Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Mengasuh Karunia

Pada tanggal 15 November, lebih dari dua dasawarsa lalu, seorang anak kami lahir dalam keadaan sehat mental dan fisik. Tumbuh lucu dan menggemaskan walaupun tidak segemuk anak-anak dalam iklan produk yang ditampilkan oleh produsen makanan bayi di masa itu. Bersyukurlah kami menyayanginya sepenuh hati dengan apa adanya ia. Saya pun hingga detik ini meyakini besarnya rasa kasih sayang setiap orangtua pada anak-anaknya. Adapun mereka yang berbeda, tentu ada sesuatu yang menjadi sebabnya. Mungkin ada ketidakberesan dalam jiwanya, yang butuh untuk dibereskan dan dicari akar masalahnya.

Ia memiliki jiwa pengasih bukan hanya pada orang-orang terdekatnya, namun juga pada mahkhluk hidup lainnya. Ia pun sangat menonjolkan rasa sayangnya pada tanaman dan hewan-hewan peliharaan. Pada usia kanak-kanaknya, ia seringkali kami dapati sedang berbicara bahkan mengobrol dengan kucing-kucing dan kelinci-kelinci yang kesemuanya itu pernah menjadi penghuni tambahan di rumah. Mereka bukan hanya diberi kandang khusus, makanan secara rutin, tetapi juga nama-nama yang lucu dan unik. Belakangan, ia mengembangkan dan melengkapi pengetahuannya dengan membaca buku The Secret of Animal Minds Komunikasi Telepatis yang Membuka Pintu Menuju Pikiran dan Perasaan Hewan Peliharaan Anda. Dalam pengamatan kami, ia memililki kecerdasan natural, intra-personal, dan linguistik. Kami pun pasrah dan senang saja ia memberi julukan nama tambahan pada masing-masing kami, kakak, adik-adik, dan orangtuanya dengan panggilan khusus yang apabila dicari artinya dalam kamus mana pun tidak akan ketemu. 

Buah hati kami ini mampu membaca nanti di usia Taman Kanak-Kanak. Berbeda dengan kakaknya yang sudah kami kenalkan dengan metode membaca Glenn Doman pada usia tujuh bulan. Mengapa saya mengajarinya dengan cara yang berbeda, karena hasil yang kurang maksimal pada percobaan si kakak sebelumnya. Bukan metodenya yang salah, namun saya yang tidak konsisten mempraktikkannya, ditambah perasaan ingin segera menguji hasilnya. Akibatnya cukup fatal. Anak jadi mogok, tidak mau lagi melanjutkan prosesnya. Wallahu a’lam.

Namun, lagi-lagi kami bersyukur, keduanya tumbuh dalam iklim sangat mencintai buku-buku. Walaupun tergolong “lambat” bisa membaca. Menjelang masuk SD barulah ia lancar bacanya. Lambat dalam arti tidak sesuai harapan saya ketika itu, yang menetapkan target saat usia dua tahun sudah lancar membaca. Beruntungnya pula, era digital belum merasuki dunianya. Sehingga anak-anak masih bebas mengembara bersama tokoh-tokoh dalam imajinasi-imajinasi mereka. Sebuah situasi yang terhitung langka dan mahal pada masa kini. Sampai hari ini, buku-buku koleksi tersebut masih terpajang manis pada rak-rak khusus di rumah kami. Ia belum mau memberikan semuanya pada orang lain, karena belum selesai mengarungi kenangan bersama mereka. 

“Tidak apa, Nak. Itu milikmu, dan Kamu berhak menahan atau memberikannya suatu waktu nanti.”

Pada hari ulang tahunmu, inilah kado terindah dari kami untukmu. Umi mencoba menyusun serpihan-serpihan ingatan tersebut dalam sebuah tulisan singkat yang kelak akan Engkau kenang. Seperti menatap layar di mana hanya gambar wajahmu dari usia hitungan bulan hingga tiba pada usia hari ini. Seorang anak yang sangat sabar dan jarang protes. Menerima apa pun yang diberikan, mudah berempati pada kesulitan orang lain. Senang membantu tanpa diminta. Tetapi jangan pernah memandang remeh. Jika ada temannya yang punya perilaku melewati batas, ia akan memberikan reaksi yang setimpal. Ia banyak berguru pada buku-buku. Beberapa teori dari para pakar disertai praktik langsung, mengajarinya keterampilan baru yang ia butuhkan dalam hidupnya. Kami hanya memberinya penguatan lewat obrolan ringan sehari-hari.

Berbekal semua pengetahuan tersebut, ia mulai melakukan pengembaraan dalam arti sesungguhnya. Sejak menyelesaikan studinya pada jurusan desain sesuai minatnya selama ini, ia sudah memiliki pengalaman bekerja bersama orang-orang yang tidak ia kenal sebelumnya, baik yang berhadapan langsung maupun yang melalui perantara layar. Sesekali ada yang bertanya, apakah kami tidak merindukannya dalam rentang waktu dan jarak yang lumayan jauh. Tentu saja rindu dan sesekali kesunyian melanda. Manakala itu terjadi, alat komunikasi canggih pun jadi media penghubung dan penyelamat jiwa-jiwa kami.

Bagaimanapun situasinya, kami sudah membekali anak-anak yang perlahan tapi pasti akan melangkah jauh meninggalkan rumah. Mulai bekal akhlak, moral, agama, keterampilan sehari-hari, hingga keberanian hidup di tengah orang-orang tak dikenal, dengan adat-istiadat dan budaya yang tidak sama. Dan di atas semuanya bekal kepasrahan dan doa adalah yang terpenting. Salah satu cara meringankan beban, adalah persiapkan segala sesuatu yang diperlukan sesuai kemampuan, selanjutnya serahkan pada Sang Maha Mengatur kehidupan. Dijamin tenang dan bahagia menjalani hari-hari sulit selama dalam perjalanan.

Hari ini bukanlah hari kemarin, bukan pula hari esok. Sepintas ia tampak sama, karena rutinitas berulang yang kita lakukan. Akan tetapi, sesungguhnya setiap hari diri kita terlahir dalam bentuk susunan diri yang baru. Udara yang kita hirup, makanan dan minuman yang melewati tenggorokan, pikiran yang terus-menerus bergerak, pengetahuan serta emosi yang bermain dalam jiwa, melahirkan sosok pribadi yang berbeda dari hari ke hari. Maka, nikmatilah semua proses perubahan itu. Niatkan diri menjadi pribadi yang terus bertumbuh semakin baik di bawah naungan pohon pengetahuan.

Teruslah menjelajah. Menjelajahi batin dan muka bumi. Hingga tiba saat untuk kembali.

Selamat bertumbuh di hari lahirmu. 

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Latest posts by Mauliah Mulkin (see all)