Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Kemah Literasi di Wisata Pendidikan

Sedianya, putri ketiga saya mengantar ke perwakilan bus di bilangan utara Kota Makassar. Namun, tak jadi jua. Perkaranya, sejak ia pulang dari acara mendiksar adik-adiknya di Mapala Marabunta, Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), kurang sehat. Sudah hampir sepekan ia batuk, flu,dan hangat-hangat tahi ayam badannya. Dugaan saya, cuasa di lokasi diksar, Malino, kurang bersahabat. Atau sebaliknya, ia agak gagap membaca iklim.

Jurus jitu pun keluar. Minta tolong pada pasangan saya agar memesankan ojol. Menghampiri pukul 09.00, saya meninggalkan mukim menuju perwakilan PO. Bintang Prima di Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 12, Kapasa, Tamalanrea, Makassar. Tepatnya, di depan Raider TNI AD.

Waima busnya berangkat pukul 9.30, saya lebih cepat ke perwakilan. Maklum, cuasa Kota Makassar tak menentu. Terik dan mendung makin sering bertikai. Tak mengenal waktu. Akibatnya, awan menangis. Hujan turun tiba-tiba. Sering orang menyebutnya sebagai bagian dari perubahan cuaca atau anomali iklim.

Setengah jam lebih, Pak Ojol memangsa waktu. Mungkin bisa lebih cepat, tapi rutinitas kemacetan kota, tak bisa dihindari. Sebagai bagian dari cara menghibur diri, kami bercakap-cakap, meski suara kendaraan kadang menenggelamkan suara kami. Apatah lagi, berkali-kali ada motor dan mobil, suara mesinnya meraung tak karuan.

Pak Ojol sudah menekuni profesinya sekira lima tahun. Sebelumnya, ia juga pengojek nonojol. Kami bercakap tentang keluarganya, asal muasal kampung halamannya, dan daerah-daerah mana saja ia pernah kunjungi. Mungkin ia terpancing bercerita, sebab ia tahu saya akan keluar kota.

Begitu tiba di perwakilan, saya turun dari sadel motor, sembari berucap terima kasih. Saya tidak langsung meninggalkannya, tapi membiarkan ia berlalu terlebih dahulu. Arkian, saya langsung ke loket tiket, memastikan kepastian jadwal pemberangkatan.

Lalu, mau ke mana sebenarnya? Saya akan ke Belopa, Kabupaten Luwu. Persisnya di areal Wisata Pendidikan, Desa Bone Lemo, guna menghadiri acara kemah literasi dan beberapa agenda bertajuk literasi lainnya. Lalu, lanjut bersafari literasi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Sungguh, saat ini lumayan sulit mencari bus berangkat pagi ke Kabupaten Luwu. Beberapa PO (Perusahaan Otobus) saya kontak, tak menyediakan armada pagi. Umumnya tersedia malam hari. Sangat berbeda dengan berpuluh tahun lalu. Semisal tahun 90-an hingga beberapa tahun lalu, hampir semua PO menyediakan armada berangkat pagi, siang dan malam.

Kiwari, hanya PO Bintang Prima yang ada. Itu pun hanya satu bus. Kalau mobil nonbus banyak, tapi bukan tipe saya. Naik bus lebih santai dan leluasa menyerap energi perjalanan. Sebab, setiap orang punya cara mempersonalisasi rentang waktu, sekaligus mensubjektvikasi deretan objek perjalanan.

Bagi saya, perjalanan ke daerah mana saja, bagai membaca kitab suci. Bentangan ayat-ayat Tuhan jelas terpatri dalam dinamika sosial dan indahnya sajian alam. Inilah alasan utama saya, mengapa selalu memilih perjalanan siang. Sebab, jikalau perjalanan malam, semestinya ditempuh dalam senyap, tapi kebisingan senantiasa menari-nari sepanjang perjalanan.

Mendekati pukul 20.00, saya sudah tiba di Belopa, ibu kota Kabupaten Luwu. Seorang kawan, Asran Salam, pendiri Rumah Baca Akkitanawa (RBA), menjemput di tempat janjian. Tepat di depan Pertamina Belopa. Saya langsung dibawa ke warung makan, guna bersantap malam. Saya membatin, tanda-tanda kehidupan amat jelas. Waima saya tahu persis, kawan pegiat literasi ini, bukanlah sosok yang tergolong berdompet gemuk.

Di warung makan, saya mengontak dua kawan lama yang mukim di Belopa. Ikbal Daud dan Zaenal Abidin. Ada kerinduan pada dua sosok ini. Pasalnya, ketika dua orang ini kuliah di Makassar, termasuk aktivis mahasiswa, yang salah satu tempat singgahnya di mukim saya. Berlaksa detik kami tunaikan dalam percakapan. Nostalgia menggelandang ala aktvis mahasiswa, terkadang membikin kami tertawa lepas, saat mengenang beberapa kekonyolan saat melatai dunia kemahasiswaan.

Usai makan dan silaturahmi, mendekati pukul 22.00, bersama Asran dan seorang kawan fasilitator, Aziz Aripuddin, menerobos malam, berkendara motor menuju Desa Bone Lemo. Lebih dari 40 menit jarak tempuh, sejauh hampir 20 km. Kami tiba di rumah kepala desa, Baso Gandangsura, lebih akrab disapa Ubas.

Terjadi percakapan intim dengan Ubas. Meski jarang sua secara fisik, kedekatan minda nyaris tak berubah. Masih bening pikirannya. Kebiasaan menyeruput kopi dan mengisap rokok tiada surut. Kala ia menawarkan kopi, saya langsung menyela, agar kopinya nirmanis. Saya leluasa memohon kopi pahit, sebab manisnya kehidupan telah menerungku saya. Kopi memang pahit, tapi manisnya kehidupan telah mencampahnya.

Guna menandai perjumpaan, di sela percakapan dan seruput kopi, saya menyampaikan salam dan titipan dari dua orang kepala desa di Bantaeng. Keduanya menitipkan buku yang telah diterbitkan, anggitan masyarakat desanya. Sirajuddin Umar, Kepala Desa Labbo, bersalam lewat judul, Literasi dari Desa Labbo. Sedangkan Amiluddin Aziz, berkirim urita melalui buku, Menulis Desa Membangun Indonesia. Pun, tak ketinggalan, saya menghadiahkan dua buku saya, Pesona Sari Diri dan Maksim Daeng Litere.

Ubas adalah salah seorang sahabat karib saya yang menunaikan amanah selaku kepala desa. Ia juga pernah jadi anggota DPRD Kabupaten Luwu. Modalnya selaku aktivis mahasiawa semasa masih kuliah di Makassar dan pengalamannya menjadi aktivis pemberdayaan masyarakat, sudah lebih dari cukup untuk mengimajinasikan cita desanya. Hebatnya lagi, saya tidak putus kontak hingga kini, sehingga saya makin punya jejaring berbagi pengalaman dengan beberapa kawan muda, yang juga menjadi kepala desa di beberapa kabupaten.

Mendekati pergantian hari, saya, Asran dan Aziz, saya pamit ke Ubas, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi perkemahan literasi, namanya Wisata Pendidikan Bonelemo. Jarak rumah Ubas dan lokasi perkemahan, dapat ditempuh sekira 10 menit. Ketika tiba di lokasi, bertepatan dengan selesainya beberapa mata acara pembukaan dan orientasi acara.

Tajuk acara kemah literasi yang diadakan oleh Rumah Baca Akkitanawa ini, sebentuk open recruitmen relawan literasi. Nama kegiatannta cukup keren, Sekolah Relawan Literasi (Relasi) Tema kegiatan menegaskan, “Mencari Relawan untuk Gerakan Literasi”. Berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad, 24-26 Juni 2022.

Saya diajak bergabung sebagai salah seorang pengisi acara. Saya didapuk untuk mengantarkan satu topik percakapan seputar, seperti apa relawan literasi. Pada sesi ini, tak lupa saya tabalkan tutur penguat buat bergiat, dari buku anggitan saya, Tutur Jiwa.

Saya menajamkan tutur, “Jangan bicara perjuangan manakala belum ada suka di dalamnya. Usah bilang pengorbanan jikalau tak tampak rela di atasnya.Sukarela adalah buah dari perjuangan-pengorbanan.Moga kesukarelaan tidaklah mati di negerimu, sebab itu sama artinya semesta sudah bubar.”

Selebihnya, saya lebih banyak melarutkan diri dalam buaian keindahan lokasi kemah. Memandangi hamparan sawah, menyerap aura sejuknya udara, menyelami suara aliran sungai. Juga, bercakap-cakap dengan beberapa kawan fasilitator dan panitia.

Di malam kedua, Ubas, sang kepala desa, menyambangi kami di lokasi perkemahan. Kembali saya dan beliau bercakap secara intim. Saking khusyuknya percakapan kami berdua, hingga menembus pukul 03.00 dini hari.

Ubas membabarkan begitu banyak minda terhadap desanya. Saya pun ikut menguatkan imajinasinya dengan cara berbagi pengalaman selama saya mendampingi beberapa kepala desa di Bantaeng. Khususnya terkait dengan imajinasi desa literasi dan literasi desa.

Keesokan harinya, Ahad, tidak ada lagi acara formal. Kegiatannya hanya makan-makan ikan bakar dan mandi-mandi di sungai, hingga tengah hari. Jelang Asar, acara dinyatakan selesai. Namun, sebelum ditutup, Asran meminta kepada saya untuk memberikan semacam refleksi untuk para calon relawan dan segenap penghadir acara.

Saya pun menabalkan beberapa simpaian simpulan. Hendaknya, komunitas literasi, Rumah Baca Akkitanawa, tetap memelihara keunikan setiap personilnya. Sebaiknya tumbuh bersama dengan keunikan masing-masing. Persis seperti hutan yang ada di lokasi perkemahan. Setiap pohon tumbuh dengan sari dirinya, sehingga lebatnya hutan menjadi indah karena keragaman pohonnya.

Tak elok satu komunitas, pengurusnya bertindak bak menggunduli hutan, lalu dijadikan kebun, yang hanya menanam tanaman tertentu, menyeragamkan tanaman. Kebun memang menghasilkan cuan dan tuan, tapi tidak menjanjikan keharmonisan semesta.

Saya mengunci penabalan dengan mengajak penghadir, agar menengok ke sekeliling, tampak persawahan dan sungai. Ada area yang masih berbentuk hutan dan ada yang sudah digunduli buat dijadikan kebun.

Arkian, saya mengajukan pertanyaan mana yang lebih elok bukit yang lebat pepohonannya dan yang sudah gundul? Saya tidak minta jawaban. Cuman memberikan isyarat agar memandang kepala saya yang gundul. Senyum, tawa, dan kekeh penghadir menghidu pucuk hajatan.

Usai acara penutupan, kami meninggalkan lokasi perkemahan, Wisata Pendidikan Bonelemo. Jelang sore kami tiba di markas besar Rumah Baca Akkitanawa, Pattedong, Belopa, Kabupaten Luwu. Malamnya, kami habiskan bincang-bincang lepas, sembari merefleksikan acara perkemahan, sekaligus mengimajinasikan beberapa agenda ke depan.

Tidak sampai larut. Kami memilih istirahat. Apatah lagi, esoknya, saya akan melanjutkan perjalanan ke Kota Palopo, serupa safari literasi, sebab beberapa agenda literasi telah menanti. Ah, tiga hari tiga malam di Luwu, tunai sudah.

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. CEO Boetta Ilmoe_Rumah Pengetahuan Bantaeng. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), dan Maksim Daeng Litere (2021). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Latest posts by Sulhan Yusuf (see all)