Barisan Penggiat Terakhir

Menjadi seorang pegiat dan penggiat literasi, kasadnya merupakan pekerjaan yang membahagiakan namun menyedihkan sekaligus. Sebab, berkecimpung di dunia literasi menawarkan masa depan yang cerah bagi kehidupan orang banyak. Serta memberikan keluwesan dan kearifan jiwa bagi mereka yang bersedia menekuni jalan tersebut. 

Dengan kedekatannya bersama masyarakat, pegiat dan penggiat literasi akan meningkatkan kualitas kultural dari sebuah masyarakat tempatnya hidup. Ia akan menunjukkan jalan yang lurus dan terang benderang terhadap dunia, sekaligus berjalan dan menapaki jalur tersebut bersama masyarakatnya. Ia akan merasakan kebahagiaan menjadi kumpulan individu yang tercerahkan dan dicerdaskan oleh kualitas literasi yang cakap serta mumpuni.

Hal itu diakibatkan oleh efek literasi yang mengajarkan kedamaian hidup lewat kearifan, kesahajaan, dan kecerdasan dalam membaca, mengeksplorasi, dan menuliskan peradabannya. Sebuah peradaban yang dibaca, dieksplorasi, dan ditulis dengan daya rasionalisme yang kuat dan kukuh. Sesuatu yang seharusnya disediakan dan ditanggungjawabi oleh negara, yang justru semakin rajin berbohong dan menipu peradaban rakyatnya.

Melalui literasi, seorang pegiat dan penggiat literasi, bak seorang imam dalam kumpulan jamaah, akan menikmati ibadahnya yang khusyuk. Ibadah yang jauh dari tendensi kesemuan dan pragmatis belaka.

Bagi saya pribadi, lewat literasi yang cakap dan mumpuni, saya berhasil menentukan, mana kehidupan yang semu dan tipu daya belaka, dan mana kehidupan yang nyata dan berisi kebenaran-kebenaran. Ya, hanya dengan dua kata kunci sederhana: membaca dan menulis.

Sulhan Yusuf, seorang pegiat dan penggiat literasi asal Makassar menamakan keduanya dengan “Moyang”-nya literasi. Penulis buku Pesona Sari Diri tersebut menabalkan, bahwa membaca sama dengan menginternalisasi dunia ke dalam diri seorang manusia. Sedangkan menulis berarti mengeksternalisasi dunia yang telah dielaborasi dan dieksplorasi sebelumnya. 

Saya jadi teringat kalimat bijak bestari dari Ali bin Ali Abi Thalib yang kurang lebih seperti ini maknanya: manusia yang paling sempurna adalah manusia yang berhasil memasukkan dunia ke dalam dirinya. 

Ya, dengan menjadikan membaca sebagai habitus, seseorang akan menjadi magnet terhadap dunia yang ditinggalinya. Ia akan menguasai dunia tersebut, alih-alih dideterminasi oleh dunianya. Sebab, dengan membaca, ia akan terus mengenali dan takkan pernah dikelabuhi oleh dunianya. 

Begitu juga dengan menulis. Seorang pegiat dan penggiat literasi akan terus menuliskan kebenaran dan kesejatian hidup. Ia tak akan membiarkan dunianya ditafsirkan oleh para penipu yang setiap saat ingin menyabotase dan mengangkangi hidup orang lain dibawah ketiak dan selangkangannya. Ia tak akan pernah sudi dan rela jika dunia yang telah ia baca dengan saksama dituliskan kembali dengan narasi-narasi kebohongan dan kesombongan. Saya berani bersumpah, demi apapun, seorang pegiat dan penggiat literasi yang sejati, tak akan rela jika dunianya yang jernih dinodai oleh gegap gempita noktah yang menyesatkan.

Sebab, sekali lagi, dengan literasi yang cakap dan mumpuni, akan lahir sebuah peradaban yang cerdas dan cerdik. Namun, pada titik itu pula lah tantangan dan kesedihan para pegiat dan penggiat literasi dimulai. Mereka akan terus berjuang dan berjibaku melawan para hipokrit peradaban. Yakni mereka yang akan terus meninabobokan masyarakat dengan narasi-narasi semu.

Para pegiat dan penggiat literasi akan merasakan sulit dan sengitnya berperang di ruang-ruang kultural. Satu-satunya ruang tempat literasi yang sehat dan jernih bisa berlangsung, sekaligus wadah bagi literasi yang sakit dan kotor berlaku.

Namun, apa maksudnya literasi yang sakit dan kotor itu? Sedehana saja jawabannya. Adalah literasi yang justru menghalau orang-orang untuk membaca, mengeksplorasi dan menuliskan dunianya dari pusparagam perspektif. Literasi itu justru menyeragamkan pandangan dunia setiap orang. 

Lalu seperti apakah literasi yang sehat dan jernih itu? Yaitu literasi yang mengajak setiap orang untuk membaca, menyelami, dan menuliskan setiap sendi dan lini kehidupannya dari banyak perspektif. Literasi yang merayakan keberagaman dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pertanyaan selanjutnya, apa buktinya jika literasi yang sakit dan kotor itu ada? Jawabannya gampang. Baca saja majalah yang isinya 100 orang terkaya di dunia, yang entah tujuannya untuk memotivasi atau justru meledek orang miskin. Atau buku-buku yang membahas tentang tips dan trik menjadi kaya dalam tujuh langkah, misalnya. Atau bisa juga buku-buku yang menawarkan kiat-kiat menjadi penulis andal dalam lima belas menit. 

Bahkan, yang lebih ekstrem, silakan baca penelitian dari para civitas akademik yang kering gagasan kritis dan segar, tapi tetap dipublikasikan demi kenaikan rating universitas dan raihan poin yang menjadi koin bagi si penulis. Untung-untung jika hasil penelitian yang Anda baca itu bukan hasil plagiat. Memang ada seperti itu? Ada. Banyaaaak!

Tentu, kita tak menginginkan literasi yang abu-abu dan samar-samar seperti itu dibaca, dieksplorasi, dan dituliskan kembali oleh masyarakat. Tentu pula, bukan dunia seperti itu yang ingin kita internalisasi dan eksternalisasi dalam kehidupan kita. Juga jelas, bukan seperti itu peradaban yang kita harapkan. Peradaban yang hanya membesarkan orang yang besar, memarjinalkan yang kecil, mendambakan hasil yang besar tapi melupakan proses yang panjang, serta perilaku buruk yang kerap menyontek dan menjiplak karya orang lain.

Sayangnya, justru literasi yang sakit dan kotor itu lah yang ramai didiskusikan, dibicarakan, disawalakan, bahkan mengendap dalam kepala hampir setiap orang. Literasi yang mengelabuhi banyak orang atas dunia yang sebenarnya. 

Untuk menghadapi hal tersebut, para pegiat dan penggiat literasi yang sejati, tidak bisa tidak, akan merasakan kesepian. Sebab, mereka akan dianggap sebagai yang liyan karena berbeda dengan arus utama. Mereka akan dipinggirkan, dipersempit ruang geraknya untuk mendedahkan dunia yang terang dan jelas. Mereka akan disudutkan ke pojok-pojok peradaban, dan dijauhkan dari masyarakat yang seharusnya menginjeksi dan mempenetrasi dunia yang jernih dan kalis.

Arkian, menjadi seorang pegiat dan penggiat literasi yang sejati, akan tetap dijauhkan dari sorot lampu yang megah dan berkilauan dalam kehidupan ini. Bagi Anda yang yakin memilih jalan demikian, bersiap-siaplah menjadi prajurit terakhir, barak terakhir, barisan terakhir dalam menjaga gawang kehidupan yang rasional dan bermartabat. Ya, bersiap-siaplah menjadi barisan terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *