Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Sebuah Esai untuk Hari Ibu: Ibuku adalah Jagoan Super

Sampai hari ini saya masih menyimpan pertanyaan berapa total jarak tempuh seorang ibu saat bekerja di dalam rumah. Membereskan kamar tidur, memotong tomat, merapikan sudut-sudut kursi, menyapu, menyiram tanaman, atau beranjak ke pasar, yang semuanya merupakan titik-titik saling terhubung, bekelindan, tumpang tindih, dan silang menyilang, yang satu sama lain dikerjakan melalui kekuatan kedua kakinya. Semuanya dilakukan dengan cara berjalan dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya—hampir seumur hidupnya, dan tidak ada kata terminal pemberhentian jika itu diibaratkan sebagai perjalanan jarak jauh.

Berapa rata-rata kalori yang mereka gunakan untuk setiap kegiatan yang dilakukan nyaris setiap hari, yang mereka tukar dengan tubuh yang semakin menyusut demi menunjang keluarga secara kolektif? Berapa kilogram mereka mesti kehilangan bobot badannya hanya untuk melakukan pekerjaan yang tidak mengenal waktu itu? Berapa lama mereka memendam keinginan-keinginan pribadinya demi mengutamakan harapan-harapan keluarganya? Berapa total waktu istirahat dibandingkan waktu kerja yang kelihatan sepele itu? Dan, berapa banyak keahlian alamiah yang mesti dimiliki seorang ibu jika bekerja dengan cara seperti seorang pembantu rumah tangga?

Tentu makna Ibu berbeda-beda bagi setiap orang, dan bagi saya ibu adalah segalanya—meski untuk meneruskan arti ini ke dalam dunia harian, ibu adalah sosok paling sering diabaikan, ketika seorang anak tenggelam di dalam berbagai macam kesibukannya. Semua orang memiliki  kisah tersendiri dengan ibunya, yang mustahil hilang walaupun waktu semakin panjang menarik dirinya sampai ke masa depan, yang dengan suatu cara, entah sepenggal, kilasan, atau fragmen kecil, suatu peristiwa terkait ibu masih tersimpan di lipatan memori.

Otak merupakan organ yang paling misterius saat ini, dan membuat banyak para ahli kebingungan dengan cara kerjanya. Bahkan, disebutkan kerja otak selama ini baru menggunakan 10 persen kemampuannya, yang karena itu pula segala bentuk pencapaian peradaban manusia bisa sampai seperti sekarang ini. Dan, di antara semua kemampuan biologis otak, satu atau bahkan lebih tersimpan kenangan dari masa lalu, berupa ingatan tentang sosok seorang ibu.

Saya percaya, tidak semua kegiatan pemikiran manusia dapat dengan baik tersimpan sempurna dalam kompartemen bernama ingatan, melainkan jika ia melibatkan perasaan saat dilakukan. Anda jika ingin menyimpan gagasan atau pikiran tentang sesuatu buatlah ia dengan melibatkan jiwa Anda. Sesuatu yang berkesan akan lebih mungkin bertahan lama dibandingkan ingatan-ingatan lain.

Sampai hari ini, setiap ibu di dunia masih menggerakkan tubuhnya demi atas nama keluarga. Dalam kancah sosial, barangkali hanya dalam keluarga, setiap orang melihat ibunya dalam arti sebenarnya, beraktivitas sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial sekaligus.

Saya sampai hari ini masih menyimpan kesan mendalam menyangkut aktivitas rumah tangga ibu saya. Sejak pagi ia sudah bangun mendahului jam terbit matahari, menggerakkan badannya yang baru menyesuaikan diri setelah dibiarkan berisitirahat di atas tempat tidur seketika bergerak mengikuti ritme rutinitas berdasarkan kebutuhan harian seisi satu rumah. Ia bergerak dari kompor, menggunakan wajan, menjerang air, mengecek persediaan nasi, kebutuhan lauk pauk, dan seterusnya, menjamin urusan logistik tidak macet untuk disediakan di hari itu. Setelah itu, dari dapur aktivitasnya akan menyasar lantai-lantai rumah dari ruang tengah dikerjakan dengan suatu cara menyerupai gerak spiral, yang dikerjakan secara bertahap sebelum semua energinya ia kerahkan di tempat bernama sekolah, mengajar ratusan anak setiap pekan sepanjang hampir setengah abad, hingga pensiun.

Sebagai seorang guru, di masa muda, dan mungkin saat itu belum sampai usia 40-an, merawat anak bisa di lakukan dari mana saja. Nyaris tidak ada pemilihan tegas tugas domestik dan publik saat itu, yang membuat saya masih mengingat ada saat-saat saya berlarian di semacam bangsal panjang yang ternyata itu adalah sekolah, yang berarti di saat itu, selain mengajar ia juga masih melakukan kegiatan layaknya seorang ibu rumah tangga. Di zaman sekarang ini, kegiatan yang dapat dilakukan di waktu bersamaan itu disebut multitasking, satu kemampuan yang sekarang lebih sering ditemukan di alat-alat teknologi mutakhir.

Tentu, bagi saya, tidak bisa tidak, kesan mendalam salah satunya lahir dari suatu peristiwa tidak mengenakkan. Di suatu malam buta sebelum subuh jelang, pertengkaran hebat meledak menitikkan air mata ibu yang saking emosionalnya, dan saya yang tengah juga meledakkan ego sama seperti meriam yang memuntahkan biji bola pelurunya. Hari itu hari yang demikian jahanam bagi saya, dan jika peristiwa Malin Kundang benar-benar dapat terjadi saat itu, ibu bisa saja bersumpah mengubah saya menjadi sebongkah batu dengan gampang tanpa saya mesti menyangkalnya sebagai ibu kandung.

Beberapa waktu lalu, sebuah buku menarik ditulis oleh Andrew Kaufman berjudul Semua Temanku adalah Pahlawan Super memberikan bacaan yang menyegarkan untuk diri saya, yang memberikan suatu perspektif yang sebenarnya semua orang sudah mengetahuinya, bahwa setiap dari diri kita memiliki kemampuan dan kelebihan yang berbeda-beda dibandingkan dengan setiap orang. Setiap keunikan itu, diceritakan dengan gaya yang jenaka dan aneh, yang disebut Kaufman sebagai jagoan super.

Anda jika sehari-hari bekerja sebagai nelayan, memiliki keahlian yang tidak dimiliki oleh banyak orang, dikarenakan Anda telah terlatih mengenal musim melaut yang baik itu di saat kapan, di saat seperti apa sebuah lautan luas memberikan tanda-tanda di bawahnya terdapat banyak koloni ikan tongkol untuk diangkut melalui mata pancing, yang besarnya seperti buku-buku ibu jari orang dewasa. Kapan rasi bintang orion bermunculan, atau rasi bintang biduk yang menjadi kompas moncong kapal-kapal dihadapkan. Dari semua itu, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membedakan jenis angin daratan dan angin laut yang memiliki bau yang khas.

Semua spesifikasi itu adalah kekuatan super, yang tidak dimiliki banyak orang, yang karena itu pula semua orang dengan kemampuan dirinya juga adalah seorang jagoan super selama ia berprofesi sebagai seorang pengantar surat, penggali sumur, sekretaris kantoran, masinis kereta api, dan berbagai macam keahlian yang tidak bisa dimiliki setiap orang.

Modernisasi, seperti dakuan para ahli ilmu sosial, ikut mempengaruhi peran-peran sosial yang terdiferensiasi sekaligus terspesialisasi, sehingga membuat sampai detik ini melahirkan banyak profesi. Di masa lalu, harga buku bisa sama dengan harga mobil di abad 20 karena pekerjaannya membutuhkan waktu dan energi yang tidak main-main. Sampai-sampai di masa itu, kerja pendataan buku melahirkan satu pekerjaan khusus bagi seseorang sebagai pencatat jika seorang penulis ingin mendaftarkan bukunya secara resmi. Penyalin buku di masa ini, merupakan profesi yang tumbuh subur sebelum alat cetak ditemukan, membuat seseorang yang bekerja sebagai penyalin akan dengan sendirinya terlatih dan menjadi orang pertama yang membaca karya tulis seorang intelektual.

Di negara-negara yang sekarang masih tinggi angka buta huruf, lahir orang-orang yang memberikan jasa menulis dan membaca surat bagi keluarga-keluarga buta huruf yang memiliki sanak keluarga bekerja jauh dari kampung. Satu pekerjaan yang entah mengapa sangat identik ditemukan juga di lingkungan ilmiah, meski terlarang, adalah jasa tukang ketik dan penulis bayangan karya ilmiah, berupa skripsi atau tesis, yang secara tidak langsung memberikan sinyalemen bahwa makna buta huruf bukan saja berkaitan secara harfiah tentang kemampuan baca tulis belaka.

Di buku Andew itu seorang perempuan bernama Nyonya Serbabersih adalah jagoan super terkuat di antara banyak jagoan super di kota Toronto. Semua orang diceritakan ingin menjadi seperti dirinya. Sebagai seseorang yang memiliki keahlian dapat melipat baju, merapikan ceceran alat-alat tulis, dapat mencuci piring, dan mengisi botol-botol kecap yang tinggal separuh. Semua pekerjaan itu dengan gampang ia lakukan, dan semuanya dapat beres tidak seperti dilakukan banyak orang yang kelimpungan jika mendapati seisi rumah yang menyerupai lambung kapal yang pecah.

Anda bisa mengganti nama nyonya di atas menjadi nama ibu Anda tanpa perlu mengubah apa yang sudah ia lakukan untuk Anda sampai detik ini. Mungkin satu-satunya yang tidak mengalami modernisasi, yang membuat semua bidang kehidupan mengalami perubahan dari sisi peran dan spesialisasi, adalah aktivitas seorang ibu. Banyak orang mengatakan perubahan itu niscaya, dan mengyakininya karena mereka belum memperhatikan dengan seksama berkaitan dengan keberadaan ibu mereka.

Bagi sebagian orang, peran semacam itu adalah domestifikasi perempuan akibat male dominated culture, yang memang setiap setting sosial memiliki struktur permasalahan yang nyaris serupa, yakni perempuan kerap disandikan ke dalam sistem-sistem yang telah dibuat oleh kelompok laki-laki. Di masa sekarang, dalam kajian gender, lawan berat perempuan bukan saja kelompok laki-laki, tapi juga sistem ideologi ekonomi politik bernama kapitalisme.

Karena itulah akan sangat menarik jika setiap orang berusaha meneliti kehidupan ibunya sendiri, meski bukan dilakukan dalam rangka kegiatan akademis, untuk melihat sejauh apa dan di mana saja aktivitas dari mereka yang masih otonom dan tidak terikat dengan kegiatan-kegitan yang dianulir ke dalam paradigma kapitalistik. Konon, di masa sekarang perempuan nyaris sepenuhnya berada di dalam wilayah kekuasaan politis, bukan saja budaya patriarki, tapi ideologi kapitalisme. Pernyataan terakhir ini dapat disanggah jika amatan Anda kepada ibu atau perempuan di sekitar Anda menunjukkan temuan yang sama sekali berbeda. Tidak semua ranah domestik adalah juga wilayah kekuasaan pandangan dominan di atas, yang mungkin saja di dalam itulah setiap perempuan menemukan momentum politisnya.

Terlepas dari itu, seorang ibu tidak salah untuk dinyatakan sebagai jagoan super sesungguhnya melampaui pemaknaan fiksionalitas yang terkandung dalam film-film super hero. Itulah sebab, frase ”Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa” bukan lirik main-main. Apa pun profesinya, hanya sosok ibu yang mampu bekerja di ranah publik sebaik saat berada di wilayah domestik.

Dalam sejarahnya, bahkan, Hari Ibu lahir dari kesadaran politis berkaitan dengan Kongres Pertama Perempuan–tidak lama setelah Kongres Pemuda II yang mencetuskan Sumpah Pemuda, yang ditengarai bergerak dari kondisi zaman kolonialisme saat itu. Apalagi jika bukan dikerjakan dalam rangka semangat pembebasan perempuan. Sesuatu yang sekarang jarang dilakukan sebagian ibu-ibu di masa kini.

Jadi, memperingati hari ibu tanpa mengikatkan makna historisnya sebagai pergerakan perempuan dan penyangkalannya terhadap sistem yang menindas perempuan sebagai raison d’etre nya, yang saat itu berwujud penjajahan atas bangsa-bangsa, akan sama saja mengerdilkan makna Hari Ibu itu sebenarnya.

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2021


Sumber gambar: kompaspedia.kompas.id/

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).