Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Belajar Melepaskan Beban

Sekian tahun hidup dan menerima transfer pengetahuan dari guru-guru yang berbeda, saya diberitahu mesti melakukan ini dan itu. Dari guru-guru bangku sekolah dan guru-guru tanpa suara alias buku-buku, mereka semua mengajar dan menuntunku dengan cara yang sama. Saya pun belajar, oh, seperti itulah caranya mengajar agar seseorang bisa berubah. Tahun demi tahun pun berlalu. Mencuatlah ego di sana. Ingin menghentikan usaha karena melihat hasil yang biasa-biasa saja. Akan tetapi hasrat berbagi dan menebar hal-hal baik dan bermanfaat tidak pernah surut. Saya pun menyadari telah melupakan sebuah jalan, jalan ketulusan yang berbicara dan bertindak atas dasar cinta. Bukan kerja yang menuntut balas berupa hasil.

Setiap hari setiap saat guru mata pelajaran mengajar. Ia tentu saja berharap sebuah hasil, berupa kumpulan anak-anak yang memahami apa yang telah diajarkan. Terkadang jika ada di antaranya yang belum paham, guru pun gusar, bahkan terkadang hilang kesabaran. Demikian pula yang jamak terjadi dalam kehidupan rumah. Orang dewasa atau orangtua ingin semua berjalan sempurna sesuai maunya dan keinginannya. Mereka menciptakan sebuah hukum tak terbantahkan, kala orang dewasa mengajari anak-anak, maka yang diajar harus bisa memahami sesuatu yang diajarkan tersebut. Mereka merasa punya hak untuk bereaksi dalam beragam bentuk sebagai ungkapan kekecewaan jika semua harapan itu tidak terwujud. 

Kekecewaan yang hanya berfokus pada KAMU. Tanpa mencoba melihat pada diri yang ada di dalam, AKU. Apakah ada yang keliru atau kurang tepat dalam cara saya mengajari mereka? Inilah salah satu bentuk paradoks dan ketidakadilan dalam dunia anak-anak.

Saya kemudian teringat sebuah penggalan masa kecil saya, masa-masa awal duduk di bangku Sekolah Dasar. Setiap kali bapak mengajari saya Matematika, saya pasti menangis. Ujung-ujungnya, poses belajar-mengajar pun terhenti di tengah jalan. Saya mafhum, saat itu kedua orangtua kami masih berproses bagaimana menjadi orangtua dan guru yang baik dari waktu ke waktu. Dalam tangis yang tertahan, jiwa kanak-kanak saya berontak, mempertanyakan, apa yang salah pada diri saya yang tidak kunjung paham pelajaran tersebut?

Hingga tiba pada suatu waktu yang tidak terlalu jauh jarak kejadiannya. Ada sebuah peristiwa kecil yang cukup terekam kuat hingga dewasa ini dalam kehidupan saya. Saya si anak baru, pindahan dari kampung kecil, merasa mulai bisa beradaptasi dengan suasana kelas yang baru. Mulai mendapat teman baru, juga mengenali suasana sekolah dengan lebih baik. Tiba-tiba sebuah kejadian kecil yang tampak sepele, namun mampu memorak-morandakan perasaan kanak-kanak saya ketika itu. Bapak guru yang sementara mengajar pada waktu itu tiba-tiba melemparkan kapur tulis warna putih ke arah kami, saya dan teman sebangku. Gara-gara saya menertawai seorang teman yang kelihatan kocak karena dimarahi guru. Belakangan saya mengetahui jika sayalah yang disasar oleh lemparan kapur tersebut.

Jiwa kanak-kanak saya berontak, sedih, marah bercampur jadi satu.  Pulang ke rumah saya menangis, dan akhirnya merajuk tidak ingin lagi kembali ke sekolah. Waktu itu awal saya duduk di bangku SD kelas empat. Beruntungnya, bapak bisa memahami kondisi batin saya. Dengan menggunakan seribu satu cara membujuk, akhirnya orangtua berhasil mengembalikan saya ke sekolah, tetapi dengan satu syarat, saya harus pindah kelas, yang berarti pula berganti guru wali kelas. Memang itulah yang saya inginkan. Selanjutnya kisah-kisah suka dan duka terus bergulir, menyisakan kenangan yang campur aduk. Akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Sungguh tak terhitung ragam interaksi yang terjadi antara pengajar dan yang diajar dalam dunia ini. Umumnya mengerucut pada dituntutnya sebuah hasil sebagai efek dari aksi ajar-mengajar tersebut. Padahal seandainya semua pihak bisa memahami dan menyadari, ada formula ampuh di balik itu, maka tentu tindakan dan sikap mereka akan jauh berbeda.  

Belajar hidup seperti matahari

Setiap hari matahari tersenyum memberikan cahayanya dengan melimpah, tanpa pernah berharap manusia, pohon, dan lautan memberikan balasannya. Hendaknya manusia pun seperti itu. Formula sederhananya adalah, kita hanya perlu berbuat baik. Mengajarlah dengan sebuah harapan, orang tersebut akan memahami. Tetapi jika ia tidak juga paham dan bertindak sesuai harapan kita, maka lepaskanlah ia berproses. Mungkin belum saatnya. Jika waktu tersebut telah tiba, tentu semuanya akan terjadi dengan mudahnya. Bahkan Tuhan pun sudah mengingatkan, bahwa manusia hanya diperintahkan untuk berbuat baik dan menjalani prosesnya. Soal hasil, serahkanlah pada kehendak Sang Maha Pencipta.  

Para Bapak dan Ibu Guru, ajarlah anak-anak kita, tetapi jika mereka berjalan tidak sesuai harapan, teruslah mengajar mereka. Tambahkan sedikit metode, lakukan pendekatan yang berbeda sesuai dengan kecenderungan minat dan karakter mereka. Tetaplah tenang, tetaplah bergerak melakukan hal-hal yang dapat menggugah mereka.

Para orangtua, Ayah dan Ibu, berbicaralah dari hati ke hati dengan anak-anak kita, juga dengan pasangan kita. Karena hati memiliki kekuatan setangguh gunung-gunung. Yang tidak mudah roboh karena serangan sebuah dinamit kecil. Apalagi hanya karena sebuah penolakan dari belum siapnya mereka menerima perubahan.

Jika di awal tulisan ini saya sampaikan, saya sekian lama telah diajar dan belajar dari guru-guru sekolah saya bertahun lamanya, maka pada usia jelang separuh abad saya menikmati hidup, saya dipertemukan dengan guru sejati dalam kehidupan ini. Ialah kitab kebajikan yang memberiku pemahaman, bahwasanya mengajar tanpa beban dan tuntutan, ibarat memberi tanpa berharap imbalan. 

Anak-anak dan orang-orang di luar sana berada dalam pengawasan dan tanggungan Sang Khalik. Sebagai sesama manusia kita hanya diminta saling menasihati dan mengingatkan. Selebihnya adalah urusan Tuhan. Maka janganlah bereaksi berlebihan jika ada keinginan yang tidak terwujud, memuntahkan caci-maki pada sekelompok orang yang menolak ajaran dan ajakan kita, atau menunjukkan kemarahan dengan cara-cara di luar nalar kemanusiaan.

Karena sesungguhnya kita ini sedang memperjuangkan apa?  

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).