Banjir Raya Merenggut Nyawa

Bencana bertandang. Sungguh, ia mau mengecek kemanusiaan kita” (Maksim Daeng Litere, 050320 )

Hari-hari ini hujan mulai turun di mukim kami, para petani mulai sibuk menggarap sawahnya. Betul, kalau hujan adalah anugerah bagi makhluk semesta, lebih-lebih bagi petani yang semata-mata mengandalkan air hujan untuk mengairi sawahnya. 

Di mukim kami, Desa Sapanang, Jeneponto,  hujan bahkan pernah menjadi petaka bagi sekotah warga desa, tepatnya, selasa, 22 Januari 2019 silam, anak kehilangan orang tua, orang tua kehilangan anak, begitu juga anggota keluarga lainnya, sekotanya menemui ajalnya dengan cara tragis, terbawa arus banjir bandang. Sungguh momen itu menyayat hati, apalagi peristiwa itu nyata di mata kepalaku. 

Saya tidak hendak menyalahkan siapapun, memang, saat itu curah hujan sangatlah deras, saking derasnya bendungan Karalloe yang sedang dibangun, yang konon katanya bendungan tersebut bagunan termegah di Sulawesi selatan, jebol akibat tidak kuatnya menahan air bah. Puncaknya  banjir raya melanda wilayah hilir Kabupaten Jeneponto. 

Masih terekam jelas di benak, siang itu sekitar pukul dua, tetiba saja air bah datang, bak mimpi di siang bolong, meluluhlantahkan apa saja dihadapannya, ditambah hujan turun sangat deras. 

Saya baru saja menyelesaikan salat zuhur, setelah memandu kegiatan bagi aparat desa di gedung balai latihan kegiatan. Saya memutuskan meninggalkan semua aktivitas di setengah hari itu, sebab perasaan was-was menghidu sekujur jiwa, seakan di pelupuk mata terbayang akan terjadi bencana raya, lalu saya membatin,  jika benar terjadi, bagaimana keadaan anak saya yang sedang sendiri di mukim kami. Dengan alasan itulah saya memutuskan pulang ke mukim menemuai anak semata wayang saya.  

Di sepanjang jalan menuju mukim, hujan makin deras, terlihat sebelah kiri dan kanan bahu jalan,  sudah dipenuhi  genagan air dari luapan pematang sawah. Tetiba saja di tengah perjalan seorang anak muda, biasa warga desa memanggilkannya dengan nama Kai, sebab salah satu organ tubunnya  cacat sejak lahir,  melambaikan tangan kepadaku, lalu tersenyum, sembari mengendarai motor yang berlawan arah dengan kendaraan yang saya kendarai. Tak disangka, itulah momen terakhir kali dia menyapaku, dengan senyuman terbaiknya, sebelum Kai ditemukan tergolek kaku dibalik gumulan lumbur. 

Sesampai di mukim kami, saya lantas menyapa anakku yang sudah lama menanti kedatanganku, saya  sangat mengerti keadaan emosinya yang memerlukan perlindungan di saat genting seperti itu, lantas saya coba menenangkannya dengan menjanjikan, jika hujan telah surut, maka saya akan mengajaknya melihat-lihat arus sungai di atas jembatan yang berada sisi utara desa kami. Apa lacur bencana raya itu tiba, banjir bandang menerjang kampung kami,  belum sempat saja saya memasukan sesuap nasi ke dalam mulut, sebab, saat peristiwa itu datang, saya sedang menikamati makan siang, tetiba saya dari arah belakang rumah, dengan mata kepalaku, air bah itu  melompat bak ular menerkam mangsanya, jika, sepersekian menit saja kami lambat menyelamatkan diri, mungkin saja kami akan terbawa arus air bah itu. 

Langkah pertama saya lakukan saat bencana  itu datang, mematikan seluruh aliran listrik, sambil saya bergegas mengeluarkan kendaraan dari garasi rumah, lalu, dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin, berlari menyelamatkan diri bersama anak ke rumah kerabat  yang posisi mukimnya berada pada ketinggian. Di  sanalah saya beserta keluarga dan beberapa warga (kurang lebih 30 orang) berlindung dari serbuan banjir dahsyat itu. Segenap warga panik, sebab peristiwa itu di luar dugaan semua orang, pasalnya, sepertinya biasanya, jika terjadi banjir di kampung kami paling banter hanya mengenangi ruas jalan dan sawah-sawah milik petani, namun banjir kali ini benar-benar mengejutkan seluruh warga desa.  

Bencana banjir  dahsyat itu berlangsung kurang lebih tiga jam, dalam kurun tiga jam itu, seluruh harta benda maupun nyawa melayang oleh kejamnya banjir bandang, sekotahnya hilang sekejap dengan hitungan menit. Setiap orang berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing, seorang bocah terlepas dari pelukan ibunya menjadi korban peristiwa itu, seorang nenek tua ditemukan terbujur kaku di balik tumpukan kayu dan kubangan lumpur, seorang bapak yang panik meloncat dari atas rumahnya, hingga terbawa arus, ditemukan tak bernyawa lagi, seorang anak muda yang lari menyelamat diri, namun tergilas gelombang air kemudian ditemukan meninggal dunia, semuanya itu menyata dan sunyatan terjadi di pelupuk mata.

Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), peristiwa itu memangsa  sepuluh orang meninggal dunia. Para korban ditemukan selama 14 hari pencarian, hari-hari itu, merupakan waktu terberat kami lalui, setiap harinya ada saja warga ditemukan tak bernyawa, seluruhnya tak ada yang selamat. Rasa sedih, shock dan trauma menyergap jiwa penghuni desa, tak ada yang menyangka kejadian ini menimpa kampung kami. 

Sempati dan empati pun datang dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, untuk membantu, menghibur dan meringankan beban kami, baik moral maupun material. Di balik bencana raya itu pula, sebagai ajang mengecek rasa kemanusian kita sesama manusia, namun bagi korban bencana, sungguh menjadi ujian hidup agar menjadi insan sabar dan adab diri. Sebagaimana  Al-Quran meriwayatkan, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula ) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh ) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah [22]

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid ayat 22-23)

Meski  dua tahun sudah prahara itu berlalu, namun, kisah pilu itu masih sering menyata dalam ingatan, apalagi  saat  musim penghujan menghidu semesta buana. Menjadi jamak, setiap tahunnya warga Desa Sapanang memperingati dan mengenang kisah sedih itu. Secara sukarela sekotah warga desa melakukan persamuhan di masjid sebagai bentuk empati kepada korban banjir dan memohon doa kepada sang kuasa, agar Allah Swt  melindungi desa kami. 

Perlahan kehidupan kembali normal, warga desa mulai beraktivitas seperti biasanya, warga desa secara swadaya mulai berbenah, membersihkan dan membagun kembali mukimnya yang porak-poranda. Pemerintah pun mulai menata kembali akses jalan dan fasilitas umum lainya, apalagi baru-baru ini, Presiden Jokowi baru saja menuntaskan lawatannya di Kabupaten Jeneponto. Hadir sebagai orang nomor satu di negeri ini, guna meresmikan bendungan Karalloe, sejurus dengan itu, warga berharap bendungan megah itu menjadi solusi bagi warga, agar banjir raya tidak terulang kedua kalinya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *