Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

The Socrates Express: Mengayap Pelajaran Filosofis dari Stasiun ke Stasiun

The Socrates Express  buku yang membuat Anda akan menjadi seperti seorang filsuf, meski sedang dalam keadaan perjalanan, tapi Anda tidak dapat menuliskan pemikiran Anda melalui medium tulis. Di Indonesia, tidak di semua daerah membuat Anda dapat menikmati fasilitas canggih transportasi umum seperti di Jepang, Jerman, atau Amerika, yang bisa mendorong seseorang dapat menulis sesuatu saat melakukan perjalanan. Tidak ada gerbong canggih seperti di Bordeaux, Prancis, misalnya, dengan cepat yang membelah kota-kota hanya dengan hitungan jam, sementara di dalamnya pikiran tenang Anda mengalir di atas secarik kertas atau screen laptop.

Tidak seperti di North Carolina, Amerika Serikat, seperti dilakukan Eric Weiner, yang meski dalam perjalanan ulang alik dari satu peron ke peron stasiun kota lainnya, dapat menulis risalah pemikiran filsafat di atas kereta api (dan akan kita lihat selanjutnya, semua isi buku ini ditulis di banyak negara, dan di atas kereta api tentunya).

Kereta api seperti filsafat, dan keduanya nampak serasi, yang membuat Weiner dapat berpikir di dalamnya. Tidak seperti di dalam bus, yang mengingatkan Weiner justru akan bernostalgia kepada masa sekolahnya. Kereta api membangun sensasi berbeda bagi dirinya. Di dalam kereta api mengandaikan kecepatan, yang mengilustrasikan kecepatan pergerakan sinapsis dalam jaringan otak saat seseorang berpikir dan mengelola informasi. Bus dipakai untuk perjalanan jarak pendek, tidak seperti kereta api yang mengandaikan tujuan yang jauh, cepat, tepat waktu, dan efisien.

The Socrates Express dalam hal ini adalah buku dengan ekspresi yang agak mencolok, karena ditulis bersama kesibukan seseorang dengan rutinitas yang tinggi, saat ia melakukan perjalanan jauh, saat dunia terhubung satu sama lain melalui benda-benda teknologi canggih. Karena itu buku ini tidak salah jika disebut sebagai buku harian, yang menceritakan perjalanan pemikiran seseorang, yang secara tidak langsung bersifat reflektif, saat ia mengalami waktu senggang di suatu tempat bernama gerbong kereta api.

Dari sisi perangkat kerja, menjadi seorang filsuf di saat ini jauh lebih mudah ketika dibandingkan untuk menjadi seperti seorang saintis. Seorang saintis agar benar-benar dapat bekerja mesti mengekspresikan pekerjaannya ke dalam suatu instrumen peralatan ilmiah yang hanya ditemukan melalui keberadaan laboratorium. Agak teknis memang, dan karena itu sains menjadi ilmu yang benar-benar empiris.

Tapi, tidak ada saintis yang dapat bekerja saat ia sedang berada dalam kereta api. Satu-satunya cara agar ia terhubung dengan suatu aktivitas keilmuan di saat itu, adalah ia lebih mungkin akan menjadi seorang filsuf, yang hanya dengan  mengandalkan kekuatan reflektifnya dapat merumuskan suatu algoritma berpikir meski sedang dalam suatu perjalanan.

Tidak memungkinkan membawa alat-alat riset yang mahal dan berat ke dalam kereta api, sehingga gerbong kereta tidak bisa diubah menjadi laboratorium. Karena itu satu-satunya laboratorium para filsuf adalah isi pikirannya sendiri, yang di dalamnya berangkai berbagai informasi ke dalam suatu alur pikir yang radikal dan sistematis.

Itu artinya bisa Anda bayangkan di mana kekuatan para filsuf sebenarnya, dan di mana ia menyembunyikan belati senjatanya selain di dalam pikiran-pikirannya sendiri. Dari situlah ia bekerja, dan nyaris tidak tampak sebagai sebuah pekerjaan, sebenarnya.

Tapi, Maurice Merleau Ponty—ini salah satu filsuf yang namanya enak dieja dan didengarkan dari bahasa langsungnya—menyebut filsafat sebagai pikiran yang radikal, dan Weiner menyebut ini salah satu pengertian filsafat yang mengandung aroma risiko dan bahaya. Tiada suatu aktivitas keilmuan seperti filsafat yang bakal membuat kegiatan berpikir seolah-olah seperti sekompi prajurit berisi gladiator, yang mengobrak-abrik benteng pertahanan musuh. Suatu konfrontasi yang berbahaya tapi heroik.

Socrates adalah ilustrasi yang paling gamblang tentang ini disebabkan demi memenangkan kebijaksanaan filosofis ia rela menanggung kematian, yang membuat sahabat-sahabatnya saat itu seperti sedang menyaksikan sebuah drama kematian paling tragis dan melankolik sekaligus. Di dalam dunia filsafat, Socrates adalah sosok heroik tanpa tanding. Namanya karena itu, bagi sebagian orang menjadi nama dan arti filsafat itu sendiri.

Socrates  tidak menggunakan alat perang kecuali akal budi, mengajukan berbagai pertanyaan atas banyak soal sebelum sebuah jawaban kokoh dapat dengan sungguh-sungguh diterima sebagai suatu kebenaran. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya cukup mengganggu keyakinan mapan, sehingga karena itu ia dijuluki Gadfly of Athena, seekor lalat pengganggu Athena: selalu mendekatimu, membangunkanmu, membujuk dan mengusikmu.

Sebagai sebuah perjalanan buku ini menyuguhkan pembagian bab-bab seperti terminal-terminal pemberhentian di dalam suatu alur perjalanan jarak jauh. Suatu model pembahasan yang dibagi-bagi dari berbagai macam pemikiran filsuf mulai dari aliran Stoa melalui Marcus Aurelius, aliran etika Epicurus, Confusius, Gandhi, percik-percik pengamatan filsuf Jepang Sei Shonagon, hingga mendalami pemikiran nihilisme via Friedrich Nietzsche, Arthur Schopenhauer, menjadi tua bersama Simone de Beauvoir, dan bagaiamana cara mati seperti Michel Eyquem de Montaigne.

Adalah lebih 150 nama-nama filsuf, pemikir, penulis, atau intelektual dengan berbagai kiprah keilmuannya, di dalam buku ini, yang di antaranya ditulis dengan memperlihatkan seperti seolah-olah warga kota yang ditemui di terminal trem pemberhentian bawah tanah. Satu dua orang kita kenal sebagai warga kota yang baik (seperti Immanuel Kant, atau Simone Weil, yang memberi ”perhatian” sebagai konsep filsafatnya), sementara sebagiannya tidak memungkinkan untuk mengikuti gaya hidupnya (Misal seperti Marcus Aurelius, yang lebih suka rebahan, atau Rousseau yang masokis), tapi kesemuanya memiliki kesamaan, yakni mereka, adalah penumpang-penumpang kereta yang berpengaruh bagi banyak orang dikarenakan pikiran dan cara mereka dalam memahami dunia.

Dari berabad-abad lalu, disiplin filsafat seperti dinyatakan Justin EH Smith melalui bukunya The Philosopher: A History in Six Types, bukanlah semata-mata sejarah ide-ide yang dapat dirumuskan ke dalam defenisi terbatas, tunggal, dan monolit, sehingga mengabaikan motif-motif dan pengaruh pengetahuan, politik, kebebasan, institusi, dan ekonomi , yang membuat para filsuf terbagi-bagi ke dalam beragam jenis tipe dan model.

Semua filsuf dalam The Socrates Express, jelas bukan pemikir-pemikir yang tercerabut dari setting sosial kebudayaan tertentu, melainkan orang-orang dengan kegiatan filosofis berakar dari realitas harian masyarakatnya masing-masing. Bahkan satu dua di antaranya dari awal tidak sedang berfilsafat dengan misi besar untuk membangun dunia menjadi jauh lebih baik, melainkan dikarenakan sebab-sebab subjektif belaka, yang dihasilkan dari kejengahan melihat lingkungan kehidupannya.  

Dibandingkan Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder, The Socrates Express bukan buku yang ditulis berdasarkan kronologi waktu berkaitan dengan kelahiran pemikiran filsuf-filsuf, melainkan menyuguhkan secara agak bebas tergantung suasana perjalanan yang dihadapi Weiner itu sendiri. Tapi sifatnya yang menyerupai memoar—bandingkan dengan Memoar Seorang Filosof karangan Bryan Magee—menyuguhkan secara lebih reflektif, dan lebih fleksibel sehingga seperti dalam sebuah perjalanan, Anda bisa berhenti dan memulai bacaan dari terminal kesukaan Anda.

Kehidupan masyarakat urban dan filsafat agaknya menjadi tidak signifikan ketimbang sains yang lebih dibutuhkan untuk keperluan-keperluan praktis manusia. Tapi, berfilsafat, atau dengan menulis jurnal yang menggamit ajaran-ajaran filosofis ke dalam rutinitas perjalanan, merupakan satu hal yang di masa lalu juga dilakukan orang-orang Athena, seperti Aristoteles, sambil berjalan-jalan entah di sisi pinggiran gelanggang olahraga Athena, atau sambil berkeliling di sekitar murid-muridnya. Kebiasaan yang kelak akan menjadi label bagi filsafatnya sebagai peripatetos (peripatetik), yakni filsafat yang dilakukan sambil jalan-jalan.

Berjalan-jalan sebagai sebuah rutinitas, yang karena itu akan membuat banyak temuan dan itu bisa apa saja, memungkinkan seseorang lebih peka kepada detail-detail kecil selama di perjalanan, terutama jika itu dilakukan dengan berjalan kaki. Di masa jelang abad pencerahan, J.J. Rousseau adalah filsuf yang banyak menemukan cetusan pemikirannya melalui berjalan kaki, sampai-sampai ia tidak pernah memiliki akar yang lama kepada suatu tempat. Untuk masa sekarang, Rousseau lebih mirip seorang nomad urban, yang berjalan jauh tapi dalam versi yang lebih alamiah tanpa berpindah kota menggunakan trem kereta api, atau pesawat terbang.

Mens sana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, dan ini yang dialami jika seseorang rutin menggerakkan tubuhnya dengan suatu cara, tidak terkecuali berjalan kaki. Selain Rousseau, dan ia bukan filsuf pertama yang sering menggunakan waktu tertentu untuk berjalan kaki—Rousseau bisa menempuh jarak 30 km rutin setiap hari—bisa berjalan berpuluh kilometer dari Paris, Prancis ke Jenewa, Swiss. Socrates tentu saja melakukannya di Agora, Nietzsche selama dua jam berjalan kaki di Pegunungan Alpen selama ia di Swiss sampai ia percaya pikiran besar timbul saat sedang berjalan kaki. Thomas Hobbes, yang memilki tongkat khusus untuk berjalan kaki, Thoreau di Amerika Serikat, dan tentu Immanuel Kant, yang memiliki jadwal ketat di Konigsberg melakukannya setelah makan siang pukul 12:45.

Dengan cara mengalami filsafat seperti itu, para filsuf pejalan kaki ini secara tidak langsung menolak anggapan bahwa upaya  pemikiran filosofis bukanlah pencarian jiwa yang meninggalkan tubuh seperti anggapan sebagian aliran filsafat selama ini. Tentang ini, mengingatkan saya kepada sebuah lukisan ikonik dari  pelukis Rafael Sanzio “School of Athens” yang mengilustrasikan dua murid Socrates yakni Platon dan Aristoteles yang seperti sedang terlibat diskusi alot dengan dilakukan sambil berjalan, sementara puluhan filsuf lain di sekitarnya “hanya” berkerumun, dan bahkan ada yang terlihat sedang leyeh-leyeh berlesehan.

”Dari momen eureka Archimedes di dalam bak mandi, keahlian Descartes bermain anggar, sampai petualangan seksual Sartre, filsafat dialiri oleh arus ragawi yang deras. Tidak ada filsuf atau filosofi yang terpisah dari jasmani. ’Ada lebih banyak  kebijaksanaan di dalam tubuhmu ketimbang di dalam seluruh filosofimu,’ kata Nietzsche.”

Karena itu, keunggulan The Socrates Express dibandingkan buku filsafat lainnya, selain tersirat buku ini menyuguhkan filsafat etika, menunjukkan sisi yang lebih biografis dari kecenderungan esensialistik yang biasanya hanya menunjukkan ajaran filsafat yang tercerabut, dan tanpa bertolak dari kehidupan berdaging para filsuf sendiri. Filsafat yang kering dari denyut nadi kehidupan konkrit dari sang filsuf, hanya akan menghasilkan ajaran yang angkuh tanpa pernah tahu secara realistis dan masuk akal mengapa sebuah pemikiran dapat terbentuk menjadi seperti itu.

Jadi buku ini lebih dari sekadar diktat filosofis, tapi juga catatan perjalanan yang sedang menarik pernak pernik refleksi dan perhatian mendalam ajaran filsafat, ke dalam safar pemikiran, sembari mengalami kehidupan ini persis seperti dari atas kereta api, yang melihat apa pun dari balik jendela berubah menjadi seperti kata Victor Hugo, ”bunga-bunga di tepi jalan bukan lagi bunga, melainkan bintik-bintik, atau bahkan garis tipis-tipis, merah maupun putih… semuanya menjadi garis tipis panjang… sesekali sebuah bayangan, sebuah bentuk, sesosok hantu muncul dan menghilang secepat kilat di balik jendela.”

Ya, berfilsafat itu setidak-tidaknya sama alasannya saat Anda ingin melakukan perjalanan: dari mana, dengan cara apa, dan mau ke mana?

Identitas buku:

Judul: The Socrates Express: Menjaga Kewarasan di Tengah Ketidakpastian

Judul asli: The Socrates Express: In Search of Life Lessons From Dead Philosophers

Penulis : Eric Weiner

Penerjemah : Reinitha Amalia Lasmana

Penerbit: Qanita

Tahun terbit: November 2020

Jumlah halaman: 520 hlm.

No. ISBN: 978-602-402-191-7

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).