseorang yang kami ketahui memiliki kualitas ilmu spiritual yang mumpuni.

Fenomena-fenomena klenik semacam ini menandai bahwa di sekitar kita ada hal-hal yang belum sepenuhnya dapat diterima berdasarkan kemampuan berpikir logis. Struktur pemaknaan yang digadang-gadang akan lebih baik jika dapat dijelaskan melalui cara berpikir rasional dan sains, belum dapat menjadi tradisi yang melandasi cara hidup masyarakat.

India, di masa lalu, ketika bersedia memasuki era baru setelah meraih kemerdekaan, merancang satu jenis cara hidup melalui harapan Jawaharlal Nehru pada tahun 1946, perdana menteri India pertama, yang disebut scientifik temper (perangai ilmiah). Dorongan ini bukan dikhususkan untuk ilmuwan India pada saat itu, melainkan desakan universal bagi semua rakyat India agar menghidupkan sikap yang mempertanyakan segala sesuatu, tidak menerima gagasan tanpa adanya bukti, serta disiplin menggunakan akal pikiran, dalam kehidupan sehari-hari. Ini seakan-akan setiap rakyat India bakal membuat kehidupan sehari-harinya persis sama seperti seorang ilmuwan yang bahagia saat menghadapi kemunculan data-data baru dari eksperimennya. Mereka melihat dunia tidak dengan sikap ignorant karena pengaruh tradisi dan mitos, tapi terdorong untuk mencari tahu apa sebab musabab di balik sesuatu yang sedang mereka hadapi.

Sains dan teologi, atau metafisika tidak akan mudah berjalan dalam satu masa yang sama. Ketika sains menyinsing itu akan membuat kepercayaan yang masih bersandar kepada metafisika atau teologi akan segera pudar, dan membuat masyarakat akan serta merta menyembah agama baru yang disebut agama kemanusiaan, yakni suatu kepercayaan ilmiah sekuler dan dengan percaya diri mengandalkan kemajuan teknologi sebagai perangkat utama kebutuhan masyarakatnya.

Masa ini adalah masa yang sebenarnya sudah dideklarasikan oleh seseorang bernama August Comte di masa pencerahan Eropa beradab lalu, karena keyakinannya menyangkut kemampuan akal budi manusia di masa depan akan dengan sendirinya mandiri dari kekuatan-kekuatan eksternal berupa agama dan metafisika. Kekuatan metafisika dan agama, terutama yang diwakili ke dalam institusi agama, saat itu tidak sama sekali bergairah membawa kesadaran masyarakat ke tahap yang lebih tinggi. Kesadaran hanya perlu percaya dengan kemampuan dirinya saja jika ia mau menguak tirai metafisika dan agama, sehingga dengan leluasa akal budi akan dengan riang gembira dapat mengetahui sesuatu dengan apa adanya tanpa embel-embel spiritual apalagi dogma.

Tapi, keyakinan August Comte itu tidak sepenuhnya benar dikarenakan perkembangan akal budi yang ia katakan akan semakin dewasa tidak berlaku universal. Di beberapa bangsa, meskipun cara hidup mereka berdampingan dengan benda teknologi, perkembangan informasi kian massif, dan institusi politik makin modern, tidak berarti di tempat itu mengalami perkembangan akal budi yang signifikan untuk menyadarkan manusia agar terbuka dan kritis terhadap sesuatu. Ada kemungkinan ambisi August Comte hanya berlaku di belahan bumi barat yang berarti menyisakan negeri-negeri di seberangnya, yang masih hidup dengan tradisi, atau gaya berpikir berbalut mistisisme.

Kelak, upaya yang diumumkan August Comte ini tidak sama artinya dengan keyakinan positivistiknya sebagai agama universal. Justru keyakinan baru ini akan mendapatkan perlawanan sengit dari pandangan sebelumnya yang berusaha membuat suatu perubahan masyarakat berjalan bagai bekicot di dahan pohon.

Di sisi lain, ada yang melihat scientifik temper adalah juga keharusan bagi siapa saja yang tidak ingin terjebak ke dalam kehidupan serba mitos. Mitologi adalah sumber pencarian dan pemaknaan manusia yang belum dewasa dalam mengungkapkan isi pikirannya sendiri, yang berarti perkembangan itu sudah seharusnya tidak terjadi lagi di masa kini. Masa sekarang kompleksitas dunia tidak sesederhna masa lalu yang hanya selesai jika itu diwakilkan kepada juru bicara semisal pemuka agama atau kepala adat. Sekarang setiap masalah global adalah masalah manusia itu sendiri, yang membuat setiap orang mesti dapat mempertanggungjawabkan sendiri kualitas pikiran dan pendapatnya.

Keyakinan semacam ini didasarkan kepada kenyataan bahwa berpikir logis juga bisa diterapkan di mana saja, oleh sebab aturan main yang dinyatakan Nehru adalah sesuatu yang mampu dikerjakan melalui otak manusia. Dengan kata lain setiap manusia yang berotak, entah ia hidup jauh di pedalaman hutan Amazon atau berada di pusat kota Sidney, sama-sama memiliki kemampuan yang sama untuk mengendalikan pikirannya berdasarkan kaidah-kaidah penarikan kesimpulan yang benar. Ia hanya perlu belajar bagaimana hukum-hukum berpikir logis daripada lebih mudah percaya kepada jebakan-jebakan halusinasi yang kerap datang di dalam prasangka tak berdasar.

Halusinasi hanyalah menghasilkan prasangka atau sebaliknya, tapi tidak dengan cara berpikir logis yang dalam perkembangan sejarah peradaban menghasilkan suatu produk pemikiran dan teknologi yang belum pernah dicapai sebelumnya. Sains, meskipun lebih progressif dari bidang ilmu lainnya, bukan berarti adalah segalanya. Ia memiliki metode khusus yang tidak bisa dipakai di segala situasi. Meskipun sains lah belakangan yang banyak berperan membantu cakrawala pikiran manusia jauh lebih berkembang, tetap saja ia masih memiliki kekurangan jika dilihat dari kemampuannya yang tidak mampu menjangkau sisi-sisi tak tampak di belakang setiap fenomena.

Dunia Islam di masa lalu, seorang saintis tidak pernah sama sekali merasakan keimanannya guyah hanya karena di dalam pengamatannya tidak melihat langsung Tuhan dalam setiap eksperimen proses alamiah alam. Justru mereka lebih terdorong untuk menyelidiki rahasia alam karena termotivasi menyangkut ketepatan, presisi, dan keseimbangan antara unsur dan zat dari suatu kecerdasan maha agung yang tidak main-main dalam merancang alam semesta. Sains bagi ilmuwan muslim adalah kerangka berpikir yang membingkai cara kerja alam luar alam semesta, sementara iman adalah narasi lain yang bekerja secara misterius pada dunia dalam diri seseorang.

Sebagai salah satu model pencarian kebenaran kadang kala malah menjadi pintu masuk dari ide-ide Barat yang cenderung ambivalen dengan semangat kesadaran dari apa yang sudah ada dari suatu bangsa. Barat yang rasional dan empiris, sementara Timur yang lebih intuitif bukan dua dunia yang saling bertolak belakang, melainkan dapat saling membidangi sisi-sisi dan berbagi kontribusi yang sama di dalam dimensi kehidupan manusia.

Itu artinya, bidang-bidang kehidupan yang sejak dahulu berkaitan dengan kebutuhan praktis dan kontekstual manusia, merupakan bidang sains yang lebih spesifik mampu menjawab kebutuhan manusia yang lebih mendesak. Sementara di dalam wilayah kehidupan manusia yang berkaitan dengan pemaknaan dan tujuan hidup merupakan bidang kajian ilmu lainnya.


Sumber gambar: www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/03/17/n2kutd-ilmuwan-islam-kerap-diremehkan

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).