Pertanyaan-Pertanyaan Plato dari Palestina

Filsafat itu datang dari setan.” (hal. 83).

Apakah Anda pernah mempertanyakan tentang keberadaan Tuhan? Memikirkan tentang keadilannya, tidak lama setelah keburukan dan kejahatannya Anda renungkan seolah-olah diciptakan hanya khusus untuk Anda sendiri, dan melihat kesuksekan orang-orang sepertinya tidak layak untuk mereka rasakan, karena Anda tahu orang-orang yang Anda sesalkan pernah melakukan kejahatan di masa lalu yang sulit dilupakan?

Apakah Anda juga pernah berpikir tentang nasib Anda, dan bagaimana hubungannya dengan Tuhan,  lalu lantas mempertanyakan otonomi Anda sebagai manusia yang memiliki kebebasan, tapi di sisi lain Anda seringkali mendengar kehidupan Anda merupakan bagian dari rencana Tuhan sebagai zat Mahapengatur? Bagaimanakah memposisikan kebaikan dan keburukan melalui pemahaman bahwa Tuhan sebagai sumber kebenaran, sementara manusia itu makhluk yang nisbi?

Tapi, bukankah manusia memiliki akal budi, sistem pengindraan, dan dalam sejarah menciptakan institusi-institusi hukum dari semua itu untuk menegaskan ukuran kebaikan dan keburukan, yang berhak ditegakkan, atau sebaliknya mesti dienyahkan dari masyarakat? Di titik ini, keberadaan Tuhan terlalu berlebihan untuk dilibatkan hanya untuk mengatur kehidupan masyarakat. Jika memang Anda tidak mengakui eksistensi Tuhan, kepada apakah Anda memberikan hidup Anda? Seperti apakah kehidupan jika Tuhan tiada? Apakah Anda akan menjadi lebih baik, lebih saleh, atau sebaliknya?

Sekarang tidak sedikit orang enggan mengajukan pertanyaan-pertanyaan macam di atas, dan lebih memberikan perhatian kepada dilema-dilema konkrit tentang pemerintahan demokratis, kebebasan warga negara, keadilan sosial, hak-hak politik, dan identitas kewargaan yang lebih dianggap ril untuk dipecahkan karena masyarakat global lebih membutuhkan keputusan politik dibandingkan debat tak berujung seperti dijumpai di kelompok-kelompok filsuf, yang elitis, tapi juga paling tidak taktis.

Saya tidak akan menyarankan Anda untuk menjadi seperti seorang filsuf, jika yang Anda bayangkan dari pekerjaan mereka hanyalah mempertontonkan kemampuan eksplanasi, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda sebuah pemahaman yang mereka katakan tidak pernah mereka alami sendiri. Tidak mungkin pula dapat disebut filsuf apalagi jika yang dimaksud filsuf adalah seseorang yang memiliki kegemaran berpikir esensialistik, mengkerucutkan semua jawaban kepada satu narasi tunggal, menganggap semua pandangan tidak layak diterima karena hanya jawaban Anda saja yang berpeluang membuat orang selamat.

Berfilsafat, jika dilakukan dengan cara seperti itu hanya akan membuat Anda menjadi seperti seorang pengkhotbah, dan hanya mau berbicara di hadapan kerumunan orang yang Anda ciptakan sendiri.

Bagi saya, filsafat adalah dialog, setidak-tidaknya dengan diri sendiri, jika memang Anda tidak menemukan sahabat (philia) untuk mencari suatu jawaban yang bisa memuaskan Anda.

Tapi, dalam berfilsafat, jawaban, tidak selalu merupakan apa yang bisa membuat diri Anda puas, melainkan yang paling bisa diterima ke dalam benak Anda, dan terkadang itu biasanya datang dari sahabat bicara Anda, yang dengan suatu cara itu akan membuat Anda mau menerimanya dengan mengakui terlebih dahulu bahwa tidak setiap saat diri Anda akan pasti benar (shopia).

Sebelum Anda menemukan sahabat dialog Anda, sama seperti Plato yang menemukan Socrates di masa lalu, saya akan lebih percaya diri menunjukkan satu buku yang menarik untuk dibaca di masa gabut seperti ini, satu buku yang ditulis oleh filsuf beneran, setidaknya dalam pengertian akademis, seorang pengajar filsafat dan perbandingan agama bernama Carlos Fraenkel, dari universitas McGill, Kanada. Buku memang disebut sahabat paling setia, sampai-sampai peribahasa Arab menyebutnya sekebun taman bunga yang bisa dikantungi ke mana-mana. Sahabat itu bernama: Bersama Plato di Palestina, Manfaat Filsafat di Dunia yang Terbelah.

Saya akan mulai dari frasa ”dunia yang terbelah” dan bersepakat dengan pilihan judul seperti itu. Dunia yang terbelah bisa Anda artikan macam-macam, seperti pertentangan di belahan orang-orang yang memiliki kebiasaan hidup ala Barat dengan tradisi kepercayaan di masyarakat Timur, antara ideologi politik ekonomi neoliberal dengan komunisme yang masih bertahan meski tidak lagi tekonsolidasikan seperti tiga dekade lalu, atau pertentangan dua tatanan universe antara misal kehidupan sekuler dengan  kehidupan yang menglorifikasi kehidupan ukhrawi di bawah taklid guru-guru kelompoknya. Masih banyak patahan-patahan secara konseptual yang membagi-bagi dunia menjadi partisi-partisi otonom tanpa saling terhubung dikarenakan didasarkan kepada satu model narasi yang berbeda, dan juga secara empiris tidak sedikit praktik kehidupan ini dialami oleh masyarakat yang membelah-belah dirinya ke dalam ikatan-ikatan sejarah, politik, dan agama, sehingga melahirkan konsep identitas yang terbelah, terisolasi dan menghindari sosialisasi di masa globalisasi seperti kiwari.

Di dalam konsep dunia semacam itulah yang menjadi latar belakang permenungan Fraenkel, setidaknya seperti yang saya tangkap dari keseluruhan isinya, mengapa akhirnya ia dapat melahirkan buku dengan nada optimis untuk menengahi “keterbelahan-keterbelahan” dunia seperti narasi di atas. Dan, optimisme itu tidak ia asalkan kepada pencapaian-pencapain pemikiran di abad ini, melainkan ia ambil dari masa silam, seperti dari kebijaksanaan Plato, Abu Hamid al Ghazali, Ibn Rusyd, Maimonides, Baruch Spinoza hingga Friedrich Nietzsche, saat perdebatan-perdebatan seperti pertanyaan pembuka di atas belum menjadi sekadar debat-debat akademis yang hanya ditemui di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, tapi hidup sebagai wacana umum di ruang publik: filsafat.

Di tahun 2000 saat Fraenkel di Kairo, Mesir, untuk mendalami kemampuan bahasa Arabnya, saat menyelesaikan program doktoralnya, ia mendapatkan momen kritis untuk mengatakan bahwa di saat itu lah pertanyaan epistemologi buku ini disusun, yakni saat ia terlibat diskusi dengan mahasiswa-mahasiswa Mesir tentang pembuktian eksistensi Tuhan yang ia sebut dimotivasi dengan semangat untuk menyelamatkannya dari siksa api neraka. Mahasiswa Mesir mendorongnya untuk beriman ke dalam Islam, tapi tidak semudah bayangan sebagian orang, menawarkan iman baru membutuhkan argumen yang kuat, dan bagi orang seperti Fraenkel, yang mempelajari dan mengajar filsafat secara akademis, telah menyediakan benteng argumen ontologi melalui argumen Kantianisme.  

Karena itu, proyek besar buku ini seperti Fraenkel jelaskan di bagian pengantarnya adalah bertolak dari dua premis utama, yakni bagaimanakah filsafat bisa menjembatani perbedaan pandangan di antara pluralitas keyakinan, yang lahir di banyak pengalaman masyarakat melalui agama, budaya, dan bangsa. Apakah keanekaan itu bisa didamaikan melalui suatu cara, sehingga masing-masing tidak lagi tanpa risih dan berkewajiban terdorong menyadarkan orang melalui pendiriannya dikarenakan sudah memahami jalan berpikir si liyan.

Kedua, apakah filsafat bisa dikembalikan kepada karakternya yang deliberatif, sehingga bisa melibatkan semua orang dari berbagai macam kelas dan golongan agar filsafat tidak menjadi barang antik yang hanya bisa dinikmati oleh golongan elite di lingkungan akademis belaka?

Tidak ada spoiller untuk dua problem di atas, yang secara moral ungkapan ini tidak sepenuhnya akan membuat Anda terdorong memiliki buku ini. Tapi, jika sejak mula Anda menyadari arti penting dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di bagian sebelum ini, saya kira Anda akan sangat antusias mengikuti perjalanan Fraenkel di beberapa tempar seperti bertemu mahasiswa-mahasiswa di Palestina dan Makassar (Indonesia), komunitas Yahudi Hasidik di New York (Amerika Serikat), remaja-remaja di daerah kumuh Itapua (Brasil), dan keturunan prajurit Iroquois Indian di Kanada. Di tempat-tempat inilah, melalui lokakarya filsafat, pertanyaan-pertanyaan di atas ia diskusikan untuk menguji metode yang ia sebut  dan tawarkan sebagai budaya debat, yang diharapkan mampu mengatasi perbedaan-perbedaan pendirian yang selama ini sulit menemukan jalan keluarnya.

Di kondisi ini, Fraenkel seolah-olah bagai Socrates dari masa lalu yang datang untuk menguji konsep kepercayaan agama, keadilan, moral, demokrasi, dan pemerintahan, melalui diskusi atau yang dia harapkan “berdebat”, yang itu tidak ia lakukan di pusat keramaian yang hari ini jika saja Agora masih bertahan—sama saat Socrates melakukannya—mungkin saja itu bisa berwujud sama seperti mal atau alun-alun kota.  

Tapi, Fraenkel bukan Socrates yang memiliki keberanian sebagai seorang kampiun dialog hingga rela memberikan satu-satunya nyawa demi tujuan mulia untuk mengubah anak-anak muda melahirkan sendiri kebenarannya. Meskipun tidak seperti itu, Fraenkel tetap gigih menawarkan ”budaya debat” agar setiap orang dapat sadar dan berkesempatan memeriksa ragam kepercayaannya agar tidak taklid begitu saja kepada otoritas tidak bertanggung jawab, seperti yang selama ini sudah lumrah diterima.

Seperti diabadikan dalam tarikh filsafat, Socrates adalah jawara diskusi, yang dengan kapasitas pertanyaan-pertanyaannya menyeret lawan bicara bakal menemukan sendiri pertentangan-pertentangan di sekujur pendapatnya. Modal Socrates cuma satu dalam hal ini, bahwa ia mengyakini setiap orang memiliki dan dapat mengandung kebenarannya sendiri, yang jika diberikan kesempatan untuk menyelidiki informasinya, dengan otomatis bakal menemukannya. Ini disebut metode bidan, yang membuat orang-orang ”melahirkan” sendiri anak kebenarannya.

Jadi, dikatakan sendiri oleh Fraenkel, budaya debat bukan saja ia maksudkan secara teknis sebagai  piranti logis dan semantis untuk meluruskan pandangan-pandangan seseorang agar dari itu tersusun argumen yang kokoh, tapi kemahiran dialektis untuk terlibat dalam upaya bersama dalam rangka mencari kebenaran. Usaha ini diingatkan olehnya tidak juga sekadar hanya untuk memenangkan opini daripada yang lain, tapi lebih mengacu kepada penghargaan atas kebenaran tertinggi tanpa menanggalkan kebajikan berdebat (virtues of debate)

Sekarang ini informasi dengan gampang dapat mengubah kepribadian seseorang, yang membuat banyak orang ketakutan karena telah banyak bukti-bukti, jika paparan informasi dibiarkan berkembang biak, yang berasal dari berbagai macam komunitas atau bangsa, kekuatannya akan membuat banyak hal berubah. Kepribadian yang berubah juga dengan sendirinya akan membuat pendirian seseorang ikut berubah. Dan, kekuatan informasi semacam  ini, yang bisa mengubah seseorang, yang paling dikhawatirkan oleh komunitas-komunitas agama, yang menganggap Tuhan tidak menciptakan perubahan untuk mereka, karena jika seseorang sedang merencanakannya, itu sama artinya telah melawan ketetapan takdir Tuhan.

Keyakinan seperti ini, bukannya tidak hilang meski globalisasi dan modernisasi sudah semenjana dipraktikkan, melainkan masih terus kokoh membentengi diri agar tetap menjaga kemurnian ajarannya. Manusia adalah wayang dari skenario Tuhan, sehingga satu-satunya kapasitas kemanusiaan yang mesti dipertahankan saat ini adalah menduplikasi model kehidupan orang-orang dari masa lalu, saat agama-agama masih perawan, karena dari orang-orang terdahulu lah Anda bisa menemukan kepribadian yang masih baik hatinya. Jadi dapat dipahami mengapa perubahan, dengan apa pun alasan dan istilahnya, tidak dianjurkan oleh kelompok semacam ini. Itu sama artinya Anda sudah berani bermain wayang, yang sedang menantang jalan cerita Tuhan untuk hidup Anda.

Maka itu menarik merenungi salah satu pertanyaan Fraenkel untuk mahasiswanya di UIN Alauddin Makassar mengenai hubungan wahyu dan perubahan: jika Tuhan menyesuaikan pesan-Nya selaras dengan keadaan sejarah yang beragam, mengapa Ia harus berhenti mewahyukan warta ilahi hanya sampai di Arabia abad ke-7? Apakah dunia tidak berubah sejak saat itu? Dengan kata lain, mengapa Tuhan berhenti menurunkan orang-orang pilihannya, dalam rangka membimbing umat manusia, hanya sampai di Rasulullah?

Pertanyaan terakhir hanyalah penegasan dari saya untuk memberikan efek klimaks dari pertanyaan intinya di yang pertama, dan kalau bersedia, itu pertanyaan yang cukup menantang sebenarnya untuk Anda carikan jawabannya jika Anda seorang muslim. Tapi, seandainya Anda merupakan orang Yahudi, terutama dari sekte Hasidik, kelompok ortodoks Yahudi yang lebih tertutup dan menganggap seperti misal modernisasi dapat menjauhkan sampai melunturkan iman kelompok Anda dari Taurat, maka persoalannya lebih pelik lagi.

Seandainya saja Tuhan hanya mempercayai Musa sebagai satu-satunya nabi pilihannya, dan karena itu tiada nabi selain dirinya yang lebih superior, mengapa warisan wahyu-Nya masih diteruskan kepada komunitas bangsa-bangsa lain, jauh setelah masa hidup Nabi Musa yang kurang lebih berjarak 1.900 tahun sampai kelahiran Nabi Isa, dan 2.500-an tahun sampai masa dipilihnya seorang utusan dari bangsa Arab bernama Muhammad? Itu artinya, dari kacamata umat Yahudi, Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada utusan-utusan setelahnya untuk mengantisipasi problem dan keadaan zaman yang masih terus berubah?

Ilmu pengetahuan tidak lahir dari ruang hampa, dan karena itu ia mesti diusahakan sebisa mungkin setelah pertanyaan-pertanyaan telah dilemparkan kepada Anda. Dalam hal ini, jawaban sama berharganya dan tidak kalah jauh berbahaya dari pertanyaan yang diberikan seseorang seperti pernah disebutkan Socrates. Saya menganggap, selama ini filsafat agak sulit diterima oleh banyak orang bukan karena pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan para filsuf itu sendiri, melainkan jawaban-jawaban atasnya yang ditakutkan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan sendiri. Karena itu, jawaban-jawaban dari pertanyaan filsafat selalu memiliki sudut pandang yang khas, dan memiliki risiko perubahan sehingga tidak semua orang menginginkannya.

Di konteks ini, saya kira itulah yang membedakan sesuatu itu dapat disebut filsafat dan dogma. Filsafat lebih terbuka dan lebih transparan dalam hal jalan berpikirnya. Sebagai suatu ilmu, jalan berpikirnya dapat dicek melalui kriteria berpikir logis yang semua orang bisa mengaksesnya. Sementara dogma, sebaliknya, ia sesuatu yang diterima begitu saja atau bahkan dipaksakan untuk orang lain karena memang tidak ada cara lain, yang bersifat rasional atau logis, untuk diberikan kepada seseorang selain melalui cara desakkan atau paksaan. Tapi, dogma dalam praktik hariannya ternyata lebih fungsional dimanfaatkan untuk menarik perhatian masyarakat, oleh oknum tertentu, karena dogma lebih mewakili tentang apa yang disukai banyak orang daripada apa yang lebih benar untuk kebutuhan masyarakat.

Di akhir buku ini, yaitu pada bagian kedua, Fraenkel mengulas ketakutan-ketakutan banyak orang ketika mengangap filsafat sebagai sesuatu yang datang dari setan, seperti keyakinan mahasiswanya dari Brasil, sehingga budaya debat, yang merupakan turunan teknis dari cara kerja filsafat mesti dihindari sama seperti perlunya seseorang menghindari agama yang diyakini sebagai candu—di Brasil sejak 60-an Marxisme menjadi lebih berpengaruh di ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Di bagian kedua ini, dan ini dapat juga diartikan bagian yang memuat semacam pembelaan Fraenkel terhadap budaya debat, dipecah menjadi  8 sub-judul, untuk membuat semua orang percaya bahwa tradisi bertukar pikiran akan membuat setiap orang dapat lebih bertanggungjawab terhadap keputusan-keputusannya. Delapan delapannya yaitu: pertama, kemajemukan dan debat. Kedua, debat dan kebenaran. Ketiga, debat dan koersi. Keempat, debat dan kebijaksanaan Tuhan. Kelima, proyek etnosentri?. Keenam, debat dan otonomi. Ketujuh, debat atau multikulturalisme. Kedelapan, filsafat dan masyarakat.  Semua tematik debat yang dihubungkan dengan delapan wacana di atas sepertinya dipangkalkan Fraenkel dari pernyataan Socrates dalam Apologia karya Plato ini: ”Kebaikan terbesar bagi seorang manusia ialah berbincang mengenai kebijaksanaan setiap hari dan hal-hal lainnya yang engkau dengar dari saya untuk menguji diri saya sendiri dan manusia lainnya; sebab hidup yang tak teruji ialah kehidupan tidak layak dijalani.”

Karena itu dapat disimpulkan bahwa budaya debat dalam hal ini, bukan lagi sekadar menjadi keterampilan teknis seseorang dalam rangka menyusun dan mempresentasekan pemikirannya ke dalam sistem argumentasi yang logis dan rasional, tapi menjadi semacam wahana uji kehidupan publik bagi apa pun yang menjadi wacana dan keyakinan yang tumbuh di ranah kehidupan bersama. Di titik inilah, fungsi kritis filsafat akan menyediakan prasyarat-prasyarat rasional dan teruji secara pemikiran, untuk memberikan orientasi kepada publik berkenaan dengan konsensus-konsensus umum dalam praktik kehidupan sosial yang dilatarbelakangi berbagai macam pemikiran, kepercayaan, dan budaya.

Identitas buku:

Judul: Bersama Plato di Palestina, Manfaat Filsafat di Dunia yang Terbelah

Penulis : Carlos Fraenkel

Penerjemah : Zacky Khairul Umam

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun terbit: Januari 2022

Jumlah halaman: i-xx + 206 hlm.

No. ISBN: 978-602-0788-23-4


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *